Gairah Cinta Semalam

Gairah Cinta Semalam
Chap 49


__ADS_3

Sore itu, Xia pulang lebih awal. Setelah selesai membersihkan diri, Xia mengunjungi dapur. Xia ingin membuat makan malam sendiri untuk nya dan suaminya. Setelah semua selesai dalam dua jam. Xia menunggu di balkon yang dapat melihat ke arah pintu utama. Agar bisa melihat bila suaminya pulang.


Xia bersenandung, sambil menatap langit yang mulai berubah warna pada pekatnya malam. Dengan senyum kecil di wajahnya.


****


####


Xenia terperanjat ketika dia keluar dari salon sebuah mobil mewah menantinya, dengan seorang supir yang menunduk hormat padanya. Tentu itu sukses membuatnya makin melambung tinggi.


Astaga! Pelayanan apa ini? Beginikah bila bisa mengambil hati Tuan Zander? Luar biasa. Akan lebih baik bila bisa menjadi istrinya. Xia kau pasti sangat makmur sekrang yaa? Tapi itu tak akan lama, berlian seperti Zander tak akan kulepas. Pikirnya dengan senyum kepedeannya.


Xenia memasuki mobil itu. Yang lalu bergerak membelah jalanan. Menuju Club Pasific.


Di pasific Club.


Tempat itu terlihat lebih lengang dari biasanya. Di pintu masuk Xenia sudah disambut oleh seorang pria muda tampan yang menuntunnya ke sebuah ruang privasi.


Xenia yang sudah terlalu melambung itu tersenyum-senyum kegirangan.


Aku sudah menyiapkan obat perangssaanggnya. Malam ini akan kubuat kau menjadi milikku... batin Xenia.


diruang privasi itu hanya ada kumpulan pria-pria disana dengan beberapa wanita penghibur. Tak ada Xander maupun Zene. Xenia tertegun.


Apa ini? Kenapa aku dibawa kesini? gumamnya mulai bergidig.


Xenia memahan tangan pria yang menuntunnya tadi, hendak meninggalkannya disana.


"Tunggu! kenapa kau membawaku kemari?" cegat Xenia menyelidik marah.


"Tuan meminta anda untuk menunggu disini."


"Apa? aku tidak mau!"


"Ada ribut-ribut apa ini?"suara Zander yang tiba-tiba muncul.


"Kaka... orang ini membawaku keruangan yang salah. Didalam sana penuh dengan wanita dan pria yang sedang berlaku mesum." rengek Xenia manja memeluk tubub Zander.


Pria itu tersenyum kecil.


"Ini memang tempatnya. Mereka juga tamu ku." ucap Zander memegang lengan Xenia dan mendorongnya lepas.


"Kak...."


Zender melangkah memasuki ruangan itu. Semua orang yang awalnya hiruk pikuk. Tiba-tiba menjadi hening, berdiri bersamaan dan menunduk hormat. Xenia menatap takjub dengan pemandangam itu.


"Luar biasa..."


Zander mengambil duduk di sisi yang agak lenggang. Xenia memilih duduk disampingnya. Diatas meja didepan meraka ada ada sebotol anggur dan dua gelas kosong yang baru saja seorang pelayan antarkan.


Xenia melirik gelas dan anggur itu. Lalu diam-diam mengeluarkan obatnya, menyelipkannya diantara jarinya.


"Kaka Zander. Bagaimana jika kita minum dulu." tawar Xenia, menyemplungkan obat nya sambil mengambil gelas yang sudah diisi anggur itu. Lalu memberikannya pada Zander.

__ADS_1


Pria itu tersenyum dan mengambilnya. Xenia tersenyum lalu dia mengambil gelas nya sndiri.


"Bagaimana jika kita lihat dulu berkasnya."ucap Zander meletakkan gelas yang dia bawa, tak jauh dari gelas Zander.


Xenia tertegun lalu ikut meletakkan gelasnya sendiri. Dan mengambil berkas kontrak dari tasnya. Menyerahkannya pada Zander.


Tanpa melihat lagi Zander menerima dan mengopernya pada Zene.


"Persiapkan selanjutnya." ucap Zander pasa Asistennya itu.


"Baik." Tunduk Zene.


Zander mengambil gelas milik Xenia, lalu mengangkat gelas mengajak bersulang. Xenia yang memang sudah terpesona menatap pria didepannya itu pun bergegas mengambil gelas yang tersisa dimeja. lalu bersulang dengan Zander, dan meminumnya.


Zander dan Zene kompak tersenyum misterius.


"Aku masih punya beberapa hal untukmu." ucap pria itu.


Tangannya menengadah, Zene mengangsurkan sebuah kotak kado ditangannya.


Zander memberikannya pada Xenia, yang terlihat begitu gembira dan senang.


"Apa ini kak?" tanya nya berbinar.Mungkinkan pehiasan?? Aaaarrrggg... Aku tak berani menebak-nebak, sampai sejauh ini aku sudah mendapatkan yang bagus-bagus. Batinnya girang.


"Lihat saja."


"Aku buka ya." ucapnya dengan mata berbinar dan bibir yang terus melebar senang.


Tutup kado itu dibuka. Wajah ceria dan bahagia Xenia seketika berubah, matanya membulat dengan bola mata yang bergerak tak tentu. Wajahnya berubah menjadi sangat tegang dan gugup. Bibirnya terlihat kaku bergetar.


"Apa yang membuatmu berwajah begitu?"Suara Zander terdengar lembut, namun dingin dan mengintimidasi.


"I-ini hanya salah paham ka," Xenia mulai merasakan takutnya merasuk semakin jauh di dirinya."Pa-pasti ada yang ingin menjebakku."


"Apa ini? kenapa tubuhku jadi panas, kenapa aku jadi sangat menginginkan itu?" batin Xenia. "Ini bukan waktu nya, aku harus lepas dari ini, bagaimana bisa dia mendapatkan ini semua? Bukankah Reina sudah pergi jauh? Tunggu mungkinkah....? Tidak! Habislah aku..."


Zander berdiri dari duduk nya, mengulurkan tangan nya pada Xenia,di ikuti oleh senyum termanisnya. Tentu saja Xenia menyambutnya, tangan halus Zander membawanya terbang entah kemana.


Pria itu berjalan dengan senyum tipis, melamgkah mendahului. Xenia dengan sendirinya mengikuti seolah sedang ditarik oleh belenggu yang tak terlihat.


"Kau tau kesalahan apa yang telah kau perbuat?" tanya Zander sekonyong-konyong.


"Tidak."


"Pertama, menyebarkan hoak dan memfitnah saudaramu sendiri."


DEG!


"Ini hanya salah paham." suara Xenia bergetar.


Zander berbalik dan menatap Xenia dengan tatapan tajam bak serigala kelaparan. Gadis itu memundurkan langkahnya takut. Namun dibelakangnya berdiri beberapaa pria yang menghalangi langkahnya.


"Aku punya bukti sekuaat itu dan kamu masih bilang salah paham? Apa kau mau pihak kepolisian yang mengusutnya?"

__ADS_1


Tubuh Xenia merosot lemas,


"Tidakk...." lemahnya menggeleng.


"Kesalahan keduamu, mungkin sudah kamu rasakan reaksinya sekarang."


Xenia terlonjak, matanya terbuka lebar dengan keringat yang mengucur deras.


Tidak mungkin! Jelas-jelas aku memberikan obat itu digelasnya, bagaimana bisa....? pikir Xenia yang sudah merasakan efek dari obar rangsangaannya.


Zander mengulas senyum tipis yang licik menatap Xenia dengan tatapan meremehkan.


Pikiran Xenia kembali pada beberapa saat lalu yang mana dia meletakkan gelas dan menyerahkan berkasnya, lalu bersulang dengan Zander. Xenia tersadar saat itulah gelasnya ditukar. Dia ketahuan!!!


"Kak! Ampuni aku! Maaf kan aku!" mohonnya menyentuh kaki Zander. "Aku bersalah! Maafkan aku!"


Zender berjongkok dan mencapit pipi Xenia yang wajahnya sudah penuh lelehan air mata.


"Seharusnya kamu berpikir sebelum menyinggung seseorang." Zander menghwmpas wajah Xenia.


"Kali ini aku akan memberimu pilihan. satu, melawanku melalui hukum. Kedua, menyerahkan diri padaku!"


"A-aku ikuti yang kedua." ucap Xenia tanpa ragu, Dia tau jika melawan Zander lewat hukum sudah pasti kalah dan semua akan berimbas pada kedudukannya.


Zander tersenyum licik.


"Jika aku jadi kamu, aku akan memilih yang pertama."


Xenia kembali tersentak."Apa maksudnya?"


"Aku akan kembali memberimu pilihan, Hukuman apa yang ingin kau jalani." ucap Zander lagi, Xenia menelan ludahnya susah.


"Pertama, menyelesaikan obat yang kau minum sendiri dengan pria-pria didalam sana. Aku tak bisa menjamin mereka akan membuat berita besar dengan itu atau tidak." ujar Zander dengan wajah datar.


"Kedua, aku akan memotong bagian tubuhmu dan memberikannya pada piaraanku disana."sambung Zander menyeringai jahat.


Zander menunjuk kandang singa di sisi dalam club itu, tampak dua ekor singa yang melihat kearah Xenia. Membuat begidig saja.


"Tidaaakk~~~"


Pria ini gila! Dia sudah gila. pikir Xenia merinding. "Dia bisa bicara begitu kejam dengan wajah tampan yang tersenyum manis. Apa dia seorang psyco? "


"Bagaimana? Apa kau ingin melihat sendiri bagian dari tubuhnya dimakan oleh mereka?" suara Zander dengan begitu dingin dan mengintimidasi.


_____€€€_____


Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.


Salam___

__ADS_1


😊


__ADS_2