
*DEV SERGIYO MONTES
*Dev dan Steva
Dev dan Steva tengah makan siang bersama di sebuah restoran yang terdapat di salah satu mall, Nyonya Gulnora juga ikut bersama, membantu menjaga Baby Ken yang kembali terlelap dalam Stroller.
"Bagaimana Stev? Kau suka makanan di sini?" tanya Dev disela-sela acara makan mereka.
Steva mengangguk pelan, namun raut mukanya mengatakan hal yang berbeda.
"Masakan rumah tetap yang terbaik," jawab Steva santai, lalu ia kembali memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya.
"Iya, tentu saja. Aku juga sangat menyukai masakan rumah. Saat kecil dulu, sebelum ibuku meninggal, dan setelah itu, aku tak pernah lagi merasakan makanan rumah," Dev menyesap minumannya yang beralkohol rendah.
"Soryy,,, aku?" Steva merasa tidak enak.
"It's okay, I'm Fine." potong Dev.
Steva menghembuskan napas kasar, ia masih merasa tidak enak meski Dev bersikap sangat santai.
"*Uhuhug hug uwek*!" Baby Ken terbangun dan dia menangis.
Gulnora menggendongnya, mencoba menenangkan, tapi Baby Ken tetap saja menangis.
"Sini, biar sama Mom," Steva berdiri mengambil alih Baby Ken dari gendongan Gulnora.
"Kurasa dia sedang pup, dan mungkin tidak nyaman," Gulnora mengelus punggung Ken yang digendong Steva dengan tubuh Ken berdiri bersandar pundak Steva.
"Biar aku ganti popoknya, Nyonya Gulnora, kau makanlah dulu," Steva akan membawa Ken ke Toilet untuk mengganti popok.
"Mau kuantar?" Dev berdiri dan siap menemani Steva. Namun Steva menolak.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri, kau lanjutkan makanmu!" jawab Steva sambil tersenyum manis lantas berlalu meninggalkan Dev dan Nyonya Gulnora membawa Ken ke toilet.
Steva terus mengajak Ken ngobrol saat di dalam toilet, tak jarang orang-orang yang melihatnya memuji ketampanan dan kelucuan Baby Ken yang sangat menggemaskan itu.
__ADS_1
"Pasti sangat menyenangkan, memiliki anak seperti dia, sangat lucu dan menggemaskan," celoteh seorang perempuan yang berpapasan dengan Steva saat dia keluar dari Toilet dan perempuan itu baru akan masuk.
"Iya," jawab Steva sambil tersenyum, wanita itu menggunakan bahasa Inggris, jadi Steva masih bisa memahaminya.
"Suamimu pasti sangat menyayangimu, apalagi mertuamu," celoteh wanita itu terdengar lirih, namun yang membuat Steva sedih adalah kata suami, mengingatkan Steva pada Razz yang telah pergi. Dan Steva hanya membalas dengan senyum yang tipis.
"Kau sangat beruntung, Nyonya! Kau tahu, aku ini wanita yang tidak sempurna, seorang wanita mandul. Tidak bisa memiliki anak, suamiku menikah lagi, dan mertuaku tidak menyukaiku." wanita itu melanjutkan ceritanya yang membuat hati Steva bergetar, sungguh kasihan.
"H~haaahh,,,, kenapa aku malah curhat di sini, dasar bodoh!" wanita itu memukul kepalanya sendiri dengan pelan.
"Nyonya," Steva memanggil wanita itu yang hendak masuk ke toilet.
"Anda berhak bahagia!" hanya itu yang Steva katakan, dan wanita itu tersenyum, mengangguk lalu masuk ke dalam toilet.
Steva teringat masa lalunya, dipoligami dan dibenci mertua rasanya sakit luar biasa, dan tentu dia tahu bagaimana perasaan wanita tadi, apalagi wanita itu tak bisa mengandung.
'*Semoga kebahagiaan menyertaimu, Nyonya*!'
"Hemm? Apa sayang? Kau mengaminkan doa Mommy? Huh? Begitu?" Steva kembali mengajak bicara Ken yang bersuara khas anak usia 5-6 bulan.
"*Dadadadada! heheek*!" Baby Ken terus berceloteh riang dengan disertai tawanya yang khas, membuat Steva semakin gemas.
Steva terus berjalan sambil bicara pada Baby Ken, saat kembali memasuki ruang Restoran, langkah Steva terhenti.
'***Dug-duh. Dug-dug. Dug-dug***.'
Jantung Steva berdetak lebih cepat dan dia merasakan kehadiran seseorang. Steva mengedarkan pandangan, mencari seseorang yang ia rasakan kehadirannya. Dan Baby Ken juga tiba-tiba menangis. Namun Steva tak mendapati orang yang dia cari.
"Sayang? kenapa? Hei? Cup cup cup." Steva mencoba menenangkan Ken, ia masih menoleh ke sana-sini mengedarkan pandangan. Jantungnya terus berdegup tak beraturan, begitupun Ken yang menangis semakin kencang. Hingga Dev melambai pada Steva karena Dev pikir Steva lupa mejanya.
Steva pun melangkah ke arah Dev, dan kembali duduk di sana. Ia terlihat seperti orang bodoh jika terus berdiri dan mencari keberadaan orang yang mungkin hanya perasaannya saja.
'*Mungkin ini karena aku yang sangat merindukan Razz*.' Steva meyakinkan diri sendiri.
__ADS_1
"Ken masih nangis? Sini sama Uncle!" Dev mengambil alih Ken.
"Tadi Ken sudah tenang, dia juga banyak tertawa, tapi tiba-tiba nangis lagi," jawab Steva.
"Mungkin bosen di tempat ramai, kita balik? Ke taman atau kemana saja yang Ken suka!" Dev memberi ide. Steva dan Gulnora setuju, karena Ken masih juga menangis. Mereka semua pun pergi dari Restoran. Dan Ken berada di gendongan Dev, Steva mendorong stroller, sedangkan Gulnora membawa barang belanjaan.
"Mereka pergi, Malv. Kau benar-benar tak ingin mengejarnya? Tak ingin menyapa dan menemuinya?" Tuan Ramon dan Malvin duduk di sebuah meja lain dalam Restoran yang sama dengan Steva tadi.
Malvin hanya diam menatap tajam Steva yang pergi bersama pria lain dan Gulnora.
"Dia sudah melahirkan, sungguh tidak kusangka aku bisa melihatnya di sini." Tuan Ramon menyesap minumannya, Malvin masih terus menatap tajam pintu keluar yang Steva lewati hingga punggung wanita cantik itu benar-benar menghilang.
"Dia bahkan sudah memiliki pria lain. Secepat itu dia melupakan Razz!" tukas Malvin dengan nada emosi.
"Kurasa itu bukanlah hal yang salah, jika itu yang terbaik untuk Steva. Demi hidupnya, Pria itu juga terlihat menyayangi anak Steva!" pendapat Tuan Ramon yang mendapat decihan dari Malvin.
'*Cih*!'
\***Malvin**.

Malvin menunggu kedatangan Paman Ramon di dalam mobil, Paman Ramon kembali masuk ke dalam Mall, ia kehilangan ponselnya, saat dihubungi Malvin, ponsel itu berada di tangan petugas Restoran, entah bagaimana Paman Ramon bisa ceroboh meninggalkan ponselnya di meja Restoran.
Malvin menghisap sebatang rokok sambil mengedarkan pandangan. Dan dia melihat Steva yang menggendong bayinya tak memperhatikan jalan, sedangkan dari belakang sana sebuah mobil melaju kencang. Mereka masih berada di sekitar area parkir Mall.
Tanpa pikir panjang Malvin membuang rokok, keluar dari mobil, dan berlari kencang meraih tubuh Steva menariknya kuat hingga Steva tersentak dan jatuh ke dalam pelukannya.
"Aaahh?" teriak Steva memekik karena terkejut.
"Berrreeemmm!" suara mobil itu yang melewati mereka melaju sangat kencang.
"Dug-dug. Dug-dug. Dug-dug."
Malvin melihat mobil yang hampir menabrak Steva.
'Seorang wanita?' Malvin sempat melihat orang yang mengendarai mobil itu namun Malvin tak dapat melihat jelas wajahnya.
Steva terpaku, ia tidak hanya kaget karena hampir saja tertabrak mobil, tapi juga karena ia berada dalam pelukan dada seseorang yang membuat dadanya berdegup kencang tak beraturan.
"Adadadada!" celoteh Ken membuyarkan lamunan Steva maupun Malvin. Hingga Steva mendongak dan Malvin sedikit menunduk, pandangan mereka bertemu, 'Deg?' Keduanya merasakan getaran yang sama. Steva terhuyung dan hampir saja jatuh jika Malvin tak memeganginya kuat.
"Adadadada,,,, hihihehek hehek!" Ken tergelak, ia tertawa sangat lantang, dan tiba-tiba Ken merangkul dada Malvin seakan ingin digendong oleh pria yang baru ditemuinya itu.
"Ken?" lirih Steva pelan.
"Sepertinya bayimu ingin berada dalam gendongan Malvin, Steva!" Steva dan Malvin sontak menoleh, Paman Ramon sudah berdiri di dekat mereka.
__ADS_1
...****************...