GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
ANCAMAN?


__ADS_3

Razz melepas sabuk yang mengikat tangan Steva pada dipan ranjang. Ia pun memberikan satu kecupan pada kening Steva dan membisikkan kata maaf tepat di telinga Steva lalu mengecup pipinya lembut dan mesra.


Steva tak menanggapi juga tak menolak, percuma. Seluruh badannya terasa sakit dan pegal, Razz bermain sedikit kasar seolah ingin meremukkan badan ramping Steva, meski tak menampik, jika Steva juga menikmatinya, naluri alamiahnya tak bersedia bekerja sama dengan hati dan otaknya. Steva justru mende.sah dan menge.rang nikmat kala Razz menghujam dirinya lagi, dan lagi.


"Jangan bergerak, biar aku periksa dulu," perintah Razz pada Steva yang hendak bangun ke kamar mandi, namun Razz mencegahnya.


Razz membuka kedua kaki Steva dan dia menunduk memeriksa area inti tubuh istrinya itu. Steva memalingkan muka, ia menahan dada yang begitu sesak, perlakuan manis Razz saat di atas ranjang berbanding terbalik dengan kelakuannya yang menikah lagi menghadirkan wanita lain dalam pernikahan mereka saat Steva telah mulai jatuh cinta padanya.


"Ada lecet," gumam Razz yang bangun setelah memeriksa keadaan inti kelembutan Steva yang membuatnya menge.rang nikmat dan tergila-gila.


Steva diam tak bergeming, sungguh ia tak peduli dengan luka yang memang terasa perih itu, ada rasa sakit yang jauh luar biasa lebih menyiksa dalam rongga hatinya.


"Apa aku perlu panggilkan Renata?" tanya Razz, ia menarik selimut menutup tubuh Steva yang polos. Lagi, Razz memberikan sebuah kecupan di kening istrinya itu lalu sebuah kecupan kilat pada bibirnya yang terkatup rapat.


Steva tetap diam, air matanya kembali menetes sebagai penjelasan betapa ia terluka.


"Baiklah, kurasa tidak perlu, kirmnya yang kemarin masih ada," Razz bicara sendiri sedari tadi, tapi dia tak peduli, meski Steva membisu, ia dapat mengerti, semua hanya butuh waktu.


"Ayo, aku mandikan kamu dulu. Setelah itu kita makan malam bersama,"


Langit di luar memang sudah berubah gelap, Razz menggempur Steva berkali-kali, ia seperti tak terpuaskan, tubuhnya selalu mengeras dengan cepat meski telah mencapai pelepasan. Hingga de.sah Steva berganti lirih karena menahan perih, dan Razz baru mau berhenti setelah puncaknya yang ke empat.


Razz menggendong tubuh polos Steva ala bridal menuju kamar mandi, ia memasukkan Steva dalam bathtub yang masih kosong, dan baru Razz isi air hangat, tak lupa sabun beraroma terapi yang menenangkan.


Setelah semua siap, Razz pun ikut masuk ke dalam bathtub, duduk di belakang tubuh Steva. Memeluk istrinya yang sangat ia cinta dari belakang, beberapa kecupan lembut Razz daratkan pada tengkuk leher, punggung, dan bahu Steva. Ia sangat memanjakan istrinya.


"Apa ini terasa nyaman?" Razz menggosok tubuh bagian depan Steva menggunakan spons yang berbusa, sesekali tangannya meremas nakal dada istrinya yang membusung indah itu, Razz sangat suka.


"Kenapa anda membohongi saya, Tuan? Berpura-pura sebagai pria buta dan buruk rupa?"


Tangan Razz yang tengah memainkan dada Steva dengan spons terhenti. Ia tahu Steva pasti akan kembali mempertanyakan hal ini, dan Razz belum siap untuk berkata jujur saat ini pada Steva. Apalagi tentang kebohongannya yang berlakon sebagai pria buta yang buruk rupa, itu semua ia lakukan demi Liora, pasti Steva akan merasa terhina dan dia tidak akan tahan.


"Aku hanya sedang mencari cinta sejatiku, Steva. Orang yang bersedia menerima keadaan diriku yang tak sempurna," jawab Razz berbohong, tapi juga tak sepenuhnya.


Steva tersenyum remeh. Seakan ia tak percaya.


"Lantas mengapa anda menikahi dua wanita?"


Tak ada jawaban, Razz memang salah, apapun penjelasan di balik perbuatannya ini. Itu tak bisa dibenarkan.

__ADS_1


"Anda tidak bersedia untuk menjawabnya!" Steva hendak berdiri namun perih yang ia rasa membuat tubuhnya terhuyung dan Razz dengan gerakan cepat langsung berdiri menangkapnya. Memeluk dari belakang.


"Maafkan aku, tapi kumohon bertahanlah, ini semua tidak akan lama. Dan percayalah, hanya kamu yang aku cinta. Tidak ada yang lain," ujar Razz penuh kata rayu yang memang tulus dari hati.


"Anda sama saja dengan membunuh jiwa saya, Tuan! Saya menderita, dan saya tidak akan bisa bahagia, saya tidak terima pengkhianatan. Apalagi anda tak ingin menjelaskan alasannya," tukas Steva, air matanya terus mengalir seiring dengan setiap kata yang ia ucapkan.


Tak ada wanita yang siap untuk berbagi. Bahkan meski mereka mau memaafkan, namun bekas luka itu akan terus terpendam dalam ingatan yang paling dalam.


"Beri aku waktu, aku butuh waktu untuk bisa menjelaskan semuanya, aku butuh waktu untuk bisa mengatakan yang sejujurnya. Aku tahu aku salah, tapi kumohon bertahanlah,"


Tak ada penyelesaian dalam perdebatan Razz dan Steva, hingga ritual mandi selesai, dan Razz melayani Steva seperti Steva yang biasa melayaninya.


Razz memakaikan dress untuk Steva setelah ia mengoleskan krim gel pada bagian inti tubuh Steva yang lecet karena ulahnya, memakaikannya sandal rumah, mengeringkan rambutnya, menyisirkannya. Lalu Razz menggendong tubuh Steva ala bridal keluar dari kamar menuruni anak tangga menuju meja makan.


Pemandangan yang sangat manis dan romantis, namun berselimut hati yang duka.


Razz mendudukkan Steva yang hanya terdiam dengan mata bengkak dan wajah sendu pada kursi di sebelahnya.


"Layani Nyonya, Gulnora!" perintah Razz pada Gulnora yang langsung mendapat anggukan. Sedangkan Razz menyiapkan makanannya di atas piringnya sendiri dengan mandiri.


"Dimana istri suamiku?"


Steva menanyakan hal yang membuat Razz dan Gulnora seketika berhenti dari aktifitasnya.


"M-ma maksud anda, Nyonya?" tanya Gulnora memastikan, ia sebenarnya tahu apa yang ditanyakan Steva. Tapi Gulnora takut salah bicara.


Steva tak menjawab, ia hanya menatap dalam pada Gulnora yang melihatnya sendu. Yah, Gulnora kasihan pada Steva.


"Nona Liora tidak mau makan. Tapi saya sudah membawakan makanannya ke kamarnya, Nyonya!" jawab Gulnora sambil menunduk.


"Kenapa tidak mau makan, dia harus menjaga kesehatannya, dia?" Razz tak berpikir panjang saat ia melontarkan kalimat barusan. Razz hanya terpikirkan kesehatan janin yang ada di dalam perut Liora jika sahabatnya itu tidak bersedia makan.


Sontak Steva menoleh menatap nanar pada Razz. Inikah yang Razz katakan jika dirinya hanya mencintai Steva? Jika tak ada wanita lain di hatinya? Lantas, perhatian ini?


Mata Steva yang sudah berkaca-kaca meloloskan buliran bening itu begitu saja. Dan Steva memilih memalingkan muka cepat menatap piringnya di atas meja yang sudah terisi makanan.


Dengan tubuh yang terasa gemetar, Steva mulai meraih sendok dan garpunya, ia lantas memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya, diiringi dengan tangis yang meski sudah Steva tahan namun tetap berderaian juga.


Sakit, sesak, marah, benci, kecewa. Semua rasa yang buruk menumpuk bercampur menjadi satu.

__ADS_1


Razz membuang napas kasar, ia tahu ia baru saja melakukan kesalahan.


"Periksa dia, suruh dia makan, Gulnora. Kalau dia tetap tidak mau, paksa bagiamana pun caranya," perintah Razz tegas. Dan dia memilih melahap makanannya seakan tak menghiraukan perasaan Steva yang terluka karena dirinya. Namun Razz sungguh menyesal, ia hanya tak bisa menjelaskan pada Steva saat ini tentang semuanya.


Gulnora membungkukkan badan dan undur diri ke kamar Liora.


Steva berhenti makan, ia tak kuasa meski sekedar mengangkat sendok itu, lidahnya juga terasa keluh, makanan lezat menu favoritnya yang dihidangkan koki tiba-tiba terasa hambar.


Steva berdiri, memundurkan kursi dan dia hendak pergi.


"Tunggu, makananmu belum habis," Razz langsung berdiri mencegah Steva yang akan pergi ke lantai atas.


"Aku sudah kenyang," jawab Steva datar namun itu terdengar menyakitkan.


"Biar kugendong!" Razz hendak meraih tubuh Steva namun istrinya itu sontak mundur.


"Kau butuh waktu untuk menjelaskannya, kalau begitu, berikan juga padaku waktu untuk sekedar bisa bernapas. Dadaku terasa begitu sesak. Aku hampir tak bisa bernapas." jelas Steva, Razz terdiam dan Steva melangkah pergi meski tertatih karena area bawah tubuhnya sangat perih.


Razz menatap nanar punggung Steva yang menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar mereka.




Rumah besar Razz kini mendapat penjagaan dan pengaman ketat kelas A. CCTV dipasang di mana-mana. Belum lagi para bodyguard dan orang-orang profesional yang berjaga. Ini semua Razz lakukan demi menjaga Steva agar tetap berada di sisinya, agar istrinya itu tak memiliki kesempatan untuk bisa pergi. Dan Razz terpaksa memperlakukan Steva bak seorang tahanan.



"Aku pergi kerja dulu, jika kau butuh sesuatu, katakan saja pada Gulnora, *Cupp*!" Razz memberikan kecupan cukup lama pada kening Steva, ia lantas menautkan bibirnya mesra dan di akhiri mengecup lembut pipi Steva.



"Jangan pernah berpikir untuk pergi, atau aku akan melampiaskan kemarahanku pada Asha dan keluarganya!" ujar Razz yang membuat Steva sontak menatap tajam pada dirinya.



Ancaman? Mungkin peringatan.


__ADS_1


...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...


__ADS_2