
"Apa?" Wajah Reina sudah merah padam karena marah bercampur malu."Berani sekali kah memfitnahku. Aku korban disini."
"Sudah cukup!" seru Peter menengahi. "Ada CCTV disana, kita bisa melihat kebenarannya."
Wajah Reina berubah... Gawat!!
Xia tersenyum menang.
"Apa kau mau melanjutkannya, Senior?" Sinis Xia dengan wajah sombongnya. Dia tau jika rekaman CCTV nya dibuka, sudah pasti kebohongan Reina terbongkar.
"Uugghhh.."Reina tersudut,"Sudahlah, aku akan memaafkanmu dan tidak mempermasalahkan hal ini."
Xia terkekeh.
"Kau pasti sangat ketakutan senior." cibir Xia melangkah pergi."Kalau begitu inginn membuka CCTV lakukan saja. aku tidak tertarik."
Di kejauhan Xenia menyaksikan drama itu, tersenyum sinis.
"Xia."
Xia menoleh. Dia merasa muak dengan wanita yang baru saja memanggilnya itu.
"Mau apa lagi kamu, Xenia?" tanya Xia datar."Aku sudah berniat melupakan mu."
"Kenapa kamu bisa ikut dalam project A?"
"Apa urusannya denganmu?"
"Aku manager perencanaan disini Xia. Ingat, posisiku lebih tinggi darimu." ucap Xenia akuh.
"Hmmpppttt..... Kamu pasti lupa kami klien disini. Mau setinggi apapun jabatanmu jika klien tidak puas.... Kau tau sendiri kan?" balas Xia datar dengan diselipi sedikit cemoohan.
"Yang menentukan puas tidaknya bukan kamu. Tapi Tuan Peter."kesal Xenia.
"Kau benar."
Xenia menyungging senyum tipis merasa menang.
"Aku ingatkan padamu aku seorang engener. Dan Engner itulah yang menentukan pantas atau tidak. Jika aku bilang tidak. Maka Pak Peter juga tidak akan puas."tegas Xia mendominasi. "Karena itu Xenia, bekerjalah dengan benar, agar aku mengatakan 'pantas' !!" lanjut Xia berjalan melewati Xenia.
Xenia menggeram. "Berani sekali kau kurang ajar pada seorang Manager perencanaan!!" gumamnya menggeretakkan gigi.
Peter yang saat itu kebetulan berdiri dibalik tembok lorong mendengar percakapan mereka, tersenyum.
"Aku jadi tertarik padamu Xia."gumamnya, "Sepertinya permainan ini akan menarik."
Xenia masih sangat kesal, seusai pertemuan dengan rombongan Peter. Xenia kembali ke ruangannya. Dalam perjalanan, Xenia berpapasan dengan Darren.
"Gawat! Daren tak boleh tau kalau Xia ada disini. Walau kami sudah menikah, tapi hatinya masih ada Xia. Walau aku terus mencuci otaknya, tetap saja tak bisa menyingkirkan wanita Jalllaangg itu." gumam Xenia mendekati Darren.
"Kak Darren!" Sebuut Xenia, "Kaka mau kemana?"
"Aku ada urusan dengan beberapa klien di lantai 2, Xenia."
"Ini kan udah waktunya pulang ka, kita pulang aja yuk."ajak Xenia merangkul manja lengan Darren.
"Ya udah, skalian pulang aja aku serahin ini."ucap Darren mengangguki kemauan Xenia.
"Bentar kak, kita ambil tas ku dulu di ruanganku. Anterin yaa.." manjanya.
"Iya."
__ADS_1
Darren dan Xenia berjalan keruangan Xenia.
Bagus! Sementara ini Darren aku singkirkan dulu keruanganku. Sebentar lagi rombongan itu harus nya sudah pulang. pikir Xenia.
Didalam ruangan Xenia.
"Bagaimana pertemuan hari inj dengan Xander corp?" tanya Daren basa basi masih berdiri tak jauh dari pintu masuk.
"Lumayan lancar ka." Xenia mengambil tasnya lalu berjalan mendekati Darren.
"Baguslah. Tangani mereka dengan baik. Tuan Peter orang nya sedikit rewel, kemarin saja dia meminta semua bahan mereka yang memilih dan tentukan sendiri. Bahan yang kita rekomendasikan tidak sesuai dengan kemauannya. Dia orang yang agak sulit." jelas Darren panjang lebar.
"Aku tau kak." Xenia, menarik lengan Darren, lalu menjatuhkan Darren di sofa terdekat.
"Xenia!"
"Apa sih kak? Kak Derren tidak lelah berdiri terus?"
"Ini dikantor, dan lagi aku masih ada pertemuan." Darren mengangkat berkas ditangannya.
Xenia menarik berkas itu lalu asal mwnjatuhkannya di Sofa samping.
"Aku rasa dia tidak keberatan jika menunggu sebentar." Xenia duduk diatas pangkuan Darren, lalu mengecup bibir suaminya itu.
Daren membalasnya, hingga beberapa saat mereka berciuman membuat tubuh menjadi panas, perlahan Xenia membuka baju Daren satu per satu. Darren pun tak menolak, mengikuti irama permainan Xenia. Detak jantung berpacu, seiiring dengan suara dessaaaahhhaaaann keduanya melakukan menyatuan. Dan semua menjadi tenang.
"Xenia, kita harus segera turun." ucap Darren pelan.
"Aku masih lelah Ka. Sebentar lagi." pinta Xenia manja.
Darren mengangkat tubuh Xenia dari pangkuannya. Dan mendudukkannya diatas sofa, Sedang Daren sendiri mulai merapikan bajunya.
"Nanti aku gendong, heeemm?"
Xenia tersenyum lebar. "Baik ka."
Daren menggendong Xenia keluar dari ruangannya, Lalu turun ke lantai dua. Dilantai dua klien yang sudah menunggu cukup lama itu sedikit kesal wajahnya. Darren menurunkan Xenia dari gendongannya.
"Maaf, saya lama, istri saya lemas jadi saya masih mengurusnya dulu." ucap Darren menyampaikan maafnya. Memeluk pinggang Xenia yang masih terlihat lemas.
"Tidak apa. kami masih bisa menunggu." balas klien Darren dengan sedikit senyum terpaksa.
"Ini berkas yang kalian ajukan." Daren menyerahkan berkas yang tadi dibawanya. "Sekali lagi maaf." tunduk Darren.
"Tidak apa. Kami pamit dulu."
"Ayo! Kita juga pulang." Ajak Darren menatap Xenia.
"Kak, gendong!" manja Xenia lagi.
"Masih lemas ya?" Dareen tersenyum nakal. "Makanya jangan nakal." Darren menowel hidung Xenia. Lalu menggendongnya lagi.
Dilobi, Xia yang hendak pulang masih menunggu beberapa rekan yang ijin ke toilet dahulu. Termasuk Reina.
"Xia!" Panggil Peter mendekati gadis itu. Xia menoleh.
"Bagaimana menurutmu project A ini?" Peter memcoba membuat percakapan dengan Xia, tentang pekerjaan. Dia tau Xia sedikit ketus jika diluar itu.
"Baik-baik saja pak." balas Xia menyampaikan pandangannya."Kita masih diawal, belum sampai pada pertengahan pengerjaan, kedepan pasti akan ada hambatan yang kita tak tau. Dan rekanan yang menangani cukup bagus. Semoga kedepan tidak ada masalah."
"Aku suka itu." ucap Peter."Apa rencanamu sepulang kerja."
__ADS_1
"Tidak ada."
"Kalau kmu tak keberatan...."
"Minta saja Reina menemani bapak. Dia lebih antusias. Aku juga tidak tertarik untuk minum." tolak Xia cepat.
Peter terkekeh.
"Aku nggak mengajakmu minum."
"Lalu?"
"Bagaimana kalau makan malam?"
Xia berpikir sejenak.
"Tidak terima kasih." tolak Xia lagi.
"Kenapa? Kamu bilang mau jadi temanku. Apa makan malam dengan teman pun tak bisa?"
"Maaf pak Peter, sepulang kerja aku masih harus mengunjungi papaku dirumah sakit." jelas Xia tak enak hati.
"Rumah sakit? Papamu sakit?"
"Iya. beberapa hari lalu dia operasi jantung."
"Aaahh.. aku turut prihatin."sedih Peter mengetahui ternyata hidup Xia seperti itu."Boleh aku ikut menjenguk?"
Xia membuka mulut hendak berucap namun diurungkannya. Xia melihat Darren yang begitu mesra menggendong Xenia mendekat.
Tidak apa Xia. Jangan merasa terganggu dngan mereka. Lagi pula kau sudah melepaskannya sejak mengetahui perbuatan mereka berdua. Abaikan saja. batin Xia memalingkan wajahnya dari pandangan tak mengenakan hati itu.
"Pak Peter!" panggil Dareen menurunkan Xenia. Lalu bersama berjalan mendekat.
"Belum pulang?"
"Iya! Sebentar lagi."
Dareen melirik Xia yang berdiri tak jauh dari Peter. Darren betanya-tanya ada hubungan apa mereka berdua. Darren tidak menyangka akan bertemu dengam Xia disana. Jujur saja Dareen yang masih memiliki perasaan dengan Xia itu merasa canggung karena sudah terlihat oleh Xia sedang menggendong Xenia.
"Kak, ayo kita pulang." Rengek Xenia memeluk lengan Darren.
"Aa, baiklah." Ucap Dareen melihat Xia yang masih tak perduli. Gadis itu hanya memainkan ponselnya.
"Kami duluan."
"Hati-hati dijalan." ucap Peter melambaikan tangan pada pasangan yang berjalan menjauh itu.
Peter beralih menatap Xia, "Jadi, apa boleh aku ikut berkunjung?"
____€€€____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1