
Dalam perjalanan pulang Xia duduk termenung didalam mobil disisi suaminya.
"Aku memang bukan apa-apa tanpa nya. Melihat bagaimana mereka menjilat membuat aku sadar. Lucu sekali. Bagaimana bisa hidupku seperti ini. Entah bagaimana nantinya jika dia meninggalkanku. Saat ini aku sudah berhutang banyak padanya. pikir Xia menyenderkan kepalanya di dada Zander.
Zander menoleh, merasa Xia bersandar padanya, senyumnya mengembang. Diusapnya kepala Xia dan mengecup pelan punca kepalanya. Xia mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Zander.
Pria itu tersenyum dan mendekatkan wajahnya. Melummaaatt benda kenyal milik Xia. Xia menyambutnya. Memyesap pelan bibir Zander. Zene yang duduk didepan melirik kecil dan menutup pembatasnya. Memberi tuan dan nyonya-nya privasi.
Sesampainya di vila, Zene kembali melirik kebelakang. Walau tak terlihat, Sepertinya dia tau apa yang terjadi dibelakang sana.
Baiklah. Jalan lagi saja. goncangannya sampai disini. Jika tiba-tiba aku hentikan bisa-bisa aku tak pulang malam ini dengan selamat. batin Zene bersuara.
Zene kembali menjalankan mobilnya mengelilingi kota sekali lagi.
Apa ku bawa saja mereka ke vila air mengalir? Disana sepertinya cocok untuk program membuat anak. Hahaha.... air mengalir memang cocok untuk melepaskan kecebong-kecebong lucu. Pikir Zene mulai kacau.
Empat puluh lima menit lamanya, Zene akhirnya menghentikan laju mobil nya di depan pintu masuk utama Vila Air Mengalir. Zander dan Xia keluar dan melangkah pelan. Zander melirik kecil istrinya. Lalu berinisiatif untuk menggendongnya.
"Ap-apa yang kamu lakukan?"
"Kamu sepertinya terlihat sangat lelah. Jadi, menurutlah."ucap Zander membopong tubuh Istrinya.
"I-ini dimana?"
"Vila Air Mengalir."
"Kenapa tidak kembali ke rumah?"
"Ini juga rumah. Rumah yang lain."oceh Zander dengan senyum yang lain.
"Vila Air Mengalir sangat cocok untuk pengembangbiakan kecebong. Bagaimana menurutmu?"
Xia mengumbar senyum diwajahnya mendengar ocehan lain Zander.
###
Dilain pihak,
Xenia sangat kesal membanting tubuhnya diatas ranjangnya yang empuk. Xenia menatap langit-langit kamarnya.
"Aku harus mendapatkan pria itu. Aku sudah berhasil mendapatkan Darren darinya. Maka ini pun tak akan sulit. Tapi aku butuh rencana." pikir Xenia.
Daren membuka pintu kamar. Dan masuk semakin kedalam. Dari raut wajahnya dia pun sama kesal. Xenia melihat Darren.
Akan ku kemanakan pria ini? Mungkin sebaiknya kukembalikan saja pada Xia. Awalnya dia juga milik Xia bukan? batin Xenia melirik pria yang sudah jadi suaminya itu.
Aku akan mempengaruhi pria ini dulu.
Xenia melirik suaminya yang sedang melepas pakaiannya dan berjalan ke kamar mandi.
###
Di lokasi lain, dalam mobil yang melaju, Alexa masih tak habis pikir. Bagaimana Zander bisa dengan terang-terangan mengumumkan pernikahannya. Bahkann melakukan tindakan romantis itu.
Dia bukan gadis biasa. Apa yang sudah dia lakukan sampai bisa mengendalikan Zander seperti itu. Dasar Rubah betina! Bagaimana cara menyingkirkannya?
Alexa melirik Peter,
Apakah aku bisa mempercayainya?
"Kenapa melihatku seperti itu?"tanya Peter melihat melalui sudut matanya.
"Tidak ada. Kamu bilang akan mengambil Wanita itu, nyatanya kini mereka dengan terang-terangan mengumbar pernikahan dan kemesraan." omel Alexa.
"Apa kerja mu selama ini?"
Peter terkekeh kecil. "Kenapa? Kau masih belum menyerah?"
Alexa membuang wajahnya kesamping.
"Aku juga belum menyerah Alexa."ucap Peter pelan. "Walau mereka sudah menikah, bukan berarti kita tak punya celah."
Peter tersenyum kecil.
*****
__ADS_1
#####
Beberapa hari kemudian, Xia berangkat kerja seperti biasa. Saat akan pulang, Mobil Xia bannya kempes. Xia menatap nanar pada ban yang tak berudara itu.
"Aku harus memanggil tukang kalau begini." gumam Xia memgambil hp nya,
Tepat saat itu, ada panggilan masuk dari Peter. Xia terdiam sesaat.
"Mau apa dia menelpon?" gumamnya.
Xia menggeser tombol hijau.
π: "Hallo?"
π: ["Xia? Apa kau sudah pulang kerja?"] suara Peter.
π: "Heemmm... Kenapa?"
π: ["Kebetulan aku melewati jalan X. Bagaimana kalau kita bertemu sebentar?"]
π: "Untuk apa? Aku sedang sibuk."
π: ["Xia, kamu ketus sekali. Apa ada yang membuatmu kesal?"]
π: "Ban mobilku kempes."
π: ["Oh ya? Kamu dimana? Biar aku kesana."]
Xia menghela nafasnya, lalu menyebutkan lokasinya.
Tak berapa lama Peter datang dan memeriksa ban mobil Xia.
"Hemm... Tinggalkan saja dulu. Biar aku antar kamu pulang. Nanti akan aku minta kenalanku untuk membereskan mobilmu." ucap Peter.
"Begitukah?"
"Heemmmm...."
Xia pun menyetujui diantar Peter pulang. Dalam perjalanan di dalam mobil Peter.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Zander menungguku makan malam dirumah." Xia yang merasa lelah menguap.
"Tidurlah! Nanti kalau sudah sampai, aku bangunkan."
"Baiklah, Kau akan mati jika berniat menculikku." canda Xia.
"Hahhaha... Siapa yang berani menculikmu?"
Xia memposisikan duduknya, mengatur agar nyaman untuk tidur. Lalu memejamkan matanya.
Mobil Peter berhenti tepat didepan vila Zander. Peter melirik Xia yang masih pulas.
"Xia!"
"Xia! Bangunlah!"
"Xia kita sudah sampai."
Lirih Peter menatap gadis cantik hang masih pulas itu. Netra Peter menyusuri wajah cantik Xia, dari rambut, lalu ke alis, mata yang menutup, bulu mata yang indah, hidung yang menggemaskan dan bibir ranum yang menggoda iman.
Peter menelan ludahnya. Perlahan tubuhnya condong dan wajahnya mendekat. Peter menggulum bibir Xia, menyesapnya dengan nikmat. Lidahnya perlahan menerobos masuk kedalam rongga mulut Xia. Mengeksplor kedalamannya.
"BRAAKK!"
Peter terkejut mendengar suara keras. Dengan segera dia mengakhirinya. Xia masih memejamkan matanya. Seolah tak merasa tergannggu dan masih lelap. Diluar Zander sudah berdiri dengan mata merah menyala. Menatap Peter dengan tajam penuh permusuhan.
Peter keluar dari mobilnya. Dengan tenang menghampiri.
"Kak!"
BUUGG!
__ADS_1
Tubuh Peter terhempas oleh kuatnya pukulan Zander.
BUUUG!
Zander meraih kerah Peter.
"Bibit perusak hubungan orang ternyata diturunkan juga padamu."geram Zander dwngan marah.
BUUGG!
BUUGG!
BUG!
Zander memukul Peter bertubi-tubi tanpa memberi ampun. Xia yang masih tertidur didalam mobil perlahan membuka matanya. Xia terperanjat, netranya membulat melihat pemandangan didepannya.
Zander sedang memukuli Peter , yang tampak sudah berdarah-darah dan tak berdaya.
Xia buru-buru keluar dan melerai.
"Apa-apaan kau ini?"Xia menahan tangan Zander yang hendak memukul Peter lagi.
"Zander hentikan! Kau bisa membunuhnya!"
"Membunuh hama itu di ijinkan!" Seringai Zander menarik tangannya dan melayangkan pukulannya lagi.
BUUG!
"Zander! Hentikan? Kau ini kesurupan apa sampai tidak manusiawi seperti ini?" Xia menghalau didepan Peter, merentangkan tangannya.
"Kau! Melindunginya?" geram Zander.
"Dia adikmu!" tegas Xia,"Sudah cukup kau memukulnya seprti ini! Dia bisa mati."
"Minggir! Biar kuselesaikan dia!"
"Zander!" pekik Xia melihat Zander mendekat dan menggeser tubuh Xia kesamping.
Xia kesal dan menarik lengan Zander. Tangannya terangkat dan mendarat keras di pipi pria tampan itu. Seketika Zander terhenti. Wajah pria itu terhempas kesamping. Senyum kecil terbit di wajah Peter. namun tak terlihat oleh Xia ataupun Zander.
"Kau! Selalu berbuat sesuka hatimu. Kenapa harus memukulnya seperti ini? Kesalahan apa yang sudah dia perbuat? Apa pantas mendapat perlakuan sepeti ini?" Lirih Xia menatap wajah Zander."Aku kecewa padamu."
Xia mengalihkan pandangannya. Dia menarik tangan Peter membantunya berdiri, memapah Peter yang kesulitan melangkah.
"Lepaskan dia!" perintah Zander.
"Xia lepaskan dia! Kau istriku."
Langkah Xia terhenti. Dan menarik nafasnya.
" Hanya karena aku istrimu, kau tidak berhak memukul temanku seperti ini."tegas Xia dingin. Membantu Peter memasuki mobil.
Zander masih mematung dengan wajah piasnya.
"Aku pergi..."
Xia memasuki mobil dan menjalankan nya.
"Xia!" teriak Zander mengetuk mobil yang istrinya tumpngi.
"Xia! Kembali, Aku tidak mengijikkanmu pergi bersamanya."
"Xia!"
Mobil yang Xia tumpangi semakin menjauh dan tak terlihat. Meninggalkan Zander yang geram menatap nya pergi.
_____β¬β¬β¬_____
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
__ADS_1
π