
"Malvin?"
Tatapan mata itu masih sama, datar, dingin, dan keangkuhan berkuasa. Malvines Bachtiar, pria yang menyelamatkan Steva dari malam kelam yang hampir membuat dirinya menjadi wanita penghibur.
Malvines Bachtiar, pria tampan, kaya, dan tidak mempercayai hubungan pernikahan, pria yang membuat Steva jatuh cinta hingga menyerahkan seluruh jiwa dan raganya meski ia tak diberikan nama atas pernikahan, pria yang melampiaskan emosi berhubungan badan secara ekstrim terhadap wanita bayaran.
"Kita bertemu, Steva, apa kabar?" suara tenang, berat, dan tegas itu masih sama.
'Glek.' Steva menelan saliva susah payah. Ia tak menyangka akan bertemu Malvin dalam keadaan dirinya yang seperti ini.
Malvin melihat Steva dari ujung kaki sampai kepala, tersungging senyum remeh mengejek pada sudut kanan bibirnya.
"Tidak lebih baik!" seloroh Malvin setelah Steva hanya diam saja.
"Menangis dengan terguyur hujan memang cukup membantu menyembunyikan air mata dari orang, tapi aku masih dapat melihatnya dengan jelas, Steva."
Steva memalingkan wajah, ia lantas mengusap pipinya cepat, ia tak ingin Malvin menertawakannya.
Steva begitu sombong saat dia memutuskan untuk pergi dari Malvin, dia memutuskan pergi karena Malvin yang suka bermain meski dengan wanita bayaran dan tak melibatkan perasaan, dan kini, keadaan Steva pun tak bisa dibanggakan.
"Kau pergi dariku karena kau tak mau berbagi, tapi apa yang kulihat ini? Kau telah diduakan."
"DEG."
Sontak Steva menatap tajam pada Malvin yang ada di hadapannya dengan tatapan amarah, yah, Steva marah mendengar Malvin mengatainya diduakan, meski itu memanglah kenyataan.
Tan yang duduk di pembatas jalan melihat seorang pria mendekati Steva lantas lekas berlari menghampiri Steva.
"Nyonya," seru Tan saat dia sudah berada di dekat Steva dan Malvin.
'Dia, pria itu.' Tan masih mengingat jelas pria yang menarik tangan Steva pagi itu di cafe, pria yang mendapat pukulan dari Tuan besarnya Razz.
"Pulanglah bersamaku," Malvin mengulurkan tangannya, Steva melirik tangan kanan Malvin yang terbuka. Tangan yang pernah merengkuh pinggangnya, tangan yang pernah mengelus pipinya, tangan yang pernah meremas dadanya, dan tangan yang pernah memasuki area intinya. Steva hanya diam, ia tak bergeming.
"Aku tahu semua tentang hidupmu, semuanya, kau memang dinikahi olehnya, tapi dia juga menikah lagi dengan perempuan lain, dia tidak pantas menjadi suamimu," Malvin kembali bersuara membuat Tan sudah mengepalkan kedua tangannya. Tatapan Tan begitu tajam menghunus, ingin sekali rasanya Tan menghajar Malvin saat ini juga, tapi dia ingat tenaga Malvin waktu itu, dia lebih kuat darinya.
"Jaga mulutmu, tahu apa kau tentang Tuanku?" ketus Tan yang tak terima.
"Pak Tan? Mobil kita sudah sampai!" teriak Pengawal yang kakinya terkilir.
"Mari Nyonya, kita pulang sekarang, Tuan besar tidak akan senang jika anda ketahuan berhubungan dengan pria lain," pemilihan kata yang salah. Karena Tan mengucapkannya dengan emosi.
Steva menoleh pada Tan dengan rasa kecewa.
"Apa aku terlihat seperti itu, Pak Tan? Apa aku terlihat seperti wanita murahan yang dengan gampang menjatuhkan diriku ke pelukan seorang pria?"
"B-bu bukan begitu?" Tan tak sempat mengelak, karena saat dia hendak menjelaskan, Steva sudah terlebih dulu melangkah.
"Tunggu, Stev!" suara berat Malvin menghentikan gerak kaki Steva.
"Aku masih menginginkanmu untuk tetap bersamaku, pintu rumahku selalu terbuka untukmu."
Steva kembali melangkah cepat menuju mobil setelah ia mendengar ucapan Malvin yang justru semakin membuat hatinya merasa nyeri.
__ADS_1
Memang tidak mudah melupakan cinta pertama, apalagi orang yang pertama mengambil kesucian Steva. Seringkali Malvin kembali muncul di benaknya, namun untunglah, dengan mengingat keburukannya, Steva bisa segera menepis bayangan Malvin yang mengganggunya.
'Brak.' Steva duduk di jok belakang, tak lama kemudian, Tan pun masuk dan duduk di sampingnya, sedangkan Pengawal yang kakinya terluka duduk di dekat jok sopir.
'Dia tidak berubah, dia masih sama angkuhnya, dan dia masih menggunakan kalimat yang sama, menginginkanku, dasar brengsek.'
Tan melirik Steva yang hanya diam, matanya sembab meski ia sudah tak lagi menangis, tapi raut wajahnya jelas menyiratkan kesedihannya.
'Dia wanita yang selalu berusaha agar tetap terlihat kuat dan tegar.'
Sementara di Rumah Sakit, Razz menunggu dengan cemas di depan ruang IGD. Ia terus mondar-mandir tak terkendali.
"Apa aku harus menghubungi orang tuanya? Ah,,, tidak. Nanti merembet ke Mom, dan pasti Mom akan menyalahkanku, yang ada semuanya malah tambah ruwet dan bikin pusing. Aaahh..." Razz mengusap wajah dan kepalanya gusar. Ia mengkhawatirkan keadaan Liora.
"Kenapa Renata lama sekali? Bagaimana kondisi Liora?"
Perasaan Razz sangat kacau. Darah yang terus menetes dari tubuh Liora tak ia ketahui sumbernya, tubuh Liora terlihat baik-baik saja.
"Renata?" Razz lekas berlari ke arah Renata yang baru saja keluar, dan Renata mengangkat tangan mempersilahkan Razz untuk ikut turut serta bersamanya menuju ruangan pribadi untuk bicara.
"Jadi kau mempunyai dua istri?" pertanyaan pertama yang Renata lontarkan memantik emosi Razz.
"Jangan membahas yang tidak perlu, katakan saja bagaimana keadaan Liora?" tukas Razz tak senang, dan Renata tersenyum sinis.
"Aku cukup kaget saat datang ke rumahmu untuk memeriksa \*\*\*\* \*\*\*\*\* istrimu waktu itu, kupikir wanita yang kau sebut istri adalah Liora tapi ternyata wanita lain, dan sekarang, kau datang lagi dengan membawa Liora yang sedang hamil, dan kau juga menyebutnya sebagai istri, hufftt,,,, aku tidak percaya ini," Renata menggelengkan kepalanya.
Razz memalingkan wajah ketus, sungguh dia tak ingin membahas masalah pribadinya.
"Baiklah, kau bisa bernapas lega, Liora sudah baik-baik saja sekarang, darah yang keluar adalah akibat benturan yang terjadi di punggungnya hingga mengakibatkan kontraksi pada rahim, butuh waktu lumayan untuk sembuh dari rasa sakit dan memar, tapi?" penjelasan Renata terjeda sesaat, Razz menautkan kedua alisnya dan dia mendengar lebih seksama.
__ADS_1
"Kandungan Liora sangat lemah, aku bersyukur ia tak mengalami keguguran, tapi kau harus benar-benar menjaganya mulai sekarang,"
Razz mengambil napas dalam lalu menghembuskannya perlahan setelah Renata selesai menjelaskan, ada kelegaan di hati Razz.
"Dia masih harus dirawat inap, paling tidak empat sampai lima hari," jelas Renata. Dan Razz mengangguk.
"Minum ini, itu vitamin dan obat, hidungmu sudah terlihat sangat merah, kau bisa sakit karena kehujanan," Renata melempar botol obat berisi pil dan Razz menangkapnya.
"Dan cepat ganti bajumu, aku harus pulang sekarang, aku juga butuh untuk istirahat, Liora akan tidur paling tidak sampai besok siang karena pengaruh obat." Renata lantas pergi keluar terlebih dulu dari ruang pribadinya. Dan Razz memainkan ponsel menghubungi Gulnora.
"Nyonya?" Gulnora menyambut kedatangan Steva dengan raut cemas, ia sudah mengetahui semua yang terjadi dari Tan.
"Nyonya, anda?" belum sempat Gulnora selesai menyampaikan kalimatnya, ponsel yang sedari tadi ia genggam berdering.
"Maaf, Nyonya, Tuan besar menghubungi," Gulnora menggeser panel hijau pada layar ponselnya, dan dia menerima panggilan itu di depan Steva yang masih berdiri dengan tubuh yang basah kuyup dan dingin yang tertahan.
"Iya, Tuan. Nyonya Steva sudah sampai rumah,"
"____"
"Iya, baiklah."
"_____"
"Iya, Tuan,"
"______"
"Iya, baik."
Sambungan telepon diakhiri.
"Nyonya, Tuan meminta anda untuk segera mandi air hangat lalu istirahat, saya akan membawakan makan malam anda dan juga wedang jahe anget ke kamar, Tuan juga meminta anda untuk minum vitamin dan obat, dia takut jika anda sampai jatuh sakit karena kehujanan."
Steva hanya diam mendengarkan, ia merasakan sakit hati yang tak bisa ia ungkapkan, Steva cemburu, dan itu sangat menyiksa, tapi dia tak bisa protes, keadaan Liora memang darurat, dan Liora juga istri dari suaminya. Tapi tetap saja Steva tidak terima, dia ingin berteriak dan memaki, Steva tidak sanggup melihat dengan mata kepalanya sendiri sikap Razz yang begitu peduli pada wanita lain yang pernah dicintainya, atau justru Razz mungkin saja masih mencintainya? Pemikiran itu melukai batin Steva, memikirkan jika Razz masih mencintai Liora.
"Apa dia tidak pulang?" tanya Steva pada Gulnora setelah ia cukup lama diam dan Gulnora hanya bertampang cemas.
"Nona Liora harus rawat inap, dan Tuan Razz harus menemaninya, Nyonya. Saya permisi, harus meminta seseorang untuk mengantar pakaian ganti untuk Tuan besar!" Gulnora pun undur diri setelah mengatakannya.
Kedua mata Steva terpejam dan buliran bening yang sedari tadi ia tahan lolos seketika.
...****************...
__ADS_1