Gairah Cinta Semalam

Gairah Cinta Semalam
Chap 58


__ADS_3

Xia membuka matanya, dilangit kamarnya penuh dengan gemerlap bintang buatan dari kelap kelip lampu kecil. Indah sekali. Xia menolehkan kepalanya, melihat pria yang semalam membawanya ke kahyangan tertinggi.


Xia memiringkan tubuhnya, dia mengulas senyum. Mengusap pipi Zander yang juga menghadap padanya. Tangan pria itu melintang di perutnya.


Xia mengamati wajah lelap suaminya. Begitu tenang seperti bayi.


"Terima kasih sudah mencintaiku, sudah mendukungku, dan menjagaku. Saat ini aku memang belum bisa membuka sepenuhnya hatiku, tapi aku pikir, aku mulai menyukaimu. Aku sedang belajar mencintaimu Zander. Tolong jangan menyerah dulu. Selama periode itu, aku akan menjalankan peranku sebagai istri."


Xia mendekatkan wajahnya, mengecup kening Zander. Lalu sedikit menjauh lagi. Xia mengulas senyum kecil. Perlahan netra Xia menutup.


Suara dering hpnya membuatnya kembali membuka mata. Xia bangkit, dan mengambil hpnya di atas nakas. Xia yang saat itu masih polos, mengambil kemeja Zander yang berserak di lantai lalu memakainya.


πŸ“ž:"Halo?"


Xia tidak tau itu telpon dari siapa karena nomor yang tidak dikenal.


πŸ“ž:["Xia ini aku."]


Xia mengenal suara itu, milik Darren.


Mau apa pria beristri ini menelponku tengah malam? pikirnya melihat lagi layat di hpnya. Lalu kembali menempelkannya di telinga.


πŸ“ž:"Aku rasa kita sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."


Xia melangkah keluar melewati pintu balkon kamarnya.


πŸ“ž:["Xia, ayo kita bertemu."]


πŸ“ž:"Tidak mau! Kita sudah tidak ada yang perlu dibicarakan. Untuk apa bertemu."


πŸ“ž:["Ada hal yang harus aku sampaikan sendiri padamu."]


πŸ“ž:"Aku tidak tertarik."


Xia bermaksud mengakhiri panggilan. Dia mengangkat jarinya hendak menekan tombol merah.


πŸ“ž:["Tunggu! Bagaimana dengan dokumen rahasia Alan?"]


Jari Xia terhenti.


πŸ“ž:"Apa maksudmu?"


πŸ“ž:["Aku memegang dokumen rahasia Alan."]


πŸ“ž:"Kau salah orang. Katakan itu pada Xenia atau Silvia."


Xia kembali hendak menekan tombol merah.


πŸ“ž:["Maya! Bagaimana jika ini berhubungan dengan Maya."]


Maya adalah ibu Xia yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Tentu itu membuat Xia sedikit tergerak.


####


Keesokan harinya, Xia memasuki sebuah restoran dengan ruang privat. Akan tetapi dia tidak memasuki ruang itu. Xia memang bersedia bertemu, tapi di tempat terbuka, bukan diruang private seperti yang Darren mau. Dan mereka sepakat.

__ADS_1


Daren melambaikan tangannya, saat dilihatnya Xia memasuki pintu restoran. Xia berjalan mendekat lalu duduk dikursi sebrang Darren. Wanita itu menatap tajam pria didepannya.


"Katakan!"


"Xia, bisakah kita lebih santai?"ucap Darren lembut."Kita makan dulu. Aku sudah memesankan makanan korea kesukaanmu."


Xia membuang nafasnya.


"Baiklah. Aku akan menghargai makan yang sudah terlanjur kamu pesan. Ayo makan. Setelahnya berikan apa yang sudah kamu janjikan semalam."


Xia mengambil sumpit dan memakan apa yang ada didepannya.


"Xia."


Daren memberanikan diri berucap.


"Aku minta maaf untuk apa yang telah terjadi."


"Lupakan saja itu sudah berlalu."


"Aku... tak berniat menghianatimu."


"Itu tidak penting lagi Darren." tegas Xia meletakkan sumpit dan sendoknya.


"Aku susah selesai makan. Bisakah kita kembali pada apa yang jadi tujuan sebelumnya?" desak xia tak sabar.


Dareen tersenyum kecut.


"Sepertinya aku sudah benar-benar hilang dari hatimu."


"Aku masih mencintaimu." ucap Daren dengan wajah mengiba."Aku selalu mencintaimu Xia."


Xia terkekeh.


"Cinta?"


Xia menatap Darren tajam.


"Apa cinta yang kamu maksud dengn meniduri adikku? cinta yang seperti itu?"


"Xia,Aku kilaf."


"Kilaf sebanyak dua kali?"


Daren tersentak. Bagaimana Xia bisa tau?


"Kau terkejut? Tentu saja Istrimu itu yang mengatakannya padaku." sinis Xia melipat tangannya di dada.


"Aku tidak ingin terlalu lama bersamamu. Berikan aku dokumen yang kamu bicarakn itu." lanjut Xia dengan nada dingin dan tegas.


Daren meletakkan amplot coklat diatas meja dengan lemas dan sendu. Xia tak hiraukan, dia mengambil amplop itu mengeceknya sekilas. Lalu beranjak.


Daren dengan sigap menahan lengan Xia. Xia menoleh menatap pada Daren.


"Lepaskan tanganku!"

__ADS_1


"Xia! Aku mencintaimu! Ayo kita mulai kembali hubungan kita. Aku tau kau masih mencintaiku." pinta. Daren beranjak dan menggenggam tangan Xia.


"Darren bangunlah! Aku sudah menikah. Kau juga sudah menikah..."


"Aku.. Aku bisa menceraikannya."


"Kau gila!" Sentak Xia marah.


"Apa kau pikir pernikahan itu hanya main-main?"


"Xia aku tau kau juga tidak mencintai Tuan Zander. Kau masih mencintaiku."


Xia menjadi muak dengan Darren. Pria menjijikan yang sudah berhubungan intim dengan adik tirinya Xenia, dan dengan mudahnya ingin kembali dan bercerai?


"Lepas!"


Xia menarik tangannya. Mecoba melepaskan. Daren masih menggenggam kuat lengan Xia. Pria itu mendekatkan tubuhnya hendak mencium Xia, tapi Xia lebih cepat bereaksi dengan menendang bagian pusat Darren.


Darren mendelik, spontan melepaskan tangan Xia dan berpindah memegangi telurnya yang hampir pecah itu.


Xia menatap remeh pada mantan pacarnya itu.


"Jangan menilai dirimu terlalu tinggi, hingga aku masih menyimpan rasa padamu." sinisnya


CUUIIIHH..


Xia meludah kesamping. "Suamiku jauh lebih baik daripada kamu dari segi apapun. Apa kau memintaku meninggalkannya demi pria sepertimu? JANGAN MIMPI!"


Xia melenggang pergi tersisalah Darren yang masih lemas kesakitan.


Xia keluar dari restoran. Berhenti tepat dipintu masuk. Disisi yang lain Zander berdiri dengan bersandar pada pembatas, dengan melipat tangannya di dada.


Xia memang sudah terbuka dalam hal ini dengan Zander. Paginya setelah terbangun Xia menyempatkan diri untuk berbicara, awalnya Zander tidak setuju Xia menemui Darren, tapi Xia menjelaskan situasinya. Mungkin saja Daren benar-benar menyimpan dokumen rahasia milik maama da papa Alan.


Hingga diputuskan Xia pergi akan tetapi Zander yang mengantar walau Xia sendiri yang menemui Darren. Sedangkan Zander menunggu diluar.


"Apa urusanmu sudah selesai?"


"Heemmm."


"Baiklah! Ayo pulang." ajak Zander pelan mendekat dan merangkul pundak Xia.


Zander dan Xia melangkah meninggalkan halaman restoran. Di sisi yang lain, Zene berdiri tapi tak terlihat oleh Xia. Zander melirik pada nya dengan perintah. Pria itu mengangguk pelan.


____€€€____


Kira-kira apa ya yang akan Zene lakukan??πŸ€”


Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.


Salam___

__ADS_1


😊


__ADS_2