Gairah Cinta Semalam

Gairah Cinta Semalam
chap 8


__ADS_3

Makanan dalam bungkusan sudah habis tanpa sisa.


Uueeeeeeekkk...


Xia bersendawa. Zander menutup mulutnya.


"Ahahaha... Biasanya juga aku bersikap sopan tanpa sendawa, dan makanku tidak sebanyak ini. Ini karena aku memang belum makan sejak aku keluar dari rumah sakit." ucap Xia beralasan dengan senyum canggung.


Aaaaa.. Tunggu! wajah Xia berubah menjadi tak sedap dipandang. Rumah sakit mengingatkannya pada pria misterius yang membawanya, seperti yang Suzie katakan.


Kelebatan kehadiran orang disampingnya muncul dibenaknya.


Puluhan mobil berderet disekitar rumahnya, Lalu makanan yang dia makan sekarang, juga waktu di dalam mobil.


Bayangan wajah Susie dengan apa yang dikatakannya. saat dirumah sakit terlintas dibenaknya.


"orangnya sangat berpengaruh. Dan punya pengikut." suara Suzie.


"Kupikir dia pacarmu, dia sangat perduli sekali padamu" suara Suzie.


"Namanya Zander." suara Suzie.


Dengan wajah canggung dan senyum yang dipaksakan, Xia menoleh ke samping menatap pada pria disampingnya.


"Namamu Zander ya?"


"Heemm."


Ooohhh my Goooddd....!!!! jerit batin Xia. 'Apa dia kemari untuk minta uang ganti rugi pembayaran rumah sakit?"


"Ahahaha...."Xia tertawa terpaksa."Jadi kamu yang membawaku ke rumah sakit?"


"Heemmm."


"Jadi, tujuanmu menemuiku adalah..."


Zander terdiam tak mengatakan apapun.


"Jadi apa kau kemari untuk, meminta pertanggung jawabanku?"


Zander mengangguk.


Uuugggghhhh, sudah kuduga dia pasti minta uang biaya rumah sakit. batin Xia saat itu.


"Jadi apa yang harus kulakukan untuk menebusnya?"tanya Xia gamblang, dia tak ingin lebih lama lagi berurusan dengan Zander yang dia sebut maniak itu.


"Kau tau, aku tak punya uang banyak. Aku baru kabur dari rumah."Gumam Xia pelan,"kau lihat koperku kan?" sambung Xia mengangkat jarinya.


"Temani aku makan malam." suara Zander datar.


"Makan malam?"


Zander mengangguk lalu memalingkan wajah dan pandangannya.


"Baiklah! kapan?"tanya Xia menatap lekat pada Zander.


"Aku akan ada keluar kota besok, tak tau kapan akan kembali."ungkap Zander.


"Bagus! tidak usah kembali. hahahha."


Zander memasang tampang tak senang. Menatap Xia dengan wajah marah.


Sepertinya orang ini hambar. tak bisa diajak bercanda. batin Xia berkeringat dingin.


"Jadi?" tanya Xia mencoba mengalihkan pandangan. " bagaimana Mmm.. Zander? Boleh aku memanggilmu Zander?"

__ADS_1


Tingkat kemarahan Zander menurun. Di panggil Zander sepertinya jadi lebih akrab. pikir Zander.


"berikan nomor ponselmu."Zander nengadahkan tangannya.


"Tidak perlu nomor ponsel. Aku tidak akan kabur. Kalian antarkan saja aku ke kosan lembayung. Heeemm?"


"Baiklah." Zander menyanggupi.


Waahh, diluar dugaan dia penurut sekali. batin Xia.


"Sudah semakin gelap. Ayo pulang." Xia berdiri dan melangkah lebih dulu.


Di bangunan kos Lembayung.


"Sudah! Sudah cukup!" ucap Xia sedikit jengkel, karena Zander dan ekornya masih mengikuti sampai dalam bangunan kos itu."Cukup sampai disini saja."


Zander dengan ekpresi dinginnya dan asisten Zene yang sumringah, mengalihkan pandangan wajahnya kesamping.


Orang-orang ini.... batin Xia geram mengepalkan tangannya.


"Kalian mau sampai mana mengikuti?" kesal Xia galak.


"Kami hanya ingin memastikan anda sampai di kamar anda Nona Xia." ujar Zene ceria.


"Sudah kubilang aku tidak akan kabur!"


"Mungkin anda bersedia..."Zene mengulurkan ponsel Zander pada Xia dengan wajah senang tanpa dosa. Sebenarnya tanpa berbuat begitupun Zene bisa dengan mudah mendapatkannya,hanya meminta langsung pada orangnya lebih menyenangkan.


"Grrrrr...." Xia kesal menyaut hp dari tangan Zene. Lalu mengetik nomor hpnya, dan melakukan sambungan sampai dering ponselnya terdengar.


"Kau puas?" Xia melempar hp itu ketubuh Zene.


"Huuuhh..."


"Sekarang pulang sana!" serunya jengkel.


****


Zene yang menyetir didepan, melirik bosnya dan tersenyum tipis melihat Tuannya begitu ceria walau masih menampakkan wajah dinginnya.


Sepertinya Nona Xia cukup merubah anda tuan. Batin Zene.


****


Disisi lain di kosan Lembayung.


BRAAKK BRRUUUUKK BRAAKKK


Xia yang masih kesal merapikan barangnya di kosan Suzie.


"Ckckck.... kamu ini mau merapikan apa menghancurkan Xia?"tanya Suzie berdecak dan menggelengkan kepalanya.


"Aku sedang kesal Suzie."


"Hmmm... siapa yang membuat Xia kesal?" Suzie merangkul sahabatnya itu,


"Ayo kita cari makan dulu di luar?! Ada festival di taman depan, pasti banyak menjual makanan enak." Ajak Susie


Xia masih cemberut saja. Tapi dia ikuti juga ajakan Suzie.


****


Di kediaman keluarga Tan.


"Kak!"panggil Xenia melihat Darren termenung menatap luar jendela dari ruang keluarga lantai dua.

__ADS_1


Darren menoleh.


"Apa yang kak Darren pikirkan?"Tanya Xenia, "Kakak Nggak sedang mikirin Xia kan?"


Darren masih terdiam.


Dia bahkan tidak mengelak. Xia sialan! Bahkan setelah susah payah aku dapatkan kak Darren pun dia masih memikirkan Jalllaang itu. batin Xenia kesal.


"Dari tadi aku mencari kaka, kupanggil-panggil tapi nggak nyahut. Ka Darren mikirin apa sih?"Xenia berusaha tak memunculkan rasa kesalnya.


"Tidak ada. Aku hanya lelah Xenia." Sahut Darren malas. "Aku, istirahat dulu."


Darren melangkahkan kakinya menjauh lalu menghilang menuruni tangga. Meninggalkan Xenia yang geram dan marah.


Aku.... harus membuat perhitungan dengan Xia. Dia masih saja menghantui hubungan kami. Aku harus menyingkirkannya. pikir Xenia mengepalkan tangannya.


_____


Xia dan Suzie menikmati suasana festival malam itu. Mereka membeli beberapa makanan ringan, seperti kentang goreng, es serut pelangi, juga jagung bakar.


"Heemmm.... Nikmatnya...." Suzie menyeruput es serut pelanginya.


"Hari ini aku bertemu dengan pria misterius itu." ungkap Xia memasukan kentang goreng kemulutnya.


"Benarkah?"


"Heemm... tiba-tiba saja dia ada didepan rumahku."


"Lalu?"


"Tidak ada."


Suzie menatap Xia sangsi.


"Jangan menatapku seperti itu. Sungguh, kami hanya makan ditaman lalu dia mengantarku pulang."


"Begitu saja?"


"Dia juga meminta nomor ponselku."


"Benarkan? Dia tak biasa denganmu. Bagaimana kalian bisa bertemu?"


"Aahh, itu hal yang memalukan Suzie."


"Ayolah!"


"Ini sudah malam. Ayo pulang. besok kita kerja kan?" Xia beranjak dari duduknya dan mulai melangkah.


"Yaahh, baiklah jika kamu nggak mau menceritakannya padaku. Aku menghormati itu." Suzie melangkah menyusul.


"Tapi jika kamu mengalami kesulitan karenanya, ingatlah aku teman mu." sambung Suzie merangkul pundak Xia.


Xia tertawa lepas.


"Tentu saja. Kamu adalah teman terbaikku."


___€€€____


Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.


Salam___

__ADS_1


😊


●●●


__ADS_2