Gairah Cinta Semalam

Gairah Cinta Semalam
Chap 71


__ADS_3

Dalam kaamar hotel itu, Zene duduk tak jauh dari Zander. Menunjukan beberapa berkas dan tablet yang dia bawa.


Zander tertawa lucu.


"Keluarga Tan benar-benar mengelikan."kekehnya.


"Ada apa, Sayang?" Xia mendekat dan duduk di sisi Zander.


"Ini adalah berkas yang kau serahkan. Zene sudah memprosesnya."


Wajah Xia terkejut.


"Secepat ini?"


Zander tersenyum remeh.


"Kau luar biasa Zen." Xia beralih melihat Zene dengan kekaguman.


Zander melirik tajam istrinya.


"Eee... Asisten Zene, kau luar biasa."


Zander berdehem. "Eeheeemmm..."


"Tentu saja lebih hebat suamiku yang memperkerjakanmu...." Xia tersenyum kikuk. Dia sangat tau jika Zander pastilah tidak suka jika mendengarnya memuji orang lain.


Selamat! Untung nyonya cepat tanggap. Habis kepalaku dipotong-potong tuan. Batin Zene lega.


"Lalu bagaimana hasilnya?"


"Mama Maya meninggalkan aset untukmu. Tapi karena saat itu kau belum cukup umur, dan juga mampu, Alan Tan lah yang mengelolanya. Tapi, sekarang kau sudah berbeda..." Zander menjelaskan panjang lebar.


"Aku tidak mengetahuinya."


"Waktu dulu, saat kamu SMA pernahkan Alan atau Silvia Tan memintamu menandatangani sesuatu?"


"Aku tidak ingat. Kurasa tak pernah." Jawab Xia mencoba mengingatnya kembali sambil menggeleng.


"Apa sekarang kamu mau mengambil kembali asetmu itu?"


Xia terdiam. Dia pun tak tau. Jika dia mengambil alih sudah pasti mereka akan menjadi gembel, akan tetapi dia sendiri juga tak akan bisa menjalankannya. Jika Xia lepaskan saja, bukankah itu aset peninggalan ibunya? Ibu yang tersakiti oleh sikap ayahnya. Haruskah dia lepaskan tanpa memandang bagaimana perasaan Ibunya?


"Jika, kau menjadi aku, apa yang akan kamu lakukan."


"Tentu saja mengambilnya. Itu milik ku. Milik ibuku."


"Tapi, aku tak punya kemampuan sepertimu."


Zander tersenyum. "Itukah yang membuatmu ragu."


Xia mengangguk pelan.


"Ada banyak lulusan universitas yang menunggu pekerjaan. Kau bisa memperkerjakan mereka."


"Tapi, memperkerjakan orang berilmu tanpa memiliki kemampuan memimpin itu sama saja menghancurkan diri sendiri bukan?"

__ADS_1


"Istriku.. Kau punya kami."


Xia tertegun. Lalu tersenyum kecil, sadar dia tak sendiri lagi.


"Benar. Aku punya kalian."


Zander mengumbar senyum kepercayaan diri.


"Sekarang, apa rencanamu?"


***


####


Hari berlalu, Susie sudah kembali ke kota. Dipinggiran sebuah jembatan dengan keindahan gemerlap lampu kota yang berwarna-warni, Susie melangkah dengan gontai.


Dia seolah kehilangan arah hidupnya. Susie berhenti di tengah jembatan merah itu. Kakinya perlahan naik keatas pembatas besi satu tingkat. Susie menghirup udara, lalu menghembuskannya.


Susie mendongak melihat kearah langit.


"Ibuku sudah pergi."


"Kekasihku juga meninggalkanku."


"Rumah ibuku disita rentenir karena hutang Sandi."


"Apa yang aku punya sekarang?"


"Apa yang tersisa untukku?"


"Tuhan? Apa yang kau sisakan untukku?"


"Haruskah aku...."


"Kau mau melompat?" Suara seorang pria yang tak asing bagi pendengaran Susie. Membuat gadis itu menoleh.


"Dokter Jil." Susie memekik kaget.


"Apa yang kau lakukan disini?" sambung Susie dalam tanya.


"Memperhatikanmu."


Susie terdiam sejenak. "Jangan mengada-ada." kekeh Susie.


"Kau jadi akan melompat?"


"Tidak!" Susie pelan-pelan melangkah turun dari pembatas besi."Aku kasihan padamu, nanti jadi tersangka pembunuhan."


"Lalu kau akan melompat lain kali?" Dokter Jil tersenyum geli.


"Yaaahh.. Mungkin begitu." pasrah Susie.


"Hmmm,,, sebelum itu, bagaimana jika aku tawarkan sesuatu?"ucap Dokter Jil perlahan melangkah mendekat.


"Aku memang tidak bisa berbuat banyak untuk Nyonya Dora. Tapi, aku mungkin bisa berbuat sesuatu untuk mantan pacarmu itu. Kau tertarik?"

__ADS_1


Tanpa suara, Susie menatap dokter tampan itu. Dia tersenyum kecil.


****


Di sebuah ruang VIP Dokter Jil berdiri dan menumpukan kedua lengannya pada pembatas pagar pengaman lantai dua. Melihat seisi bangunan lantai satu dari sana.


Bayangan seseorang berdiri mendekat kearahnya.


"Tuan."


Dokter Jil menoleh, Seketika matanya terpana. Terpaku pada wanita didepannya yang kini berias make up sempurna dengan gaun indah yang menjuntai hingga ke betisnya.


"Bagaimana?"


"cantik."


Susie mengulas senyum.


"Apa kau siap."


"Dokter, untuk apa semua ini?" Susie masih tidak mengerti maksud Jil."Apa ini tidak sedikit berlebihan?"


"Tentu tidak. Ini untuk formalitas. Jika ingin menjatuhkan sesuatu, pastikan dilakukan dengan benar dan penuh. Biar ngga ikut jatuh."


Jil melangkah mendekat. mengangkat tanganya pada Susie. "Apa kau siap?"


Susie mengubah senyumnya.


"Benar. Lakukan dengan benar, agar pukulan telak." gumam Susie pelan menyambut tangan Jil.


"Aku harus membalasnya sebelum aku benar-benar mati. Agar tak ada lagi penyesalan."


Mereka melangkah meninggalkan tempat tersebut. Berkendara menuju sebuah pesta besar di sebuah gedung bergengsi.


Jil keluar dari mobil lebih dulu, dia memutari setengah mobil dan mwmbukakan pintu untuk Susie, segera tangannya menengadah, memberi gadis cantik yang dia bawa pegangan.


Susie mengumbar senyumnya. Lalu menyambut tangan Jil, Susie menjejakkan kakinya di tanah. Perlahan keluar dari mobil dengan anggun. Jil menggenggam tangan Susie dengan hangat. Dan melangkah pasti memasuki gedung mewah yang sedang diadakan pesta itu.


_____€€€_____


Readers, berhubung belum ada Visual Susie dan Dokter Jil. Coba Othor sisip kan Visualnya ya. Inj hanya Visual menurut Othor pribadi. Jika kurang sesuai , readers bisa memvisualkan sendiri.


Susie



Dokter Jil



Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.

__ADS_1


Salam___


😊


__ADS_2