
"Apa kau bilang?" geram Peter,"Mengundurkan diri..??"
Peter berjalan cepat keluar dari perusahaannya, dan masuk ke dalam mobilnya, Sembari menghubungi Xia. Tapi nomornya tidak aktif.
"Shhiiiittt!" umpat Peter memukul setir mobilnya.
Peter mengendari mobil tak tentu arah. Terngiang apa yang pak Dira jelaskan. Selama dia pergi kemarin, Xia mendapat perlakuan yang tak baik. Juga tentang berita diforum itu. Peter merasa bersalah juga. Karena Peter merasa ikut terlibat.
"Xia.... Xia... Dimana kamu?" gumam Peter mencari ke segala arah.
Peter teringat dengan ayah Xia yang berada dirumah sakit. Gegas Peter menuju rumah sakit itu. Dan langsung mendatangi ruangan Alan. Sayang ayah Xia sudah keluar dari rumah sakit.
"Sekarang bagaimana?" gumam Peter kesal."Aaahh.. Rumah. Aku harus ke rumahnya."
Peter mengecek alamat rumah Xia dari data perusahaan. Lalu Peter bergegas menuju rumah Xia di kawasan x.
Sesampainya Peter di kediaman Alan. Peter mengetuk pintu, dan bersikap setenang mungkin. Saat itu, Xenia yang membukakan pintu.
"Peter?" sebut Xenia terkejut melihat siapa yang datang.
"Ada perlu apa kemari?" tanya Xenia sedikit memelengkan kepalanya.
"Eemm.. Aku dengar direktur Alan sudah keluar dari rumah sakit. Jadi aku kemari untuk berkunjung." ucap Peter beralasan.
"Oohh. Masuklah." Xenia mempersilahkan Peter masuk.
"Siapa Xenia?"Tanya Silvia yang berada diruang tengah.
"Peter!" seru Xenia mengajak Peter langsung keruang tengah dimana papa Alan berada.
"Apa?" Silvia terkejud.
"Selamat siang nyonya dan direktur Alan." sapa Peter mendekat dengan membawa sekeranjang buah.
"Ooh... masuk! masuklah Pet." ucap Alan mempersilahkan.
Alan yang duduk selonjoran di sofa itu lalu menurunkan kakinya.
"Duduklah."
Peter mengambil duduk tak jauh dari Alan. Sedangkan Xenia duduk agak jauh namun masih dalam satu ruang keluarga. Tentu saja dia ingin menguping, apalagi kemarin sudah terjadi kehebohan di perusahaan Xander. Dan kini Peter datang secara langsung kerumahnya. Pasti ada sesuatu.
"Aku sangat senang bahkan kamu mau datang kemari."sungkan Alan tersenyum ramah pada Peter.
"Saya sebagai atasan Xia hanya mencoba beramah tamah. jangan terlalu sungkan padaku." ucap Peter menyerahkan keranjang buahnya.
"Ooh, ini untuk saya!?" Alan sedikit terkejut."Anda sangat repot. ini sungguh tak perlu "
Peter menunduk malu.
Silvia mengoper buah itu lalu beranjak. "Akan kubuatkan teh untukmu Pit."
"Terima kasih."
__ADS_1
Silvia berlalu kedapur dengan melempar senyum pada Peter.
Peter tolah toleh.
"Bagaimana kesehatan mu direktur Alan?"
"Sangat bagus." ucap Alan. "Berkat anda."
Peter mengulas senyum."aku tidak melakukan apapun."
Peter lagi-lagi melihat sekeliling.
"Mmm.. Dimana Xia? kenapa aku belum melihatnya?" tanya Peter setelah melihat sekeliling.
Wajah Alan sedikit berubah jadi tak enak.
"Aahh,, anak itu, dia memang sudah jarang pulang kemari." terang Alan dengan wajah bingung mau menjelaskan bagaimana.
"Iya, bocah tak tau diri itu pergi meninggalkan rumah. Sudah sangat lama!"timpal Silvia dari arah dapur dengan membawa baki dan minuman.
"Sejak Xenia menikah dengan mantan pacarnya, Xia tak pernah pulang. Entah dia kelayapan denngan laki-laki mana lagi." Silvia mencemooh dengan menyungging senyum.
"Kau tau Peter, dia wanita yaaahh.. seperti itu.." oceh Silvia menggoyangkan telapak tangannya dengan wajah mencemooh.
Peter tersenyum tipis.
"Jadi kalian tidak tau dimana Xia berada?"
"Ayo diminum dulu." ucap Silvia menjatuhkan bokongnya samping Alan.
"Terima kasih." Peter meminum minuman yang Silvia buat hingga habis setengah.
"Saya masih ada urusan. Karena direktur Alan sepertinya baik-baik saja. Saya pamit." ucap Peter beranjak dari duduknya.
"Aahh, kenapa cepat sekali." protes Silvia
"Masih ada urusan lain. Saya menyempatkan kemari." asal Peter sudah malas. karena Xia yang dia cari tidak ada. Dia juga malas mendengarkan Silvia yang sepertinya terus menjelek-jelekkan Xia.
"Oooh begitu." ucap Alan sedikit kecewa."Terima kasih atas waktunya."
Peter pun pamit. Dia kembali ke mobilnya, dan memulai lagi untuk mencari Xia.
"Xia dimana kamu?" gumamnya mulai frustasi..
Peter memutar kemudinya tak tentu arah, dalam pencariannya, Peter teringat pada Zander. Pria itu memiliki hubungan dengan Xia.
"Haruskah aku menemuinya?" gumam Peter memijit pelipisnya.
####
Pagi itu Zander membawa Xia mengunjungi sebuah pantai di kota S. Sebuah pantai yang tak begitu ramai, namun tempat nya indah dan masih asri. Pasir nya putih dan begitu lembut, bersih belum terjamah banyak orang.
Xia merentangkan tangannya, menutup mata dan menghirup udara dalam-dalam, mengganti udara di paru-parunya.
__ADS_1
Zander melintangkan tangan kanannya di pinggang ramping Xia, membuat gadis itu sedikit terlonjak kaget. Menatap Zander protes. Xia memaksakan senyumnya.
"Tuan Zander, Bisakah melepaskan tanganmu?" kesal Xia dengan nada dibuat seramah mungkin.
"Begitukah?"
Zander menarik lagi tangannya dan memalingkan wajahnya. Menatap arah lain.
Padahal semalam kami masih bermesraan, Bagaimana bisa pagi ini dia sudah berubah sedingin ini. Apa dia tak punya hati? Atau Xia sama sekali tak punya perasaan padaku? Batin Zander melirik sedikit pada Xia yang seolah tak peduli.
Gadis itu melihat gulungan ombak dipantai menjadi buih yang menghilang begitu menyentuh pasir.
"Haaaaa.... Aku ingin berenang!" Seru Xia mencorongkan tangannya didepan mulutnya.
Zander menoleh menatapnya,
"Aku ingin digulung ombak lalu menghilang bersama buih!" Seru Xia lagi.
"Jangan!" Zander mengenggam lengan Xia. Xia terkejut melihat Zander dengan tatapan tidak suka.
"Jangan menghilang! Aku tidak mengijinkan!" tatap tajam netra Zander menembus mata Xia, membuat gadis itu tak mampu berucap.
Mereka saling menatap dalam waktu yang cukup lama.
"Ahaahh... Ahahahaha...." Xia terkekeh, dan mengalihkan pandangannya. Menatap kembali lautan lepas.
Zander melepaskan cengkramannya. Dan ikut melihat lautan lepas. Entah bagaimana perasaannya. Dia sendiripun tak bisa gambarkan.
"Terima kasih."ucap Xia pelan. "Setidaknya, ada yang mengharapkan aku tetap ada. Selama ini kupikir tak ada yang menginginkanku."
Zander menyimak ucapan Xia tanpa berkeinginan memotongnya.
"Ibu ku... pergi meninggalkan aku , dan papaku menikah lagi dengan seorang wanita, yang bahkan melemparkanku pada maniak sek yang sudah tua. Mantan pacarku juga meninggalkan aku untuk menikah dengan adikku." Wajah Xia memancarkan kesedihan,
"Satu-satunya yang perduli padaku hanyalah Nenek. Ibu dari mamaku. Tapi Nenek selemah itu...." Mata Xia mulai berembun. Bulir bening perlahan meluncur bebas dari pelupuk matanya.
Zander mengangkat dagu Xia dengan jarinya. Mengusap pipi Xia yang basah dengan jempolnya.
"Bersandarlah padaku. Aku tidak akan mengecewakanmu." ucap Zander menatap netra Xia dengan keyakinan penuh.
"Seorang pria tidak akan mengingkari janjinya. Kau bisa memegang kata-kataku." tegas Zander.
____€€€____
Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1