Gairah Cinta Semalam

Gairah Cinta Semalam
Chap 16


__ADS_3

Xia melangkah lebar memasuki gedung Alexander Grup. Dalam hati Xia terus berdoa agar jangan sampai bertemu Daren, Xenia atau siapapun itu yang tidak ingin dia temui.


Xia melangkah menuju ruang manager project, tepat saat itu Xia melihat Darren berbelok dari gang yang lain berjalan kearahnya dengan seseorang yang terlihat lebih tua.Segera Xia membalik tubuhnya menghindar mencari tempat untuk kamuflase.


Semoga dia nggak melihatku tadi batin Xia merapatkan berkas didadanya. Xia menoleh mengintip ke lorong dimana Darren berjalan tadi. kosong!


Bagus, dia udah nggak ada. Saatnya keruangan manager project cepat selesaikan ini dan pulang. Batin Xia bertekat mengepalkan tangannya didepan dada dan menganguk yakin.


Dengan langkah pasti,Xia berjalan ke ruangan manager project. Xia bersiap mengetuk.


"Ehem!"Dehem Darren dibelakang kepala Xia, "Ternyata itu benar kamu."


Darren! Kupikir dia sudah pergi. pikir Xia, tanpa menoleh.


Xia coba abaikan Darren dia kembali mengetuk pintu ruang manager project. Namun tak ada sahutan.


"Dia sedang tak ada. Mau kau ketuk sampai tanganmu penuh luka juga nggak bakal dibuka." kata Darren yang masih diabaikan Xia.


Sialan. Apa aku benar-benar harus meladeninya? pikir Xia kesal.


Xia menyentak nafasnya kasar dan keras. Dia berbalik, hingga berhadapan dengan Darren. Pria itu mengulas senyum.


"Ada perlu apa kemari?"


"Utusan dari perusahaan Xander ."singkat Xia malas.


"Untuk apa mereka mengutusmu?"tanya Darren penasaran.


Xia menyentak nafasnya lagi. Seorang pria paruh baya muncul dari arah toilet. Dia tertegun. Melihat Xia ada didepan pintu ruangannnya. Mereka saling kenal karena dulu sempat sekali bertemu saat metting awal project kerja sama.


"Xia! Ada apa kemari."


Wajah jutek Xia berubah jadi sangat ceria dan cerah.


"Aah, pak Rama." Xia balik menyapa. "Saya membawa beberapa proposal dan hal yang harus dibicarakan terkait product yang akan bapak pergunakan."


"Oohh begitu ya?" Pak Rama sedikit kikuk melihat Daren juga ada disana.


"Jadi kalian menggunakan product dari Xander?"


"Benar Tuan."Pak Rama mengiyakan."Ini project untuk project A."


"Aaaa.. yang itu."


Pak Rama tersenyum simpul.


"Ayo masuk dulu keruangannku."ajak pak Rama hendak melewati Darren. Namun tangan Darren sudah memalang tubunya. hingga pak Rama terhenti.


"Biar aku lihat dan periksa." Ucap Darren Menyaut berkas ditangan Xia.


Membuat suasana menjadi canggung.


"Ba-baik."


"Mari nona Xia," ucap Darren ramah.


"Maaf! urusan saya dengan pak Rama dari manager project. Karena itu sudah berada ditangan anda berarti sudah selesai." senyum ramah Xia yang tampak sekali sangat dipaksakan.

__ADS_1


"Berdasarkan prosedur semua akan melalui saya. Begitupun dengan project ini. Silahkan jika masih ingin diteruskan!" suara Darren mengangkat tangannya mempersilahkan Xia.


Sialan apa maksudnya ini? Dia mau membatalkannya jika aku tak mau? Huuuhh.. Jika bukan karena masalah pekerjaan aku juga tak sudi. batin Xia.


Akhirnya Xia mengikuti Darren juga keruangannya.


"Dimana kamu tidur? Kenapa tak pulang?"


"Itu bukan urusanmu!"


"Aku mencemaskanmu Xia."


"Bukankah kau seharusnya mencemaskan istrimu tuan Darren."


"Xia, kau tak pulang, bagaimana aku tak cemas. Kau bahkan memblokirku."


"Pertanyaan ini tidak ada dalam kerja sama. Jangan membuang jam kerjaku dengan sia-sia."


Darren menghela nafasnya. Walau bagaimanapun hubungan mereka sudah berakhir, namun dia juga sadar, masih ada seberkas rasa sayang untuk Xia. Darren harus menekan perasaannya. Karena memang dialah yang berhianat disini.


"Bagaimana kehidupanmu sekarang Xia?"


"Itu bukan hal yang kita bahas tuan Darren."


Darren tersenyum lucu."Ini juga bagian dari project jika salah satu suplayer kami tidak bahagia, bagaimana dia product yang dia patenkan."


"Kami sangat bahagia."


"Duduklah dulu." Ucap Darren mendudukkan bokong sendiri disofa tamu.


"Kita selesaikan urusan pekerjaan kita saja tuan Darren. Harusnya ini tidak lama."


"Kalau kamu patuh ini tidak akan lama."


"Baiklah." Xia duduk."Hanya membicarakan masalah pekerjaan."tegas Xia.


Darren membolak mbalikkan berkas yang Xia bawa tadi.


CEKLEK !


Pintu ruangan Darren dibuka dari luar. Daren dan Xia menoleh. Xenia berdiri disana. Wajahnya terlihat terkejut skaligus marah.


"A-apa yang kalian berdua lakukan disini?" sentaknya tak terima.


"Jaga bicaramu Xenia."


"Kau? Apa kau kemari untuk merayu suamiku?"tuduh Xenia pada Xia berjalan mendekati kakanya.


Xia menghela nafasnya.


"Benar-benar jallaaanng!"


"Xenia!"


"Sopanlah pada utusan klian kita!" sentak Darren.


"Apa?"

__ADS_1


"Xia adalah utusan dari tuan Peter."terang Darren."Dia kemari dengan proposal pemggunaan product mereka pada project A sebelim ketahap lebih lanjut"


"Aa-apa?"Xenia tersentak."Jadi itu sudah disetujui? kenapa aku tidak tau Dar?"


"Kenapa kau bertanya padaku? Apa yang kau kerjakan selama ini?"


Xenia merah padam dia merasa dipermalukan. Tangannya mengepal kuat.


"Ada apa kau kemari Xenia?"


"Ada masalah di perusahaan keluarga Tan. Ayah memintaku untuk meminta bantuan Kak Darren.


"Masalah apa?"


"Grup Z2X menekan perusahaan ayah. dan harga saham kami turun drastis. Jika ini berlanjut, bisa dipastikan kami akan bangkrut dalam beberapa hari. Karena itu..."


"Kita bicarakan dikantor ayah saja."potong Darren berdiri."Xia kau juga ikut!"


"Apa?"


"Kenapa dia harus ikut?"


"Kenapa? bukankah dia juga bagian dari keluarga Tan?" Darren balik bertanya.


Akhirnya Xia juga ikut ke kantor alan. Tentu silvia dan alan terkejut melihat xia juga hadir.


"Ada apa ini? kenapa Xia ikut serta?" Alan masih terkejut.


"Mau apa kau kemari?" silvia


"Mama, Xia kan masih satu keluarga dengan kita, wajar jika dia juga disini kan?" jawab Xenia, sebenarnya dia juga enggan mau bagaimana lagi, ada Daren disana. Wajah pria itupun sudah tampak tak senang.


Xia hanya menyentak nafasnya kesal.


"Benar! sepertinya aku memang salah masuk ruang." ucap Xia hendak pergi. diapun muak harus berada ditengah keluarga sampahnya itu .


"Xia. Kau juga bagian dari keluarga. Kau harus tau masalah yang kita hadapi." tahan Daren menahan lengan Xia. Tentu membuat Xenia panas.


"Benar yang dikatakan Darren. kau bagian dari keluarga. walau kau tdk bekerja disini Xia, kau juga harus tau situasi sulit kita."ucap Alan akhirnya. karena memang apa yang Daren katakan masuk akal.


"Huuuhh..." silvia mendengus


"Lalu papa, kenapa tiba-tiba Grup Z2X menekan kita?"tanya Xenia menatap papanya.


"Papa juga tidak tau, tiba-tiba saja seperti ini. Kita bahkan tidak menyinggungnya. Orang kecik seperti kita mana bisa dibandingkan dengan grup Z2X." kata Alan dengan pandangan kebawah. Tubuhnya terasa lemas.


____€€€____


Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.


Salam___


😊

__ADS_1


__ADS_2