
Tempat tujuan yang akan mereka datangi cukup jauh, butuh paling tidak perjalanan tiga jam, sebuah perkampungan yang berada di pinggiran kota, terdapat bukit dan pegunungan, namun juga hamparan pantai di dekat jalan utama jalan raya.
Ada dua tempat yang ingin Steva kunjungi, yang pertama adalah makam sang ibu, lalu ia ingin pergi ke sebuah daerah dekat stasiun kereta api, Razz sudah sangat curiga, dia menduga jika mungkin saja Steva akan kabur dan melarikan diri nanti di sana. Tapi Razz tetap mengiyakan akan mengantar Steva ke daerah pinggiran dekat stasiun kereta itu, Razz sama sekali tak menunjukkan kecurigaannya pada Steva, lagi pula, Razz juga sangat percaya dengan para pengawalnya yang profesional.
Steva membawa buket bunga Lily dalam genggamannya yang ia pangku sedada, Razz membawa wadah berisi berbagai macam kelopak bunga di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia masukkan ke dalam saku celana.
Kuburan Ibu Steva berada di daerah perbukitan, itu adalah tanah peninggalan dari kakeknya, selain makam sang ibu, di sana juga ada makan kakek, nenek, dan buyut Steva.
Makam yang sangat tak terurus. Karena memang bukan berada di tempat pemakaman yang berbayar.
Steva tak kuasa menitikkan air mata saat ia telah sampai di dekat makam sang ibu, Steva menaruh buket bunga di dekat pusaranya, lalu ia mengelus batu nisan bertuliskan nama sang ibu lengkap bin ayahnya, tanggal lahir, serta tanggal kematiannya.
Steva membersihkan terlebih dulu rumput liar yang tumbuh di sekitar, bahkan tak jarang ia terkena duri karena ini berada di dataran perbukitan.
"Biarkan, nanti akan aku kirim orang untuk membersihkan dan merawat tempat ini," cegah Razz sambil memegang tangan Steva yang sudah berdarah, namun Steva tak beraduh sama sekali, ia hanya diam menahan sakit tusukan duri tumbuhan liar itu, dan Steva menangis di balik kaca matanya, Razz langsung membawa tubuh Steva pada pelukan.
"Aku datang bersama seseorang, ibu. Seorang pria yang sangat tampan, baik, dan dia juga kaya raya, hahaha!" Steva berusaha tertawa meski terdengar getir. Razz hanya diam mendengarkan.
"Namanya Tuan Razz, ibu. Dia adalah suamiku, menantumu, dan aku sangat mencintainya," Steva mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya, dada Steva terasa sangat sesak. Ia kehilangan ibunya saat usianya masih sangat kecil, dan itu terjadi karena sebuah tragedi. Tepat di depan matanya. Untunglah Steva anak yang kuat, sehingga tak ada trauma yang membayangi hidupnya.
"Ibu selalu bilang, jika semua lelaki sama saja, hidup wanita akan hancur karena mereka, ibu selalu bilang padaku, untuk tidak berhubungan dengan mereka, karena lelaki hanya akan membuat hidup wanita sedih, terpuruk dan menderita,"
Razz mengernyitkan dahi, ia tak percaya ada seorang ibu yang memberikan wejangan pada anak gadisnya seperti itu, tapi setelah mengingat ayah Steva, Razz bisa mengerti, pasti hidup ibunya sangat menderita bersuamikan pria pemabuk, tukang judi, dan juga kasar seperti itu.
"Untuk beberapa waktu, aku merasa apa yang ibu katakan itu benar, wanita hanya menjadi mainan para kaum pria. Wanita lemah, dan pria yang lebih berkuasa. Bahkan aku juga tersakiti berkali-kali, ibu, tapi aku tidak mau menyerah, aku tidak mau bernasib sama sepertimu,"
Razz menatap tajam pada Steva yang terus menangis saat bicara pada pusara ibunya.
Kini Razz tahu, bagaimana istrinya ini bisa begitu tegar menjalani kehidupan yang seolah mempermainkannya, ia telah belajar dari kehidupan ibunya, dan Razz sungguh menyesal telah menjadi salah satu bagian pria yang menyakitinya meski ia tak sengaja.
"Aku tidak tahu bagaimana hidupku selanjutnya, ibu. Bahkan saat ini pun, aku tak bisa berbangga padamu dan mengatakan jika apa yang kau katakan semua itu salah, tapi aku berjanji, aku tidak akan pernah menyerah, aku akan selalu berjuang. Aku tidak mau menyerah sepertimu, kau telah mengakhiri hidupmu sendiri, meninggalkanku dengan tega. Membuatku semakin menderita hanya hidup bersama ayah, kenapa kau tidak mau bertahan? Kenapa kau tidak mau berjuang? Dan membiarkanku berjuang sendirian? Apa sekarang kau sudah bahagia? Hiks hiks hiks," tubuh Steva semakin terguncang karena Isak tangisnya, Razz merangkul pundak Steva, memberikannya ketenangan.
__ADS_1
Ada emosi, amarah, kesedihan, dan kekecewaan dalam setiap kalimat yang Steva ucapakan.
"Maaf, karena aku menyalahkanmu, tapi aku selalu mendoakanmu, ibu. Semoga Tuhan mengampuni semua dosa dan menerima dirimu dalam pangkuannya!"
"Ibu,,,,!" teriak Steva kecil melengking namun hampir tak terdengar karena teredam oleh suara klakson lokomotif sebuah kereta api yang melaju sangat kencang.
Steva langsung merangkul erat tubuh Razz saat tiba-tiba kenangan buruk itu sekelebat terbayang dan jeritan itu mendengung di telinganya.
Razz sungguh tidak mengerti, tapi dia menyambut pelukan Steva dan dia memeluknya hangat, mengelus punggung Steva agar istrinya lebih tenang, pelukan yang Steva lakukan seperti sebuah cengkeraman ketakutan, apalagi tubuh Steva yang bergetar, Razz yakin pasti ada sesuatu di balik sikap Steva ini. Tapi dia akan diam dan menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan dan membicarakannya nanti.
Mobil yang Tan kendarai berparkir di area parkir stasiun, dan dari sana, Steva, Razz dan Tan berjalan kaki, menyusuri daerah pinggiran dekat stasiun, di sebelah kiri terjejer beberapa toko yang menyediakan makanan ringan, beragam minuman, rokok, krupuk, dan lain-lain.
Di depannya adalah beberapa rel kereta api yang berjejer sebagai lintasan kereta dengan arah berlawanan.
Steva tersenyum kala netranya mendapati orang yang ingin ia temui. Ia berlari kecil dan Razz semakin gugup karena berpikir jika Steva akan kabur darinya.
"Stev?" teriak Razz meraih tangan Steva..
__ADS_1
"Kau mau kemana?" tanya Razz saat mereka sudah berhenti berlari.
"Aku ingin menghampiri pria itu," jawab Steva menunjuk pada seorang kakek tua yang duduk di dekat emperan sebuah warung makan.
Seorang pria tua yang berjambang dan berjenggot tebal berwarna putih, pakaian lusuh, tubuh Kumal tak terurus, ia memiliki rambut tebal yang juga sudah memutih, kulitnya keriput, dan matanya sudah berkabut putih, sebuah tongkat berada di tangan kirinya. Dia bukan pengemis, tapi tak jarang orang yang lewat melemparinya koin, dan pria tua itu hanya tersenyum menanggapi.
'*Siapa dia*?' Razz sangat penasaran, tapi ia membiarkan Steva melakukan apa yang diinginkannya.
Steva pelan-pelan berjongkok di depan kakek tua itu, dan Razz berdiri di belakangnya, Tan berjaga.
Kakek tua itu mendongak dan membuka matanya yang terpejam saat merasakan kehadiran seseorang di hadapannya.
"Kakek? Apa kabar?" tanya Steva lirih.
"Siapa kau?" Kakek itu membalas pertanyaan Steva dengan pertanyaan.
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...