GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
TERBUKA


__ADS_3

[Seseorang pernah berkata, dia yang melukaimu sebenarnya jauh lebih terluka, lalu aku bertanya, bagaimana bisa? Ia pun menjawab. Karena dia hidup dalam penyesalan sedangkan kamu hidup dalam kerelaan.]


...****************...


Steva masih melakukan kebiasaannya yang melayani Razz seperti biasanya, menyiapkan air mandi, baju ganti, dan bahkan memakaikannya baju saat Razz memintanya.


Meski Steva melakukan semua itu dalam diam, tak ada lagi senyum yang tersungging di bibirnya, apalagi gelak tawa, semuanya sirna begitu saja, Steva melakukan itu menganggap sebagai pembayaran hutang.


Steva turun ke meja makan lebih dulu meninggalkan Razz, apalagi suaminya itu tadi berusaha mencum.bunya saat Steva berbalik dan Razz langsung memeluknya dari belakang, menciumi tengkuk lehernya dan mengelus dadanya. Namun Steva bisa berhasil lolos.


Steva membalikkan badan, Razz langsung menautkan bibirnya, Steva bermain seolah ia menerima, Steva membalas ciuman Razz sehingga suaminya itu terbuai, dan saat Razz lengah. Steva mendorong tubuh Razz kuat dan dia berlari cepat keluar dari kamar. Setidaknya Steva merasa aman saat ini.


Razz mengusap bibirnya yang basah setelah Steva pergi, ia justru terkekeh dengan sikap Steva yang Razz nilai sangat menggemaskan.


Razz melangkah menuju meja makan, Steva sudah duduk di kursi seberang Razz berhadapan dengan kursinya, meja makan itu berbentuk segi empat panjang. Steva berpikir ini tempat yang lebih baik dari pada harus bersanding dengan Razz.


Razz duduk, Gulnora menyambutnya dengan menuangkan minuman ke gelasnya. Steva hendak bergerak mengambil makanan, namun tangannya terhenti ketika seseorang datang.


"Selamat malam... Apa aku mengganggu jika aku ikut gabung makan malam bersama?" Liora berdiri di sana, dia terlihat baik, sangat baik malah. Dan? Cantik, sangat cantik.


Liora memakai gaun panjang berwarna hitam lengan pendek dengan belahan dada yang rendah, rambutnya ia sanggul ke atas sehingga menampakkan lehernya yang jenjang. Ia memoles wajah cantiknya dengan sapuan make up bold namun terlihat anggun dan elegan.


Razz tak bergeming, ia menatap ragu pada Steva. Dan Steva lantas mendongak menatap Liora yang masih berdiri.


"Tentu, kenapa harus meminta ijin terlebih dahulu? Ini adalah rumah suamimu, bukan rumahku," ujar Steva tajam, mendengar jawaban Steva, Liora pun tersenyum manis dan dia mendudukkan bokongnya pada kursi dekat Razz. Razz masih tak berpaling dari menatap Steva. Batin Razz serasa tertusuk kala Steva menyebut ini rumah suaminya dan bukan miliknya.


"Lagi pula sangat lucu, bukan? Meminta ijin hanya tuk sekedar makan malam, sedangkan kau tak meminta ijin untuk memakan suami orang!" ketus Steva selanjutnya.


"DEG." jantung Razz serasa berhenti berdetak, ia menelan salivanya susah payah, dan Razz meraih gelas berisi minuman lalu menenggaknya, tenggorokannya terasa sangat kering tiba-tiba.


Liora tersenyum remeh mendengar sindiran dari Steva.


"Mari kita makan, kita butuh asupan gizi untuk menjalani kejamnya takdir kehidupan," tukas Liora tak mau kalah.


"Bisakah kita menikmati makan malam dengan damai tanpa adanya perdebatan?" Razz buka suara.

__ADS_1


"Tidak bisa!" teriak Steva dan Liora bersamaan.


"Uuffhh,,, okay, okay, baiklah." jawab Razz singkat.


Seolah tak peduli Razz langsung meraih sendok dan garpu untuk memulai acara makan malamnya. Ia sebenarnya merasa serba tidak enak. Liora adalah sahabatnya, ia sedang dalam fase yang menyakitkan, dan Steva? Dia wanita yang ia cintai, dan kini tersakiti oleh dirinya sendiri.


Liora menatap menu di depannya dengan tidak nafsu, apalagi melihat sate kambing yang berjejer dengan bumbu kacang, Liora tiba-tiba menutup mulut dan hidungnya, seakan makanan itu adalah sampah yang busuk.


Dahi Steva mengernyit menatap reaksi Liora.


"Ada apa, Nona Liora? Apa kau tidak menyukai makanannya?" Steva bertanya dan Liora menggeleng cepat.


"U-uwhekk!" Liora berlari cepat menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur, kamar mandi terdekat dari meja makan.


Razz dan Steva menoleh bersamaan ke arah Liora berlari. Razz tahu itu pasti karena Liora sedang mengandung, tapi Steva?


"Ada apa dengannya? Liora kenapa?" tanya Steva pada Gulnora. Dan Gulnora hanya diam tak berani menjawab meski ia tahu, Gulnora tahu jika Liora tengah hamil, Razz memintanya untuk menjaga Liora demi anak yang dikandungnya, namun Razz tak mengatakan pada Gulnora ayah dari si bayi.


"Kenapa anda diam saja, Nyonya Gulnora?" tanya Steva sekali lagi, karena ia tak mendapatkan jawaban.


Steva menatap tajam dan nanar pada Razz yang terus menatapnya cemas. Razz menelan saliva kasar mendapat tatapan kebencian dari Steva.


Steva pun berdiri dan berlari menuju pintu utama untuk bisa keluar dan pergi dari rumah. Ia kembali menangis mendapati kenyataan yang menyayat hati dan perasaannya. Liora bahkan sudah hamil, begitu Razz mengatakan jika ia tak pernah bercin.ta selain dengan dirinya? Munafik.


"Stev? Stev, dengarkan aku," Razz berhasil meraih tangan Steva. Ia memeluk erat tubuh Steva meski istrinya itu menangis, meraung dan memberontak.


"Lep-paskan aku, kau bajingan, keterlaluan, aku benci padamu, Tuan Razz! Hiks hiks hiks," Steva memukul dada Razz berkali-kali dan Razz membiarkannya, Razz tidak peduli oleh rasa sakit yang ia rasa di dada ia tetap memeluk Steva dengan erat.


"Aku akan jelaskan semuanya, beri aku kesempatan untuk bicara, kumohon!" Razz mengecup kening Steva dalam meski Steva berusaha menolak.


"Kalau begitu, katakan! Tapi apapun alasanmu, aku tak bisa menerima itu, aku terlanjur sakit hati padamu, aku terlanjur membencimu, aku mau kau menceraikanku!" teriak Steva penuh emosi.


"*Cupp!"


"Empphh*!"

__ADS_1


Razz menubruk bibir Steva cepat, ia menautkan, me.lu.mat dan menyesap kasar bibir Steva. Razz terus mengeksplor bibir Steva, membelitkan lidah mereka dan tak membiarkan Steva memberi perlawanan yang berarti.


"Aaahh,,, haahhh,,, haahh!" Razz baru melepaskannya setelah napas Steva hampir habis dan dia terengah.


"Dengar, bayi yang ada di dalam kandungan Liora, bukanlah hasil dari benihku, sumpah demi Tuhan aku tak pernah menyentuhnya, seumur hidupku aku hanya menyentuhmu dan bercin.ta denganmu. Liora hamil anak kekasihnya, pria yang dicintainya, bukan aku!" jelas Razz dengan nada suara yang bergetar.


"Apa?" Steva seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya, namun pernyataan Razz mampu meluluhkan hatinya, Steva melemah dan Razz kembali memeluknya dengan erat, Razz menghujani pucuk kepala Steva dengan kecupan bertubi-tubi.


"Aku minta maaf, tapi semuanya aku lakukan dengan terpaksa, Liora mengalami kecelakaan bersama dengan kekasihnya, dan kekasihnya meninggal, Liora sedang hamil, untuk menyelamatkan harga diri Liora dan keluarganya, aku menikahinya, Liora adalah sahabatku sejak kecil, Stev. Keluarganya sangat baik padaku, Mamahnya yang sering menjagaku dulu waktu aku kecil, saat Mommyku pergi. Aku melakukannya demi membalas budi Stev, kumohon percayalah," Tangis Steva pecah, namun penjelasan yang Razz berikan mengurangi sakit di hati Steva meski ia masih belum bisa mempercayainya begitu saja. Masih ada begitu banyak pertanyaan yang berputar dalam benak Steva. Dan belum mendapatkan jawaban.


Liora berdiri tak jauh di belakang mereka menatap nanar pada Razz. Ia tak menyangka jika Razz akan membuka fakta di depan Istrinya, bahkan didengar Gulnora dan beberapa pelayan yang lain. Kecewa? Tentu, sakit hati? Jelas.


Liora merasa dipermalukan, Razz tak dapat dipercaya.


"Kau mengingkari janjimu, Razz?" seloroh Liora menyita perhatian Razz dan Steva. Razz terlihat panik.


"Liora? Kita bisa bicara?"


"Tidak!"


Razz yang hendak bicara terpotong oleh bentakan dari Liora.


"Kau sudah berjanji padaku dan mamahku jika kau akan menyimpan aib ini dari siapapun, Razz? Tapi kau ingkar janji!" teriak Liora.


Apa yang dikatakan Liora semakin membuat hati Steva bahagia, secara tidak langsung, Liora telah membenarkan apa yang dikatakan Razz pada dirinya. Jika Razz tidak berbohong.


"Kalau begitu, biarkan aku mengungkap kebenaran yang lain yang masih kau sembunyikan dari istrimu!"


"DEG!"


Steva menatap tajam pada Liora yang melangkah mendekat.


"Dengarkan aku, memang benar apa yang dikatakan Razz padamu, jika anak yang kukandung ini bukanlah anaknya, tapi kau juga harus tahu, bahwa Razz menikahimu demi bisa mendapatkanku, karena aku, aku yang memintanya pada Razz agar dia menikahimu, Karena aku sudah memiliki kekasih dan aku mencintainya. Sebab itulah dia menerimamu sebagai istri, karena aku menolaknya! Bukan karena dia menginginkanmu, akulah wanita yang diinginkan Razz sebenarnya, Dan sekarang Razz bersedia menikahiku serta menerima anak yang ada di dalam perutku." Sederet kalimat yang Liora katakan membungkam Razz dan membuat Steva tercengang seketika.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2