
Razz menatap tajam lurus ke depan mendapati seseorang yang datang memancing keributan. Tidak sopan, dengan gerakan cepat Tan menahan tangan Malvin yang mencengkeram tangan Steva.
"Lep-paskan!" teriak Steva menepis kasar tangan Malvin, Razz masih diam tak bergeming meski raut mukanya sudah sepenuhnya berubah, urat-urat di leher dengan rahang yang menegas itu menunjukkan betapa kini Razz telah dalam mode emosi, namun masih tertahan.
"Aaahh!" Malvin menyingkirkan tangan Tan yang menahan tangannya lalu ia mendorong tubuh Tan hingga tersungkur mundur.
"Jangan ikut campur, ini bukan urusanmu!" bentak Malvin pada Tan dengan sorot mata yang tajam.
"Ikut denganku!" teriak Malvin menarik paksa tangan Steva dan dengan gerakan cepat pula Razz menahan tangan Malvin, Razz mencengkeram kuat tangan Malvin hingga Malvin meringis tertahan karena Razz mengerahkan seluruh tenaganya. Urat-urat pada lengan tangan itu menonjol sempurna.
"Lepaskan dia?" ucap Razz tegas tanpa menoleh pada Malvin dan tetap melihat lurus ke depan.
"Siapa kau? Jangan ikut campur urusan pribadi kami, dia adalah kekasihku!" teriak Malvin.
Pagi itu, suasana Cafe cukup sepi, Razz dan Steva adalah calon pelanggan pertama yang mungkin akan segera membatalkan acaranya, entah mimpi apa sang pemilik cafe sepagi ini telah terjadi drama kumbara di tempatnya.
"Bohong, aku bukan kekasihmu, mantan, hanya mantan, Tuan Malvin!" Steva berbicara sangat tegas dan menarik tangan Malvin yang mencengkeramnya hingga genggaman itu terbuka. Malvin menepis tangan Razz yang mencengkeramnya kasar.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja dariku, Steva, apa kau lupa siapa yang sudah membebaskanmu dari mami mucikari, hah?"
'DEG.'
Steva menatap nanar Malvin begitu dalam, bahkan kebaikan Malvin yang selalu Steva puja hingga saat ini itupun kini Malvin ungkit dengan gamblangnya.
Razz dan Tan mengernyitkan dahi, mendengar dengan seksama, bodohnya Tan menerima pekerja yang berurusan langsung dengan Tuan besarnya, namun tanpa menyelidiki apapun terlebih dahulu sebelumnya.
"Aku akan membayar semua hutangku," seloroh Steva yakin seakan dia memiliki harta yang bisa ia berikan sebagai penebusan terhadap Malvin.
Sakit, sangat sakit, tentu saja, air mata yang sudah menganak sungai itu pun kini membanjir begitu derasnya. Steva terlihat beberapa kali menelan salivanya susah payah karena dada yang begitu sesak.
"Hah, dengan apa kau bisa membayarnya, Steva. Uang lima milyar itu bahkan bisa menutup seluruh tubuhmu hingga tak terlihat oleh dunia!" celoteh Malvin penuh dengan nada ejekan dan remeh.
"Aku yang akan membayarnya!" sahut Razz mantap membuat Steva dan Malvin sontak menatapnya bersamaan.
"Siapa kau? Kau terus saja ikut campur,"
"Aku suaminya!" tantang Razz, kedua bola mata Steva seketika membola. Tenggorokannya terasa tercekat, Tuan bayi besarnya mengakui diri sebagai suami? Apa Steva tidak salah dengar?
"Hahahahahaha,,,," tawa Malvin menggema, seakan mengejek dan meremehkan.
"Kau pergi dariku dan berlabuh pada si buruk rupa yang cacat, apa kau semurahan itu, Steva? Hingga kau menyerahkan diri pada siapa saja yang bersedia memungutmu?" ejek Malvin begitu congkak.
'Plak!' satu tamparan mendarat sempurna pada pipi Malvin oleh tangan Steva.
"Jaga mulutmu, Malvin."
Suasana terasa menegangkan, pemilik cafe tak berani keluar untuk melerai, tapi dia beserta beberapa pekerjanya mengintip dari dinding kaca dari dalam ruang utama.
"Wah, gadis itu keterlaluan sekali, dia membuang berlian demi batu kerikil," ucap seorang pria pemilik cafe itu. Ia mengira jika Stevalah yang berkhianat, demi harta. Meninggalkan Malvin yang tampan dan memilih Razz si buruk rupa yang datang ke cafenya bersama ajudan.
__ADS_1
"Iya, padahal dari penampilannya pacarnya selain tampan juga terlihat kaya," sahut salah seorang pekerjanya, seorang perempuan.
"Mungkin lebih kaya si buruk rupa!" seru perempuan yang lain.
"Kau sudah dengar, bukan? Suamiku bersedia membayar hutangku padamu, jadi jangan pernah lagi menggangguku," tukas Steva berani karena seseorang telah memback upnya.
"Oh, iya. Aku hampir lupa," Steva merogoh kantong dressnya, meraih benda pipih miliknya yang juga pemberian Malvin.
"Ini, kukembalikan semua yang bukan hakku," Steva memberikan ponselnya pada tangan Malvin yang terdiam kehabisan kata.
"Terimakasih karena telah menyelamatkanku dari neraka malam itu, meski pada akhirnya, kau pun membuka neraka yang baru untukku." tegas Steva berderaian air mata. Hatinya begitu sakit saat ia mengatakan kalimat-kalimatnya. Mengingat betapa dulu dirinya bahagia penuh cinta namun semua itu hanyalah fana.
"Ayo, Tuan?" Steva menggandeng tangan Razz membawanya jalan perlahan meninggalkan Malvin yang masih berdiri mematung sendirian di sana. Hingga Steva, Razz dan Tan masuk ke dalam mobil dan Tan melajukannya dengan kencang.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja dariku, Steva. Kau harus kembali padaku." gumam Malvin lirih, ia merasa kacau saat Steva dengan berani menggandeng tangan pria lain di hadapannya. Hatinya berdenyut nyeri, cemburu.
Perjalanan menuju kembali ke rumah besar Razz itu terbelenggu oleh keheningan. Steva masih menangis meski sekuat tenaga ia menahan agar suaranya tak keluar, ia pikir dengan begitu Razz tidak akan tahu jika dirinya sedang menangis, namun Razz tidaklah buta, tentu ia bisa melihat dengan jelas setiap kali Steva mengusap wajahnya yang basah karena air mata.
"Tan? Tissue!" seru Razz yang segera mendapat tanggapan dari Tan, Tan meraih kotak tissue yang tergeletak di atas dashboard lalu menyerahkannya ke belakang dengan satu tangan. Steva meraihnya.
"Terimakasih!" lirih Steva parau, suaranya langsung serak.
Razz ingin segera menanyakan semuanya pada Steva, secara tidak langsung ingin mengetahui semua jalan hidupnya yang membawa Steva pada permasalahan pelik, diperjual-belikan pada mucikari, hingga berhutang lima milyar pada pria yang bernama Malvin. Tapi Razz masih menahan diri, ia membiarkan Steva menangis, dan memberikannya waktu agar bisa lebih tenang.
"Tuan? Terimakasih, saya juga minta maaf, sudah membuat kekacauan!" lirih Steva pelan berdiri di dekat ranjang Razz. Razz duduk setengah berbaring bersandar pada dipan ranjangnya, kedua kakinya yang panjang berselonjor ia silangkan, dan kedua tangannya yang kekar menjadi tumpuan kepala.
"Aku belum sarapan, Steva!" ujar Razz yang sudah menunggu Steva sedari tadi agar keluar dari kamar mandi, Razz sangat lapar, tapi dia tidak memarahi Steva. Dia tahu, jika Steva selain memakai roti di kamar mandinya, gadis itu juga pasti tengah menenangkan diri.
"Oh, i-i iya, Tuan! Tolong maafkan saya, akan segera saya siapkan." Steva berlari cepat keluar dari kamar menuruni anak tangga menuju lantai bawah menuju dapur, setelah berkutat beberapa saat, ia kembali. Dan Tuan bayi besarnya masih dalam posisi yang sama. Hanya saja matanya terpejam.
"T-tu Tuan Razz? Apa dia tidur, ya?" gumam Steva mendapati Razz yang terpejam.
"Aku masih menunggu sarapanku, Steva!"
__ADS_1
Kaget, tentu saja.
"Ah, i-iya Tuan, ini!"
Razz membuka mata, duduk dengan benar di tepian ranjang, ia menerima piring berisi makanan yang Steva berikan. Sarapan hari ini cukup telat, pukul 10 pagi. Tentu cacing-cacing di dalam perut kotak-kotak itu sudah mengkerut menahan lapar.
Steva mengamati Razz yang makan dengan lahap, sesekali dia menelan salivanya kasar, perutnya sendiri keroncongan karena belum terisi makanan.
"Kau hutang cerita padaku, Stev," ujar Razz yang masih sedang makan.
"M-ma maksud Tuan?"
"Tentang pria tadi. Aku sudah berjanji akan membayar hutangmu padanya, maka kau harus berjanji menceritakan semuanya padaku,"
'*Glek*.'
"Tuan, seumur hidup pun saya bekerja pada anda, tidak akan sanggup membayar hutang sebanyak itu, jadi, kenapa anda mau membantu saya, saya tidak mau terjerat masalah yang sama. Jika nantinya, anda pun akan mengungkit semua kebaikan anda seperti yang telah di lakukan oleh Malvin pada saya," lirih Steva menjelaskan kebimbangan hatinya, ia sudah belajar dari kisahnya kemarin. Dan Steva tidak akan mengulanginya lagi.
"Bagus, kita bicara secara terang-terangan sekarang juga." Razz menaruh piringnya di atas nakas dekat ranjang tidur.
"Maksud Tuan?"
"Menikahlah denganku."
'***DEG***....'
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...