
Zander dan Xia menikmati kare yang tadi dimasak Xia sendiri akhirnya. Mereka makan dengan tenang dan hening.
Zander melirik Xia yang ternyata makan sambil menoleh kearahnya. Membuat Pria itu salah tingkah.
Hmmmppp... Sebenarnya dia lucu juga. Baru diperhatikan sedikit saja sudah terlihat salah tingkah. Apa dia memang sepolos ini? Tapi bagaimana bisa dia menekan perusahaan papa jika bodoh begini.
Xia menghela nafasnya.
"Apa kare nya enak?"
"Heemmm..."
"Kalau begitu, makan yang banyak." ucap Xia dengan senyum manisnya.
"Baiklah." kata Zander, "Aku tambah."lanjutnya menunjukan piringnya yang kosong.
Xia tersenyum lebar."Bibi Ana, tuan Zander mau tambah."
"Baik Nyonya." Bibi Ana mengambil piring Zander dan mengisinya lagi dengan kare.
"Makan!" ucap Xia geli.
beberapa saat.
"Nambah."
"Bibi Ana." nyanyian suara Xia.
"Baik nyonya." Bibi Ana menjawab dengan riang juga. Mengambilkan kari untuk Zander lagi.
Piring Zander kembali penuh, pria itu makan dengan lahab nya. Xia senang juga melihat Zander begitu bersemangat makan kare buatannya. Hingga membuatnya tersenyum.
"Tambah."
Perlahan senyum Xia menurun.
"ini.... sudah ketiga kalinya kamu tambah, suamikuu."
"Kamu bilang makanlah yang banyak."
Antara senang atau kesal. Xia bingung hingga hanya tawa canggung yang dia suarakan.
"Hahahaha...."
Makanan ini yang begitu enak atau memang dia yang kelaparan? Kenapa dia begitu penurut? Pikir Xia sebenarnya kasian juga.
"Tambah Bibi Ana."suara Zander.
"Ba...." Ucapan Bibi Ana terpotong karena melihat tangan Xia yang terangkat. Menahan agar cukup.
"Tolong simpan saja kare nya,Bi."
"Baik Nyonya."
"Kenapa? Aku masih mau tambah."ujar Zander sedikit tak terima.
Xia mehela naffasnya, matanya melihat luka di jari Zander. Xia mengangkat tangannya menengadah.
"Kemarikan tanganmu!" ucapnya.
Zander memberikan tangan kanannya. Xia menampiknya.
"Bukan! Tangan yang satunya."
Zander memberikan tangannya yang tadi teriris pisau. Xia mendekat dan menggeser duduknya. Meraba jari Zander yang tersayat.
Kenapa ada orang sepertimu yang hidup disekitarku.... pikir Xia menatap sedih pada jari Zander.
Xia mengeluarkan plester luka lalu menempelkannya di jari Zander satu per satu. Hingga semua sayatan itu tertutup plaster semua.
"Lain kali, jangan lakukan lagi. Kamu hanya melukai dirimu sendiri."
__ADS_1
Zander mengangguk patuh. Xia tersenyum kecil. Gemas juga melihat suaminya yang begitu patuh.
Mungkin sedikit hadiah kecil tidak apa-apa. Pikir Xia beranjak dari duduknya dan pindah ke pangkuan Zander. Pria itu menatap mengikuti wajah Xia. Xia membingkai wajah Zander dan mengecup bibir nya. Lalu menyesapnya.
Zander terkejut. Tidak menyangka Xia akan menciumnya lebih dulu. Zander membalas ciuman Xia. Tangan Zander memeluk tubuh Xia.
Xia dan Zander saling menggulum, menyatukan saliva, mempertemukan lidah dan bergelut lembut disana. Nafas Zander kian memburu. Zander mengangkat tubuh Xia dan membopongnya, berjalan perlahan, membawa Xia ke kamar mereka berdua. Dengan terus mempertahankan ciumannya.
Dengan hati-hati Zander meletakkan tubuh istrinya diatas ranjang, dan dia sendiri merangkak diatasnya.
Zander menyusuri leher Xia, mengecup ringan kulit mulus gadis itu. Dan turun semakin kebawah.
Uuuuhhhggg....
Xia melenguh. Membuat gairah Zander semakin membuncah dan gencar dengan permainannya.
"Tunggu..." ujar Xia tersadar pakaiannya sudah berantakan. Netranya membuka sempurna. Xia melongok, melihat Zander tengah menyasap dan bermain dengan bola kenyalnya.
"Anjiiirrr...."
Xia menendang bagian pusat Zander dengan dengkulnya..
Uuuugggghhh...
Pria malang itu terguling hingga jatuh ke lantai. Gegas Xia membetulkan bajunya. Lalu bangkit. Dan berdiri.
"Kau!" geram Xia yang kesal pada dirinya sendiri dan Zander. Menunjuk Zander dengan muka marah dan malu.
"Kalau kau mendekat lagi, kau mati!" teriak Xia dengan muka merahnya.
Dia berlari keluar kamar meninggalkan Zander yang masih memegangi benda berharganya yang ngilu.
"Apa salahku?" keluhnya miris.
Diluar kamar Xia meruntuki dirinya sendiri.
"Uuuggghhh... bagaimana aku bisa lengah, hanya bermaksud memberinya sedikit kecupan. Malah kebablasan." runtuknya.
###
Ke esokan paginya Xia berangkat diantar oleh Zander walau harus melalui drama pertengkaran pagi. Apalagi sempat geger semalam.
Xia yang memang tak ingin diantar Zander beserta ekor yang mencolok mata itu, akhir nya menyetujui setelah Zander ganti model mobil biasa dan memangkas ekornya.
Xia melangkah masuk ke gedung perusahaan tempatnya bekerja.
"Xia!"
Xia membeku, mendengar suara Peter memanggilnya. Wajahnya beubah menjadi tak sedap dipandang.
"Aku akan pura-pura tidak dengar dan mengabaikannya." gumam Xia melanjutkan langkahnya tanpa menoleh.
"Xia!" panggil Peter semakin mendekat. Xia mempercepat langkahnya.
"Luxia Luna!" Panggil Peter lagi menarik lengan Xia hingga gadis itu tersentak berbalik.
"Ahahaha... selamat pagi pak Peter." sapa Xia tersenyum palsu.
"Pagi!"sahut Peter.
"Kenapa pagi-pagi aku sudah merasa ada yang sengaja menghindariku?" tegur Peter menyipitkan sebelah matanya.
"Ahahaha.. itu hanya prasangka pak Peter saja. Siapa orang bodoh yang menghindari pak Peter yang tampan dan ter hormat ini. Dia pasti sudah bosan hidup. Hahahah.."
Peter terkekeh,
"Benar! Dan kau akan dapat hukuman." seru Peter dengan senyum selebar daun jati.
Peter menarik tangan Xia, dan melangkah, membuat Xia sedikit terseok menyeimbangkan langkah.
"Pak Peter. Apa salah saya.." rengek Xia mencoba melepaskan diri."Bisa kah anda melepaskan tanganku?"
__ADS_1
Xia dan Peter saat itu menjadi perhatian banyak karyawan disana. Karena tak biasanya Peter yang seorang Presdir di perusahaan Xander itu menarik seorang wanita.
Tentu saja bisikan-bisikan iri tak lepas dari pandangan orang-orang.
"Lihat! bukankah itu Xia anak baru yang menjadi asisten khusus Pak Peter kita?"
"Astaga apa dia sedng menggoda pak Peter?"
"Apa yang mereka lakukan? Apa pak Peter sedang menyeretnya ke ruangan khusus?"
"Xia wanita seperti itu, pantas saja dia bisa langsung naik jabatan secepat itu. Bikin iri saja."
Begitulah kita-kira bisikan-bisikan yang mengiringi langkah Xia.
"Pak Peter! Lepaskan saya! Ini sangat tidak pantas dilihat oleh karyawan lain!" ucap Xia sedikit meninggikan suaranya.
Peter berhenti. Lalu berbalik dan melepaskan tangan Xia.
"Pertama, kamu sudah kabur kemarin dan meninggalkan aku. di rumah sakit."
"Saya sudah bilang sebelumnya. Saya sudah pesan taksi online."
"Kau membuatku berkeliling mencari."
"Siapa yang menyuruh. Saya sudah mengatakan sebelumnya. Kenapa anda mengambil inisiatif sendiri?"
"Itu masalahmu! Aku sudah memintamu mengcancel nya. Kenapa melawan atasan?" ucap Peter.
Xia tertegun, dia tertawa kecil dengan canggung.
"Sebagai hukumannya karena meninggalkan aku, membuatku mencari dan melawan atasan. Kau harus menebuskan nya dengan makan pagi, makan siang dan makan malam."
Xia tergelak. "Ahahahah..."
"Pak Peter! Kita adalah atasan dan bawahan."
"Benar! Bukankah itu sepasang?"
Xia tergelak lagi. "Ahahahha..."
"Pak Peter, lebih baik kita tetap menjaga hubungan atasan dan bawahan sewajarnya. Agar tidak menyinggung karyawan lain."
Peter tersenyum tipis. "Baiklah.kau bisa menolaknya. Satu kali makan malam untuk setiap satu kali penolakan."ucap Peter dengan senyum menantang.
"Haaaaahh.. Kau licik." gumam Xia menyipitkan matanya."Baiklah! Ayo kita selesaikan makan pagi."
Xia melangkah mendahului Peter berjalan ke kantin. Peter tersenyum menang. Seusai sarapan bersama, Xia duduk di meja kerja. dan bekerja seperti biasanya, Sepanjang jalan itu pula, Xia terus mendengar gumaman dan bisikan disekitar. Dia terus mencoba tidak terprovokasi.
Siang menjelang sore itu, dengan lelah Xia menyenderkan punggungnya.
"Xia!" panggil Susie dengan nada panik dan kuwatir.
"Ada apa?"
"Lihatlah berita di forum karyawan."
Xia terbangun dari sandarannya segera Xia membuka komputernya dan mengklik forum Karyawan.
"Aa-apaa ini?"
____€€€____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1