
Zene yang sedang menyetir di jog depan melirik ke belakang. Pagi itu entah suasana di jog belakang begitu suram dan mencekam.
Aneh, ini aneh,Jika biasanya yang terlihat nyonya suram dan tuan berbunga. Kenapa sekarang justru sebaliknya? Apakah jiwa mereka tertukar semalam? Batin Zene masih terus melirik dan mencuri pandang melalui kaca spion.
"Zen! Berapa kali kau mencuri pandang kemari?" Suara berat Zander terdengar begitu gurih dari jog belakang, tentu saja membuat Zene bergidig.
"Eehh??"
"Potong gaji sebanyak lirikanmu!"
Astaga!! Sudah jelas itu tuan. Tak mungkin jiwa nya tertukar. batin Zene lagi merasa aduhai dengan potongan gaji😑.
"Asisten Zen, tak perlu dipikirkan. Dia memang sedang kesal sejak bangun pagi tadi." ucap Xia dengan senyum manisnya yang riang. Tak lupa gadis itu memeluk lengan Zander, Tentu saja untuk meredam kekesalan suaminya.
Memang sejak pagi mood Zander sudah tidak bagus. Bangun yang bangunin rasa mual dan diikuti oleh muntahan.
"Huuuuweeeekkk.... Huuuuweeekk..."
"Suamiku? Sepertinya masuk anginmu belum sembuh, pasti efek dari minum alkohol belum hilang juga. Bagaimana jika ku panggilkan dokter Jil saja?" Xia merasa prihatin Zander terus mengalami muntah. Di menggosok dan memijit tengkuk Suaminya itu.
"Jangan sebut dokter gadungan itu lagi!" tukas Zander, masih kesal dengan ocehan Jil sebelumnya, bahwa Zander terkena penyakit modus.
Saat sarapan juga tak satupun membuat mampu membuat Zander berselera.
"Apa ini? Bau apa ini?"
"Ini kare sayang. Bukankah kamu suka?" lembut Xia melihat suaminya masih kesal.
"Ini bau sekali. Aku tak bisa makan makanan bau!" tukas Zander makin kesal.
"Mmmmm...." Xia melihat berkeliling hidangan di meja makan.
"Bagaimana kalau ikan goreng?" Xia mengambilkan ikan goreng dan meletakkannya ke piring Zander.
"Ini juga bau. Singkirkan!"
"Bau apa?" Xia mengambil ikan yang ada di piring Zander, lalu menciumnya.
"Istriku! Beraninya kamu mencium ikan di depanku!"
"Astaga! Suamiku. Ini ikan, aku mencium pake hidung bukan pake mulut. Bukankah kamu yang bilang kalau ikan ini bau? Aku hanya mau mengetesnya."kesal Xia, suaminya itu begitu rewel.
Bahkan saat akan keluar dari pintu utama pun Zander begitu cerewet.
"Istriku! Aku tidak mau kerja hari ini."
"Apa? Kenapa?" Xia tertegun.
"Aku tak enak badan."
"Kamu sangat sehat, suamiku."
"Aku habis muntah tadi pagi."
"Sekarang sudah baik-baik saja. Biar ku lihat suhumu." Xia menempelkan keningnya pada kening Zander.
"Sepetinya tidak panas. Sudah kerja sana." ucap Xia sedikit mendorong tubuh Zander.
"Tidak mau! Aku mau dirumah saja. Badanku lemas jika terlalu jauh darimu."
Bibi Ana yang kebetulan ada di situ juga terkekeh. Tentu Zander langsung menatap tajam.
"Nyonya, bagaimana jika anda ikut saja melihat-lihat perusahaan tuan?"
"Aahh,, itu...."
Xia melihat Zander yang memasang wajah memelas. Xia lalu beralih menatap Bibi Ana yang tersenyum. Xia kembali lagi menatap wajah Zander. Melas sekali, seperti mau menangis.
"Aaa... baiklah.."
Senyum Bibi Ana semakin melebar.
"Baiklah. Ayo pergi." Zander terlihat sedikit bersemangat. Menarik lengan Xia.
__ADS_1
"Ya Ampun." gumam Xia pasrah.
Tuan Zander manja sekali, seperti anak kecil. Tunggu, apakah nyonya sedang hamil? Batin bibi Ana.
Kembali kedalam mobil. Zander sekali lagi mengernyit.
"Zene! Kenapa mobil ini bau sekali?"
"Bau yang seperti apa, tuan."
"Bau yang sangat memuakkan."
"Ini adalah aroma yang biasa kita pakai tuan."
"Aku tidak tahan. Cari pewangi lain." Zander menutup hidungnya dengan jari.
Xia hanya menatapnya keheranan.
"Ada apa denganmu? Kenapa kamu begitu rewel?"protesnya.
"Ini memang bau. Uuuummmmgggghh....."
Zander membekap mulutnya, dan mengetuk pintu disampingnya.
"Tuan ingin muntah??"
Zene menepikan mobilnya. Seketika Zander keluar dari dalam mobil dan memuntahkan apa yang tadi sempat dia makan.
Xia ikut keluar, memijit tengkuk Zander dan menepuk punggungnya.
"Sayang, kita kerumah sakit aja."
"Nggak mau! Aku nggak suka bau rumah sakit."tolak Zander lemas.
Pria itu kembali duduk di jog belakang dan bersandar.
Xia duduk di sampingnya. Dengan telaten memijit tangan Zander.
"Asisten Zen, "
"Begitu sampai kantor bisakah panggilkan dokter."
"Baik."
Zander yang lemas melirik istrinya. Dia mendekat pada Xia, dan menelusupkan wajahnya diantara dada Xia.
"Disini menenangkan."
Xia menghela nafasnya.
"Ya ya.. Kamu boleh disana sebanyak yang kamu mau."
Xia mengelus kepala suaminya itu.
****
Sesampainya di kantor, Zander langsung berbaring di sofa tamu dengan berbantalkan paha Xia. Zander benar-benar teler kali ini.
Tak berapa lama dokter yang dimaksud pun datang. Zander melongok, melirik dokter muda itu dengan pandangan mata kesal dan wajah pasrah.
"Zene! Kenapa kau malah memanggil dia?"
"Maaf tuan, hanya dia yang tercepat dan terbaik. Dan kebetulan dia yang datang kali ini."
"Aku bisa mendengar bisikan kalian."ketus Dokter Jil.
Zander menjatuhkan kepalanya dipaha Xia lagi.
"Baiklah. kenapa lagi sekarang?"
Dokter Jil mendekat.
"Jangan mendekat! Aku alergi denganmu!" zander menendang udara.
__ADS_1
"Kalau aku tidak mendekat bagaimana caraku memeriksamu."
"Terserah bagaimana, gunakan sertifikatmu!"
Dokter Jil mengganti udara di paru-paru, menarik nafas dan hembuskan.
"Baiklah, apa keluhannya?"
"Mual dipagi hari. Muntah juga. Katanya badaanya lemas." Xia mencoba menjelaskan.
"Hari ini sedikit rewel, semua tuan protes, bahkan bau mobil pun tak lepas dari nya."timpal Zene. Tentu, tatapan dingin dan tajam tak lepas darinya. Zene begidig juga.
"Heeemmmm."
Setelah Dokter Jil berfikir sejenak.
"Baiklah, biar aku periksa."
"Sudah kubilang, aku alergi padamu." tolak Zander masih menendang kaki di udara.
"Bukan kau! Aku mau memeriksa istrimu."
"Apa?" Zander langsung bangun terduduk.
"Aku yang sakit kenapa kau mau memeriksanya?"
"Kau bilang kau alergi padaku." Dokter Jil mencoba bersabar.
Zander menyeringai.
"Kami berdua alergi padamu. Jangan gunakan penyakit modus padanya."
"Suamiku, tak bisa kah kau bersikap tenang! Tingkahmu seperti anak kecil. Dia dokter tentu sudah punya pemikiran sendiri."
"Dia dokter gadungan." Zander menunjuk Dokter Jil dengan penekanan.
Xia hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa aku jadi ikut diperiksa?" Xia menyodorkan tangannya.
Dokter Jil mulai memeriksa denyut nadi istri Zander itu. Dan melakukan serangkaian pemeriksaan lainnya. Lalu dokter itu tersenyum lebar.
"Sebaiknya, Nyonya Zander memeriksakan diri ke dokter obgyn."
"Yaa?"
"Sepertinya, kecebong Tuan arogan akan segera menetas." seringai Dokter Jil dengan wajah senang.
"Bahasa apa itu Zen? Kenapa dokter gadungan ini bicara tidak jelas."
"Seperti yang anda bilang tuan, DOKTER GADUNGAN." sahut Zene yang sama tak jelasnya.
Sebenarnya Jil sangat kesal, tuan dan asistennya sama-sama kurang ajar.
"Kakak Ipar."
Jil menatap Xia,
"Segera periksakan diri ke dokter Obgyn dan jaga junior agar tidak seperti ayahnya."
Jil tersenyum tipis. Lalu pamit.
"Apa? Main pergi saja? Kenapa tidak kau jelaskan tentang dokter obgyn dan junior?" teriak Zander berdiri namun kepalanya serasa bergoyang, dia ambruk lagi. Dan jatuh ke sofa lagi.
"TUAN, mungkin maksud Dokter Jil adalah, kecebong anda berhasil lolos seleksi."
_____€€€_____
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
__ADS_1
Salam___
😊