
Malam ini terlewati dengan hampa, Razz dan Steva tidur dalam kamar yang terpisah, keduanya dilanda kegalauan tentang mengartikan rasa yang mendebarkan dada, suatu rasa yang mereka ketahui itu apa, namun tak yakin untuk mengakuinya. Hingga malam memaksa mereka terlelap dalam mimpi.
Steva bangun lebih pagi, ia keramas meski Razz tak menyentuhnya, rambut basahnya ia gulung dengan handuk ke atas, ia mengenakan dress bunga yang cantik selutut, bagian bawah dress itu bisa mengembang anggun saat Steva bergerak apalagi berputar, bagian atas sampai pinggang melekat sempurna mencetak lekuk tubuh Steva yang ramping dan seksi, dan penyangga di bahu Steva hanyalah sebuah tali spageti.
Steva membantu koki memasak, ia ingin Razz merasakan masakannya, meski hanya sayur bening, ikan goreng, sambal dan nasi. Steva menata makanannya yang telah siap di atas meja makan.
Saking asyiknya berkutat di dapur, Steva melupakan ritual pagi Razz yang wajib ia siapkan. Dan Razz terpaksa turun ke bawah meski ia belum mandi, Razz masih mengenakan kaos putih polos dan celana bokser warna hitam.
"Kau melupakanku, Stev?" seloroh Razz saat ia berdiri di ambang pintu dapur.
"T-tu tuan?" Steva terkejut, dan dia memberikan pekerjaannya pada koki lantas lekas berhambur ke arah Razz yang berdiri di sana. Steva berharap Razz tidak marah akan kesalahannya ini.
"T-tu tuan? Tolong maafkan saya, saya hanya ingin menyiapakan makanan yang saya masak sendiri untuk tuan, tolong maafkan saya, tolong jangan marah, saya?"
"Cuupp!" Razz tiba-tiba mendaratkan satu kecupan tepat di bibir Steva. Membuat Steva membisu dan terdiam, kedua matanya membola, jantungnya berhenti berdetak. Ia lantas melihat manik biru Razz yang masih menatap lurus tanpa titik yang pasti, tapi Razz bisa menciumnya tepat di bibirnya.
"Berhenti bercuit sepagi ini, dan layani aku!" ucap Razz terdengar ambigu. Bahkan para koki sampai hampir terkikik mendengar ucapan Tuan besarnya pada sang istri.
"Hah? I-i iya!" jawab Steva gugup, Steva mengartikan kalimat Razz agar dirinya menyiapkan peralatan mandi dan semua kebutuhannya seperti biasa.
"T-tuan? Anda tidak marah?" tanya Steva memastikan, ia menggandeng lengan Razz menaiki anak tangga menuju kamar utama.
"Tentu aku marah, aku ingin kau ada si hadapanku saat aku bangun tidur, meski aku tak bisa melihatmu, tapi aku ingin merasakan kehadiranmu," celoteh Razz yang menambah rasa itu dalam hati Steva.
"Iya, tuan. Saya tidak akan pernah lagi mengulangi kesalahan saya." jawab Steva sambil membuka pintu kamar, mereka masuk dan Steva kembali menutupnya.
Razz begitu bergairah melihat penampilan Steva saat ini, ia sebenarnya begitu ingin marah pada Steva yang tampil seksi di dapur bersandingan dengan koki. Tapi jika Razz mengomentari penampilan Steva, bukankah itu akan aneh? Dia berperan sebagai pria buta, dari mana dia bisa tahu apa yang saat ini Steva pakai.
Razz merengkuh pinggang Steva saat Steva hendak melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1
"Ah, Tuan?" lirih Steva berat.
"Kau baru selesai mandi, Steva? Aromamu seakan mengajakku untuk perang,"
Razz dan Steva berdiri berhadapan, tubuh mereka sangat dekat, Tangan kanan Razz melingkar pada pinggang Steva, tangan kirinya membelai wajah Steva.
"Kau memakai handuk di rambutmu? Kau habis keramas?" tanya Razz yang tak membutuhkan jawaban, Razz menarik lembut handuk putih yang tergulung di atas kepala Steva, hingga rambut panjang yang basah itu langsung tergerai sedikit bergelombang.
Razz mengangkat segenggam rambut Steva yang basah, ia lantas mencium, menghirup aromanya dalam sambil memejamkan mata. Bagian tubuh bawahnya sudah mengeras sempurna. Dan Razz mengeratkan Tangan kanannya pada pinggang Steva seakan ingin meremukkan pinggang ramping itu.
"Apa kau bersedia untuk kupuaaskan, Stev?" lirih Razz begitu berat. Manik biru cantik itu menggelap, sedangkan mata coklat Steva sangat sayu terbelenggu nafsu, gairah keduanya memuncak.
Razz mendekatkan wajahnya pada wajah Steva, dan Steva memejamkan mata, menerima lembut bibir Razz yang ditautkan mesra pada bibirnya.
Razz merasakan bibir sensual Steva dengan bibir seksinya yang perkasa, Razz merasakan kelembutan, kehangatan dan manisnya Saliva Steva dengan mengeksplor bagian dalamnya, Lidah Razz menari dalam mulut Steva, dan Steva membalas sebisanya, sesungguhnya keahlian Razz jauh lebih baik dari Malvin.
Tangan kiri Razz bergerilya pada punggung Steva, dan tangan kanannya memainkan dada Steva. Lalu tanpa melepas tautan bibir mereka, Razz memelorotkan tali spageti dress berbahan halus itu hingga jatuh ke lantai.
Razz menggendong tubuh Steva yang hanya menyisakan pakaian dalam, ia merebahkan tubuh seksi sang istri di atas ranjang tidurnya, Dan Razz naik menutup tubuh Steva dengan tubuhnya.
Panglima perang Razz yang sudah siap dalam posisi mode siap tempur itu terasa mengganjal paha Steva.
Razz terus menciumi wajah Steva, istrinya itu sudah pasrah, hanya lirihan-lirihan halus penuh gairah yang keluar dari bibir sensualnya.
Razz bergerak turun menjelajahi tubuh Steva dengan bibirnya. Ia lantas melepas b.h Steva yang hanya berbentuk cup tanpa tali. Razz melemparnya ke sembarang arah.
Steva semakin mende sah saat Razz memasukkan dada kanannya ke dalam mulutnya, dan tangan kiri Razz memainkan dada satunya.
"Aah? Tuan?" lirih Steva yang membuat Razz mendongak bergerak di area lehernya.
__ADS_1
Razz mengecup, menggigit dan mengeksplor leher jenjang itu.
"Sebut namaku, Stev! Berhenti memanggilku tuan saat kita sedang bercin.ta!" bisik Razz yang langsung mendapat anggukan dari Steva tanpa membuka matanya, sehingga Steva tak melihat kala Razz menatap kelopak matanya yang indah.
Razz kembali bergerak menuruni tubuh Steva yang sudah polos, hanya kain tipis segitiga bermuda warna merah itu yang harus segera Razz loloskan.
Dan dengan menggunakan mulutnya, Razz menggigit benda itu, memelorotkannya kebawah hingga melewati kaki indah Steva.
Razz kembali menutup tubuh Steva dengan tubuhnya, ia mengamati kecantikan wajah itu, yang selalu tulus padanya, yang tak peduli akan keburukan rupanya, yang menerima kebutaan matanya.
"Kau adalah keindahan dari surga yang dititipkan di dunia, Steva. Kau sangat cantik melebihi seluruh kecantikan di dunia, kau adalah seni tuhan yang nyata," ucap Razz, dan dia kembali bergerak menelusuri tubuh Steva ke bawah saat Steva dengan sendu membuka kedua matanya.
Razz membuka kedua kaki Steva, ia lantas menundukkan kepalanya di sana, menyapu area inti tubuh Steva, memanjakan sang istri dengan kelembutannya. Razz begitu takjub melihat kesempurnaan di hadapan matanya, dan dia sangat bersyukur telah mendapatkannya, dan kini menikmatinya.
"Aaahh!" de.sah Steva saat area inti dirinya itu mendapat pelayanan terbaik dari lidah sang suami.
Razz terus melakukannya, menyapu keindahan dengan kelembutan, Steva bergerak manja seiring gairah yang membakar dirinya, kedua tangan Steva mencengkeram seprei kuat, permainan Razz begitu nikmat membuat Steva ingin meledak namun tertahan.
"Kau mempermainkanku, Razz...," celoteh Steva saat Razz hanya bermain-main saja di area bawahnya, sedangkan gelora Steva ingin meminta lebih.
"Aku tidak mempermainkanmu, Stev, tapi memainkan permainan," jawab Razz dengan suara berat yang tertahan karena gairah yang sudah membara.
"Tapi kau menyiksaku, Razz!"
"Tidak apa, Stev, tersiksa dalam kenikmatan adalah suatu anugerah. Lepaskan saja!"
"Aaahh...."
...****************...
__ADS_1