
POV STEVA.
Rasa cemburu itu masih singgah saat aku memikirkan kedekatan mereka, biar bagaimanapun, Razz pernah sangat mencintai Liora, dan kini status mereka telah sebagai suami-istri.
Hatiku berdenyut membayangkan Razz yang merawat Liora di Rumah Sakit, kenapa tidak menggunakan jasa perawat saja? Tapi kupikir itu terlalu tak berperasaan jika aku mengatakannya pada Razz, meski hatiku menginginkan hal itu yang Razz lakukan.
Aku teringat Razz yang merawatku dengan tulus dan telaten saat aku sakit kemarin, dia begitu memanjakanku, apakah Razz juga akan melakukan hal yang sama pada Liora? Apakah Razz juga akan menggendong tubuh Liora ke toilet? Ah, tentu saja. Razz tidak mungkin membiarkan pengawal yang melakukannya.
Razz juga pasti menyuapinya makanan, mengelus wajah dan mengecup dahinya, atau mungkin Razz malah akan melakukan lebih dari itu? Bisa saja dia tidak tahan dan mencium bibir Liora? Dan mungkin Liora akan luluh lalu jatuh cinta pada Razz.
Oh Tuhan? kenapa pemikiranku buruk sekali? Sungguh, berbagi itu sangat menyakitkan.Aku benci semua ini.
Aku datang ke Rumah Sakit saat jam makan siang, sekalian membawakan makan siang untuk Razz.
'Klek!' kubuka pintu ruang rawat inap Liora, di atas ranjang pasien, Liora nampak masih terlelap, dan Razz duduk di sofa bersama Tan, sebuah laptop ada di atas meja di depan mereka, dan Razz terlihat menandatangani beberapa berkas.
Hatiku sedikit lega, aku datang dan melihat pemandangan normal, bahkan Razz menjaga Liora sambil bekerja, tak seperti dugaanku yang membuat jantungku berpacu selama melakukan perjalanan menuju tempat ini, membayangkan jika mungkin saja saat aku masuk ke ruang inap Liora, aku mendapati Razz bermesraan dengannya.
"Sayang?" seru Razz saat melihatku masuk, dan masih berdiri di ambang pintu. Razz lekas memberikan berkas yang ia pegang pada Tan. Dan dia langsung menghamburkan diri memelukku dengan sangat erat, mengecupi kening, wajah, dan bibirku berkali-kali.
Ini adalah pertemuan kami setelah dua hari yang lalu semenjak Liora masuk Rumah Sakit, aku cukup ragu untuk datang di hari pertama, dan Razz menghubungiku jika dia tidak bisa meninggalkan Liora. Aku pun mengalah oleh rasa rindu dan cemburu, aku datang hari ini.
Hatiku menghangat mendapat penyambutan yang luar biasa dari Razz, ia begitu merindukanku, berkali-kali ia mengatakannya.
"Baiklah, Tuan. Saya kembali ke kantor." Tan permisi dan meninggalkan kami.
Razz menggandeng tanganku, membawaku duduk di atas sofa. Ia merengkuh tubuhku kembali ke pelukannya, tak henti-hentinya Razz mengecup keningku.
'Oh, Tuan,,, maafkan aku yang sudah sempat mencurigai suamiku, maafkan aku yang tak mempercayaimu, Tuan Razz!"
"Kau bawa apa?" Razz melihat paper bag yang ku bawa, berisi makanan yang Tuan Koki siapkan.
__ADS_1
"Kau sudah makan?" tanya Razz saat dia membuka makanan favoritnya yang kubawakan.
"Sudah," jawabku singkat diiringi senyum tipis yang masih kupaksakan.
Wajah tampan suamiku nampak kusut, manik birunya yang cantik terbalut kantung mata yang menghitam, mungkin dia kurang tidur.
"Bagaimana keadaan Liora?" tanyaku, Razz menghabiskan makanannya dulu yang ada di dalam mulutnya sebelum ia menjawab.
"Sudah sangat baik, mungkin besok sudah bisa pulang," jawab Razz. Aku tersenyum dan mengangguk.
Aku berdiri menuju nakas, mengambil gelas, lalu menuangkan air minum untuknya. Dan kembali duduk di sofa di samping Razz, kuletakkan gelas berisi air putih di atas meja.
"Liora terguncang, dia membutuhkan perhatian khusus, aku minta maaf, karena lebih memperhatikannya saat ini," Razz menatapku begitu dalam, ia meletakkan makanan yang masih tersisa dan sudah tak ia habiskan, Razz menenggak minumannya sebelum ia melanjutkan penjelasannya. Dan aku siap mendengarkan.
"Aku membutuhkan psikiater untuk Liora, tapi dia menolak, dia beranggapan jika hanya orang gila yang berurusan dengan psikiater. Tapi Renata sangat menyarankannya, Liora saat ini terlihat tenang, tapi tak menutup kemungkinan dia akan kembali melakukan hal yang nekat, untuk membahayakan dirinya sendiri," Razz menghela napas kasar, kurasa wajar jika Razz mengkhawatirkannya, aku tak seharusnya terlalu berprasangka, dan aku juga harus menepis rasa cemburuku.
"Aku tidak menyangka hidup Liora akan seperti saat ini, dulu dia adalah wanita yang sangat ceria, tapi sekarang? Huufftt,,,,"
"Leon? Leon? Tidak, Leon, tidak! Leon,,,,"
Aku dan Razz sangat terkejut saat Liora yang tengah tidur tiba-tiba meracau, dia mengigau, nama yang ia sebutkan menjelaskan betapa Liora mencintai pria itu.
Aku dan Razz berlari menghampirinya, aku berdiri di depan ranjang, dekat kakinya, dan Razz langsung duduk di tepian ranjang lalu memeluk Liora, menenangkannya.
"DEG."
Oh, tidak, kumohon jangan cemburu, lihatlah keadaan Liora, dia memang membutuhkan seseorang untuk menguatkannya, dan Razz adalah sahabatnya, kenapa aku begitu jahat dan egois dengan merasa cemburu?
Setetes air mata yang jatuh pada pipi lekas kuseka, jangan sampai Razz melihatnya.
"Hei, tenanglah, it's okay, itu hanya mimpi,,," Razz mengelus punggung Liora, dan membenamkan wajah Liora ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Razz?,,, hiks hiks hiks, mimpi itu lagi, Razz? Mimpi itu lagi?" Liora melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Razz, ia menangis dan mengadu pada suaminya yang juga suamiku.
Sial, kenapa hatiku sangat sakit? Aku sungguh tak suka berbagi suami meski ini karena rasa kasihan.
"Tidak apa-apa, Liora, jangan takut, ada aku di sini." Razz terus menenangkan Liora hingga Isak tangisnya mulai berhenti menyisakan sesenggukan kecil.
Aku? Entah perumpamaan apa yang pas untuk menggambarkan posisiku saat ini, aku adalah istri pertama yang menyaksikan kemesraan suamiku dengan istri keduanya, aku bahkan hanya berdiri tak bergeming dan bagai tak terlihat. Kemana Steva yang berani dan berteriak lantang tak mau diduakan? Kenapa aku seperti wanita bisu yang tak mampu menyuarakan isi hatiku? Razz,,, aku cemburu!
"Aku ingin pipis," lirih Liora pelan, membuatku tersentak. Apa dia?
"Okay, ayo!" Razz meraih tubuh Liora ke dalam gendongannya, dan Liora membawa botol infusnya. Langkah Razz terhenti saat dia menatapku, kurasa mataku pasti sudah berair sekarang, dan tatapan mata Razz? Apakah itu tatapan merasa bersalah? Entahlah, aku tak bisa mengartikannya.
Razz kembali melangkah setelah Liora berkata tak tahan, dan dia mengabaikanku untuk membawa Liora masuk ke dalam kamar mandi di sudut sana.
Tidak, aku tidak tahan, aku tidak sekuat itu. Aku lekas menyambar tasku yang tadi kutaruh di atas meja, dan aku langsung keluar dari ruang rawat inap Liora.
Aku berlari, dan pengawal yang mengantarku mengejarku. Apakah aku ingin kabur? Kenapa aku tak yakin? Kemana aku akan pergi? Aku tak punya rumah juga tak punya siapa-siapa, dan bagaimana dengan Asha? Akankah Razz meluapkan emosinya pada Asha? Oh Tuhan?
Langkahku terhenti karena salah satu pengawal berhasil meraih tanganku, dan aku benci menangis di depan orang lain.
"Nyonya, maafkan saya, bukan maksud saya untuk,"
Aku menepis tangan Pengawal itu hingga ia tak sempat menyelesaikan ucapannya.
"Aku mau pulang," cicitku singkat. Dan pengawal itu lekas menghubungi supir yang berada di mobil di area parkir Rumah Sakit.
Aku tidak bisa pergi sekarang, aku harus menyelesaikan semuanya secara baik-baik dengan Razz, aku tak mau diduakan, aku tak bisa, aku tak sekuat itu.
Jika Razz tak bisa melepaskan Liora, maka dia harus melepaskanku.
...****************...
__ADS_1