
Susie meremas tangannya. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Dari wajahnya terlihat sekali dia sangat tegang.
Jil melirik Susie dari ekor matanya. Sementara dia masih menyetir.
"Kenapa?"
"Bagaimana jika ayah dan ibumu menolakku?"
Jil tersenyum maklum.
"Mereka bukan orang yang kolot."
"Tapi... Aku hanya gadis biasa. Aku bahkan tak punya orang tua..."
"Itu bukan masalah bagi mereka."
"Tapii..."
"Percaya padaku, dan tegakkan dadamu. Heeemm?"
Susie membuang nafasnya. Masih ada kekawatiran di dirinya. Jil tersenyum gemas melihat Susie yang masih gelisah tak kunjung tenang. Pria itu menghentikan laju mobilnya dan menepi. Susie menatapnya dengan tatapan tanya.
"Sepertinya wanitaku ini masih butuh penyemangat dan energi positif."
Jil mendekatkan wajahnya, mengecup ringan bibir ranum Susie. Gadis itupun membalasnya. Dengan lembut Jil menyatukan bibirnya, mempertemukan dua lidah dengan rasa manis dan mint itu. Membuatnya betah berlama-lama disana.
Jil membuat jarak. Nafas hangatnya masih dapat Susie rasakan di wajahnya.
"Apa ini cukup?"tanya Jil dengan senyum mengembang di wajah tampannya. "Atau, kamu masiih mau penyemangat lain?"
Susie menarik sudut bibir nya mendengar rayuan Jil.
"Baiklah ayo pergi."
Jil melepas sabuk pengamannya, dengan tanpa melepaskan pandangan nya dari Susie.
"Kenapa melepas sabuk pengamanmu?"
"Kenapa? Karena kita sudah sampai."
Jil mendorong pintu disampingnya. Dia memutari setengah badan mobil. Lalu membuka sisi pintu lainnya. Dengan tangan menyambut Susie keluar.
Gadis itu tersenyum melihat rumah di depannya. Rumah Dokter Jil tak begitu besar, lebih ke gaya kuno.
"Ini seperti aku kembali ke jaman putri raja."
"Baiklah, mari kita masuk, tuan putri." canda Jil meletakkan tangan Susie di lengannya.
"Apa raja dan ratu akan menyukaiku?"
"Tentu saja, kau adalah putri pilihan pangeran."
Susie tersenyum senang. Jil membawa wanitanya berjalan ke dalam rumah. Dengan hati berdebar kencang Susie melangkah, beberapa kali membuang dan menarik nafasnya. Mencoba menenangkan diri.
Jil tersenyum melihat kegugupan Susie, mengusap tangan gadisnya yang dingin. Lalu berpindah menggenggamnya. Jil ingin membagi kekuatan, kehangatan dan rasa aman jika dia tak sendiri.
Di depan pintu Susie disambut hangat oleh ayah dan ibu Jil juga beberapa saudara Jil. Mereka tersenyum ramah dan hangat, sangat menyentuh hati Susie, hingga air matanya justru menetes karena haru.
Ibu Morris tersenyum dan memeluk bakal calon mantunya itu. Menepuk punggung gadis itu dengan senyum yang bersuara rendah.
"Ayo masuk, Nak." lembut Ibu Morris menuntun Susie.
Keluarga itu pun makan malam bersama dalam nuansa kehangatan dan harmonis. Sebuah keluarga yang bahkan sulit Susie bayangkan untuk memilikinya.
Saat Ayah nya meninggal, Ibunya selalu terlunta-lunta menghidupi kedua anaknya. Kakak Susie begitu jahat pada ibunya dan juga Susie. Sandi selalu bertengkar dan sering memukul jika tidak mendapatkan uang dari ibu dan adiknya itu.
__ADS_1
Hingga makan malam usai, Jil membawa Susie berkeliling rumah. Hingga sampai dikamar yang dulu Jil tempati.
Susie menatap berkeliling, kamar itu tidak lebih luas dari kamar Jil di apartemennya. Dengan cat berwarna terang, ruangan itu terlihat lebih ceria. Sangat kontras dengan apartemen Jil yang manly.
"Berapa lama kamu tinggal di kamar ini Dokter Jil?"
"Jangan memanggilku dokter."
"Kenapa?"
"Aku kekasihmu sekarang, sebentar lagi jadi suamimu."
"Jadi Dokter Jil mau dipanggil apa?"
"Dokter Jil lagi." protes Jil."Panggil aku Hubby."
"Hubby?"
"Heemmm...."
"Aku akan memanggil mu Honey."
Susie tersenyum kecil.
"Apa itu artinya setuju?" Jil memeluk pinggang ramping wanitanya dari belakang.
"Menurutmu apa?"
"Setuju."
Jil menenggelamkan kepalanya di pundak Susie. Mengecup leher samping wanita itu, bergeser hingga ketengkuknya. Jil menyibak rmbut panjang Susie ke samping, mengecup ringan tengkuk lehernya.
Nafas Jil kian memburu, perlahan membalikkan tubuh Susie. Mengalungkan tangannya dileher dan mencium dalam-dalam.
Susie menyadari Jil makin kehilangan kontrolnya, menciumnya dengan rakus. Nafas pria itu makin tak berirama. Semakin memburu dan cepat. Susie meronta, namun kedua lengannya telah Tertekan dengan kuat dalam genggaman pria itu.
"Uuummmpp.... Uummmmpp...."
Susie membuka matanya, entah bagaimana lagi mengakhiri ini. Mereka bahkan belum menikah, haruskan dia melepaskannya lagi? dirumah orang tua Jil?
Susie masih meronta semampunya, hingga pria itu menjeda untuk mengambil nafas.
"Sudah, hentikan Jil. Kita tak boleh melakukannya lagi. disini."
Pria itu kembali membekap bibir mungil gadis itu.
"Uuummmppp..."
Susie menggerak-gerakkan kepalanya, hingga bibirnya terlepas.
"Jil, kumohon."lirih Susie.
Jil menelan ludahnya, perlahan melonggarkan cengkramannya. Menatap wajah dan mata Susie. Jil bangkit, tampak jelas wajah penuh sesalnya.
"Maaf.... Aku sudah lepas kendali."
"Kita pulang saja."
Wajah sesal Jil makin terlihat disana.
Apa yang sudah kulakukan?"
Dalam perjalanan kembali, mereka hanya diam, tanpa percakapan apapun.
"Aku minta maaf."
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Karena sudah lepas kendali."
"Tidak usah mengungkitnya lagi."
"Baiklah."
Hening lagi. Susie memalingkan wajahnya, melihat keluar jendela. Melihat kendaraan lain yang ikut berlalu lalang.
"Apa kau marah padaku?"
"Tidak."
"Benarkah?? Kenapa tidak banyak bicara?"
"Bicara apa?"
"Kau marah."
"Sudahlah. Aku tak ingin membicarakannya."
Hingga didepan kosan susie,mobil Jil berhenti. Susie turun tanpa meminta Jil mengantarnya lebih.
"Terima kasih, hati-hati dijalan."
Jil menatap susie penuh harap, hanya sebuah kata perpisahan yang manis. Namun gadis itu memilih melangkah menjauh.
Jilpun membawa mobilnya kembali ke apartemennya.
***
###
Setitik bara berpedar, di ikuti asap yang mengepul. ditengah dingin nya malam itu, Zene menjatuhkan puntung rokok dibawah kakinya. Dibelakangnya ada beberapa pria yang ikut serta.
Mata Zene menatap jauh pada mobil Jil yang hanya tampak lampu remnya.
"Awasi terus, jika pria itu datang lagi beritau akku.."
"baik."
_____€€€_____
O iya buat readers ku sekalian, Othor punya satu rekomendasi nopel yang Heemmm....
Buat yang pecinta hot jeletot dan kemessuuman, silahkan mampir ke karya temen Othor ini ya.
Punya embeb Tya calysta.
Dijamin kepanasan ampe menggelinjang-gelinjang nggak karuan😂
Kuy mampir...
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1