
Xia berjalan di lorong rumah sakit. Tentu saja Peter ikut bersamanya.
Akhirnya aku tak bisa lepas juga dari pria ini. Batin Xia melirik pria yang berjalan di sampingnya itu.
Kenapa dia memaksa sekali. Benar-benar menyebalkan. Pikir Xia berjalan terus menuju ruangan Papanya dirawat.
Xia menggeser pintu ruang VIP itu, mendapati Papanya sedang duduk bersandar pada kepala brankar. Sepertinya sedang menonton tivi, matanya fokus kedepan kadang diselingi tawa. Di samping nya, Silvia duduk di kursi sebelah brankar. Tangannya sibuk mengupas apel. Menatap ke arah yang sama.
"Papa."panggil Xia pelan.
Alan dan Silvia menoleh ke arahnya. Xia masuk lebih dulu di susul oleh Peter.
"Akhirnya kamu datang juga."celetuk Alan sedikit kesal pada Xia karena merasa tak dipedulikan oleh Xia selama ini."Papamu sakit keras begini kenapa baru datang?"
Silvia tersenyum sinis pada Xia."Benar! Anak gadis mana ini yang baru muncul. Benar-benar tidak tau terima kasih."
Xia tersenyum kecut.
Bisa bisa nya Silvia berkata begitu, Memangnya siapa yang sudah berkorban demi agar Papa Alan bisa dioperasi dan kalian mendapat kucuran dana. Dasar penjilat. batin Xia namun tak di ucapkannya. Toh juga percuma.
Mata Alan memperhatikan Peter yang berjalan dibelakang Xia.
"Siapa dia?" tanya Alan mengamati Peter."Sepertinya familiar."
"Dia bosku Papa. Peter." jawab Xia yang berdiri di belakang Silvia meletakkan makanan yang dia beli di atas lemari.
"Bos?" Alan mengangkat alisnya.
Peter mengulurkan tangannya. dan menyalami Alan.
"Peter Xena."
"Alan Tan."menjabat tangan Peter.
Silvia sedikit tertegun.
"Peter Xena dari Perusahaan Xander. Apa kamu itu bagian dari Grup Z2x?" tanya Silvia menyelidik. Jika benar ini sebuah keberuntungan.
"Benar."jawab Peter singkat dengan senyum kecil.
"Ja-jadi kamu adik dari Tuan yang mulia Zander Zoe itu?" Mata Silvia berbinar terang, seolah menemukan bintang terang.
Peter memgangguk kecil dengan tersenyum tipis.
Kami bersaudara, hanya beda ibu. Namun pria dingin itu membenciku! batin Peter.
"Suatu kehormatam anda mau menjenguk kami." ucap Silvia mulai menjilat.
"Tolong jangan Sungkan." balas Peter ramah.
Xia ngeblank. Dia merasa kosong, mendengar Peter dan Zander adalah saudara. Dan juga bagian dari Z2x grub.
"Hahahah.... " Xia tertawa palsu."Bagaimana dunia begitu sesempit ini?" gumamnya.
Silvia menjadi begitu ramah, begitupun dengan Alan. Mereka sibuk menjilat Peter. Xia hanya memilih duduk di sofa dan melihat keluar jendela. Ponselnya bergetar. Xia merogoh tasnya dan mengambil ponselnya.
Zander!! Mau apa dia telpon. pikir Xia berdiri melangkah keluar.
"Hallo?" sapa Xia menjawab panggilan sambil menutup pintu. Peter meliriknya sedikit.
"Ada apa?"
π["Kamu dimana? Kenapa belum pulang?"] suara Zander.
"Aku dirumah sakit."
π["Apa? Baiklah aku kesana!"]
"Hei! Tunggu....."
TUTUTUTUUT...
__ADS_1
"Sialan! Diputus lagi!"geram Xia jengkel. Bisa gawat kalau dia kesini! batin Xia.
Xia mulai mengetik.
π§ aku tidak mengijinkanmu kesini! Awas saja kalau kemari! Kamu tidur diluar kamar!
Pesan dikirim.
Sesaat Xia tertegun. Tunggu, Kenapa rasanya...
Dipihak Zander.
Zander terdiam membaca pesan singkat Xia. Pria mendial nomor Xia.
π["Apa jika aku tidak ke sana kita akan tidur bersama?"] Zander.
Uuuuhhh... pertanyaan macam apa ini? Apa dia begitu sangat ingin melakukannya? Pikir Xia menahan kekesalan.
π["Biasanya kita juga tidur bersama."] Suara Xia.
π ["Maksudku, apa kita akan melakukan itu?"] suara Zander.
π["Yaaaaahhh,, ituu..."] bicara agak malas dengan mengambang...
π["Ok!"]
π["Heii... tunggu! Bukan itu maksudku...."] Xia panik..
TUTUTUTUT...
"Astaga.. kenapa dia selalu memutuskan sepihak." gerutu Xia jengkel melihat layar hpnya yang sudah gelap itu.
"Kau sedang marah-marah pada siapa?" suara Petter membuat Xia terlonjak kaget.
"Aahhh.. bukan apa-apa. Kenapa keluar?" ujar Xia basa basi dengan senyum palsu.
"Kamu keluar dan belum kembali. Jadi aku menyusul." jelas Peter.
"Waaahh... kita ketemu lagi, kak?"Sapa Xenia dari lorong bangsal. Berdiri menatap Xia dengan Darren disamping Xenia.
"Ya Ampuunn.." gumam Xia, "Kenapa rasanya hari ini lelah sekali. Abaikan saja dia."
Xia pura-pura tak dengar dan masuk ke ruangan Alan.
Apa? Dia mengabaikan ku? pikir Xenia kesal.
"Hai Pit, kenapa kamu disini?" Darren basa basi menyapa Peter yang masih diluar dan hendak menyusul Xia.
"Aku mengunjungi direktur Alan."singkat Peter langsung masuk saja.
"Kenapa ada peter disini? Dulu keluarga kami tak cukup dekat hingga dia bisa menjenguk papa, Apa dia punya hubungan dengan Xia?" Xenia berandai-andai.
Darren terdiam, sakit juga hati nya tau Xia memiliki hubungan dengan pria lain.
"Kalau iya, pantas saja dia bisa masuk ke project A dengan mulus, ternyata melakukan hal itu..." gumam Xenia menyungging senyum licik.
****
"Papa, aku pulang dulu ya."pamit Xia mendekat ke brankar.
"Kamu mau pulang kemana?"tanya papa Alan, "Ku dengar kamu tak pulang beberapa hari ini."
"Aku... di kosan Susie."bohong Xia."Bukankah sudah ku bilang pada papa kalau aku keluar dari rumah itu."
"Hhhaaaa... Itu juga rumah mu, pulanglah sesekali bersama Piter."ucap Alan melirik Peter yang berdiri di belakang Xia.
"Tidak, Papa. Dia bos ku jangan meminta lebih." Tolak Xia cepat. Dia tau maksud papa meminta Peter datang, tentu untuk memperluas bisnis.
"Aku tidak keberatan." ucap Peter menyela, Ini akan jadi kesempatanku untuk memdekat dan membuatnya jatuh cinta padaku. Agar dia bisa menjauh dari Zander. pikir Peter.
"Lihat dia tidak keberatan."
__ADS_1
Xia hanya tersenyum tipis.
"Sudah pa, aku pamit." Xia menyalami Alan dan mencium tangannya. Lalu berjalan keluar.
Tepat didepan pintu dia berpapasan dengan Darren.
"Xia, ayo kita bicara. " bisik Darren. "Tunggu aku diluar."
"Tidak sudi." balas Xia cepat tanpa menoleh pada Daren.
Beberapa langkah dilorong rumah sakit,
"Xia, aku ke toilet dulu." ucap Peter melihat plang toilet beberapa meter didepan.
"Baiklah, aku tunggu disini."
Peter berlari kecil ke toilet. Xia jadi teringat permintaan Darren untuk menunggunya dilorong.
Cih kalau aku berdiri disini bisa-bisa Darren berpikir aku menunggunya. Lebih baik aku menyusul saja di toilet. pikir Xia melangkahkan kaki ke arah toilet.
Sebuah tangan menarik lenganya dan menyeret ke gang yang lain agar tak terlihat.
"Hei! Apa-apaan ini?"protes Xia menarik lepaskan tangannya.
"Darren!"pekiknya. "Mau apa kau?"
"Apa hubunganmu dengan Peter. " tanya Darren dengan wajah marah. Darren merasa terhianati oleh Xia yang dekat dengan Peter. Tanpa berkaca dia lah yang meninggalkan Xia menikah. Darren masih berpikir Xia memiliki perasaan padanya.
"Apa hubunganmu dengan Peter?"teriak Darren kesal karena Xia tak kunjung menjawab.
"Apa hubunganku dengannya itu bukan urusanmu!" balas Xia dengan wajah marah juga. Tak suka dengan sikap Darren.
"Xia, apa kau melakukan ini untuk membalas dendam padaku?"
"Apa? Kenapa kamu begitu pede? Apa kamu begitu tinggi dan penting sampai aku harus membalas dendam padamu hah?" cemooh Xia dengan mata merendehkan.
"Xia, katakan kau tak punya hubungan apapun padanya." mohon Darren dengan wajah memelas.
"Kau gila! Kau sudah punya istri. Kenapa masih mengurusiku?"
Darren menarik paksa Xia kedalam pelukannya. "Aku mencintaimu Xia. Aku masih mencintaimu."
"Lepaskan aku brengsek! Lepas!" Xia meronta dan mendorong kuat tubuh Darren hingga terlepas. Pria itu berjalan mendekat lagi dan hendak memeluk Xia. Dengan cepat Xia menampar pipinya.
PLLLAAAAKKKK!!
Wajah Darren terhempas kesamping.
"Kita sudah berakhir. Jangan menggangguku dan urusi istrimu! Aku tidak sudi berurusan dengan kalian." Sentak Xia dengan mata membola dan marah.
Xia melangkah pergi.
"Xia! Beri aku kesempatan. "
Cccuuuuiiiihhh.. Xia meludah kesamping. "Hadapilah! Kita sudah berakhir."
Lalu meninggalkan Darren yang terduduk lungkai di lantai.
"Aku tau kau masih mencintaiku, Xia." lirih Daren..
____β¬β¬β¬____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
π
__ADS_1