
Suasana berkabung dalam sebuah rumah pemakaman yang di buat sederhana. Susie dengan stelan baju hitam hanya diam dipinggir pusara ibunya. Xia pun masih setia disampingnya. Dalam hitmad pemakaman sang ibu, datanglah seorang pria yang berteriak dan membuat keributan.
Pria itu langsung menerobos dan berdiri di depan Susie. Dia sedang di tahan oleh beberapa tetangga rumah Susie di kampung. Pria itu menarik tangannya kasar.
"Kau senaang?"
Susie melihat pria itu yang tak lain adalah kakaknya.
"Ibu sudah mati. Apa kau senang?" dengan berteriak lantang.
"Ngapain pura-pura nangis? Biar dapat simpati!"
Pria itu terus mengoceh, Susie hanya diam saja tanpa memperdulikannya.
Pria itu mendekat. Tentu saja Xia sedikit was-was. Apa yang mungkin akan dilakukan kakak Susie itu. Kakak Susie hanya berdiri disamping pusara ibu. Lalu bejongkok. Dan hanya diam.
Setelah usai pemakaman, suasana berkabung masih tertinggal dirumah duka. Susie masih duduk lemas di samping Xia. Masih ada beberapa tetangga hadir mengucapkan bela sungkawa.
Kaka Susie berdidi di ruangan yang sama hanya agak jauh. Dia mengamati teman-teman Susie.
Sepertinya mereka orang-orang kaya. Senang sekali Susie ya, Heeehh, pantas saja dia betah di kota. Aku harus mengambil keuntungan. Pikir kakak laki-laki susie.
"Hei Susie!"
Susie mengangkat kelopak matanya, melihat kearah Sang kaka.
"Ibu meninggal setelah kau bawa. Bagaimana tanggung jawabmu?"
"Apa maksud, kaka?"
"Sebelumnya dia masih hidup saat tinggal bersamaku. Kenapa begitu kamu bawa malah mati?"
Susie tertegun, dia tertawa kecil.
"Apa yang kaka mau?"
"Apa?"
"Tentu saja uang kompensasi. Kau sudah membunuh ibuku! Kau harus memberiku uang kompensasi."
Xia menatap tak percaya pada kaka Susie itu. Bagaimana bisa pria jahat itu berkata demikian.
"Kau ini manusia bukan sih? Bagaimana bisa kau katakan itu pada adikmu yang sedang berkabung?" seru Xia kesal.
"Heehh, hehehe..." kekeh kakak Susie.
Pria itu mendekat. Melihat Xia dengan mata mesumnya. Memperhatikan wajah wanita itu lebih dekat.
__ADS_1
"Waahh, kau cantik juga. Bagaimana kalau temani kaka minum?"
"Sandi!" Sentak Susie mendengar sang kaka begitu kurang ajar. Zander dan Zene yang berada agak jauh dari mereka, tentu menatap tajam tidak suka.
Tangan Sandi, terulur hendak menyentuh dagu Xia, wanita itu menggigit bibir bawahnya.
"Kau.... Aaakkkkhhhh...."
Sandi mengerang kesakitan. Tangan pria itu sudah dicengkram dengan kuat, mungkin sebentar lagi patah. Tangan itu milik Zander. Dengan dingin dan tajam menatap Sandi.
"Berani sekali tangan mu ini hendak menyentuh istriku!"
Suara berat Zander begitu dingin dan tajam.
"Aaakkkkhhh.."
Suara pekikan Sandi tentu membuat perhatian orang-orang mengarah padanya. Dan berbisik-bisik.
Xia menyentuh lengan Suaminya itu, dan menatap dengan memohon. Zander mengangguk. Lalu melepas lengan Sandi dengan mendorong jauh.
"Jaga sikapmu!"
Sandi yang terdorong hingga jatuh itu menggeretakkan giginya. Menatap Susie dengan pernuh amarah. Lalu beralih menatap Zander dan yang lainnya.
"Pergi kalian dari rumahku!"
"Pergi kalian semua!"
"Pergi dari rumahku!"
Sandi membanting semua yang ada disekitarnya.
"Pergilah dulu. Aku tidak apa-apa." lirih Susie memaksakan senyumannya melihat pada Xia.
"Tapi..." ragu Xia menatap Susie iba.
"Aku baik-baik saja. Aku lebih bisa menghadapinya sendiri. Pergilah." pinta Susie.
"Kita pergi dulu sayang, biar Susie mengatasinya. Kita tetap disini hanya akan membuat kesulitan." bujuk Zander memeluk bahu Xia.
Xia menatap suaminya, lalu berpindah melihat Susi.
"Maaf...."
"Terima kasih untuk semuanya. Pergilah." Ucap Susie dengan senyuman diwajah dukanya.
"Jaga dirimu. Aku akan mengubungimu nanti. Jangan sungkan menelpon jika kamu butuh apapun." Xia menggenggam tangan Susie mencoba menyalurkan kekuatan. Susie mengangguk dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
Xia dan Zander melangkah keluar rumah Susie, Zene mengikuti dibelakang mereka. Dia melirik tajam pada Sandi. Pria yang tersenyum menang berhasil mengusir tamu Susie itu seketika begidig.
"Sialan!" umpatnya pelan.
Didalam mobil yang melaju, Xia hanya diam. Dia masih melihat ke arah rumah Susie dengan cemas, hingga rumah duka itu tak lagi terlihat, barulah Xia berhenti melihat kebelakang.
Xia menghela nafasnya dan menyenderkan kepalanya pada dada Zander. Dia masih bersedih, kuwatir dan cemas. Bagaimana nasib Susie setelahnya. Mengingat bagaimana kasarnya sang kakak bernama Sandi itu.
"Tenanglah istriku, Susie akan baik-baik saja." Zander mengusap lengan Xia dalam pelukannya, dan mengecup punca kepala Xia. Zander tau kegelisahan istrinya itu, mencoba memberi ketenangan dan kenyamanan dalam pelukannya.
"Benarkan Zene?" tekan Zander menatap punggung Zene dari jog belakang.
"Benar, Tuan." Jawab Zene dengan tatapan mata yang tajam dan dingin dengan tetap fokus menyetir.
####
Slepas kepergian Zander dan yang lainnya, tentu saja Sandi merah-marah tak jelas pada Susie. Dia tetap meminta uang kompensasi pada adiknya itu. Dengan nominal yang tak masuk akal.
Setelah puas melampiaskan amarahnya pada sang adik. Sandi berjalan keluar dari rumah duka.
Sandi melewati gang yang agak sepi, sambil bersiul. Dia hendak menuju rumah judi tempat dia biasa menghabiskan uang. Sandi tertegun, Netra nya terbuka lebar.
"Siapa kau?" tanyanya melihat seorang pria menghadang jalannya.
"Kau...!"
Zene tersenyum tipis pada Sandi.
"Mari kita bicarakan kompensasi yang kamu maksud, KAKAK." dengan penekanan pada kata kakak.
_____€€€_____
Readers, Maafkan Othor ya, Karena kesibukan, masih belum bisa membalas komentar satu persatu. Yang penting othor bisa up 1-2bab setiap hari. Kalau pas luang, othor sempatin deh buat balas walau satu dua.
Maklum ya Othor mak-mak RT. Jadi bagi waktu, ya buat nyuci ya buat masak, beresin rumah, gibahin tetangga, ngasuh bocil, ngasuh suami. eaaaa....😆
Inti nya Othor akn usahakan untuk bisa up 1-2bab perhari. Syukur-syukur bisa krezi up. Makasih dukungannya.😊
Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1