
"Jika orang tuaku tau, mereka tidak akan tinggal diam!" teriak Alexa yang walaupun tangan nya terikat rantai, namun tubuhnya masih mulus tanpa luka.
Zene terkekeh. Lalu dia berjongkok didepan Alexa.
"Nona, Kami akan mengurus keluargamu setelah ini." seringai Zene menyusuri dagu Alexa dengan cambuknya.
"Kau tau ini adalah pelanggaran hukum." sentak Darren tak terima mendapat perlakuan seperti itu."Kalau ini sampai terungkap dipublik."
Zene melirik tajam pada Darren, yang langsung mengkeret.
"Apa kau masih memiliki kemampuan untuk itu?" tanya nya dingin.
Zene kembali terkekeh,
"Apa kau yakin bisa keluar dari sini hidup-hidup?"
Darren tersentak. Tentu saja dia takut akan kematian. Jika apa yang di ucapkan Zene benar, apa yang harus dia lakukan? Tentu Darren harus lepas dari ini. Tapi bagaimana?
Zene melangkah mendekat pada Darren.
"Kita masih punya banyak hal untuk di bicarakan terkait masalahmu.." ujarnya,
"Kita bisa membuatnya mudah atau sulit. Tergantung pada bagaimana sikapmu kedepan." sambung Zene menyeringai.. Dia merogoh kantongnya. Mengeluarkan sesuatu dari sana.
"Disini ada banyak hal menarik, Apa yang sebaiknya aku lakukan yaa??" seringai Zene lagi mengayun-ayunkan ponsel di udara.
"Baiklah, mari kita lihat apa yang ada disini?"
Wajah Alexa dan Darren seketika berubah. Tentu saja raut ketakutan dominan disana.
****
####
Di lokasi lain setelah rangkaian acara resepsi Zander - Xia usai. Zander yang tepar dan mabuk itu terbaring diatas ranjang berukuran king size di. kamarmya.
"Suamiku, ayo bangun."
Xia meletakkan semangkuk sup hangat di atas nakas.
"Kamu terlalu banyak minum tadi. Makan dulu supnya." Xia menggoyangkan tubuh Zander. Namun pria itu masih tak goyah. Tetap pada posisinya.
"Ya ampun, kamu tak bisa begini..." gumam Xia melihat pasrah suaminya yang terlanjur pulas. Xia meminum supnya, membiarkannya tetap didaalam mulutnya, Xia mendekatkan wajahnya. Mencapit pipi Zander agar mulutnya terbuka.
Wajah Xia semakin mendekat, hanya tinggal beberapa inci saja. Zander sudah sangat tak sabar. Ditariknya lengan Xia dan menjatuhkan tubuhnya kesisinya. Zander berbalik mengungkung istrinya. Dan menyesap habis apa yang ada dirongga mulut gadis itu.
"Uuummmmpppp..."
****
Setelah melalui malam panjang, Xia membuka matanya merasakan adanya pergerakan dari belakangnya. Xia menoleh, Xia melihat punggung Zander dengan kimono tidurnya melangkah keluar kamar.
Xia ikut bangun dan mengenakan kemeja Zandder yang berserak di lantai. Xia mengendap-ngendap mengikuti langkah Zander.
Zander berjalan sampai kedapur. Mengambil segelas air putih dan meminumnya. Zander melirik Xia yang mengintip di balik pembatas dapur. Dia mengulas senyum.
"Kenapa menyusul kemari?"
"Mmm.. Aku tiba-tiba kedinginan. Ternyata kamu nggak ada." Xia memainkan jari-jarinya.
Zander terkekeh lalu berjalan mendekat, "Ayo kembali ke kamar." ajaknya merangkul pundak Xia.
****
Keesokan hari nya, Zander merasa kepalanya pusing, perutnya juga mual. Pria itu berlari ke kamar mandi. Memuntahkan seluruh isi perutnya.
Xia menyusul dan memijit tengkuk suaminya. Memberi minyak angin disana.
__ADS_1
"Sudah lebih baik?"
Zander menyenderkan tubuhnya pada sang istri.
"Ini parah." keluh nya. "Aku nggak pernah mabuk sampai seperti ini."
"Kan udah kubilang semalam. Minum sup nya."omel Xia masih memijit tubuh Zander."Malah sibuk ke yang lain."
Zander terkekeh. Wajahnya masih terlihat pucat.
"Kamu kebanyakan minum sih."lanjut Xia mengomel.
"Hmmm.. Tidak, sepertinya karena aku terlalu bersemangat semalam."
Xia terkekeh.
"Ayo, aku papah kembali kekamar."
Sesampainya dikamar, Xia membantu Zander berbaring di ranjang. Bibi Ana sudah menyiapkan minuman pereda mual.
Xia mengambil duduk di pinggiran ranjang, dia mengmbil minuman pereda mual dan meniupnya, lalu mendekatkannya ke mulut Zander.
"Minumlah dulu."
Zander menyeruputnya.
"Minum lagi."
Xia berdiri dari duduknya. "Aku akan ambilkan sarapan untukmu. Tunggu sini ya."
Zander mengangguk lemas.
Tak berapa lama Xia sudah kembali dengan semangkuk bubur dan sup. Lalu meletakkannya ke pangkuan begitu Xia duduk.
"Aku suapi ya."
"Enak? Apa laper?"
"Enggak dua -dua nya."
"Jadi?"
"Karena disuapin istri."
Xia terkekeh lagi.
"Habiskan."
"Kamu juga makanlah." Zander beralih mengambil sendok dari tangan Xia . Menyendok bubur dan menyuapi istri nya. Pagi itu mereka sarapan di kamar dengan saling menyuapi.
###
Pagi menjelang siang, Zander sudah berada di pinggiran kolam renang dengan mengenakan celana pendek diatas lutut. Hari ini dia masih libur kerja. Celana pria itu sudah basah karena baru saja naik dari permukaan. Zander mengusap wajahnya dengan handuk.
Zene datang melangkah mwndekat. Dan berhenti tak jauh dari tuannya.
"Ada apa?"
"Apa anda akan melihat mereka langsung?"
Zander terdiam sejenak.
"Sampai dimana?"
"Seperti yang anda minta terserah bagaimana menyiksa, asal tidak sampai mati."
Zander terkekeh.
__ADS_1
"Kau tidak berlebihan kan?" tanya Zander geli.
"Aku akan lihat nanti. Aaa, istriku datang, jangan sampai dia curiga apalagi tau." lanjutnya melirik Xia yang semakin mendekat dengan dua gelas jus di tangannya.
"Baik." tunduk Zene patuh.
"Zen!" seru Xia riang.
"Nyonya jangan memanggil saya dengan akrab. Saya masih ingin gaji utuh." ucap Zene dengan mengulas senyuman diwajahnya.
"A-sis-ten Ze-ne." kikuk Xia dengan nada yang di buat selow. Tak lupa senyum canggung dengan melirik suaminya yang terlihat tidak senang.
"Kau mau jus? Kebetulan aku buat dua." tawar Xia menyodorkan segelas jus ditangannya ke depan dada Zene.
Zander menggeram.
"Hahaha... Tidak ada pemotongan gaji kan?" celetuk Zene dengan senyum kikuk.
Xia melirik kesal pada suaminya.
"Jangan terlalu pelit padanya. Ini hanya jus."
"Apapun yang kamu buat hanya aku yang boleh makan! Orang lain tidak boleh."
Zander menyaut semua jus ditangan Xia. Lalu meminumnya sampai habis tak bersisa. Xia dan Zene hanya menatap takjub.
"Dua gelas habiss! Amazzing!!" Xia bertepuk tangan. Melihat wajah Zene. "Dia luar biasa bukan?!"
Xia makin mengeraskan tepukan tangannya di depan Zene, agar pria itu juga ikut bertepuk tangan. Dengan ragu dan kikuk, Zene ikut menepuk tangannya.
Zander menyerahkan kedua gelas kosong ditangannya pada asistennya itu.
"Bawa pergi!" titahnya."Ambil minummu sendiri sana!"
Zander mengibaskan tangannya menyuruh Zene pergi.
"Baik tuan."
Zene pun melangkah pergi. Zander melirik istrinya, tangannya memeluk pinggang ramping Xia hingga mendekat pada tubuhnya.
"Hidangan penutup!" ucap pria itu mendekatkan wajahnya. Bibirnya menempel pada bibir Xia.
"Uuuuggghh.."
Tiba-tiba saja perut Zander bergejolak. Dia merasakan mual yang sangat hingga dia lepaskan tubuh Xia dan mencari tempat untuk memuntahkan isi perutnya.
Xia mengikutinya mengurut tengkuk Zander dan menepuk punggung.
"Sepertinya kamu kelamaan berenang suamiku. Mungkin kamu masuk angin."
"Biasanya juga berenang lebih lama dari ini, tapi tidak apa-apa."
"Mungkin karena semalam kamu mabuk. Lagi pula bukankah tadi pagi sudah muntah? Kenapa malah berenang?" Xia mengomel lagi.
"Sekarang kamu lebih mirip seorang istri. Mengomel terus!" protes Zander kesal juga, dia nya lagi mual-mual tak enak badan malah di omeli istrinya.
____€€€_____
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1