
Setelah Xia sadar, beberapa saat kemudian, bayi-bayi Xia dibawa keruangan an vip. sang dokter juga mengarahkan bagaimana cara menyusui bayi kembar juga berlatih duduk dan bergerak pasca oprasi caesar.
"Sayang! Lihat! Doble J lucu sekali." Ucap Xia sambil menyusui keduanya.
Zander menelan ludahnya. Didalam ruangan itu hanya ada Zander dan Xia dan satu dokter wanita satu perawat wanita. Tentu saja Zene dan laki laki tak di ijinkan melihat Xia menyusui. Mau mati apa mereka?
Setelah beberapa hari dirumah sakit, Xia pun di ijinkan pulang. Di vila pribadi Zander, mobil yang membawa Xia dan dan doble J berhenti dihalaman. Zander dengan sigap memapah istrinya. menuntun wanita itu untuk masuk kediamannya.
Didepan pintu, keluarga kecil itu disambut oleh bibi Ana dan para pelayan. Xia tersenyum haru. Mungkin, inilah keluarga yang selama ini dia impikan. Yang tidak dia dapatkan dari keluarga Tan.
Xia mwnatap satu persatu wajah-wajah yang menyambutnya. Pandangan matanya terhenti pada sosok tua yang berdiri diantara para pelayan. Sosok itu seolah sedang dijaga, agar tetap bisa berdiri tegak.
Mata Xia berembun melihatnya. Tentu saja dia terharu. Xia beralih menatap suaminya. Dengan penuh syukur dan terima kasih.
Xia kembali menatap sosok tua itu.
"Nenek..."
"Cucuku..." sebut sang nenek.
Xia mendekat dan memeluk neneknya. "Bagaimana nenek bisa sampai kemari?" Haru Xia dengan bulir bening diwajahnya.
"Nenek sudah sangat sehat Xia. Setelah menjalani berbagai terapi ditempat yang baru. Suamimu juga setiap waktu mengunjungi nenek."
Xia melonggarkan pelukannya guna melihat wajah tua dari orang yang paling dia kasihi.
"Benarkah?" Xia tersenyum bahagia. kembali memeluk neneknya.
Xia melirik suaminya yang berdiri tak jauh darinya.
"Terima kasih." bisik Xia dengan berderai air mata bahagia.
Zander hanya tersenyum tipis.
Puas saling berpelukan melepas rindu, Xia dan nenek berjalan beriringan masuk ke dalam vila.
Di ruang utama, nenek Xia menggendong salah satu baby J.
Zander duduk disamping Xia yang bersandar di sofa.
"Apa kalian sudah memberi mereka nama?"
Xia melihat wajah suaminya. Dan besamaan tersenyum.
"Apa belum?"
"Apa nenek mau membantu kami memberi nama?"Xia balik bertanya.
"Mmm.. bagaimana kalau Zanxi?"
Zander dan Xia saling berpandangan lalu sama-sama melempar senyum.
"Aahh,, benar penggabungan keduanya. Cukup bagus nyonya." sela Bibi Ana.
"Sedangkan yang cowo Xizan. Wahh anda hebat Nek."
Xia dan Zander sekali lagi saling berpandangan. "Sepertinya itu bukan ide yang buruk."
Xia menyenderkan kepala di bahu suaminya.
***
###
Malam itu, Xia dan Zander baru saja membaringkan kedua bayi imut dan lucu mereka di box kusus baby mereka . Zander tidur memeluk tubuh Xia.
"Tidurlah. Kamu pasti lelah."
"Kamu juga sayang."
"Terima kasih." Zander mengecup punca kepala Xia.
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Karena sudah melahirkan kecebongku."
Xia terkekeh geli.
"Terima kasih juga untuk mu."
"Kenapa?"
"Karena sudah memberiku kecebong yang lucu. dan berubah jadi baby J."
"Baby J?"
"Heemmm..."
"Kau akan memberi mereka nama apa?"
"Bagaimana dengan mu? Apa akan mengikuti bibi Ana dan nenek, atau kau punya pilihan sendiri?"
"Hmmm.. Aku pikir Baby J, Jean dan Juna. Bagaimana menurutmu?"
"Terserah kau saja suamiku. Apapun Aku tetap mencintai kalian."
"Kami juga." Zander mengambil dagu Xia dan menyatukan bibir mereka.
Malam semakin larut, bulan pun bersinar dengan terang. Bintang-bintang tampak bertaburan dengan menghiasi pekatnya malam. Zander membuka matanya. Melirik pada istrinya yang pulas.
Zander bangkit dari pembaringan, dia melangkah melihat baby J nya. Dengan senyum diwajahnya Zander mengecup kedua bayi bergantian.
"Tidurlah yang nyenyak." bisik Zander.
Pria itu berjalan keluar dari kamarnya. Zander berjalan hingga ke halaman vila. Disana Zene sudah menunggu disamping mobil yang siap membawa Zander pergi.
Mobil sport itu melesat jauh hingga ketengah gunung. Disana ada sebuah bangunan yang atapnya terdapat begitu banyak lampu dan sound sistem.
"Zene! Kau turunlah ke bawah."
"Baik tuan."
"Kau akan mendapatkan potongan gaji pada setiap kepala yang mendekat."
Baru saja Zene menjejakkan kakinya ditanah dia sudah mendengar suara yang mengagetkan . Tentu saja suara nyanyian kebanggaan dan kebahagiaan tuannya yang sumbang dan buta nada.
"Begitulah cinta, penderitaannya tiada akhir." gumam Zene dengan senyum ceria diwajahnya.
Zene berdiri dan bersandar pada mobilnya. Zene menyulut rokok dan membuang batang korek apinya sembarang.
"Aaarrgg..."
Zene terkejut. Harusnya tak ada orang disekitar dalam radius 5 kilo meter. Kenapa ada suara seorang wanita disana.
"Haaahh? Tidak mungkin itu kuntilanak! bukan?" gumam Zene bergidig.
Zene mengedarkan pandangannya. Seorang gadis berusia belasan mendekat dengan batang korek ditangannya.
"Apa kau yang melemparkan ini ke kakiku?" tanya galak.
Zene menatapnya tajam.
"Cih, hanya bocah."
Suara sumbang nyanyian Zander terdengar sangat memekakkan telinga.
"Polusi suara apa ini?" protes gadis itu.
"Hei! Tempat ini harusnya bersih. Bagaimana kau bisa masuk? Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku mencari jamur."
"Kenapa bisa sampai disini?"
"Aku tinggal disekitar sini?"
Tidak mungkin aku sudah memastikannya bersih. Tunggu, rumah kosong yang reyot seperti tak terurus itu, apakah dia tinggal disana?
__ADS_1
"Apa kau tinggal di gubuk 500.meter dari sini?"
Gadis itu mengangguk.
Sialan! Aku kurang teliti.
"Baiklah gadis pencari jamur." Zene mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
"Pergilah! Anggap kau tidak melihat dan mendengar apapun malam ini." Zene menyerahkan uang itu pada Si gadis pencari jamur.
Mata gadis itu berubah jadi hijau. Jiwa miskinnya meronta untuk mengambilnya.
"Tentu saja tuan." Serunya menyaut uang itu segera.
"Bagus! Pergi!"
"Terima kasih tuan! Semoga kau panjang umur, murah rejeki dan sehat selalu." serunya berjalan cepat meninggalkan Zene.
Zene menggelengkan kepalanya dengan senyum geli.
Gadis aneh.
Setelah semua urusan selesai dan Zander sudah puas dengan segala atraksi jungkir balik dan suara sumbangnya. Zene dan Zander kembali ke Vila.
Di ruang utama, Zander mendapati Xia sedang berdiri tak tenang berjalan mondar mandir ditemani Bibi Ana dan beberapa pelayan.
"A-apa yang terjadi?? Kenapa kau begitu cemas?"
Xia langsung memeluk Zander begitu melihatnya. Memeluk dengan erat. Zander tentu saja merasa bingung. Dia lihat bibi Ana dan bertanya dengan tatapan.
"Nyonya mencari anda karena tiba-tiba menghilang. Nyonya juga sudah menghubungi nomor tuan dan Zene. Namun tak satupun dari kalian aktif. Jadi...."
Zander tertegun. dan berbalik memeluk istrinya.
"Maaf, sudah membuatmu kawatir. Aku hanya menyelesaikan urusan ku sebentar."
"Kenapa dengan suaramu?" Selidik Xia mendengar suara Zander berubah jadi serak efek samping dari klakuannya di gunung tadi.
"Tidak. tidak ada."
"Kenapa pergi tanpa pamit? Aku kuwatir sesuatu yang buruk terjadi padamu." tanya Xia dengan ksal memukul dada suaminya.
"Ini tak akan terjadi lagi. Jangan kuwatir. Maaf ya...."
OOWEEEE... OOWEEE....
Terdengar suara tangisan doble J dari kamar. Zandee dan Xia saling berpandangan. Lalu bergegas lari kekamar.
Karena keduanya bangun, Xia dan Zander menggendong satu-satu. Menyanyikan lagu dan menimangnya.
Baby J yang dibawa Zander semakin kencang tangisnya karena suara sumbang nyanyian Zander.
"Sayang kenapa malah membuatnya semakin menangis?" protes Xia.
"Aku tidak tau."
Zander semakin keras bernyanyi. Baby J pun tak kalah keras.
"Sayang berhenti bernyanyi dia takut dengan suaramu."
Hmmm, vila pribadi Zander sudah sangat rmai saja ya dengan kehadiran doble J mereka. Terima kasih sudah mengikuti Xia sampai sini.
Jika banyak peminat, coba Othor kasih bobcap khusus cerita Zene dengan gadis pencari jamur.
___€€€___
Udah End aja nih, pada mau boncap nggak ya? Yuk mampir juga ke karya on going othor lainnya,
GADIS BERDARAH PANAS.
like dan komen ya
Terima kasih.
__ADS_1
Salam___
😊