
Zene berjalan dalam gang sempit di sekitar kosan Susie. Pria itu mengenakan jaket dan sepatu boot kulit. Zene berhenti tepat di ujung gang, dimana dari sana dia dapat melihat kosan Susie dengan lebih penuh dan leluasa.
Zene menggigit batang rokok di mulutnya, menyalakan memantik dan menyulut rokok. Api telah padam. Bara tembakau dari rokok menyala-nyala oleh kuatnya isapan dari mulut Zene. Dia menjepit batang rokok dengan jarinya, dan menyemburkan asap ke udara.
Mata elangnya tak lepas menatap bangunan tua itu dalam pekatnya malam.
***
###
Pagi yang cerah, menggantikan malam yang dingin dan gelap. Membawa hari baru yang lebih ceria, suara riang burung gereja yang hinggap di dahan pohon di samping Vila Zander membangunkan Xia yang masih terlelap dalam pelukan hangat suaminya.
Xia mengangkat lengan Zander dari atas perutnya dengan hati-hati. Xia perlahan turun dari ranjangnya, berjinjit menuju kamar mandi, guna membersihkan diri.
Pagi itu, Xia dan Zander sarapan bersama. Xia tengah mengambilkan nasi beserta lauknya di piring sang suami, Zene mendekat tanpa suara.
Zander meliriknya, lalu melihat Xia.
"Sayang,"
"Hemmm?" Xia menoleh,
"Aku masih dalam fase ngidam. Aku ingin makan masakanmu. Buatkan satu untukku."
"Apa?" Xia sedikit terkejut,"Ini, aku sudah mengambilkan sarapanmu."
"Aku ingin, sangat ingin makan nasi goreng buatanmu."
"Ya Ampuunn... Tunggu sebentar." Xia beranjak dan melangkahkam kaki ke dapur.
"Aku sudah menyingkirkannya." ujar Zander mengambil nasi di piring yang sudah Xia ambilkan dan dia tinggalkan tadi.
Zene menunduk.
"Ini tentang Nona Susie."
"Bagaimana?"
"Pria itu masih sering berkeliaran di sekitar kosannya."
Zander tertawa kecut.
"Singkirkan dia tanpa suara. Jangan sampai Xia mendengar nya. Aku tak mau dia memikirkan hal yang tidak perlu."
"Baik."
Zene masih diam dalam keraguan.
"Apa apa lagi."
"Saya melihat tuan muda dari keluarga Moris."
Zander mengernyit.
"Jil?"
"Benar."
"Apa yang terjadi?"
"Sepertinya, Dokter Jil menjalin hubungan dengan Nona Susie."
Zander tertawa kecil.
"Baiklah, tinggalkan ai brengsek itu pada Jil. Biar dia yang mengurusnya."
"Baik."
"Nyonya datang! Kau boleh pergi."
Zander mengibaskan tangannya melihat Xia mendekat berjalan begitu lucu dengan perut buncitnya dan sepiring nasi goreng ditangannya.
__ADS_1
Xia tertegun, melihat Zander sudah makan setengah piring yang tadi dia ambilkan.
"Katanya mau makan nasi goreng?" Xia mengaangkat alisnya.
"Memang."
"Kok."
"Aku kelaparan menunggumu. Jadi ku makan aja apa yang ada."
" Kenapa nggak dari tadi sih?"
Dengan kesal Xia meletakkan piring masgornya. Zander tersenyum dan menerik lembut lengan Xia, Hingga Xia terduduk pelan diatas pangkuannya.
"Aku jadi ingin sarapan kamu pagi ini?"
Zander mengambil dagu Xia dan menciumnya.
"Uuummmm.... Kamu harus berangkat kerja."
"Aku lagi nggak mau jauh darimu."
Zander menggesekkan hidungnya pada hidung Xia.
"Kau mau menemaniku kerja hari ini?"
"Apa tidak mengganggu?"
"Heemmm...." Zander menggeleng.
"Baiklah aku ikut, sepertinya baby J juga sedang nggak mau jauh dari daddy nya."
Zander terkekeh..
"Kami punya ikatan yang kuat."
Zander menggulum lagi bibir Xia.
****
Siang itu Jil baru saja selesai melakukan operasi pasiennya. Jil menyenderkan punggung di kursi kerjanya. Baru sebentar Jil memejamkan matanya, Ponsel Jil berbunyi. Dengan sangat malas Jil mengambilnya, untuk melihat siapa yang mengganggu istirahatnya.
Dengan mata sedikit terbuka, Jil menatap layar hpnya. Seketika matanya melebar, punggungnya tegak berdiri.
Dengan mata marah, giginya terlihat bergemeletuk.
****
Jam kerja Susie telah usai, Susie memesan ojek online untuk pulang, dia sangat lelah hari ini hingga Susie tak sanggup jika harus masih harus menunggu bus.
Pak ojek menghentikan motornya tepat di depan gerbang kosan Susie. Seusai membayar, Susie melangkahkan kakinya memasuki kos.
Tiba-tiba lengannya di cengkram dari belakang. Susie menoleh, dia terkegut.
"Andi? Mau apa kau disini?"
"Susie! Ayo kita berpacaran lagi. Kita mulai lagi dari awal."
Susie tertawa remeh. "Kau ingat apa yang dulu pernah kau katakan padaku?"
Susie menarik kasar lengannya.
"Kau bilang aku tidak berguna, tidak berpengaruh. Dan aku tidak punya uang. Aku tidak pantas bersamamu."
"Itu dulu.."
"Jika dulu tidak, maka sekarang pun tidak."
"Tidak! sekarang kau sangat pantas. Ayo kita berpacaran lagi."
"Sekarang aku yang tidak berminat untuk berpacaran denganmu! Sedikitpun kau tidak pantas untukku."
__ADS_1
Susie mengumbar senyum manis yang palsu. Dia berbalik melangkah memasuki kosannya. Andi tentu tak terima ditolak oleh Susie, dia menarik lengan Susie dengan kasar mendorongnya di dinding.
"Apa kurangku? Aku tampan, aku peduli padamu. Kau harusnya menerima cintaku."
Andi yang kesal dan marah itu mendekatkan wajahnya hendak mencium Susie. Tangan lain menarik kerah baju pria itu. Dengan kasar melemparnya hingga terjerembab ketanah.
Jil dengan mata merah yang tajam bersiap menerkam tubuh Andi yang masih tersungkur itu.
"Pergi! Jangan ganggu wanitaku!"
Andi kesal. Tentu saja. Dia juga marah. dengan mengepalkan tangannya Andi bangkit dan berlari mendekat, melayangkan pukulan pada wajah Jil. Wajah Jil terhempas kesamping. Andi menyeringai menang, dia kembali hendak melayangkan pukulannya lagi.
Susie yang melihat itu tentu saja terkejut bukan main. Andi jika sudah marah lasti akan menghajar habis-habisan.
"Hentikan!" Susie mencoba menghalau Andi yang kini makin brutal menghajar Jil.
"Hentikan! Hentikan Andi!"
Sekuat tenaga Susie menahan lengan Andi. Pria itu menghempas tangannya hingga Susie terpental dan jatuh. Melihat Susie sampai terpental Tentu saja darah Jil mendidih. Jil memukul wajah Andi.
Andi menyeringai senang. Dia kembali mengangkat tangannya gendak memukul Jil lagi namun tertahan. Andi menoleh.
"Harusnya kau berfikir sebelum melukai tuan muda dari keluarga Moris. Juga, untuk berurusan dengan Nona Susie."
Zene mencengkram kuat tangan Andi lalu memilinnya.
"Aaakkkkkkhhh.." pekik Andi kesakitan.
"Kali ini kau kulepaskan. Kelak jangan sampai aku melihatmu lagi. Atau kau ingin aku menggantungmu dipusat kota dan merasakan perasaan ditelanjangi."
"Aaaakkkkhhhh! Iya baik! aku mengerti."
Zene melelaskan cengkramannya dengan mendorong tubuh pria itu kasar. Zene beralih menatap Jil dan Susie.
"Jangan menatapku seperti itu! Aku dokter bukan gangster sepertimu."
"Aku tidak mengatakan apapun!"
"Kau mencemooh dengan tatapanmu."
Zene terkekeh. "Dokter payahh!"
"Sudah kubilang aku..."
Zene berbalik dan melambai."Pesan tuan Zander, jangan sampai nyonya tau."
Zene berlalu.
"Asisten Zene!" panggil Susie.
Zene mwnghentikan langkahnya.
"Terima kasih."
Zene tersenyum tipis.
"Jangan katakan apapun pada nyonya Xia." Melangkah kembali tanpa berbalik lagi. Susie menatap punggung Zene yang makin menjauh.
"Jangan menatapnya terlalu lama, aku cemburu."
____€€€____
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1