Gairah Cinta Semalam

Gairah Cinta Semalam
Chap 41


__ADS_3

Xia tertegun melihat siapa yang keluar.


"Peter!"


"Bahaya tau nggak?" sentak Xia begitu keduanya bertemu.


"Kamu kemana aja Xia?"tanya Peter menarik tangan Xia."Aku nyari kamu kemana-mana. nomormu juga tidak aktif. Aku kawatir tau nggak."


Xia tersentak.


"Kenapa kamu khawatir. Kita atasan dan bawahan, apalagi aku sudah keluar dari perusahaanmu. Jadi ku pikirr..."


"Kita berteman kan?"


Xia terdiam.


"Kita berteman kan? Atau hanya aku aja yang nganggap kamu teman?" cerca Peter dengan wajah sayu.


Xia menyentuh keningnya. Pening juga, Peter berhasil membuat hati Xia tak enak.


"Yaaa, tapi apa yang kamu lakuin ini salah. Bisa membuat kecelakaan." ucap Xia masih agak kesal walau dia merasa tak enak juga pada Peter.


"Sembarangan memotong jalan , jika aku tidak sigap mengerem. Sudah pasti terjadi tabrakan. Kita berdua celaka. Apa teman akan mencelakai temannya sendiri, heeemmm?"


Peter merasa bersalah juga."Maaf."


"Aku sudah memanggilmu tadi. Tapi kamu nggak dengar." lirih Peter.


"Baiklah." Xia menarik tangan nya hingga terlepas dari genggaman Peter."Aku minta maaf karena ponselku tidak aktif. Aku perlu menenangkan diri."


"Sekarang kamu udah lihat aku baik-baik aja, kan? Aku harus pulang." Xia menatap wajah Peter lekat.


"Bisakah kita makan siang?"


"Aku sudah makan siang."


"Temani aku saja."


Xia menatap iba pada Peter, Xia juga masih ingat punya hutang makan malam pada Peter satu kali. Akhirnya Xia menyanggupi juga.


Siang menjelang sore itu, Xia dan Peter berhenti di sebuah resto dengan mobil masing-masing.


"Haaaaahh.. Ya ampun aku kemari lagi." gumam Xia melihat resto yang tadi siang dia datangi bersama Zander. Xia hanya mengikuti mobil Peter. Pria itulah yang memilih tempatnya.


"Apa kamu keberatan jika kita makan disini?" tanya Peter melirik Xia yang baru saja keluar dari mobilnya.


"Tidak apa. Semua tempat sama saja, yang penting perut terisi." Xia berjalan mendahului Peter yang tersenyum kecil dengan jawaban dan sikap Xia yang terkesan tidak peduli.


Xia memilih salah satu tempat duduk di depan kolam air yang besar di tengah resto itu. Peter menyusul dan duduk di hadapan Xia bersekat meja kotak. Peter meletakkan lengannya di meja. menatap intens Xia yang melihat ke arah kolam yang ditengahnya tumbuhan teratai yang bunga bermekaran.


Xia menoleh mendapati Peter menatapnya.


"Ada apa?"


"Tidak." Peter menerbitkan senyum diwajahnya, terlihat sangat tampan."Aku hanya senang bertemu lagi denganmu."


Xia menghela nafasnya.


"Sepertinya aku punya mahnet yang kuat. Sampai kalian para pria menempel padaku." canda Xia dengan senyum geli.


"Hahaha... Benarkah? Mungkin juga. Apa yang sudah kau lakukan padaku?"


"Sudah! Cepat pesan apa yang mau kamu makan." Xia mengambil buku menu dimeja, lalu menberikannya pada Peter.


Peter menerimanya dan mulai membuka-buka buku menu.


"Apa yang mau kamu makan?"


"Aku sudah makan."


"Pesanlah sesuatu. Tidak enak kalau hanya makan sendiri."

__ADS_1


Xia membuang nafasnya.


"Baiklah. Aku es teh. dan kentang goreng."


Peter mwngulas senyum."Baiklah."


Peter mengangkat tangannya memanggil pelayan. Datanglah waiters.


"Mas, aku pesan ini dan ini." Peter menunjuk menu.


"Dan satu es teh dan seporsi kentang goreng."


"Baik, ada lagi." jawab Waiters mencatat.


"Nggak."


"Permisi, mohon tunggu sebentar, pelanggan." Waiters itu lalu melangkah pergi.


Peter kembali menatap Xia,


"Kemana kamu selama ini?"


"Aku ke kota S. Mengunjungi nenekku disana."


Peter mengangguk pelan.


"Lalu kenapa mengundurkan diri?"


Xia terdiam menatap Peter datar.


"Apa kamu sungguh tak tau?"


Mimik Peter berubah jadi tak enak.


"Tak mungkin kamu tak tau sebabnya."ucap Xia,


"Aku...."


"Kembalilah ke Xander." pinta Peter bersungguh-sungguh.


"Tidak!"


"Kenapa?"


"Bukankah masalah itu sudah selesai?"


"Memang!"Xia menyetujuinya, "Tapi masih membekas. Aku tidak mau kembali kesana dan mengulang kemungkin yang sama lagi." tegas Xia.


Peter membuka mulutnya hendak bicara, namun urung.


"Aku, pikir kita berteman, mari kita bicarakan hal lain saja."ucap Xia.


******


Seusai makan bersama, Xia dan Peter berjalan diparkiran, untuk berpisah.


"Apa kamu mengganti nomormu?"


"Tidak."


"Oh ya?"


Peter mengambil hpnya dan mulai melakukan panggilan telpon kenomor Xia. Tersambung. Ponsel Xia pun terdengar berdering.


"Sudah puas?"


Peter mengulas senyum puas.


"Kabari aku kalau sudah sampai rumah." ucap Peter.


"Oke."

__ADS_1


Xia membuka pintu mobilnya,


"Xia!"


Xia menoleh,


"Besok, acara jamuan dirumah direktur Alan. Aku akan datang." seru Peter tersenyum tampan.


"Terserah."


Xia masuki mobilnya dan melaju pelan.


"Aku tidak tau dan tidak perduli. Lagi pula aku sudah memisah KK dengan mereka. Tidak penting mengundangku atau tidak." Gumam Xia.


Walau begitu ada seberkas gurat kesedihan diwajahnya. Bagaimana tidak? Dia yang keluarganya, yang membantu mencari dana sampai rela menikah dengan pria yang tidak dia cintai. Justru diperlakukan sebagai orang asing yang tidak perlu datang ke acara syukuran kesembuhan ayahnya.


Sesampainya dirumah, Xia merasa sangat lelah. Lelah hati, lelah pikiran dan lelah tubuh. Xia mengambil hpnya, dan melihat kotak masuk pesan dan panggilan. Tak ada satupun dari keluarganya. Xia tersenyum getir.


"Apa yang kuharapkan?"lirihnya bersedih."Ingin mereka mengundangmu haahh? Siapa kau? Kau hanya orang asing yang tak dianggap. Kenapa masih berharap dari mereka?"


Xia mengusap sudut matanya, hatinya terasa sangat sesak. Saking sesaknya hingga menyumbat kerongkongan. Xia terisak kecil, membuat bahu nya bergetar. Xia mengusap pipinya yang basah, menepuk dadanya dan bahunya. Mencoba menguatkan diri.


Xia memasuki kamar mandi dan berendam dalam air hangat. Setelah merasa cukup Xia mengenakan bathrobe dan keluar kamar mandi.


Zander baru saja pulang. Pria itu terlihat sedang melepas pakaian kerjanya. Hanya tinggal mengenakan kemeja dan selana panjang. Zander menatap Xia yang baru keluar kamar mandi.


"Kau sudah pulang?" tanya Xia mendekat.


"Aaa iyaa.." Zander mengalihkan pandangannya dan mengambil sesuatu di nakas dekat nya berdiri.


"Aku mendapat undangan syukuran dari direktur Alan." Zander menyodorkannya pada Xia. Namun wajah Xia justru terlihat sedih.


"Begitukah?" Xia mengambil kertas berwarna hijau itu. Mengusapnya pelan.


Mereka bahkan mengundang Zander. Batinnya bersedih.


"Datanglah bersamaku." ucap Zander.


Xia tertawa kecut. Dan mengembalikan undangan pada Zander.


Xia memalingkan wajahnya dengan masih menunduk berbalik melangkah kan kakinya. Lengan atasnya tertahan tangan Zander.


"Ada apa?" Zander mengangkat tangannya dan menyentuh Dagu Xia. "Kenapa bersedih? Siapa yang sudah menyinggungmu?"


"Tidak." Xia melepaskan diri dari Zander. Namun Pria itu lebih cepat memeluknya. mengangkat dagu Xia dengan tangan.


"Siapa yang sudah menyinggungmu?"


"Tidak ada. Aku cuma baper."


"Baper?"


"Mereka bahkan mengundangmu, tapi tidak menghubungiku sama sekali..." lirih Xia dengan wajah sendu.


"Aku tidak akan datang."


"Kau sudah menerima undangannya. Mereka pasti sangat berharap."


"Kalau begitu, datanglah dengan ku dan kejutkan mereka?"ajak Zander yakin.


____€€€_____


Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.


Salam___


😊

__ADS_1


__ADS_2