
Di bangunan Kos Lembayung.
"Dengar! Aku akan pergi sendiri. Jangan ikut masuk!"larang Xia pada Zander dan Zene di depan gerbang Kos.
"Aku akan berkemas sendiri. Kosan ini khusus wanita. Jadi pria tidak boleh masuk! Kalian mengerti?"
Zander mengangguk patuh, dan Zene hanya mengikuti tuannya saja. Tersenyum lebar.
"Bagus! Tunggu sini dengan patuh." Xia melangkah masuk ke bangunan kos.
Zander hanyaa diam di depan pintu gerbang.
Tu**an Zander sangat patuh kali ini. Aku bahkan bisa melihat ekor anjing yang berkibas-kibas dan telinga anjing di kepalanya. batin Zene melihat Tuannya itu hanya diam di depan gerbang.
Xia memasuki kamar kosnya, ada Susie disana. Dia terkejut melihat Xia tiba-tiba datang.
"Hei! Bagaimana....?"
"Ssstt.." Xia menekan telunjuknya di bibir Susie.
"Mereka ada didepan!"
"Benarkah?"Susie terlihat antusias melongok. Yang dengan cepat Xia menahan lengann Suzie.
"Hhhiissshhh.... Kamu ni Suz."
"Jadi dia benar-benar menguntitimu?"
Xia menunduk lemas.
"Astaga!" Susie menutup mulutnya."Kau beruntung sekali."
"Apa maksudmu beruntung?" seru Xia tidak iklas menatap sahabatnya itu.
"Lihat!"Susie menunjukkan layar hp nya. Tampak beberapa artikel tentang Zander.
Xia membelalakkan matanya.
"Apa ini?"
"Kau tidak lihat? Tampan. Kaya. Disegani. Bukamkah dia pria sempurna?" seru Suzie menepuk punggung Xia.
"Hahahah..." Xia tertawa canggung yang tak enak didengar.
"Kok ketawamu gitu sih?"
"Entah aku harus percaya dengan artikel semacam ini atau percaya pada mataku sendiri." Xia mulai berkemas.
"Yyaahh.. memang di tulis disini dia memiliki temperamen yang unik." ucap Suzie, mulai berlagak detektif.
"Tapi mungkin juga ini salah satu pencitraan nya." Suzie melihat aktifitas berkemas Xia.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Berkemas Suzie."
"Kau mau pindah??" tanya Suzie heran.
"Heemm..."
"Kemana? Kembali kerumahmu?" sedikit heran.
"tidaak. Sudah susah payah aku keluar dari rumah itu. Tak mungkin aku kembali kesana."
"Lalu?"
"Aku akan pindah ke vila orang itu."
"APAA??" Suzie terkejut, mencengkram kedua lengan Xia dengan marah.
"Apa kau menjual diri padanya? Bagaimana kau bisa tinggal bersamanya? Kehidupan macam apa yang kau jalani Xia?"Marah Susie karena tak mau Xia sampai salah memilih langkah, dan terjerumus dalam hubungan tanpa setatus.
__ADS_1
"Aku tidak mempermasalhkan jika kamu mau tinggal selamanya disini! Jangan merasa tak enak padaku!"sambung suzie marah.
Xia menunjukkan buku nikahnya di depan muka Susie. Suzie membelalak, dan merebut buku nikah itu. Lalu membacanya sendiri. Mulut susie melongo saking terkejutnya.
"Ini gila! Kalian sudah menikah?" pekik Suzie.
"Pelankan suaramu Suz."protes Xia membekap mulut Susie. Susi memurunkan tangan Xia.
"Ceritakan padaku bagaimana ini bisa terjadi?" kata Suzie
"Kau tau papaku masuk rumah sakit karena jantung kan?"
"Benar."
"Biaya oprasinya mencapai ratusan juta. dan orang itu satu-satunya yang bisa membantuku. Itulah kemudian kami menikah."
"Xia! Bukankah keluargamu kaya? Tidak mungkin mereka tak punya hanya uang ratusan juta itu." Susie menatap sahabatnya prihatin.
Xia menunduk, rasanya sedih, hancur dan sakit. Dia tau keluarga Tan kaya, tak mungkin tak bisa mengeluarkan uang ratusan juta itu untuk biaya papanya. Namun itulah kenyataannya. Mereka tidak mau mengeluarkan uang untuk operasi Alan.
"Maaf Xia." lirih Susie merasa bersalah melihat wajah sedih sahabatnya itu.
"Tidak apa." Xia menggeleng kuat."Ayo! Bantu aku berkemas."
Suzie akhirnya ikut berkemas. Setelah semua usai, Xia berpamitan.
"Aku pergi dulu ya. Makasih untuk semuanya." ucap Xia di depa pintu Kosan Suzie.
"Apa kamu masih akan kerja di Xander?"
"Tentu saja."
Susie tersenyum. "Ya sudah. Kapan-kapan jika boleh aku ingin mampir ke Vila suamimu."
"Baiklah. Jaga dirimu. Jika ada apa-apa. panggil aku ya."
"Baiklah." Xia dan Susie saling berpelukan lali Xia melngkah pergi keluar dari gerbang kos.
Disana Zander masih berdiri menunggu dengan patuh. Begitu melihat Xia keluar dari gerbang, Zander menyambutnya dan mengambil koper.
Didalam mobil Xia hanya melempar pandangannya ke luar. Melihat hiruk pikuk jalanan. Zander melirik nya tangan pria itu terangkat, namun lalu mengambang dan urung. Turun lagi menariknya.
"Tuan Zander?" Xia menoleh, tatapan Keduanya bertabrakan."Bisakah kita mampir dulu kerumah sakit?"
"Tentu."
****
Xia dan Zander berjalan beriringan di lorong rumah sakit. Mereka hanya berdua, Zene dan para pengikutnya tetap tinggal di area parkir. Merka berjalan dalam keheningan, sesekali berpapasan dengan perawat. Hingga mereka sampai di depan pintu kamar Alan dirawat.
Xia menyentuh handel pintu. Lalu dia berhenti dan berbalik. Melihat. Zander masih setia dengan patuh dibelakangnya.
"Aku akan masuk sendiri. Tunggu lah di luar." pinta Xia pada suaminya itu.
"Kenapa?"
Xia membuka mulutnya hendak bicara namun urung. Xia terdiam cukup lama.
"Saat ini kita tak boleh terlihat bersama, apa lagi di depan papaku." ucap Xia akhirnya.
"Kenapa?"
Xia membuang nafasnya.
"Menurutlah." Xia agak berjinjit dan mencium cepat pipi Zander.
Wajah Zander merona. Menatap Xia yang baru saja mencium pipinya.
"Tunggu di sini ya."
Zander terdiam sejenak.
__ADS_1
"Cium dulu."
"Heeemm?"
"Cium aku dulu. Aku akan patuh."
Tanpa ragu Xia berjinjit lagi dan menautkan bibirnya pada benda kenyal milik Zander. Pria sigap memeluk tubuh Xia dan membalas ciiuman Xia.
"Su-sudah"Xia mendorong pelan lengan Zander agar sedikit berjarak.
"Aku akan masuk sendiri. Tunggu disini."
"Baik." Patuh Zander walau belum rela ciumannya berakhir.
Xia memegang handel pintu.
"Kamu..."
Xia menoleh.
"Ini, untuk papa mertua." Zander mengangsurkan kotak makanan pada Xia.
Xia tersenyum lucu. Lalu menerimanya. "Terima kasih suamiku."
Xia membuka pintu ruang inap Alan lalu masuk dan menutupnya perlahan.
"Iya istriku..." gumam Zander yang wajahnya perlahan merona.
Xia melangkahkan Kakinya mendekati brangkar papanya yang terlelap. Xia meletakkan bungkusan kotak makannya di meja samping brangkar. Xia menatap wajah papanya. Xia menghela nafasnya.
"Papa. kamu harus sehat terus mulai sekarang." gumam nya pelan. menggenggam tangan Alan yang lelap itu.
Sesaat Xia hanya duduk diam disamping brangkar. Menunggu papa nya bangun. Xia ingin menyuapi papanya itu dengan makanan yang tadi dibeli Zander. Xia melihat kearah pintu.
"Sepertinya aku sudah terlalu lama menbiarkan dia menunggu diluar terlalu lama." gumam Xia merasa bersalah."Aku juga tak mungkin meminta ijin untuk tinggal, mengingat apa yang sudah terjadi dan dia sangat patuh."
Xia menghela nafasnya."Siapa yang akan menunggui papa?"
Xia mengeratkan tangannya menggenggam tangan papanya.
Setelah menimbang sejenak. Xia akhirnya memutuskan untuk pulang, kini dia sudah bersuami sekarang. Jadi dia harus mengikutinya.
"Papa, aku akan kembali lagi besok."Janji Xia mengulas senyum dan melepas tangan Papa Alan.
"Aku pulang dulu. Cepatlah sembuh "
Xia keluar dari pintu ruang inap papanya. Mendapati Zander masih setia menunggunya di dipan pintu. Xia tersenyum kecil menatap wajah pria yang kini telah jadi suaminya itu.
"Ayo pulang." ajak Xia berjalan mendahuluii.
"Ya." Zander menyusul menautkan jemarinya pada tangan Xia. Gadis itu hanya diam membiarkan Zander berbuat sesukanya.
Beberapa saat setelah pasangan itu berbalik dan menghilang di ujung lorong, Xenia dan Silvia melangkah masuk kedalam ruangan Rawat Alan.
"Papa masih tidur ma." ucap Xenia mendekati brangkar papa.
"Biarkan dia istirahat. "
"Uuuuugggghhh..."erang Alan.
"Mama! Papa bangun!" seru Xenia mengibaskan tangannya memanggil sang ibu mendekat.
"Kau sudah bangun sayang?" Silvia mendekat
____€€€____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
__ADS_1
Salam___
😊