
"Zene!"
"Iya Nyonya?"
"Duduklah."
Zene melihat sekitar.
"Zander sedang mandi. Biasanya lama."
Dengan ragu duduk di sofa yang lain disisi sofa yang Xia duduki.
"Mmmm... Kau bisa menyelidiki apapun kan?"
"Apa anda punya tugas untuk saya?"
"Mmm... Kau tau, Susie memiliki seorang pacar. Kalau tidak salah, namanya Andi. Tapi dia tidak terlihat sama sekali di pemakaman ibu Susie. Apa kau tau kenapa?"
"Aaahh, pria brengsek itu sudah putus dengan Nona Susie, nyonya."
"Benarkah?"
"Heem.."
Xia merasa menyayangkan karena susie bahkan tidak bercerita padanya. Xia menghela nafasnya. Tak lama Zander ikut bergabung.
"Ada apa?"
"Nyonya hanya menanyakan tentang nona Susie, tuan."
Zander manggut-manggut.
"Besok kita datangi keluarga Tan."
"Baiklah"
"Kenapa begitu lesu?"
"Sebenaenya aku sudah malas bertemu mereka."
"Tidak apa. Hanya sekali pertemuan. Selanjutnya pengacara yang akan melanjutkan."
"Huummm..."
Xia mengambil tangan Zander dan meletakkannya di perutnya.
"Eluss.."
Zander mengelus perut Xia dengan lembut. Hari ini rasanya Xia sedang ingin bermanja, disenderkannya kepala pada dada suaminya. Pelan-pelan menutup matanya.
"Jangan ada yang pergi sebelum aku bangun." gumamnya tanpa sadar.
Waktu bergulir, Xia tidur begitu nyenyak. Baik Zene maupun Zander masih duduk disana. Zander masih mengelus perut istrinya, sedang Zene sudah beberapa kali ganti posisi dan merenggangkan otot.
Hingga dua jam lamanya telah terlewati. Xia membuka matanya.
__ADS_1
"Aahh,, akhirnya..."
zene mengambil beberapa berkas diatas meja, untuk segera dia selesaikan.
"Saya permisi dulu, Tuan dan Nyonya."
Zene berdiri, Zander menebar senyum tipis.
"Terima kasih. Hati-hati dijalan."
Zene membungkuk setengah badan lalu melangkah lebar-lebar. Xia menatap penuh kebingungan.
"Jam berapa ini?"
"10.10"
"Haaaa? Apa yang kalian bahas sampai dua jam baru selesai?"
"Ituu...."
Zander menceritakan jika tadi sebelum tidur Xia berguman agar jangan ada yang pergi sebelum Xia bangun. Sehingga tak ada yang meninggalkan tempat itu. Xia melongo dibuatnya.
"Sayang, aku berkata begitu, bukan berarti kalian harus menurutinya. Itu tidak masuk akal. Apa kalian begitu longgar?"
"Kamu hamil, dan aku tak ingin kamu kekurangan apapun."
"Haaaahh.. Ya ampun..." Xia menggelengkan kepalanya."Terima kasih sudah sangat memperhatikanku."
"Akhir-akhir ini aku mudah lelah dan mengantuk."keluh Xia merenggangkan ototnya.
"Itu pengaruh dari baby J."
"Tidurlah, aku temani." Zander menepuk pahanya."Aa, sebentar aku harus ke toilet dulu.."
***
####
Waktu kembali bergulir, kini tiba saatnya Xia berkunjung ke perusahaan keluarga Tan. Bersama dengan pengacara dan beberapa orang yang pernah dipercaya oleh mama Maya. Ibu nya Xia.
Di dalam ruangan yang cukup luas, Xia dan beberapa orang yang dia bawa duduk. di sisi yang lain ada Alan dan Silvia.
"Ada apa Xia? Kenapa nyonya besar sepertimu masih mau berkunjung kemari?" sinis Silvia melihat kedatangan Xia.
Xia saat itu tidak ditemani oleh Zander, hanya pengacaranya dan orang yang dimandati oleh mamanya untuk memegang surat kuasa. Dan juga Zene.
Xia menolak, Zander ikut, dia ingin mengetahui seberapa kekuatannya. dan mampu atau tidak menghadapi Alan dan Silvia. Walau begitu, Zander tetap tidak tega jika Xia hanya bertemankan benerapa orang saja. Karena itu Zander mengharuskan Zene ikut. Zander cukup tau seberapa kemampuan Zene. Dan dia dapat dipercaya.
"Silvia jangan begitu, Xia tetap anak kita."
"Bukan anakku! Bocah kurang ajar ini anakmu dan wanita jallaang itu."
"Haaaahahaha.." Xia tertawa muak. dia mengambil gelas dimeja lalu menyiramkannya pada sang ibu sambung.
"Aaaakkkhh.. Kau! Berani sekali."
__ADS_1
"Kau juga berani sekali mengatai ibuku dengan sebutan kotor itu. Disini kita tau siapa yang jallang dan perebut suami orang. Bahkan itu kau turunkan juga pada anakmu!"
"Kurang ajarr!" Silvia yang sudah sangat kesal itu menerjang hendak menampar Xia, akan tetapi, Alan sudah menahannya. Memegangi Silvia kuat-kuat.
"Suamiku! Apa yang kau lakukan? Dia menyinggungku! Dia sudah mengatai aku dan anakmu dengan sebutan kotor itu, yang pantas untuknya." Protes Silvia dengan keras dan penuh amarah.
"Tenang kan diri mu kau harus tau posisi kita dan Xia berbeda."
"Apa? Memangnya kenapa kalau dia istri Tuan Zander? Dia sudah sangat mempermalukan kita di pesta penikahannya. Dan sekarang kau biarkan dia menginjak-nginjak kita? Kau bodoh suamiku!"
Xia yang dalam pengaruh hormonalnya, tentu emosinya sangat berbeda dengan saat dia normal. Karena itu dia menahan walau sudh ingin meledak rasanya.
"Pak Jamal! Tolong sampaikan apa saja tujuan kita kemari. Aku sudah tidak ingin berlama disini." ucapnya dengan bibir bergetar menahan amarahnya.
"Tuan Alan dan Nyonya Silvia, tujuan kami kemari adalah untuk membicarakan pengambil-alihan aset peninggalan mendiang Nyonya Maya." terang pak jamal, "Ini adalah salinannya."
Jamal menyerahkan sebuah map pada Alan.
"Apa?"
Silvia begitu tak percaya, tentu dia semakin marah. Silvia merasa dialah yang menjalankannya selama beberapa tahun ini. Hingga dia tak terima jika perusahaan itu diambil alih oleh Xia.
"Apa kalian bercanda? perusahaan ini kami yang mengelolanya selama ini! Jadi ini adalah milik kami. Jika bukan kami yang menjalankannya selama ini, sudah pasti bangkrut sejak dulu. Kau tak bisa asal mengambilnya begitu saja."Silvia berteriak lantang penuh amarah.
Sedangkan Alan hanya diam saja. Dia tau memang Xia lah ahli warisnya, selama ini Alan memang merahasiakannya dan hendak mengambil alih secara diam-diam. Setelah Xia menandatangani surat pernyataan bahwa dia akan menyerahkan seluruh harta warisan pada Alan. Akan tetapi belum sempat terlaksana, Xia sudah datang lebih dulu.
Alan hanya memejamkan matanya. menahan kebodohannya karena selama ini terus menundanya.
"Kami tidak akan berlama-lama disini. Pengacara dan pak Jamal yang akan mengurusnya."
Xia berdiri dan menunduk. Lalu pergi. Tanpa memperdulikan lagi suara Silvia yang terus memaki dirinya.
"Nyonya, jika anda tidak nyaman, saya bisa Pppmembuat wanita tua itu diam."
"Zene, seperti yang kamu bilang. Dia hanya wanita tua. Biarkan saja."
"Baiklah, Nyonya."
"Jangan katakan apapun pada Zander."
"Di mengerti."
Xia menghela nafasnya.
____€€€____
Udah mau End aja nih, tinggal beberapa bab aja. Yuk mampir juga ke karya on going othor lainnya,
GADIS BERDARAH PANAS.
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
__ADS_1
Salam___
😊