
Peter kembali ke mansion utama. Dimana dia tinggal dengan Mama dan Papanya. Peter keluar dari mobilnya. Melalui halaman yang menyerupai taman yang indah. Dengan pijakan dari batu persegi dengan tanaman di sisi kanan kirinya yang tampak rapi dan terawat. Membentuk jalan yang meliyuk.
Didalam ruang utama mansion itu, Peter melihat mama Anggia sedang berbincang dengan seorang wanita cantik. Mereka terlihat sangat akrab, naamun atmosfirnya tak mengenakkan.
Meski begitu Peter tetap mendekat dan menyapa.
"Mama!"
"Ouuumm Anak bungsu mama sudah pulang." Anggia bangkit dari duduknya dan memeluk Peter. Cipika cipiki dikit.
"Lihat! Alexa baru saja kembali dari luar negeri. Dia langsung datang kemari." Anggia menoleh dan melirik Alexa. Wanita itu tersenyum. Peter membalasnya dengan senyum tipis.
"Kalian ngobrol aja dulu. Mama mau buatkan minum dan ambil cookies." pamit Anggia memberi ruang pada kedua insan beda jenis itu. Anggia melanggah menuju dapur.
Peter hanya menoleh melihat arah mama nya melangkah. Lalu kembali berbalik menatap lekat pada Alexa.
"Kau sudah bertemu dengannya?"
Alexa berdiri, "Tentu saja. Dan dia mengusirku dari vila." kata Alexa terdengar jengkel.
Peter terkekeh. Mereka mulai melangkah menuju taman tak jauh dari ruang utama.
"Dia memang orang seperti itu. Entah kapan dia akan terbuka pada wanita." ucap peter pelan dengan tawa kecil terselip disana.
"Ada seorang jallaaang di vilanya."cetus Alexa dengan mata sedikit berkaca.
"Berhati-hatilah dengan ucapanmu. Dia bisa memotong lidah mu." Peter ngingatkan, dia sangat tau watak Zander, dulu juga mamanya pernah mengalami hal buruk karena sembarangan mengatai mendiang ibu Zander.
Alexa tersenyum kecut.
"Tak bisakah kau membujuknya agar setuju dengan pertunangan ini Peter?" Alexa memelas pada Peter, memegang lengannya dan menatap penuh permohonan.
Peter menghela nafasnya. Ada rasa sayang yang terpendam, juga rindu, dan rasa iba yang bercampur menjadi satu dengan kepedihan.
"Aku tak begitu dekat dengan Zander. kau tau itu." balas Peter lirih.
"Tapi dia lebih mendengarkanmu Peter."
HYUUUUUSSSHHH... Suara angin meniup dedauan dan menggoyangkan pohon pohon ditaman itu. Peter terdiam.
"Aku sangat mencintainya Peter." rengek Alexa. "Berbuatlah sesuatu." pinta Alexa memohon. Dia tau Peter mencintainya namun Alexa selalu merengek dan memanfaatkan dia agar bisa dekat dengan Zander."Hanya kamu yang bisa aku andalkan."
"Apa yang bisa kulakukan untukmu?"ucap Peter akhirnya meluluh.
"Wanita itu. Kau hanya perlu menyingkirkannya." pinta Alexa dengan mata benci yang bertekad. Bibir Alexa melekuk keatas merasa berhasil menghasut Piter.
Peter menghela nafasnya lagi. Walau bagaimanapun, dia juga mencintai Alexa. Wanita yang rencananya akan dijodohkan dengan Zander. Namun Zander beberapa kali menolaknya dengan kasar.
Dalam keluarga ini, Zanderlah yang memegang kendali penuh. Baru Ayah dan ibunya. Hanya jika mereka bersatu dengan Peter dan Alexa baru bisa dianggap sebanding dengan Zander.
__ADS_1
Semua ini juga tak lepas dari mendiang ibu Zander yang meninggal beberapa tahun lalu karena mengetahui perselingkuhan suaminya dan memiliki anak. Papa Zander menikah lagi dengan Anggia. Sebelumnya mereka sudah berhubungan gelap hingga lahirlah Peter. Karena hasil dari hubungan gelap itulah, Peter tak memiliki hak atau kekuatan apapun.
****
Xia membereskan beberapa pekerjaannya sore itu. Xia bernafas lega, akhirnya waktunya pulang tiba. Xia melangkahkan kakinya perlahan keluar dari gedung. Di luar gedung Xia bertemu dengan Susie. Mereka janjian untuk pulang bersama.
Susie dan Xia menaiki bus untuk kembali ke kosan mereka. dalam perjalanan di bus itu. Xia memerima beberapa pamggilan dan pesan. Karena Xia sudah lelah dia abaikan saja.
Begitu mereka sudah turun dari bus Xia kembali menerima panggilan.
"Apa sih mau mereka? dari tadi bolak balik telpon terus." gumam Xia melihat layar pada hpnya.
"Kenapa?" tanya susie.
"Ini Silvia. Aku sudah malas rasanya. Terakhir dia memintaku menemani Direktur Morgan."
"Direktur Morgan dari XTC?" Suzie menyakinkan."Bukankah dia sudah bangkrut?"
"Apa?"Xia terkejut menoleh pada Suzie.
"Heemm... Dia sudah bangkrut dalam semalam. Itu beberapa hari yang lalu."
Xia tertawa kaku.."Beberapa hari yang lalu dia masih bagus, lalu tiba-tiba bangkrut. dan aku terbangun divila Zander. Jangan bilang..... Hahaha.... tidak mungkin kan?" batin Xia saat itu.
"Xia!" panggil Susie membuyarkan lamunan Xia.
"Iya? Ada apa?" jawab Xia tersentak kaget.
"Aah, benar! Mungkin saja penting." gumam Xia akhirnya menjawab telpon.
"Halo?" Xia menempelkan hp nya ke telinga.
"DASAR ANAK TAK TAU BALAS BUDI! KEMANA SAJA KAU!"teriak Silvia dengan marah-marah di sebrang sana.
"Papamu sekarang sekarat!" suara lantang Silvia.
"APA!?" Xia terkejut.
"Papamu sekarat. dia kena serangan jantung dan sekarang dia ada dirumah sakit."
Tubuh Xia membeku. Dia terkejut. abagaimana bisa papa nya Alan kena serangan jantung. Padahal dia sehat-sehat saja. Ada apa ini?
Xia langsung kerumah sakit dimana Alan dirawat. Disana tidak ada sanak famili satupun. Xia cukup terkejut karenanya. Xia menelpon Silvia.
"Mama dimana? kenapa papa hanya sendiri?" tanya Xia dilorong bansal.
"Kenapa? kau tanya?" seru Silvia tak terima. "Dengar gara-gara perusahaan kita ditekan terus-terusan oleh Z2x grup itu, Papamu kelelahan dan mengalami serangan jantung. Mama saat ini menggantikan papamu. Mama standby mengurus perusahaan."
Xia tertawa lucu.
__ADS_1
"Bagailmana dengan Xenia dan Darren?" tanya Xia tak habis pikir.
"Mereka juga sibuk mencari dana untuk grup Tan. Dan itu tak mudah. Tak ada yang berani bekerja sama atau memberi pinjaman pada kita."
Xia kembali tertawa kecut.
"Lalu bagaimana dengan biaya operasi papa?"
"Bagaimana katamu?" sentak Silvia."Itu yang harus kau pikirkan!"
"Apa?" ucap Xia tak percaya.
"Biaya operasi papa 400juta!"
"Benar! dan itu tugasmu mencarinya."seru Silvia.
"Ma!" pekik Xia."Bukankah kita masih memiliki perusahaan? Apakah kita tak memilikinya sama sekali?"
"Apa? Enak sekali omonganmu didengar! Kita sedang dalam masa genting seperti ini! Kita membutuhkan uang banyak untuk mempertahankan perusahaan." ketus Silvia
"Bagaimana dengan papa? Apa dia tidak lebih penting?"
"Perusahaan kita sedang kritis juga. kau hanya di serahi satu nyawa papamu saja...."
Xia mendengarnya tak percaya. Bagaimana bisa....? Bukankah dia istrinya? Nyawa papanya tidak penting? Demi perusahaan? Cuiihh! kalian hanya tak ingin jatuh bangkrut saja. Tega sekali.
Xia memutar otak nya. Saat ini tak mungkin untuknya melakukan pinjaman bank. Xia juga sudah menghubungi kerabatnya. Terutama kerabat yang pernah ditolong oleh keluarga Tan.
Namun, hebatnya mereka tak punya dan tak bisa. Luar biasa pulak alasannya.
"Oohh Xia ya? Kami sangat ingin membantu, tapi sebentar lagi anak pertama kami akan menikah. Kamu tau kan kami akan berbesanan dengan keluarga terpandang. Harus mengadakan pesta besar. Jadi maaf Xia. Kami tak bisa bantu."
"Apa? Alan masuk rumah sakit? Wah sedih sekali. Apa? mau pinjam uang? Kami tak punya. Kalian kan keluarga terpandang bagaimana hanya 800juta saja tak punya. ooohh iya kalian kan sebentar lagi bangkrut."
"Aku turut bersedih Xia untuk paman Alan. tapi kami juga baru saja pulang dari liburan. Uang kami habis."
Begitulah kira-kira alasan mereka saat Xia menelpon untuk meminjam uang. Xia tertawa getir.
Benar memang kata orang, saat kita diatas banyak yang menjilat, saat berada dibawah, kenal pun tidak.
Xia menghela nafasnya. Dia teringat dengan Zander. Dia yang sudah menekan perusahaan keluarganya. Haruskan Xia memohon padanya?
____€€€____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
__ADS_1
Salam___
😊