GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
MENEMUI STEVA


__ADS_3

Delapan Minggu kemudian.


Malvin berada di pabrik Tuan Ramon, ia duduk berdua saling berhadapan dengan Pamannya itu di dalam ruang kerja Ramon. Setelah sang paman menghubunginya, ia telah mendapat semua bukti yang Malvin inginkan. Apalagi setelah Malvin menceritakan pada Ramon cerita tentang Steva dengan dirinya di masa lalu yang Malvin dengar dari pak Samith, Ramon semakin semangat untuk mencari tahu tentang hidup Steva, dan dia sangat terkejut setelah mendapat semua buktinya.


Malvin membaca beberapa berkas yang Tuan Ramon tunjukkan padanya, data lengkap si pendonor jantung.


"Fabio Cannavaro Razolla, apa dia sudah mati? Dia mati karena berbaik hati mendonorkan jantungnya padaku? Atau karena dia sudah sekarat jadi dia menyumbangkan jantungnya ini padaku?" Malvin membolak-balik beberapa kertas medis yang ia pegang.


"Aku tidak tahu tentang itu, hanya berkas-berkas itu yang aku dapatkan, identitas di pendonor, tapi tidak dengan alasannya" jawab Paman Ramon yang menatap tajam Malvin. Ia terlihat sangat serius. Malvin hanya mengangguk-angguk, ia cukup puas dengan apa yang didapatkan Pamannya.


"Ada yang lebih mengejutkan dari sekedar file yang kau pegang, Malvin!" Tuan Ramon berbicara dengan nada lebih serius lagi, Malvin menoleh dan dahinya mengernyit.


"Apa?" tanya Malvin cepat.


"Tuan Fabio Cannavaro Razolla, si pendonor jantung yang kini bersarang di tubuhmu, adalah mantan suami Nona Eva, keponakan Tuan Yohan."


"DEG."


Mata Malvin membulat sempurna, saling menatap tajam dan dalam dengan Tuan Ramon.


'Jadi, jantung ini adalah milik mantan suaminya? Dan apakah sebenarnya jantung ini berdetak karena pemiliknya yang sangat mencintai Eva? Bukan karena aku dulu yang mencintainya? Ufftthhh,,,, tentu saja, aku dulu terlalu brengsek, dan itu kenapa Eva terus menghindar dariku, karena aku adalah kenangan buruk untuknya.'


"Malvin? Malvin?" Tuan Ramon menggoyangkan tubuh Malvin, menyadarkan keponakannya yang terdiam melamun.


"Ah, iya, maafkan aku, paman. Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri,"


Tuan Ramon menghembuskan napas kasar.


"Apa Paman tahu kenapa Eva bisa bercerai dari Tuan Fabio?" Malvin penasaran, dan dia ingin tahu semuanya.


"Karena Tuan Fabio telah berpoligami, ia menikah dengan wanita lain, dan menceraikan Eva, benar-benar pria brengsek, meninggalkan istrinya yang sedang hamil demi wanita lain," ada rasa kesal saat Tuan Ramon mengatakannya, ia merasa Eva adalah gadis cantik yang baik dan manis, tidak menyangka memiliki nasib seperti itu di tangan pria brengsek seperti Razz.


"Bagaimana dengan keadaan Tuan Fabio setelah ia mendonorkan jantungnya untukku, apa dia masih hidup? Tapi tidak mungkin, jantungnya di tanam dalam tubuhku, bagaimana dia bisa hidup tanpa jantung? Tapi jika kini dia masih hidup, aku ingin tahu dimana dia berada. Dan aku juga penasaran, apakan Eva tahu tentang yang dilakukan mantan suaminya itu padaku? Jika jantung yang ada di dalam tubuhku ini adalah jantung mantan suaminya, yang ditanam dalam tubuh manatan kekasihnya? atau dia tidak tahu apa-apa? Hufftt,,, membingungkan." Malvin berpikir sangat keras. Banyak hal yang berputar dalam pikirannya saat ini, semakin ia mendapat bukti, membuat Malvin semakin ingin menggali, lagi dan lagi, sampai semuanya tuntas.


"Menurut paman, Steva tidak tahu, tapi entahlah, kita tak bisa mengambil keputusan terlalu cepat," Ramon menanggapi.


"Impressive, paman, aku memiliki fisik yang Eva benci karena meniduri banyak wanita saat masih berhubungan dengannya dulu, dan aku juga memiliki jantung dari orang yang melukai hati Steva karena menceraikannya demi menikahi wanita lain, dan Eva juga pasti membencinya, apa ada hal lain lagi yang lebih sempurna dari ini nantinya? Sepertinya takdirku sangat buruk," Malvin membanting kasar berkas yang ia pegang ke atas meja kerja Ramon, ia sepertinya frustasi dengan dirinya sendiri saat ini, mencintai wanita yang membenci segala yang ada dalam dirinya, baik tubuhnya, maupun jantungnya.


Dan Tuan Ramon hanya terkekeh senang menanggapi kemalangan nasib sang keponakan.


"Berjuanglah, anak muda! kau harus bahagia menjalani hidupmu! Hahahahaha...." Tuan Ramon menepuk pundak Malvin beberapa kali sambil tertawa puas.


"Berhenti menertawakanku, paman! Kau menyebalkan," sungut Malvin yang membuat Tuan Ramon semakin tergelak.


"Aku ingin ke rumah Tuan Yohan, aku akan berangkat malam ini, sudah dua bulan sejak kita ke tempat itu, aku ingin bertemu Steva," cuit Malvin yakin.

__ADS_1


"Apa kau perlu kutemani?"


"Jika kau memaksa!" jawab Malvin sambil berdiri dan melenggang pergi tanpa permisi.


"Dasar Bajingan tengik!" umpat Tuan Ramon menghadapi sikap angkuh keponakannya yang tak berubah, hanya pada saat butuh saja ramah. Kalau urusannya sudah selesai, kembali ke mode awal setelan pabrik. Angkuh.



"Kau ingin sesuatu, Sayang?" Amora bertanya dengan suara pelan dan sangat lembut.



Amora mengelus dahi Razz dan menyapu tangannya hingga ke rambut Razz yang sangat kumel.



"Ste-va!" lirih Razz hampir tak terdengar, suaranya sangat pelan menyiratkan nada yang terasa sakit dan sesak, matanya sayu dan hanya terbuka sipit sekali, saat merasa sudah tak kuat menahan sakit di dadanya, mata Razz akan kembali terpejam dengan sendirinya, entah hanya tidur atau saking tak kuatnya menahan dada yang sakit luar biasa.



Amora hanya bisa menangis dan menangis, ia tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan hidup sang putra. Razz tak mau menerima pendonor jantung yang bahkan bisa Amora dapatkan dari orang-orang setianya seperti Tan, atau yang lain. Razz membiarkan dirinya menanggung sakit dengan jantung yang sudah rusak bersarang di dalam tubuhnya, setidaknya, Razz masih bisa mencintai Steva dengan jantung ini, ia takut, jika ia menerima jantung lain, ia tidak lagi mencintai Steva, dan akan membuat Steva terluka.



Nyonya Gulnora datang bersama Tan, dan Razz sudah dalam keadaan kembali terpejam. Tan dan Gulnora membungkukkan badan sebagai penghormatan.




"Maaf, Nyonya. Belum!" jawab Tan.



"Cepat temukan dia, Tan. Razz hanya menginginkan Steva. Hanya dia yang bisa **membujuk** Razz,"



"Ini semua karena Nona Liora!" timpal Gulnora kesal dengan hati yang sedih.



"Tidak, Gulnora, bukan hanya Liora yang bersalah, tapi aku juga salah," aku Amora semakin sendu.


__ADS_1


"Nyonya tenanglah, aku akan berusaha lebih baik lagi untuk bisa menemukan Nyonya Steva secepatnya," Tan seolah memberi harapan.



"Aku sangat berharap, Tan. Kita juga harus menjelaskan semuanya pada Steva, Putraku tidak bersalah, tapi Steva pasti sudah sangat membencinya saat ini, bukan? Setelah semua yang terjadi, cepat temukan Steva, Tan. Dia harus tahu semua yang sebenarnya terjadi," Amora mengecup tangan Razz, air matanya menetes pada punggung tangan putranya yang sudah sangat kurus.



Tan mengangguk, ia berusaha kuat agar air matanya tak menetes, dan tetap bersikap tenang meski dadanya begitu sesak. Tan sangat sedih, dia merasa jika ini juga bagian dari kesalahannya, membiarkan Razz pergi seorang diri hari itu, hingga kejadian naas ini menimpa Tuan besarnya.



Mobil yang Tuan Ramon kendarai telah sampai di depan halaman rumah kayu Paman Yohan, setelah menempuh perjalanan selama 10 jam sejak semalam bersama Malvin, mereka sampai di desa saat pukul 7 pagi.


"Selamat datang!" Tuan Yohan yang sudah menunggu kedatangan rekan bisnis sekaligus sahabatnya itu menyambut dengan membuka kedua tangannya untuk membawa Tuan Ramon ke dalam pelukan.


Malvin mengeluarkan barang bawaan mereka, salah satunya adalah minuman berumur tua sebagai hadiah. Setelah memeluk Ramon, Paman Yohan bergantian memeluk Malvin.


"Kalian hanya berdua? Mr.Dori?"


"Pabrik sedang sangat sibuk, aku memintanya untuk tetap tinggal di pabrik," jawab Tuan Ramon sambil memasuki halaman depan rumah Paman Yohan yang luas. Dan Paman Yohan mengangguk sambil terkekeh.


"Kalian pasti belum sarapan, ayo kita sarapan dulu," ajak Paman Yohan membawa kedua tamunya masuk rumah.


"Kau membawa minuman legend, Ramon,"


"Untuk kita nikmati malam ini, Yohan!"


"Hahahaha."


"Rumah sangat sepi, di mana yang lain?" tanya Tuan Ramon saat mereka telah masuk ke dalam rumah, dan duduk di meja makan.


"Ouh, maafkan istriku, dia tidak bisa menyambut kalian, dia pergi ke kota bersama tetangga, belanja kebutuhan, dan membawa 5 ekor domba untuk dijual pada langganan, tapi kau tak perlu khawatir, dia sudah menyiapkan ini semua sebelum dia pergi, ayo ayo, sarapan dulu," terang Paman Yohan membuka penutup makanan yang dimasak oleh istrinya dan sudah terhidang rapi di meja makan.


"Eva?" Malvin buka suara.


"Baru saja tadi dia pergi ke kandang, seperti biasa, dia juga akan mencari rumput, mungkin akan pulang siang nanti, padahal aku sudah melarangnya, aku takut dia terlalu lelah, kasihan kandungannya, tapi dasar gadis itu memang nakal, tidak mau mendengarkan," Paman Yohan dan Tuan Ramon terkekeh bersama.


"Aku ingin jalan-jalan, kalian lanjutkan saja makannya," seru Malvin yang sudah berdiri dari kursi.


'Anak ini, dasar tidak sabaran.' gerutu Ramon dalam hati.


"Eeh,,,, sarapan dulu!" sahut Paman Yohan menghalangi Malvin pergi.


Malvin mengedarkan pandangan di atas meja makan. Dan dia mengambil dua butir telur rebus.

__ADS_1


"Ini sudah cukup. Aku pergi dulu, sampai jumpa Tuan Yohan!" Malvin berhambur pergi dengan langkah kaki berlari kecil. Ia tak sabar untuk segera bertemu dengan Steva.


...****************...


__ADS_2