Gairah Cinta Semalam

Gairah Cinta Semalam
Chap 81 • Spesial part Zene dan Jeni •


__ADS_3

Zene mengendarai mobil ke sebuah kota yang sedikit terpencil. Zander memberinya tugas untuk beberapa urusan. Zene memasuki sebuah hotel dimana dia akan menginap selama beberapa hari kedepan. Sebenarnya Zene menggantikan Zander untuk meting dengan beberapa vendor rekanan.


Zene melangkah hanya dengan membawa travel bag saja menuju lobi.


"Selamat datang di hotel Paradize. Ada yang bisa dibantu?"


Saya sudah reservasi kamar." ucap Zene menunjukan layar hp nya.


FO-girl tersenyum ramah, mengangsurkan kartu akses pada Zene.


"Reservasi atas nama Tuan Zene Xavy, suit room nomor 1214 lantai tujuh. Semoga hari anda indah dan selamat beristirahat."


"Terima kasih."


"Terima kasih."


Zene tersenyum simpul. Dia melangkah menuju lift. Bola mata Zene bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain. Hingga ekor matanya menangkap beberapa orang yang dia anggap mencurigakan. Zene tetap berjalan dengan tenang. Hingga dia masuk ke dalam lift. Beberapa dari orang itu ikut masuk masuk kedalam lift. Zene menekan tombol lantai tujuh. Pintu lift menutup dengan sempurna, Zene masih terlihat tenang dalam tubuh tegapnya.


Hingga Pintu lift terbuka di lantai tujuh. Orang-orang itu sudah terkulai di dalam ruang besi kotak itu. Zene melangkah keluar dari lift dengan tenang tanpa lecet apapun dan sedikit membenarkan jasnya.


Begitu sampai di kamar yang telah di reservasi. Zene menjatuhkan tubuhnya ke ranjang berukuran king size itu. Zene menatap langit kamarnya. Pintu kamarnya diketuk.


"Room service!"


Zene melirik kecil pada pintu kamarnya, tersenyum kecut. Zene bangkit, berjalan malas dan membuka pintu kamarnya. Zene tertawa kecil tanpa suara. Rasanya lelah dan muak. Dia menutup pintu kamar nya lagi, namun ditahan oleh gadis itu.


"Tuan, aku mohon! Biarkan aku masuk." mohon gadis yang kini berdiri didepan pintu kamar hotel Zene.


Zene hanya melihat gadis itu, menyeluruh dari atas sampai bawah.


"Tidak! Carilah korban lain." Zene menutup pintu kamarnya.


"Tidak! Tunggu tuan." gadis itu menyelipkan kakinya diantara pintu. Namun langsung ditendang oleh Zene hingga tubuh gadis itu sedikit oleng kedepan.


"Ohh, tidak! Satu milyar ku." batin gadis itu cepat-cepat menelusupkan tangannya diantara pintu, sebelum pintu kamar Zene benar-benar menutup.


Aaaaauuuu... tangan kuu...." pekik gadis itu kesakitan karena jari tangannya kejepit pintu.


Zene bergegas membukanya lagi. melihat tangan gadis itu menggenggam kuat pinggiran pintu. Zene tersenyum dengan wajah dipaksa.


"Kau, benar-benar ke-ras ke-pa-la..." Zene mencoba melepaskan jari-jari gadis itu. Saat itu, ponsel Zene berdering. Zene menoleh mendengar ponselnya berdering didalam kamar.


"Kesempatan!" pikir gadis itu menerobos masuk begitu saja.


"Heei!"seru Zene menyusul masuk.


"Kau!"


"Sebaiknya kau mengangkat telpon mu dulu. Huumm?" berlari menghindari Zene.


Zene menunjukkan wajah gadis itu. Lalu dia mengambil hpnya. Menekan tombol Hijau lalu menempelkan nya ketelinga.


📞:["Zene! Maaf aku lupa malam ini adalah acara di balroom hotel itu, dan harus membawa pasangan."] suara Zander diseberang sana.


📞:"Apa?"

__ADS_1


📞:["Kau harus menghadirinya Karena ini penting."]


Setelah telpon diputus, Zene tertawa lucu. Lalu melirik gadis yang asal menyelinap masuk ke kamar nya itu.


"Kebetulan yang sangat mengerikan." gumam Zene. Dia lalu menghubungi pihak hotel, menanyakan masalah acara lelang di balroom. Setelah mendapatkan kepastian, Zene lalu mengakhiri sambungan telponnya.


"Baiklah, nona. Mari kita bicara." Zene duduk di sofa dekat tivi. sambil melihat jam yang melingkar ditangannya.


"Siapa yang menyuruhmu kemari?"


"Tidak ada." jawab gadis itu duduk didepan Zene.


"Berikan tanda pengenal mu."


"Untuk apa?"


"Berikan! Atau aku panggil keamanan. Dan melemparmu ke luar jendela. Kau boleh memilih salah satu nya."


"Baiklah! Kau tidak akan menggunakan nya untuk pinjaman online kan?" gadis itu bersungut mengambil dompetnya dan tanda pengenal nya.


"Untuk apa? Haram bagiku untuk pinjam-pinjam. Cepat berikan." Zene menengadah kan tangannya ke arah Si gadis.


Gadis itu memicingkan matanya ragu. Zene tak sabar dan menyaut tanda pengenal si gadis. Zene mengecek kartu itu dengan seksama.


"Jeni Tylor. 18 tahun. Ternyata kau masih sangat muda. Bukankah kau seharusnya masih sekolah?"


"Yaahh,, kehidupan ekonomi keluarga ku sangatlah memprihatinkan."


"Benarkah?" Zene ragu.


"Baiklah."


"Sekarang apa tujuanmu?"


"Tentu saja melayanimu."


"Ha-ha-ha.." Zene tergelak. "Aku tidak memesan wanita."


"Benarkah? Tapi, ini kamar nomor 1214 kan?"


"Benar."


"Berarti tidak salah." Gadis itu mengambil hp nya dan menunjukan sebuah pesan pada Zene. Zene menyipitkan sebelah matanya.


"Ini bukan nomor Tuan Zander. Juga bukan milik Nyonya Xia. Lalu siapa? Hanya mereka yang mencurigakan." gumamnya.


"Jadi, apa kita melakukannya sekarang?" tanya gadis bernama Jeni itu.


"Sudah kubilang aku tidak memesan wanita."


"Ayolah, tuan. Aku butuh uang itu untuk biaya rumah sakit nenekku." Jeni memohon.


"Siapa yang membayarmu?"


"kau."

__ADS_1


"Aku tidak mau membayar. Karena aku tidak memesan wanita. Sekarang keluar lah selagi aku masih bersabar." Ucap Zene dengan senyum di wajahnya.


"Tidak mungkin." Jeni mulai berdiri dan membuka bajunya satu persatu.


"kau sinting? Apa kau sedang membuat pertunjukan disini hah? Atau usaha untuk menjebakku?"


"Tidak. Tentu saja tidak. Untuk apa aku menjebakmu, aku hanya perlu melayanimu, dan dapat uang. Setelah aku melepas semua ini tak mungkin kamu tak tergoda kan?" Oceh Jeni mendekat dengan hanya mengenakan bra dan ****** *****.


Zene masih duduk itu, dia tarik hingga berdiri. Zene hanya tertawa tanpa suara, sebuah tawa remeh.


"Kenapa reaksinya begitu?" Gumam si Jeni.


"Apa yang kau gumamkan bocah."


"Kenapa wajahmu datar saja?" Tanya Jeni sedikit terkejut, " bukankah aku cantik, seksi dengan penampilan seperti ini? Tidak mungkin kau tidak berdiri kan?"


"Aku sedang berdiri sekarang."


Tanpa malu dan basa-basi, Jeni memegang pusat Zene. Pria itu hanya datar lalu tersenyum.


"Apa?" Jeni terkejut.


"Apa ini?" Jeni berulang kali memijit pusat Zene."kenapa lembek begini? Sedikitpun tidak keras."


"Apa kau, impoten?" Bertanya dengan wajah sangat terkejut dan syok.


Zene tersenyum puas dengan wajah riang dan yakin. Menyingkirkan paksa tangan gadis itu.


"Aku tidak memesan wanita. Aku tidak tertarik pada wanita. Apa ini masih belum cukup untukmu?"


"Apa? Kenapa bisa begini?" Jeni mulai panik."Uang ku... Melayang...." Tangisnya.


Jeni terduduk lunglai dan merosot. Ia tak menyangka akan menghadapi seorang impoten atau pun gay. Bagaimana bisa dia menyanggupi untuk menerima tawaran uang yang sangat menggiurkan itu. Hanya dengan tidur dengan pria didepannya dia kan mendapatkan 1 milyar. Tapi siapa sangka orang didepannya ini seorang gay.


"Kalau seperti ini sia-sia saja aku sampai bersemedi selama 7hari tujuh malam kemarin? Aku hanya menyia-nyiakan hidupku." Tangis Jeni.


"Baiklah. Sekarang katakan padaku, siapa yang membayar mu dan berapa?" Zene berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Jeni yang terkulai dilantai.


"Siapa? Itu tidak penting." sentak Jeni.


"Baiklah, aku akan membayar mu. Sebutkan harga yang dia tawarkan."


"Apa? Benarkah?" Jeni seperti mendapatkan angin segar." Dengan wajah sedikit ragu melihat Zene tampak mengeluarkan dompetnya.


"Sebutkan harganya."


Jeni menelan ludahnya. "Satu milyar."


___^_^___


Bersambung....


PS: Kalau banyak yang like, nanti Othor terus kan.


Like dong...

__ADS_1


Komen dong....


__ADS_2