
Sudah beberapa hari ini Luxia keliling dan mengikuti seleksi karyawan. Dan semua menolaknya. Luxia sampai heran sendiri.
"Kenapa dengan mereka?"gumamnya jengkel sampai ke umbun-umbun.
"Butuh karyawan, tapi datang karyawan terbaik bisa bisa nya ditolak." gerutunya narsis.
"Baiklah. Aku tidak mungkin kembali ke perusahaan Xander. Juga tidak mau ke Z2x grup..." Luxia menatap gedung didepannya yang menjulang tinggi.
"Aku juga tidak akan kemari." gumamnya datar melihat plat perusahaan Alexander grup yang mana disana juga sedang mencari engenering.
"Mana sudi aku bekerja dibawah Darren, manna masih harus berhadapan dengan Xenia. Haaaahh... tidak sudi."gumamnya lagi, sambil terus melajukan kendaraannya ke tujuan lain.
Xia menghentikan mobilnya di sebuah gedung yang dia lihat melalui laman web. Bukan gedung yang besar apalagi megah. Hanya sebuah pabrik kecil.
Xia menghela nafasnya.
"Disini sepertinya cocok." ucap Xia dengan senyum diwajahnya.
Dengan penuh percaya diri, Xia memasuki gedung pabrik itu.
****
Di gedung Z2x Zander gelisah mondar mandir di ruangannya. Zene hanya tersenyum tipis melihat tuannya itu begitu gelisah. Sudah empay hari ini Zene dibuat sibuk oleh permintaan Zander untuk menotif perusahaan yang Xia datangi,agar tidak menerima wanita itu.
Ancaman Zander tidak main-main, bukan hanya memutus kerjasama namun juga membuat gulung tikar juga. Siapa yang berani melawan?
"Tuan, anda sungguh tidak profesional dalam hal ini." batin Zene masih memasang wajah senyum agar tidak terbaca oleh bosnya.
"Zene! Kenapa nyonya belum juga datang kemari?"
"Kenapa bertanya pada saya, tuan?" ucap Zene enteng."Cobalah bertanya pada Nyonya sendiri." lanjut Zene terkekeh.
Zander melirik sadis pada Zene.
"Baiklah tuan, akan saya periksa sekali lagi."patuh Zene menunduk undur diri.
"Waktumu 10 menit."
BLAAAMM!! (suara pintu ditutup)
Zander membuang nafas kesalnya.
"Zene sudah mulai berani sejak ada Xia. Haruskah aku mendisiplinkannya lagi?" gumam Zander jengkel karena Zene suka menggodanya beberapa waktu belakangannya.
Zander berjalan mendekati jendela kaca diruangannya. Menatap keluar dengan banyaknya gedung pencakar langit dan bangunan bertingkat lainnya. Awan-awan putih bergerak mengikuti angin membawa dibirunya langit. Burung-burung kecil tampak beterbangan yang entah kemana tujuannya.
CEKLLEEKK...!!
"Tuaann...."
Zene memasuki ruangan. Zander masih menikmati pemandangan didepannya tanpa menoleh.
"Tuan! Apakah anda masih sadar?" Zene mendekat.
"Bagaimana?" tanya Zander tanpa memperdulikan ucapan Zene itu.
"Nyonya Xia, memasuki pabrik SCH."
"Apa?" Zander menoleh.
"Pabrik SCH, tuan."
"Tempat apa yang tidak terkenal itu?" tanya Zander kesal juga Zene seperti berbelit belit.
"Pabrik SCH adalah pabrik penyupai bahan untuk salah satu produk mie kita, tuan."
"Oh ya?" Zander berbalik dan mendekat pada asistennya itu.
"Kenapa dia malah masuk ke pabrik kecil seperti itu?" Zander seperti semakin kesal. Bukannya datang padanya malah masuk melamar kerja di pabrik yang berkali kali lipat lebih kecil dari grup Z2x miliknya.
__ADS_1
"Sadarlah tuan! Andalah yang membuat nyonya tak diterima di perusahaan manapun. Sekarang malah protes."ucap Zene juga kesal karena dibuat sibuk masih harus mendengar pertanyaan konyol seperti itu.
"Zene! Sepertinya aku harus mendisiplinkan kamu."
"Sepertinya nyonya memang sengaja ingin membuat anda mendatanginya sendiri untuk memberi pekerjaan langsung." ucap Zene mengalihkan pembicaraan yang enak didengar oleh tuannya.
"Bagaimana jika kita menemui nyonya saja?"ucap Zene dengan senyum palsu.
Zene cukup tau hanya dengan menemui istrinya, tuannya itu bisa melunak.
"Baiklah, itu saran yang bagus." ucap Zander merapikan jasnya dan melangkah melewati Zene.
"Masih tidak mau ikut?"sindir Zander melirik Asistennya itu.
"Baik, Tuan." Patuh Zene cari aman.
*****
Xia keluar dari gedung SCH dengan wajah berbinar dan sumringah. Tentu saja karena dia diterima kerja disana.
"Aku akan mulai dari nol dulu." ucapnya antusias karena begitu senang akhirnya bisa bekerja dan menghidupi dirinya sendiri dengan keringatnya.
Xia melihat kendaraan yang dia pinjam dari Zander. Xia tercenung. Sesaat dia memikirkan pria yang sudah dia anggap mendukungnya itu. Xia melihat jam dilengannya. jam 11.30. Sebentar lagi waktunya makan siang.
Xia memasuki mobil dan berkendara menjauh dari pabrik. Tepat saat itu, mobil Zander berhenti diareal pabrik. Hingga mereka tidak bertemu.
Zander memasuki kantor pabrik. Tentu kedatangan Zander membawa tanya dan aura tersendiri. Apa lagi direktur umum yang kebetulan melihat dan langsung menyambutnya dengan cepat.
"Tu-tuan Zander." sambutnya masih terkejut tak percaya.
"Ap-apa yang membawa tuan kemari?"
"Dimana dia?" tanya Zander mengabaikan.
"Dia? dia siapa?"
"Itu,, tadi nyonya Luxia Luna melamar kerja disini bukan?" tanya Zene mengambil alih berbicara.
"Benar!"
"Apa anda menerimanya bekerja disini?"
"I-iya, tuan."
"Mari kita bicara secara khusus."
###
Diruang khusus direktur utama. Zander duduk disamping Zene yang berhadapan dengan direktur utama.
"Direktur Tama, Kami sangat menghargai anda sudah menerima Nyonya Xia bekerja disini. Mmmm, sebagai...."
"Enginer tuan. Sesuai apply nya."
"Aaahhh.. Bagus. Sebagai enginer. Kita masih terikat kerja sama, tentu ini kerja sama yang baik ini harus diteruskan." ucap Zene dengan senyum khasnya.
"Karena itu selama beberapa hari kedepan mohon bantuannya untuk membimbing nyonya Xia dalam bekerja disini...."
"EHEEEMMM!" dehem Zander keras tidak setuju dengan ucapan Zene.
"Bukan itu rencananya Zen." sentil Zander.
Zene tersenyum palsu. Dia lalu berbisik pada tuannya.
"Tuan, kita tidak bisa melakukan ini lagi. Saya punya rencana bagus agar Nyonya bisa bekerja di sisi anda." bisik Zene licik.
"Hmmmmm...." Zander mencoba menyimak bisikan Zene sambil manggut-manggut.
"Baiklah jika kamu memaksa." ucap Zander akhirnya dengan wajah merona.
__ADS_1
"Tuan tidak ada yang berani memaksa anda.... kenapa berucap mengadi-ngadi?" pikir Zene dengan senyum palsu.
Setelah berdiskusi dan mencapai kesepakatan dengan Direktur Tama. Zander dan Zene kembali masuk ke dalam mobil untuk kembali ke kantor. Ditengah perjalanan, hp Zander beedering.
Zander mengambil hpnya dari saku dalam kemejanya. Wajah penuh Xia terpampang di layar. Netra Zander melebar. Cepat-cepat Zander menggeser tombol hijau.
π:"Iya?"
π:["Suamiku...." ]sebut Xia disebrang sana.
π:["Apa kamu sudah makan?"]
π:"Kenapa?"
π:["Ayo makan siang bersama!"]
π:"Baiklah."
π: ["Kalau begitu temui aku di restoran banyu biru."]
π: "Baiklah."
Sambungan ditutup. Wajah Zander berubah sangat ceria. Bunga-bunga bermekaran disekitar dan dikelilingi kupu-kupu yang bertebaran.
"Zene! Kita ke banyu biru restoran."
"Baik, Tuan." patuh Zene.. Lihatlah wajah dan aura anda yang sangat menggembirakan itu tuan... batin Zene ikut senang.
Zander terdiam sejenak.
"Zene, singkirkan pengawal dibelakang."
Zene tertegun, melirik tuannya melalui spion tengah.
"Nanti begitu aku turun kerestoran Banyu biru. Kalian langsung kembali."
"Baik, Tuan." patuh Zene.
Tenang saja tuan Zander, kami tak akan menggaanggu makan siang keluarga kecil kalian. Batin Zene riang.
Sesampainya di depat restoran Banyu biru.. Xia sudah menunggu didepan pintu masuk bangunan kuno itu dengan melambai. Zander panik tak menyangka Xia akan menunggu disana.
"Zene cepat singkirkan pengawal dibelakang!"
"Siap, Tuan."
"Sudah! Aku turun disini saja."titah Zander tak sabar.
"Tapi ini masih didepan gerbang masuk tuan."
"Zene! Apa kau memang mengincar makan bersama nyonya?" kesal Zander menggeretakkan giginya.
"Tidak tuan. Tentu saja tidak. Silahkan turun disini." Pasrah Zene menghentikan mendadak mobilnya.
Zander keluar, "Cepat pergi!"
Nanti Xia keburu kemari dan mengajak kalian juga. batin Zander melirik Xia yang masih berdiri didepan pintu bangunan bertema kuno itu.
____β¬β¬β¬_____
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
π
__ADS_1