
Zander melihat banyaknya tamu yang datang dari pembatas kaca di lantai atas. Melihat betapa ngototnya Silvia untuk bisa masuk. Akan tetapi, seperti biasa, para pekerjanya lebih bisa mengontrol keadaan.
Zander dengan stelan tuxedo membuat nya terlihat gagah dan tampan. Pintu ruangan tempatnya menunggu terbuka, Zene masuk dengan langkah lebar dan berhenti beberapa meter di belakangnya. Pria itu menunduk hormat.
"Tuan dan Nyonya besar hadir."
Zander masih menatap keluar tanpa menoleh.
"Mereka menuju ruang rias pengantin wanita."
Zander menggeretakkan giginya.
****
####
"Aa.. Anda siapa?"
"Kami adalah tamu VIP." ucap mama Anggia menunjukkan undangan khusus keluarga.
"Kami ingin bertemu dengan mempelai wanita."
"Oohh,, Silahkan masuk tuan dan nyonya.'' MUA itu mempersilahkan keduanya masuk dengan tangannya.
"Tolong beri kami privasi."
"Baik."
MUA itu pun akhirnya keluar dengan menutup pintu tanpa suara.
Xia menatap mertuanya, yahh, walau saat ini dia tak tau mereka adalah mertuanya. Karena Zander sama sekali belum pernah mempertemukan mereka.
"Mempelai wanita cantik sekali." puji Anggia melangkah mendekati Xia.
"Terima kasih."
Anggia memeluk Xia, sedang gadis itu hanya diam mematung. Dia tak tau siapa mereka juga bagaimana harus bersikap, dan berekspresi apa?
"Kamu pasti bingung siapa kami ini." tebak Ayah Zander.
Xia tertawa kikuk.
"Kami adalah orang tua Zander." jelas Anggia melepas pelukannya.
"Aaahh... Begitu..." lirih Xia,
Ada sedikit getaran aneh yang dia rasakan, bahkan ini pertama kalinya dia bertemu dengan mertuanya. Tapi dia tak tau.
"Luxia, Namamu Luxia bukan?"
"Iya, mama."
"Zander bahkan tidak memperkenalkamu secara pribadi dengan kami. Entah apa maksudnya. Tapi Xia, apa kamu tau jika Zander sudah memiliki calon istri dari keluarga Lanser?"
Xia tersenyum kecut.
Apa maksud nya? Apa dia sedang mencoba mengintimidasiku? Batin Xia.
"Namanya adalah Alexa,"
"Apa yang ingin anda katakan? Kenapa begitu bertele-tele? Apa anda ingin saya mundur?"
Anggia terkejut dengan ucapan Xia.
"Hahahaha...." tawa nya.
"Xia, kami tidak punya waktu banyak. Alexa menghilang. Kami yakin ini ada hubungannya dengan Zander. Karena itu...." potong Ayah Zander cepat.
__ADS_1
BRRRAAAAKKK!
Pintu ruangan itu dibuka paksa. Diambang pintu muncul Zander dibelakangnya ada beberapa orang ekornya. Pria itu melangkah mendekat sementara ekornya masih tertinggal di depan pintu.
"Anakku...." sebut Papa Zander dengan wajah tak enak.
"Apa yang kalian lakukan disini? Tempat perayaannya diruang utama." tukas Zandar dingin.
"Kalian! Antarkan kedua tamu yang tersesat ini kembali ke tempat seharusnya." perintah Zander sedikit menoleh kebelakang pada ekornya yang masih didepan pintu.
Salah dua dari mereka ikut melangkah masuk beberapa langkah,
"Mari tuan dan Nyonya.." mempersilahkan dengan tangan.
Papa Zander tersenyum tipis.
"Kami memang tidak berarti apapun bagimu, bahkan untuk bertemu menantu pun kami tak di ijinkan." ujar nya melangkah perlahan keluar dari ruangan itu.
"Itu tergantung pada apa tujuan kalian menemuinya."tukas Zander tanpa menoleh pada papanya.
Anggia sebenarnya masih tak rela untuk pergi, dia masih memiliki tujuan lain. Akan tetapi papa Zander memberi isyarat untuk pergi. Jadi Anggia pun melangkah keluar mengikuti suaminya.
Zander menghela nafasnya.
Matanya kembali menatap Xia lembut.
"Kau cantik hari ini."
Xia membalasnya dengan senyuman juga.
"Kau juga, lebih tampan dengan setelan tuxedo."
Zander berjalan semakin mendekat.
"Apa yang terjadi, Suamiku?"
"Apa yang mereka katakan?"Zander balik bertanya.
"Jangan dimasukan ke hati. Kau istriku sekarang."
"Aaaa.... Baiklah. Dimana Alexa?"
"Kenapa bertanya padaku?"
"Apa dia akan datang?"
"Entahlah."
"Aku sedikit cemas."
"Jangan dipikirkan. Ini hari besar kita." Zander menyantuh pipi Xia dan membingkai wajahnya.
"Aku ingin memakanmu sekarang." kekehnya.
"Jangan, kau bisa merusak make up nya."
Zander terkekeh.
"Tanpa make up pun kamu sudah cantik."
"Apa kamu sedang merayu? Apa sekarang kamu bermaksud membuat pekerjaan MUA terbaikmu jadi sia-sia?"
"Okey. Okey. Aku mundur." balas Zander tersenyum, mengangkat tangannya dan mundur selangkah.
"Tuan! Sudah waktunya." panggil salah satu ekornya. Zander sedikit menoleh.
"Aku mengerti."
__ADS_1
Zander kembali melihat wajah Xia.
"Aku tunggu di altar."
"Okey." Xia mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan kabuurr..."
Zander melangkah keluar. Melewati beberapa ekornya, tak jauh dari mereka Zene berdiri.
"Pastikan nyonya benar-benar melangkah ke ruang utama. Singkirkan apapun yang menghalangi." titah Zander dengan langkah pasti ke ruang utama, dimana acara itu akan berlangsung.
"Baik." tunduk Zene.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan rias Xia diketuk, sang MUA muncul di balik pintu,
"Mari nyonya; sudah waktunya."
Xia berjalan melewati pintu dan lorong. di sepanjang lorong ada beberapa orang Zander. dan tak jauh dari pintu, papa Zander berdiri menyambutnya. Zene lalu pasang badan di depan Xia.
"Aku tidak bermaksud jahat," jelas papa zander menatap Zene.
"Aku lihat kamu hanya berjalan sendiri. Ijinkan aku menjadi pengiringmu." pinta Papa Zander menatap wajah Xia. dengan tangan yang menengadah menunggu sambutan Xia.
"Maaf Tuan, Saya rasa tuan Zander tak akan senang." tolak Zene cepat.
Xia mengulas senyum. Meminta Zene untuk tak minggir dengan tangan dan tatapannya.
"Terima Kasih." Xia menyambut tangan Papa Zander.
Dari tatapan mata Zene, jelas dia sangat keberatan. Mengingat bagaimana watak tuannya, mungkin Zander akan marah. Tapi Xia hanya mengumbar senyum.
"Aku yang akan bertanggunh jawab jika dia marah."Bisik Xia pelan.
Papa Zander dan Luxia, memasuki ruang utama, dari arah pintu dia masuk sampai ke Altar tergelar karpet merah muda. Xia melangkah pasti dengan papa Zander sebagai pendampingnya.
Sesaat Zander tersenyum melihat istrinya itu, akan tetapi langsung berubah dingin dan menatap tajam begitu melihat papanya.
Selama perjalanan Xia ke alter, suara-suara pujian terdengar. Xia tentu saja sedari tadi mengulas senyumnya.
Zander tersenyum ramah begitu istrinya itu hanya berjarak beberapa meter saja darinya. Namun tatapan matanya tajam melihat papanya. Zander mengulurkan tangannya mengambil alih Xia, dan keduanya berdiri dialtar dan mengikat janji.
"Mempelai pria bisa mencium wanitanya sekarang."
Zander sumringah, menatap istrinya. Tangan Zander memeluk pinggang ramping Xia sedang tangan yang satu lagi dia tempatkan di dagunya. Perlahan wajah Zander mendekat, menutup matanya dan melummat benda kenyal milik Xia dengan lembut dan perlahan.
Riuh suara tamu di iringi oleh suara tepukan tangan. Zene yang berdiri dj sudut ruangan itu tersenyum tipis. Dia melangkahkan kakinya keluar dari tempat yang membahagiakan itu.
Suara langkah kaki Zene menjauh hingga di tempat terdalam di vila Air Mengalir. Zene berhenti di lorong yang buntu. Tangannya menyentuh lampu yang berbentuk seperti tandui rusa, lalu memutarnya 180°.
Lantai didepan kakinya bergetar dan perlahan bergeser, menciptakan lobang meng nganga dengan anak tangga yang mengarah kebawah tanah.
Zene berjalan menuruni tangga setapak demi setapak. Tangannya menyaut cambuk yang tergantung di sisi tembok anak tangga terakhir. Zene melangkah semakin kedalam ruang bawah tanah dengan pencahayaan remang itu. Di sisi kiri ada pintu yang di jaga oleh dua orang berdiri dengan tegap.
Salah satu dari mereka membukakan pintu itu. Zene melangkah masuk, didalam ruangan itu tampak sepasang manusia yang di rantai dengan ujungnya yang menempel kuat pada tembok.
Zene menyeringai jahat.
"Okey. Mari kita buat pesta sendiri di sini." seringainya dengan cambuk yang dia pegang dan goyangkan pada tangannya.
____€€€_____
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
__ADS_1
Salam___
😊