Gairah Cinta Semalam

Gairah Cinta Semalam
chap 67


__ADS_3

"Zen!"


"Iya Tuan?"


"Bagaimana kehidupan asmaramu?" Zander memeriksa beberapa berkas kerja di ruangannya.


"Kenapa tuan tiba-tiba menanyakannya?"


"Kau hampir tak pernah terlihat bersama wanita." Zander menatap wajah Zene, lalu mengalihkan lagi pada berkas ditangannya.


"Kenapa saya harus terlihat bersama wanita?" Zene mengerutkan dahi.


"Karena itu normalnya. Kita selalu bersama dan itu tidak normal."


"Apa nyonya yang mengatakan itu tuan?" tanya Zene dengan sangat hati-hati.


Wajah Zander berubah, tentu saja karena itu benar. Zander berhenti sebentar dari aktifitas nya dan menatap inten Zene.


"Kenapa tebakanmu benar? Apa kau memasang cctv di tubuhku?" tanya nya heran. Zander menautkan kedua alisnya.


Zene cekikikan.


"potong gajih."


Zene langsung terdiam.


"Itu karena anda mudah terbaca tuan." lirih Zene menahan tawanya.


"Benarkah?" sedikit terkejut.


"Sejak ada nyonya, anda banyak berubah."


Zander terkekeh senang.


"Xia memang banyak merubah hidupku."


Tuan anda terlihat bahagia sekali sekarang. Batin Zene dengan senyum diwajahnya.


"Kenapa jadi membicarakanku? Bagaimana dengan wanitamu?"


"Apa nyonya begitu mendesak?"


"Heemm... Dia terus memintaku mencari tau."


"Tidak usah tuan. Saya tidak tertarik."


"Aku tau itu. Dia berisik sekali. Katanya aku terlalu menggunakanmu sampai kau tak punya waktu berkencan. Dia memintaku memberimu cuti."


Zander menghela nafasnya. "Apa jadwal kita hari ini? Aku sudah kangen dengan doble Ji-ku." keluh Zander pelan dengan mimik sedikit frustasi.


Alasan saja anda, tuan. Kangen doble ji, berarti anda ingin menjenguknya, hohoho. pikir Zene dengan senyumnya. Tentu tuannya itu tak boleh tau apa yang dia pikirkan saat ini. Taulah, pasti potong gajih.


"Hari ini kita bisa kembali lebih awal."


"Bagus! Ayo pulang!" dengan semangat berdiri dari duduknya.


"Ini masih pagi tuan."


"Katamu kita bisa pulang lebih awal?" gerutu Zander menjatuhkan bokongnya lagi.


Iya lebih awal, tapi tidak sekarang juga kaliikk... Tentu saja ini hanya suara batin Zene.


"Tuan! Mari kita selesaikan urusan hari ini, agar kita bisa cepat pulang."


Zander menghela nafas beratnya."Baiklah!Ayo."


###


Sore itu seusai jam kerja kantornya berakhir. Susie menerima panggilan, Susie mengecek nomor siapa itu. Ternyata Xia. Dengan sumringah Susie mengangkatnya.


πŸ“ž:"Halloo?"


πŸ“ž: ["Kamu sedang apa? Sudah lama kita tidak bertemu, ayo ketemuan."]


πŸ“ž:"Ayokk! Dimana?"


πŸ“ž:["Terserah kamu saja."]


πŸ“ž:"Kamu lagi hamil, gimana kalau aku datang ke rumahmu saja?"


πŸ“ž:["Oke! Akan kukirimkan seseorang menjemputmu."]

__ADS_1


Sambungan telp berakhir. Susie menunggu di ruang tunggu depan perusahaan.


Disisi lain, di vila Zander.


"Mommy Xi, apa-apaan ini? Kenapa malah memgundang tamu? Bagaimana denganku?" protes Zander mendengar Xia mengundang temannya main, saat dia ingin berempatan dengan istri dan juniornya.


"Kami sudah lama tidak bertemu. Kangan Daddy Zi."


Xia mengelus pipi Zander. "Boleh yaa??"


Xia lagi-lagi melancarkan aksinya, mengecup pipi Zander sedikit lebih lama darj biasanya.


"Haaaahh... Bagaimana dengan rencana ku menjenguk Doble Ji."


"Malam masih panjang!"


"Sungguh?"


"Heemm..."


"Baiklah."


Xia tersenyum lebar memeluk erat tubuh besar suaminya itu.


"Terima masih Daddy Zi."


Xia lalu melirik Zene yang masih berdiri di ruang keluarga itu,


"Zene! Bisakah kamu membantuku menjemput Susie?"


"Baik. Nyonya."


Zene membawa mobilnya berpacu ke tempat kerja Susie. Sesampainya disana, Zene melihat Susie sedang duduk termenung diruang terbuka biasa karyawan menunggu jemputan. Zene membunyikan klaksonnya. Lalu turun dari mobil.


"Nona Susie."


Susie menoleh padanya, dengan sigap Susie berjalan mendekati mobil. Zene membukakan pintu untuknya.


"Terima kasih." ucap Susie sedikit canggung.


Didalam mobil yang melaju itu, hanya ada keheningan. Tanpa ada salah satu yang memulai pembicaraan.


"Bagaimana dengan ibu nona Susie."


"Baik."


"Dan jangan bicara terlalu formal padaku."


"Oke."


Suasana kembali hening.


"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?"


"Pertanyaan yang mana?"


"Bagaimana keadaan Ibu?"


"Aahh,, ibu..."


Tiba-tiba hpnya berdering.


"Aku akan mengangkatnya dulu." susie menunjuk hpnya.


"Silahkan!"


πŸ“ž:"Halo?"


πŸ“ž:["Suss... Ibu mu..."]


Hening, tapi raut wajah Susie berubah cemas.


"Zene, kita kembali. Bisakah kita kembali ke kosanku?"


"Oke."


Sesampainya di kosan Susie, tetangga yang menghubunginya tadi menyambut didepan pintu dengan wajah cemas.


"Ibumu tadi pingsan di depan kamar kosmu."


"Iya, terima kasih bibi. Dimana ibu?"

__ADS_1


"Ibumu kami baringkan diruang tamu, sudah aku ksih minyak angin juga."


"Baik. Terima kasih Bi."


"Ya sudah. Bibi kembali kerumah."


Susie melihat ibunya yang tergeletak di atas tikar dilantai kamar tamu. Susie menatap iba ibunya.


"Bagaimana kalau kita kerumah sakit saja?"


"Aaa... itu... Aku sedang tak punya biaya..."


"Kita kerumah sakit saja." potong Zene mengangkat langsung tubuh ibu Susie tanpa permisi."


Susie sudah tak bisa berkata lagi. Dia hanya mengikuti dibelakang.


Sesampainya dirumah sakit, Zene meletakkan ibu Susie dengan hati-hati diatas brankar UGD. Sementara ibu diperiksa, mereka menunggu diluar.


Ponsel Zene berdering. Pria itu melangkah menjauh, dan mengangkat sambungan.


πŸ“ž:"Tuan, Ibu nona Susie sedang di IGD sekarang."


Setelah mendengar reaksi disebrang sana, Zene mengakhir sambungan telp. Lalu dia kembali ke sisi Susie menunggu. Zene menyempatkan membeli sekaleng minuman penyejuk dan menyodorkannya pada gadis yang tegar itu.


"Aku tidak haus." tolak susie melambaikan tangannya.


"Buat pegangan." Zene menggenggamkan kaleng minuman itu ditangan Susie.


Susie tersenyum kecut.


Setelah menunggu beberapa saat. Dokter jaga memanggil.


"Keluarga pasien nyonya Dora."


"Iya." susie bergegas menghampiri.


Dokter menjelaskan jika Ibu Susie harus dirawat intensif. Tubuh Susie melemas, merosot sampai kelantai. Rasanya, ini sangat kejam. Kenapa? Cobaan yang dihadapinya begitu berat? Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, kini ibunya justru harus rawat instensif, saat dia tak memiliki cukup uang.


"Baik, Dok. Terima kasih. Mohon di urus selanjutnya." ucap Zene pada sang dokter. Susie mendongak dengan terkejut.


"Baiklah. Silahkan lewat sini untuk mengurus berkas dan administrasinya."


Zene mengikuti langkah dokter. Sementara Susie masih tergolek lemas ditempatnya melirik pada punggung Zene yang semakin menjauh.


Didalam ruang VIP , Ibu Susie sudah mendapat perawatan. Susie hanya menatap kosong pada tubuh ibunya yang tergolek diatas brankar.


Pintu ruangan itu terbuka. Xia mendekat dengan sedikit berlari. Susie menoleh dan berdiri. Dalam haru keduanya berpelukan.


Susie sesenggukan dalam dekapan tubuh sahabatnya itu. Zene dan Zander hanya terdiam mematung. Keduanya saling melempar pandangan lalu bersamaan mengambil langkah keluar ruangan. Menutup pintu tanpa suara. Memberi kedua wanita itu untuk lebih intens lagi.


Xia melepas pelukannya, Dia ikut mengurai air mata.


"Hei! Kenapa kau menangis? Kau sedang hamil. Tidak boleh menangis."


Susie mengusap pipi Xia dengan jarinya.


"Apa yang terjadi?"


"Ibu pingsan. Lalu kami membawanya rumah sakit. Ibu peerlu dirawat intensif untuk memantau keadaannya. Tapi...."


"Kenapa?"


"Aku.. Tak punya uang."


Antara kesal dan iba, Xia tertawa kecil memukul lengan sahabatnya itu.


"Dasar bodoh. Kita bisa menanggungnya bersama. Jika masih belum cukup, kita rampok saja Tuan Zander itu." kekeh Xia memgusap ujung matanya.


Susie ikut tertawa, tawa lega, sedih, senang dan kikuk bercampur jadi satu.


"Terima kasih."


_____€€€_____


Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.


Salam___

__ADS_1


😊


__ADS_2