
"ini!"
"Ini"
"Dan Ini!"
"Semua dicoba."
Zander menunjuk beberapa baju di sebuah butik ternama. Dibelakangnya seorang karyawan dengan sigap mengambil gaun-gaun yang Zander mau.
Xia yang melihat kelakuan Zander hanya menggelengkan kepala sambil berdecak.
"Ck.. ck... ck.. Macam sultan."
"Aku memang sultan. Cepat ganti!" perintah Zander narsis, duduk di kursi tunggu.
"Mari Nyonya.." sang karyawan mempersilahkan.
"Baik." Ucap Xia mengikuti.
"Apakah aku benar-benar harus mencoba semuanya?" tanya Xia melirik baju-baju yang di bawa beberapa karyawan butik itu. Di ruang ganti.
"Tidak kok, Anda hanya perlu coba yang ini." ucap pemilik butik mengambil satu gaun .
"Aaaa...."
Xia mengambil gaun berwarna peach itu. lalu mencobanya. Xia menatap pantulan diri di cermin. Gadis itu menggigit bibirnya,
"Anda cantik sekali Nyonya."puji sang pemilik butik itu.
"Baju ini sangat menonjolkan karekter anda."
"Benarkah?"
"Yaaa...."Ucap Sang pemilik butik, "Mari kita ke meja rias."
"Meja rias?" Xia menautkan alisnya."Kupikir ini butik."
"Benar nyonya Xia, tapi Tuan Zander adalah Raja kami. Dia ingin ada MUA disini. Maka kami pun harus sediakan MUA."
"Hahahah.... Diktator." gumam Xia kikuk.
Setelah setengah jam lamanya Xia di Make up. Akhirnya Xia keluar juga dari ruang ganti, dan muncul di depan Zander yang menunggu. Pria itu sedang membaca buku. Mendongak begitu Xia keluar.
Wajah Zander sangat terkejut, netra melebar dan tak berkedip. Buku yang dia bawa pun seketika jatuh. Menatap Xia yang semakin cantik saja dengan riasan dan gaun yang dia pilih.
Zander berdiri masih dengan keterkejutannya.
"Bagaimana?" tanya Xia dengan senyum yang dia terbitkan di wajah cantiknya.
"Cantik."
Zander mengambil tangan Xia dan mencium punggung tangan gadis itu.
"Apa kau sudah siap, nyonya Xia-ku?"
"Aku.... Gugup." Xia tersenyum kecil.
Zander melingkarkan tangan Xia di lengannya, yang dia lipat didepan dada.
"Ayo!"
__ADS_1
Zander melangkah pasti, Xia mengikuti langkah suaminya. Mereka lalu memasuki limosin. Dengan kawalan ekor Zander yang masih tetap panjang.
Sesampainya didepan rumah Keluarga Alan mobil Limosin itu berhenti. Para tamu memandang dan menanti seperti menunggu siapa yang keluar dari sana.
Zander keluar lebih dulu, mengulurkan tangannya menyambut Xia. Gadis itu tersenyum, lalu meletakkan tangannya diatas tangan Zander. Dan keluar dari limosin.
Zander kembali melingkarkan tangan Xia di lengannya, dan melipat tangannya. Berjalan beriringan bak artis diatas red Carpet.
Suara riuh mengiringi. Berikut dengan bisikan-bisikan para netizen yang julid.
"Apaa?? Tuan Zander datang ke acara seperti ini? Tidak biasanya."
"Bukankah itu Tuan yang mulia Zander? Siapa wanita disampingnya?"
"Wah, cantik sekali. Bikin iri saja, satu tampan, satu lagi cantik. Memang pasangan serasi."
"Siapa wanita di samping tuan Zander? Aku pikir pria itu tidak tertarik pada wanita? Selama ini tak pernah terlihat dengan wanita."
"Dia cantik sekali, pastilah putri dari keluarga ternama."
Dan lain sebagainya..
Xia yang tak biasa menjadi pusat perhatian seperti itu merasa tak nyaman juga.
"Kenapa begitu gelisah?"
"Aku gugup, Mereka terus memperhatikan kita."
Zander tersenyum tipis,
"Biasakanlah mulai sekarang. Kau adalah istri seorang Zander."
Xia tersenyum kecut. "Baiklah tuan Zander-ku."
"Bukankah Itu...." Silvia menunjuk Xia dengan tangan gemetar.
"Xia!" Sebut Alan masih menatap anaknya tak percaya.
"Tidak mungkin!" ucap Xenia terkejut sangat.
"Tuan Zander, terima kasih sudah bersedia datang."ucap Alan.
Zander hanya tersenyum tipis. Mengabaikan.
"Selamat atas kesembuhanmu."ucapnya.
"Tuan anda sungguh sangat perhatian." Ucap Alan dengan wajah sumringah. "Xia kenapa kamu tidak bilang jika mengenal tuan Zander?"
"Suamiku, bagaimana jika kita mulai saja acaranya?"ucap Silvia.
Acara berlangsung dengan meriah. Zander tak pernah jauh dari istrinya, beberapa orang mencoba mengajak Zander berkomunikasi, namun pria itu mengabaikan.
Darren yang sedari tadi menatap Xia lekat dari tempat duduknya. Memasang wajah sendu.
"Xia, kenapa kau lakukan ini padaku? kenapa kau menyakiti hatiku? Apakah kau begitu dendam dengan perbuatanku? Kenapa mengorbankan diri pada pria dingin dan kejam itu? keluh Darren menyesal dalam hati, melihat Xia duduk disamping Zander.
Pria yang memang sudah terkenal arogan, dingin dan temperamen itu.
"Tuan Zander, terimalah persembahan dari kami keluarga Tan, Suatu kehormatan anda bersedia datang ke acara syukuran ini. Anda sudah sangat membantu kami." ucap Alan menganggkat gelasnya. "Kami sangat berterima kasih."
Dengan malas Zander ikut mengangkat gelasnya.
__ADS_1
"Tentu saja, semua itu ku lakukan untuknya, Jika bukan karena Xia datang padaku, tak akan ada apapun untuk kalian." ucapnya datar, lalu menyesap minumannya.
"Ohohoho... terima kasih Xia," ucap Alan canggung. "Papa benar-benar berterim kasih."
"Papa?" Zander melirik Alan dingin dan berailih menatap Xia dengan kelembutan.
"Apa dia papamu?" tanya Zander,"Aku tidak tau kau punya papa. Apa lagi keluarga."
"Xi-xia, ini papa, tidak mungkin kamu melupakan papa kan?" Alan sedikit gugup dan gelagapan. Berharap Xia akan mengakuinya.
Xia tersenyum getir. Lalu menatap Zander dengan mata berkaca.
"Siapa keluargamu?"suara Zander.
"Aku.... Ingat, hanya kamu keluargaku sekarang."lirih Xia berdiri menatap Suaminya yang terlihat tersenyum puas.
"Xiaaa!!" pekik Alan tidak menyangka Xia akan menjawab seperti itu.
"Apa? Apa dia melupakan kita yang sudah membesarkannya? Benar-benar air susu dibalas demgan air tuba. Tidak tau balas budi." Silvia tidak terima. Zander melirik tajam dari ujung matanya hingga Silvia mundur selangkah dengan gemetar.
Zander beralih menatap Xia lembut.
"Sampai sebesar ini aku tidak pernah berlutut untuk siapapun. Tapi...."
Zander berlutut didepan Xia, mata Xia melebar. Zander mengeluarkan cincin dari saku nya.
"Jika untukmu, aku bersedia." Zander menyematkan cincin di jari manis Xia.
"Ini adalah, kado karena sudah menjadi istriku. Aku butuh waktu untuk memesannya, yang ini sangat spesial. Maaf." ucapnya, lalu mengecup tangan Xia. Gadis itu masih tampak terkejut.
Zander mengulas senyum dan berdiri. Lalu menatap Sekitar.
"Dengan ini aku mengumumkan Nona Luxia Luna sebagai istriku. Bulan depan, kami akan mengadakan resepsi, Zene!"
Zene yang berada tak jauh dari tuannya itu maju beberapa langkah dan mendekat.
"Undang semua orang yang ada disini, kecuali, mereka yang sudah menyinggung istriku. Aku tak mau suasana hatinya memburuk karena kehadiran mereka dihari bahagia kami."
"Baik Tuan."
"Apaa??"
Tentu saja Xenia dan Silvia tersentak kesal, mungkin saja mereka termasuk orang-orang yang dikecualikan.
"Sial padahal ini bisa jadi kesempatan memperluas bisnis dan masuk dlam lingkaran kalangan yang lebih luas." keluh Silvia geram,
"Siapa yang sangka gadis itu bisa merayu tuan Zander. Dia pasti merasa diatas awan sekarang." Hellen ikut menimbrung kesal.
"Xia, bagaimana bisa....." pikir Darren menyesali dengan wajah sayu. "Kupikir kau masih mencintaiku, apakah ini caramu membalas dendam padaku?"
Xia sijalllaang itu, bagaimana bisa dia mendapatkan seorang yang lebih baik dariku. Aku tak bisa menerima ini. Zander Zoe jika Xia bisa merayumu, Maka aku pun bisa... Batin Xenia menggeretakkan giginya..
_____€€€_____
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
__ADS_1
😊