Gairah Cinta Semalam

Gairah Cinta Semalam
Chap 68


__ADS_3

Malam itu, Xia dan Zander pulang berdua. Meninggalkan Zene dan Susie dirumah sakit. Sepanjang jalan, Xia hanya diam melamun. Zander yang sedang menyetir melihat melalui ekor matanya. Lalu kembali fokus pada jalanan.


"Apa yang mengganggumu, istriku?"


Xia masih terdiam. Xia membenarkan sedikit posisi duduknya.


"Susie." lirih Xia.


"Dia, teman terbaikku. Saat aku kesulitan dia membantuku." ucap Xia sendu."Walau dia dari keluarga broken. Ayahnya sudah meninggal, ibunya sakit-sakitan, dan kakak seorang bajingaan." Xi menitikkan air matanya.


"Daddy Zi, bisa kah kita membantunya?" Xia menoleh menatap suaminya.


Zander tersenyum.


"Tentu."


Zander mengusap kepala istrinya itu.


Sesampainya dirumah, Xia sudah sangat lelah. Dia langsung tertidur begitu mencium bantal.


Zander baru saja keluar dari kamar mandi,masih tampak sedikit basah. Dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Dia berjalan menghampiri ranjang dimana Xia tidur.


Zander duduk ditepian ranjang. Menatap wajah lelah istrinya, mengusap kepalanya. Tangan Zander menyusuri sepanjang tubuh Xia, dan berakhir di perutnya yang agak buncit. Zander memasukkan tangan di bawah selimut mengelus kulit perut Xia yang mulai agak keras. Zander tersenyum.


"Kaliann, adalah anugrah terindah yang pernah kumiliki."


####


Keesokan paginya Xia terbangun, melihat wajah Zander pertama kali saat membuka mata. Xia bangun membersihkan diri di kamar mandi, dia membuka lemari setelah siap memakai bajunya.


Xia mengambil amplop yang dulu pernah dia dapatkan dari Darren. Tentang rahasia perusahaan Keluarga Tan. Yang mana itu menyangkut ibunya, Maya. Selama ini, Xia menyimpannya, dan baru sekarang dia berniat menunjukkannya pada Zander suaminya.


Xia membangunkan Zander, seperti biasa menyiapkan baju dan keperluan lainnya. Semenjak Xia dinyatakan hamil, Zander tidak mengijinkan Xia bekerja lagi. Jika sangat gatal ingin kerja, Xia hanya boleh jadi asistennya, yang entah asisten apa.


Xia membantu Zander mengancingkan kemejanya.


"Apa hari ini kamu pulang cepat?"


"Kenapa? Mommy Xi sudah mulai merindukanku?"


"Ada yang ingin aku tunjukkan padamu."


"Tunjukkan sekarang."


Xia menggeleng,


"Nanti saja, setelah kerjaanmu selesai."


"Pekerjaanku tidak pernah selesai. Tunjukkan sekarang."


Kini Xia membantu suaminya memasang dasi. Setelah terpasang rapi, Xia memasangkan setelan milik Zander. Xia mengusap dada bidang suaminya itu. Zander memeluk pinggang Xia. Pagi itu sarapan pagi mereka dengan sebuah ciuman manis.


"Tunjukan padaku." Zander masih belum puas mengobrak abrik rongga mulut Xia, namun wanita itu sudah menyudahi ciuman mereka dengan membuat jarah.


"Atau kau lebih suka aku menyelidikkinya sendiri."


"Sebenarnya...,"


Xia melangkah, mengambil amplot coklat yang tadi dia simpan diatas nakas.

__ADS_1


"Ini..."


Xia menyodorkan amplop coklat itu,Zander menerimanya. Membuka lagi mempelajarinya sekilas.


"Ini.."


"Itu berkas yang aku dapat dari Darren. Semua ada disana. Bisakah melakukan sesuatu dengan itu?"


"Aku bawa ya, biar aku diskusikan dengan Zene."


Xia mengangguk pelan.


"Ayo sarapan."


Hp Zander berdering, dahi nya mengernyit melihat Zene sudah menghubungi sepagi itu.


📞:"Haloo?"


Wajah Zander seketika berubah. Dia lalu menatap istrinya.


####


Dilokasi lain, Susie duduk di bangku lorong rumah sakit. Dia menyenderkan tubuh dan kepala nya pada tembok pembatas di bwlakang bangku.


Sekotak nasi terarah padanya. Susie melihat kotak itu, lalu beralih pada si pemberi.


"Kamu harus makan. Tidak boleh sakit demi ibumu yang terbaring disana."


Susie menatap Zene dan tersenyum kecil. Zene kembali menyodorkan kotak nasi itu. Susie menerimanya, membuka nasi kotak itu dan memankannya dengan tak berselera.


"Kalau masalah biaya rumah sakit tidak perlu dipikirkan. Semua sudah diselesaikan."


"Apakah Xia benar-benar sudah melakukannya?"


Wajjah Zene sidikit berubah, tapi dia lalu tersenyum dan mengangguk pelan. Susie tampak lebih bersemangat. Susie memakan nasi kotaknya dengan lahab. Seusai makan, Zene mengajak Susie untuk sekedar jalan-jalan disekitar rumah sakit, mencari kopi.


"Apa kau mau minum kopi?"


Susie menggeleng,


"Bagaimana kalau teh hangat? Aku lihat disana ada mesin penjual kopi dan teh."


Sepertinya jalan sebentar tidak masalah. batin Susie. Dia pun mengangguk.


"Sudah berapa lama ibumu sakit?"


"Dua taun sejak ayahku meninggal."


"Apa kau punya saudara?"


"Seorang kakak laki-laki"


Zene manggut-manggut. Zene mengisi kopi dan teh pada mesin membuat kopi itu.


"Apa tidak sebaiknya, kau menghubungi kakakmu?"


Susie tertawa kecil. Dia menerima operan teh dari Zene


"Kakakku seorang penjudi. Dia tidak akan perduli."

__ADS_1


Zene terdiam, dia melangkah bersama, kembali ke ruangan ibu Susie. Saat masih berada di lorong bansal, terlihat beberapa dokter dan perawat berlarian ke kamar Ibu Susie. Dengan wajah cemas dan kuwatir Susie ikut berlari hendak memasuki ruangan, namun ditahan oleh salah satu perawat.


"A-aku anak pasien. Ada apa suster?"


"Begitu? silahkan masuk."


Susie masuk bersama Zene. Pria itu tertegun melihat ada Dokter Jil disana.


Apakah tuan Zander yang memanggilnya? batin Zene menyipitkan sebelah matanya.


Begitupun dengan dokter Jil yang keheranan melihat Zene masuk bersama Susie.


"Apa hubungan mereka berdua?" batin Dokter Jil.


"Bagaimana keadaannya dok?"


"Pasien saat ini drop." ucap salah satu dokter. Mereka tampak. sibuk memasang beberapa selang dan alat di tubuh ibu Susie.


"Apa?"tubuh Susie melemas, dengan cepat Zene menyokong tubuh wanita itu.


"Kami sedang menanganinya."


Setelah melakukan beberapa kali syok. jantung.. Dokter dokter disana saling berpandangan dan melepas alat-alat ditubuh pasien.


"Dokter kenapa dilepas?" protes Susie menatap tak terima, mendekat pada tubuh ibunya.


"Kami, berusaha semaksimal yang kami mampu, namun jalan takdir Tuhan yang tentukan. Kami turut berduka cita."


"Ha...ha...hahaha.. kalian pasti bercanda."


Susie menatap jasat ibunya. Melangkah semakin mendekat, tangannya gemetar, bahunya bergetar. Susie menyentuh tangan ibunya. Menutup mulutnya menahan tangisnya agar tak pecah.


"I.... buu...."lirihnya,


"Iiiiibuuu...." tangis Susie memeluk tubuh kaku ibunya.


Subuh itu begitu tenang, hanya suara angin yang menggoyahkan dedaunan hingga jatuh dan terbang entah kemana.


Dalam kedukaannya Susie duduk dilorong bangsal. Menatap kosong pada tembok di sebrang sana. Hingga pagi menjelang. Saat itu, Zene lebih berperan membantu proses pengurusan jenazah ibunya, Nyonya Dora.


Zander dan Xia datang bersama, Melihat Susie begitu rapuh pagi ini.


"Susie."


Gadis itu menoleh, melihat Xia air matanya kembali mengalir. Susie berdiri dan memeluk tubuh temannya itu. Begitu pun dengan Xia. Mereka hanyut dalam tangis.


Zander menatap sendu pada keduanya, ekor matanya melihat sesosok mendekat. Zander menoleh, melihat Dokter Jil berdiri dilorong menatapa pada kedua wanita itu.


_____€€€_____


Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.


Salam___


😊

__ADS_1


__ADS_2