GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
FLASH BACK


__ADS_3

"Bagaimana? Apakah anda sudah menemukan titik terang mengenai keberadaan Nyonya Steva?" Tan tengah melakukan panggilan dengan seseorang lewat sambungan telepon. Ia berdiri di depan pintu sebuah kamar rawat inap yang di jaga ketat oleh beberapa pengawal.


"....."


"Baik, saya harap anda bisa membantu saya untuk segera menemukan orang yang saya cari,"


"........"


"Iya, terimakasih," Tan menutup sambungan telepon. Saat ia hendak berbalik menghadap pintu untuk masuk, langkahnya terhenti, seorang Dokter wanita yang sangat cantik dan seksi berjalan dari sana menuju ke arahnya.


"Selamat siang, Pak Tan!" sapa Dokter cantik.


"Selamat siang, Dokter Renata," balas Tan mengangguk pelan.


"Aku ingin melihat kondisi sahabatku."


Tan kembali mengangguk dan membukakan pintu. Mereka masuk ke dalam ruangan bersama.


Nampak Nyonya Gulnora yang tengah membaca kitab suci keyakinannya duduk di dekat ranjang brangkar. Ia mengirim doa-doa dengan ketulusan dan kasih sayang berharap agar Tuhan mendengar doanya untuk menyelamatkan nyawa seorang pria yang terbaring di hadapannya.


Seorang pria tampan yang terbaring di atas ranjang brangkar dengan kondisi lemah, begitu banyak peralatan medis sebagai penopang kehidupan. Agar dia mampu bertahan.


"Nyonya Gulnora!" sapa Dokter Renata.


Gulnora mendongak melihat Dokter Renata yang datang dan menyapanya, ia pun menutup kitab suci itu, mengecupnya khidmat, lalu menaruhnya di atas nakas, dan Gulnora lekas berdiri. Tan mendekat ke arah sisi ranjang brangkar yang lain.


"Dokter Renata, selamat datang," Gulnora membungkukkan badan menyambut kedatangan Renata.


"Dia sedang tidur?" tanya Renata melihat pada pasien pria tampan yang terbaring, matanya terpejam sempurna.


"Iya, Dokter. Dia tidur sejak dua jam yang lalu," jawab Gulnora mengelus lembut rambut pria yang terbaring.

__ADS_1


Renata mendekat, menatap sendu wajah sahabatnya itu yang sangat pucat, mengelus tangan sahabatnya itu yang terdapat selang infus dan selang medis lain, kian hari badannya kian kurus, tak ada lagi tubuh yang tegap, gagah nan perkasa seperti dulu, yang selalu dibanggakan dan membuat para wanita nyaman untuk bersandar di dada bidangnya.


"Bagaimana dengan Steva, Tan? Apa sudah ada kabar?" Renata beralih melihat Tan yang juga fokus menatap wajah pria yang tidur di atas ranjang brangkar.


Tan menggeleng sambil menghembuskan napas kasar sebagai jawaban dari pertanyaan Dokter Renata. Dan Renata kembali menatap lekat pada pria yang tertidur.


"Cepatlah temukan dia, Tan. RAZZ tak ingin yang lain, ia hanya ingin Steva, hanya Steva."


Iya, pria yang terbaring di atas ranjang brangkar dengan segala macam alat medis sebagai penopang kehidupan itu adalah Razz, Tuan Fabio Cannavaro Razolla.


FLASH BACK ON.


Tan sangat terlambat, ia berlari cepat menuju gedung apartemen Liora, Razz memintanya datang karena akan melakukan pertemuan dengan rekan bisnis di restoran dekat apartemen, dan Tan harus datang untuk menjemputnya.


"Matilah aku, pasti Tuan besar pasti akan membunuhku sekarang," Tan terus berlari memasuki gedung apartemen dengan perasaan was-was, Tuan besarnya itu sangat menyeramkan saat marah.


Saat Tan memasuki loby utama apartemen, sontak langkahnya terhenti, ia dikejutkan dengan pemandangan yang tak pernah ia sangka, di sana Tuan besar sedang bertengkar adu mulut dengan Liora.


"Razz, kau sudah berjanji akan menemaniku sampai malam ini, hiks hiks hiks." Liora terus mencegah Razz yang ingin segera pergi mengejar Steva. Ia harus menjelaskan semua kesalahpahaman ini.


Tan lekas mendekat, ia tak tahu apa yang sedang terjadi, tapi mendengar dari apa yang Tuan besarnya katakan, Tan dapat menangkap satu hal, kebohongan mereka telah terbongkar, Steva telah mengetahui jika Razz dan Liora tak pergi ke luar negeri.


"Tuan?" Tan datang dan membungkukkan badan.


"Tan? Untunglah kau datang, tolong bawa Liora ke kamarnya, dan jaga dia dengan baik."


Tan lekas mengangguk patuh, ia memegangi tangan Liora yang hendak mengejar dan menghalangi Razz yang akan pergi.


"Razz? Razz?"


Razz terus berlari tak mengindahkan Liora yang meneriaki namanya.

__ADS_1


Razz melajukan mobil dengan kecepatan sangat kencang membelah jalan yang sepi lengang. Hatinya bergemuruh, Steva menemukan dirinya berada di apartemen bersama Liora, dan pasti Steva sudah berpikir yang macam-macam.


"Steva, maafkan aku, aku tahu aku salah. Tapi sungguh ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan, sayang?"


Razz benar-benar cemas, ia sangat takut jika Steva akan pergi meninggalkannya.


'Serrreeeettt.'


Razz menginjak Rem cepat, sebuah mobil menghadang jalannya tiba-tiba. Dari belakang sebuah mobil lain jenis Limousine BMW pun berhenti seakan memblokade jalanan.


"Brengsek, siapa mereka. Berani-beraninya menghadang jalanku, bugh." Razz memukul kemudi, ia sangat terburu-buru untuk pulang dan segera menemui Steva, namun jalannya malah dihadang oleh beberapa mobil.


"Keluar? Brak brak brak!" seorang pria berbadan besar menggedor kaca mobil Razz sambil berteriak, sudah dapat dipastikan jika mereka bukan orang sembarangan dan pasti ada maksud tidak baik.


Mereka yang menghadang jalan Razz sangat banyak, para pria bertubuh besar dan tegap, berpakaian serba hitam dan bersenjata api.


"Cepat keluar? Atau kutembak!" bentak salah seorang pria yang sudah menodongkan senjata api dari luar.


"Sial, aku hanya memakai mobil biasa, dan tanpa penjagaan, bagaimana aku bisa lengah, aku lupa jika musuhku banyak," tak dipungkiri jika Razz saat ini sangat panik dan takut.


"Cep-pat keluar," teriak pria lain.


"Mereka menginginkanku, bukan nyawaku, jika mereka ingin membunuhku, pasti saat ini mereka sudah menembakku," setelah berpikir cukup lama, Razz pun terpaksa membuka pintu.


Belum sempat ia melangkah keluar, pria berbadan besar menarik tangannya, mendorong tubuhnya menghadap menabrak badan mobil, dan kedua tangan Razz di bekuk ke belakang punggungnya.


"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?" teriak Razz berusaha berontak. Namun dengan cepat pria berbadan besar itu memborgol kedua tangan Razz di belakang punggungnya, lantas menendang belakang lututnya hingga Razz jatuh dengan lutut bertumpu jalan beraspal, tentu rasanya sakit.


"Bawa dia, jangan sampai dia terluka, kita membutuhkan jantungnya yang sehat." ucap pria berbadan besar pada teman seprofesinya yang lain. Dan Razz pun diseret masuk ke dalam mobil mereka.


Di belakang sana, seorang pria yang duduk di mobil mewah Limousine BMW mengamati dengan rasa senang penuh dendam. Senang karena apa yang ia butuhkan telah ia dapatkan, dan dendam karena Razz, putra mahkotanya sekarat. Tapi sebentar lagi dendamnya akan terbalaskan. Iya, pria yang berada di dalam mobil Limousine BMW itu adalah Tuan Bachtiar, Ayah Malvin.

__ADS_1


"Darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa, tapi aku akan mengampuni nyawamu jika jantungmu bisa menyelamatkan nyawa putraku."~ Tuan Bachtiar.


...****************...


__ADS_2