GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
BUKAN BEGITU


__ADS_3

"Tuan Razz?" teriak Steva mendorong tubuh kekar Razz mundur dari dirinya.


'Plak!'


Satu tamparan kerasa mendarat di pipi Razz yang dilayangkan oleh Steva, Steva mengusap kasar bibirnya yang baru saja bertaut dengan bibir seksi Razz sang Tuan besar.


Wajah Razz memaling seiring dengan kerasnya tamparan yang terasa panas mendarat sempurna di pipinya, rahang yang terpahat sempurna itu semakin mengeras dengan sorot mata tajam namun nanar. Ada rasa sakit hati yang menyeruak masuk ke dalam relung batinnya.


Tersungging senyum sinis di ujung sudut bibir atas kanan Razz yang mengingat betapa mudahnya dulu dirinya menaklukkan para wanita di bawah kungkungannya, tak ada wanita yang mampu menolak pesona dirinya yang begitu tampan, bahkan untuk mendapat ciuman darinya para gadis rela antri agar bisa mereguk madu Saliva mulut Razz, tapi kini di saat dirinya yang tampil buruk rupa dan cacat, bahkan wanita sekelas pelayan pun menampar dirinya atas sebuah ciuman yang ia lakukan. Apa benar yang dikatakan Liora jika tak ada yang mencintainya dengan tulus selama ini? Dan hanya melihat kekayaan serta ketampanannya saja?


"Kau keterlaluan, Tuan? Apa kau pikir aku ini wanita murahan yang bisa kau cium begitu saja?" Steva berteriak meluapkan emosinya, semenggoda apapun Tuan besarnya ini, Steva tetap memiliki norma dan harga diri, ia hanya akan melakukan hal seperti itu atas dasar suka sama suka, saling menginginkan disertai cinta.


"Kau marah karena aku adalah pria buruk rupa dan cacat, iya kan?" bentak Razz yang menatap tajam arah depan, kedua mata itu sangat merah dan basah. Steva bergidik ngeri, Tuan Razz justru terlihat lebih menyeramkan dari pada kemarin, seperti ia telah benar-benar meluapkan emosi dan amarahnya dari dalam hati.


"Kenapa anda lebih marah dari saya? Seharusnya saya yang marah pada anda karena telah mencium saya sembarangan tanpa ijin?" teriak Steva.


"Itu tidak ada hubungannya dengan penampilan anda maupun kekurangan anda, tapi itu lebih pada kesopanan anda," tambah Steva menjelaskan maksud dari kemarahannya dengan secara tersirat mematahkan argumen Razz yang berpikir jika Steva marah karena yang menciumnya adalah pria buruk rupa, dan itu akan berbeda jika yang melakukannya adalah pria tampan.


"Jadi, kau juga tetap akan marah meski yang menciummu adalah seorang pria tampan?" teriak Razz ingin mendapat kepastian. Aneh memang.


"Tentu saja, saya akan marah pada siapapun yang mencium saya begitu saja tanpa seijin saya." ketus Steva tanpa mempertimbangkan kosa kata yang ia ucapkan.


"Oh, berarti, jika saya meminta ijin terlebih dulu, kau akan memberikannya?"


"Hah?"


Hening sesaat. Lalu Razz tertawa terbahak-bahak dan bangkit dari duduknya.


"Tentu tidak, apa hubungan di antara kita sehingga saya akan mengijinkan anda mencium saya, jangan ngada-ngada!" Steva semakin gugup, orang di hadapannya ini buta namun bertingkah seolah dia baik-baik saja. Sebentar marah, nampak hampir menangis, sebentar lagi tertawa. Mengerikan.


'Tok tok tok?'

__ADS_1


Seseorang mengetuk pintu kamar Razz, lalu orang itu masuk setelah Razz mempersilahkannya.


"Tuan, apa anda sudah siap?" Pak Tan berdiri di ambang pintu menundukkan kepala bertanya pada Tuan Razz.


"Hem!" jawab Razz yang melangkah melewati Steva yang masih berdiri gugup di sana.


"Aku akan pulang lebih terlambat. Kau harus siap!" seloroh Razz saat ia berada di dekat pintu, menoleh ke belakang berbicara dengan Steva meski matanya tak menatap wajah Steva.


"B-ba baik, Tuan!" jawab Steva mengangguk, dan Razz melanjutkan langkahnya pergi bersama Pak Tan.


"Hufftt,,,,," Steva duduk di pinggiran ranjang Razz, menghela napas panjang melegakan dada yang terasa tertimbun beban, ia kembali menyentuh bibirnya yang terasa basah karena tautan tiba-tiba yang Razz lakukan.


"Gila, benar-benar gila. Dasar Tuan bayi besar yang mesum."


...****************...


Steva tiduran di sofa kamar Razz, ia tadi berniat menemui Asha, namun ternyata Asha diajak belanja kebutuhan rumah oleh Ny. Gulnora. Dan Steva memilih untuk bersantai saja memainkan gawainya.


Steva membuka applikasi WhatsApp, menyentuh satu kontak bernama My Malv. Kontak Malvin yang pernah sangat ia cinta.


Kontak Malvin telah ia blokir, namun berderet-deret pesan lama yang masih tersimpan itu sukses mengalirkan deraian air mata saat Steva kembali membacanya.


Begitu bahagia Steva yang dulu saat awal-awal menjalin hubungan dengan pria bernama Malvin yang telah menyelamatkan hidupnya itu dari gelapnya hingar bingar dunia malam.


"Andai kau mau mengerti sedikit saja tentang perasaanku, Malvin. Aku sungguh sangat mencintaimu, tapi kenapa kau terus menghina cintaku dengan mende.sah bersama wanita-wanita ja.la.ng itu? Tidakkah kau bisa mengerti sedikit saja perih hatiku?" Steva sejujurnya masih sangat merindukan Malvin, namun Steva memilih menyelamatkan harga diri dan cintanya yang murni dari pada terus hidup bersama pria yang memberinya gelimang harta namun ia merasa hina.


Saat pertama kali Steva mendapati Malvin yang berselingkuh dan bermain kuda-kudaan dengan perempuan lain, Malvin lekas meminta maaf, membujuk Steva dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, dan Steva memaafkannya, memberikannya kesempatan, kedua, ketiga, hingga entah sudah yang ke berapa kalinya. Dan Steva benar-benar tak tahan lagi saat malam itu, ia mendapati Malvin yang tengah bermain di dalam mobilnya, bahkan meski Steva sudah melihatnya dan berteriak, Malvin masih terus menggoyang partner lawan mainnnya. Menjijikkan.


"Bodoh. Untuk apa aku terus mengingatnya? Bajingan." Steva menghapus pesan whatsappnya yang tertanam pada kontak Malvin. Ia lantas melihat video di applikasi YouTube hingga ia mulai mengantuk dan tanpa sadar tertidur.


__ADS_1



Tan membuka pintu kamar Razz, langkah mereka berdua terhenti kala mendapati Steva yang tertidur pulas di atas sofa kamar Razz.



"Kau boleh pergi," ucap Razz pada Tan yang langsung mendapat anggukan, Tan membungkukkan badan lalu ia undur diri.



'*Brak*.' Razz menutup pintu, bahkan suara keras yang ditimbulkan karena Razz sengaja menutupnya lebih keras pun tak mampu membangunkan Steva yang tengah molor.



Razz melangkah mendekat, terdengar dengkuran halus dari mulut Steva yang sedikit terbuka. Matanya terpejam sempurna, benda pipih miliknya itu berada di atas dadanya yang naik turun teratur seiring dengan nafasnya yang tenang.



"Siapa kau sebenarnya? Ponsel yang kau pakai bahkan ponsel mahal," ujar Razz mengamati ponsel Steva yang berlogo apel yang tergigit dengan tiga kamera.



"Emmpphh," Steva menggeliat, ia membalikkan posisi tidurnya hingga terbaring miring.



'*Bugh*' Ponsel miliknya jatuh di atas karpet lantai yang terdapat di bawah meja depan sofa, untung saja karpet lantai itu sangat tebal dan empuk, jadi ponsel mahal Steva aman dari kerusakan.



"T-tu tuan?" Steva tergelagap kaget saat mendapati wajah Razz berada begitu dekat dengan wajahnya.

__ADS_1



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...


__ADS_2