
Pagi itu, daun- daun basah oleh embun, tetesannya jatuh dan membias tak tapak ditanah. Sinar kekuningan menghangatkan hawa sejuk dan menyibak kabut perlahan.
Dalam ruang yang begitu rapi dan manly, netra Susie mengerjab, melihat sekeliling dengan pandangan yang sedikit berkabut, lalu terang oleh biasnya warna pagi itu.
Susie merasa berada ditempat yang asing. Dimanakah dia? Dia tak pernah berada disana sebelumnya. Susie bangun terduduk dengan wajah bingungnya.
Susie mencoba mengingat-ingat.
"Aahh,, benar! Aku bersama dokter Jil."
Susie pun tersentak, sekilat ingatannya timbul, Dia sempat minum saat masih berada didalam pesta. Lalu dokter Jil mengantarnya, Mereka sempat terlibat percakapan kecil. Lalu tiba-tiba Dokter Jil menciumnya. Lalu berlanjut hingga akhirnya Dokter itu membawa Susie ke Apartemennya.
"Astaga!" Susie menutup mulutnya tak percaya. "Apa yang sudah kulakukan? Kami bahkan melakukannya lebih darri sekali."
CEKLEK! (Suara pintu dibuka)
Susie melihat tubuhnya yang polos tertutup selimut.
"Astaga!"
Dokter Jil muncul dari balik pintu, dengan membawa nampan diatasnya terdapat sebuah mangkuk berisi sup dan teh hangat.
Pria itu mendekat dan duduk pinggiran ranjang.
"Kau sudah bangun?"
Susie tak menjawab, bola matanya mengikuti wajah Dokter Jil yang semakin mendekat. Pria tampan itu meletakkan nampan diatas pahanya.
"Ada yang membuatmu tidak nyaman?"
Susie menghela nafasnya. "Jam berapa sekarang?"
"Jam enam tiga puluh menit."
Dokter Jil mengambil sendok menyendok sup lalu meniupnya, Lalu didekatkannya sendok itu ke mulut Susie.
"Aaaaa.."
"Aku harus kerja sekarang." lirihnya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Makanlah dulu."
"Aku tidak biasa sarapan."
Susie bangkit dari ranjang, menjejakkan kaki di lantai. Tubuhnya serasa lemas dan merosot kebawah.
Dokter Jil meletakkan nampannya. Dokter muda itu mengangkat tubuh Susie, melangkah ke kamar mandi.
"Kau mau kekamar mandi? Biar kubantu."
Dokter Jil meletakkan Susie dengan hati-hati di dudukan bathube.
"Aku akan tunggu diluar."
Dokter Jil melangkah keluar dan menutup pintu tanpa suara.
Pukul 7.15 am.
Dokter Jil yang masih menunggu dikamar mulai gelisah. Pasalnya Susie tak juga keluar dari kamar mandi. Terlintas dibenaknya, malam itu Susie hendak melompat dari pinggir jembatan.
Mungkinkah..... Pikiran buruk terus terlintas dikepalnya
Dokter Jil melangkah cepat hingga kedepan pintu kamar mandi. Mencoba mendengarkan suara. Namun, tetap tak ada apapun. Dokter Jil mengetuk dengan tak sabar.
"Susie? Kau baik-baik saja?"
"Jawablah, kenapa lama sekali!"
"Susie?"
__ADS_1
"Aku dobrak nih!"
Pintu dibuka dari dalam. Susie berdiri dibalik pintu dengan balutan handuk ditubuhnya. Jil bernafas lega, setidaknya apa yang terjadi tidak seperti yang dia pikirkan.
"Syukurlah!" lirih Jil menatap Susie dengan mata berkaca. Pria itu reflek memeluknya, sebagai tanda syukur."Kau membuatku takut saja."
Susie menghela nafasnya.
****
CEEEKKKIIIITTTT...
Mobil silver berhenti tepat didepan gerbang perusahaan Xander.
"Jam berapa kau pulang?"
"Entahlah, mungkin jam empat."
"Tunggulah. Aku akan menjemputmu nanti."
"Tidak usah."
"Kenapa?"
Susie terdiam sesaat.
"Baiklah, lagi pula ada yang ingin aku bicarakan juga."
"Oke!"
Susie mengeluarkan tubuhnya dari badan Mobil Jil. Jil pun masih disana sampai punggung Susie menghilang dari balik gerbang. Barulah dia mengemudikan mobilnya. Dalam perjalanan Jil kepikiran akan hal apa yang ingin Susie sampaikan.
"Apa dia akan memintaku bertanggung jawab?"gumamnya.
"Tentu saja aku akan bertanggung jawab."
"Tapi, bagaimana jika dia justru menyuruhku menjauh?"
"Baiklah Jil. Ayo buat kejutan untuknya, buat dia terharu oleh lamaran manismu."
Mobil Jil melesat jauh.
****
####
Sore harinya,
Susie menghela nafasnya berulang kali.
Aku harus bagaimana? Waktu pulang semakin dekat. Kami memiliki kasta yang berbeda. Tidak mungkin kami akan bisa bersatu. Orang tua Dokter Jil tak mungkin akan setuju dengan hubungan ini. Tapi, kami sudah...
Susie memejamkan matanya. Membengkokkan punggungnya hingga dahi gadis itu menyentuh meja. Pelan Susie membenturkan kepalanya di meja.
"Bodoh! Bodoh! Bagaimana bisa kau melakukan hal semacam itu padanya. Jelas kau juga ikut andil dalam kesalahan ini." Gumam Susie meruntuki dirinya sendiri.
"Andai dokter Jil orang kantoran biasa, aku tak perlu seperti ini."
Susie kembali termenung. Lalu menghela nafasnya berat. "Haaaahh... Sudahlah!"
Dengan gontai, Susie akhirnya melangkah keluar dari perusahaan. Didepan gerbang tampak begitu riuh dan ramai tak seperti biasanya. Seperti ada pertunjukan disana, Susie melihat sekitar, ada sebuah kerumunan. Semua tampak senang dan sumringah.
Ada sebuah pertunjukan musik disana. Susie mendekat dan ikut melihat kerumunan. Ternyata itu Dokter Jil yang sedang bernyanyi. Duduk diatas bagasi mobilnya, dengan sebuah gitar dipangkuannya. Pria itu memetik dan mensenandungkan sebuah lagu. Susie takjub dibuatnya.
Seusai bernyanyi dengan sambutan tepukan tangan,pria itu melihat Susie lalu berjalan memdekat. Tentu saja itu membuatnya menjadi pusat perhatian.
"Sebuket bunga untuk wanita cantik."
Jil menyodorkan buket mawar merah pada Susie.
__ADS_1
"Aku... Tidak terlalu suka bunga.."
"Benarkah?" Jil mebuangnya. Dia lalu mengambil buket coklat.
"sebuket coklat pahit dan manis, untuk wanita termanis di dunia."
Susie terkekeh kecil. "Mmm... coklat membuatku gendut. Aku juga tidak suka coklat."
"Okey."
Jil kembali melempar begitu saja coklatnya. Pria itu lalu diserahi seseorang sebuket bunga uang berwarna warni.
"Bagaimana dengan ini?"
Susie terkekeh kecil.
"Apa rencanamu dokter Jil?"
"Kau akan tau! Terima atau tidak?"
Susie menghempas nafasnya pelan.
"Tidak ada wanita yang akan menolak uang." Susie mengambil buket uang itu.
"Hadiah selanjutnya..." Jil memasang pita ditubuhnya.
Susie membeku.
"Apa ini maksudnya, kau menghadiahkan dirimu sendiri?" ucap Susie akhirnya dengan kekehan geli.
"Apa kau tidak mau menerimanya?"
"Tidak!"
Dokter Jil terkejut. Menatap Susie tak percaya.
"Hei! Setidak nya kau harus berpikir dulu. Kau akan mendapatkan semuanya jika menerimaku."
Susie tertawa kecil.
"Apa mau mu sebenarnya dokter Jiill.."
Jil tersenyum. Dia menekan sebuah tombol. Dan pintu bagasi mobilnya terbuka. Menyeruak dari sana banyak balon yang berterbangan. Juga balon yang lain yang tersambung pada sebuah banner.
Mata Susie membola, melihat apa yang tertulis di banner itu. Susie menutup mulutnya tak percaya. Di banner itu tertulis empat kata berbahasa inggris :
"Will you marry me?"
Susie beralih menatap wajah Jil. Laki-laki itu beraimpuh didepannya.
"Will You?
Marry me?"
Jil membuka sebuah kotak berisi cincin dihadapan Susie.
Hhmmmm,, kira -kira Susie bakal nerima nggak ya Guys?
____€€€____
Udah mau End aja nih, tinggal beberapa bab aja. Yuk mampir juga ke karya on going othor lainnya,
GADIS BERDARAH PANAS.
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
__ADS_1
Salam___
😊