
"Apa kau tidak mencintaiku? Atau kau punya laki-laki lain dalam hidupmu? Jawab aku, Liora!"
Wajah Razz dan Liora begitu dekat, hingga hembusan nafas keduanya bisa saling dirasakan, saling bertukar oksigen, Razz begitu marah atas apa yang telah Liora lakukan, ia melakukan segalanya demi gadis itu, tapi apa? Liora justru seakan menjebak Razz ke dalam satu permainan untuk menjauhkan dirinya.
"Berhenti menangis, Liora, hatiku sakit melihatmu seperti ini, aku tidak mau menyakiti, atau pun membuatmu sedih, jadi katakan dengan jelas, apa kau tidak mencintaiku? Apa kau mencintai orang lain?" nada suara Razz merendah, terdengar bergetar dan serak, cinta Razz begitu murni dan tulus. Sekeras apapun dia mencintai Liora, tapi jika melihat Liora bersedih dan terluka, Razz tidak akan tega.
Liora masih diam tak bergeming, hanya deraian air mata dan suara isakan dengan wajah menunduk berpaling yang semakin membuat hati Razz berdenyut nyeri.
"Katakan sekali saja, Liora. Kau mencintaiku, dan akan kulupakan semua perbuatanmu yang sengaja menjebakku, atau katakan dengan jelas apa maumu. Aku,,,?" Razz berhenti bicara, tenggorokannya serasa tercekat untuk mengatakan kalimat yang selanjutnya.
Razz menyentuh lembut dagu Liora, mendongakkan wajah cantik gadis itu agar menatap pada dirinya.
"Katakan sesuatu, jangan diam seperti ini, aku ingin mendengar suaramu, aku hanya ingin membahagiakanmu, jika kau memang tidak menginginkanku, jika kau menderita berada di sampingku, katakanlah, aku akan membatalkannya sekarang juga. Tapi kau juga harus berkata jujur di depan orang tua kita, jangan bermain seolah aku yang menanggung semua salah, karena nyatanya aku melakukan ini semua demi kamu, untuk mendapatkanmu," Razz bicara sangat lembut dan pelan, setiap kata yang ia ucapkan adalah ketulusan. Cinta Razz begitu murni, ia mencintai Liora sejak kecil. Liora adalah segalanya untuknya. Tapi sayang, gadis itu tak pernah mencintai Razz meski hanya membalasnya seujung kuku.
"Haaaahh!" Razz mundur dari tubuh Liora yang ia himpit ke dinding, tangisan Liora sudah berhenti dan menyisakan isakan saja, diamnya Liora Razz artikan sebagai persetujuan pernikahan mereka. Padahal Liora tidak mampu berkata, dia tidak akan berani mengakui apa yang sudah disembunyikannya.
"Baiklah, kemari!" Razz menggandeng tangan Liora, mengajaknya duduk di tepian ranjang dengan seprei yang berwarna maroon itu.
"Lihat aku," Razz kembali mengangkat lembut dagu Liora.
"Jangan menangis, aku sudah memaafkanku," Razz mengusap lembut pipi Liora yang menyisakan air mata, Razz lantas membingkai wajah Liora dan menatapnya penuh cinta.
"Jangan bersedih, dan jangan takut, kita akan menikah sebentar lagi, aku akan selalu membahagiakanmu." Razz membawa Liora ke dalam pelukannya, sebuah kecupan dalam Razz hujamkam ke pucuk kepala Liora mesra. Dan Liora kembali menangis dalam dekapan Razz. Dada bidang dan aroma tubuh itu memang cukup menenangkan hati Liora yang galau, tapi tidak untuk mencintainya, Razz adalah ibarat sebuah sandaran ternyaman di dunia, tapi tidak untuk melabuhkan cinta.
3 hari telah berlalu, Steva menjalani hari-harinya dengan ikut andil dalam melaksanakan pekerjaan rumah di waktu tertentu.
Steva juga belajar memasak menu makanan kesukaan Razz dari sang koki. Meski harus melewati perdebatan kecil, karena sang koki takut jika Steva akan mengambil alih pekerjaannya dan dia akan diberhentikan karena jasanya tidak dibutuhkan lagi, tapi setelah Steva berjanji itu tidak akan terjadi, hanya ingin sesekali memasak untuk mengenyangkan perut sang suami, koki itu pun bersedia dan mengalah, apalagi cara Steva bicara padanya, ia menghargai dan menghormati lawan bicaranya, layaknya mereka adalah teman lama.
__ADS_1
Asha meminta cuti pada Ny. Gulnora paling tidak dua hari, salah satu keponakannya, anak kakaknya Afnan telah masuk rumah sakit karena demam berdarah, Steva awalnya sangat ingin sekali ikut, tapi karena Razz tidak ada di rumah, dia pun mengurungkan niatnya, sebagai istri yang baik, seorang perempuan harus menunggu sampai suaminya kembali pulang, dan meminta izin padanya untuk pergi kemana saja.
"Bawa ini, pakai berapapun yang kalian butuhkan. Nanti aku akan mengatakan semuanya pada Tuan besar. Tolong sampaikan salamku pada Afnan dan keluarganya, aku hanya bisa turut mendoakan kesembuhannya saja." ucap Steva yang memberikan sebuah kartu pada Asha, Razz memang sempat memberikan kartu lain lagi pada Steva sebelum dia berangkat ke luar negeri, meski Steva sudah menolaknya karena merasa tidak begitu butuh memegang kartu banyak, tapi Razz memaksa dan dia tidak suka penolakan, sesungguhnya itu Razz lakukan untuk menutupi rasa bersalahnya pada Steva karena menjadikannya bidak dalam permainannya, namun Steva adalah wanita baik yang membuat hatinya tergetar dan merasa bersalah.
Asha menerima Card yang Steva berikan dengan haru, mungkin itu memang akan dibutuhkan mereka nanti, dan Asha pamit.
Steva beberapa kali melirik ke sebuah piano yang terletak tidak jauh dari dinding kaca yang menghadap taman belakang, saat Nyonya Gulnora lewat, ia pun mencegah wanita itu untuk meminta ijin melihat piano besar itu.
"Itu piano lama, Nyonya. Itu piano warisan dari Ayahnya Tuan besar, dan Tuan besar memboyongnya kemari setelah rumah ini jadi." jelas Nyonya Gulnora pada Steva.
"Apa itu masih berfungsi? Dan masih bisa digunakan?" tanya Steva.
"Emm? Apa aku bisa memakainya? Maksudku, apa Tuan besar akan marah jika aku meminjamnya?" tanya Steva yang membuat Nyonya Gulnora tertawa kecil sambil menutup khidmat mulutnya dengan punggung tangan kanannya.
"Kurasa tidak masalah jika anda ingin memakainya, Nyonya." ucap Gulnora yang seketika membuat senyum Steva mengembang lebar.
"Makasih!" cicit Steva ceria. Ada bahagia disertai tawa pada kalimat singkat itu.
Nyonya Gulnora menggelangkan kepala, Steva terkadang bertingkah seperti anak kecil, terkadang bisa begitu dewasa, terkadang menyebalkan, terkadang berisik, dan terkadang tenang, dia gadis yang unik, tapi baik, dan Gulnora menyukainya.
Steva langsung melangkah cepat menuju benda klasik alat memainkan musik berwarna hitam mengkilat itu, ia membuka penutupnya, menyangga dengan tongkat penyangga, lalu menarik kursi di bawahnya dan dia duduk di sana.
Penampilan Steva yang berubah dari segi pakaian dan cara berdandan, duduk anggun di depan sebuah piano, membuat dirinya terlihat jauh berbeda dari penampilan biasanya yang hanya memakai baju milik Asha ataupun dress pelayan. Ini adalah Steva seperti saat kemarin ia hidup bersama Malvin.
__ADS_1
Steva mulai menggerakkan jarinya, 'Ting?' satu not yang ia tekan. Hati Steva berdebar, ia dulu juga pernah belajar di sebuah teater saat dirinya kecil sebelum mamahnya meninggal, Steva dulu sempat bercita-cita menjadi pemain musik latar sebuah teater, atau pianis terkenal. Dan angan itu tinggallah angan.
Steva kembali menekan not demi not piano hingga menghasilkan sebuah nada indah dari lagu yang dibawakan penyanyi Maudy Ayunda berjudul kamu dan kenangan, dan dia terbawa suasana menyanyikannya dengan penuh perasaan.
[Seusai itu senja jadi sendu awan pun mengabu, kepergianmu menyisakan duka dalam hidupku.
Kumeminta rindu, menyesali waktu, mengapa dahulu? Tak kuucapkan aku mencintaimu, sejuta kali sehari.
Walau masih bisa senyum, namun tak selepas dulu, kini aku kesepian....
Kamu dan segala kenangan, menyatu dalam waktu yang berjalan, dan aku kini sendirian, menatap dirimu hanya bayangan]
Steva begitu menjiwai lagu yang ia bawakan, sampai ia tak menyadari jika dua pasang mata mengamatinya sedari tadi, Razz telah kembali bersama Tan, dan Razz terpesona melihat Steva yang memainkan piano, bernyanyi dengan lagu indah dan suara yang merdu, apalagi sekarang Steva memakai dress putih selutut dengan lengan sebahu, dan belahan dada rendah, rambut lurusnya yang halus ia biarkan tergerai, Steva bak seorang putri negeri dongeng, jauh berbeda dengan Steva yang kemarin Razz tinggal.
"Bawa aku ke sana, Tan. Tapi tundukkan pandanganmu, jangan menatap pada apa yang menjadi milikku, hanya aku yang boleh melihatnya," perintah Razz pada Tan begitu posesif.
"Baik, Tuan!" Tan menggandeng tangan Razz, sandiwara kembali dimainkan, dan Tan terus menunduk.
[Tak ada yang lebih pedih, dari pada kehilangan dirimu, cintaku tak mungkin beralih, sampai mati hanya cinta padamu!]
"Benarkah itu?"
'DEG.'
"Tring,,,"
"Ah?" Steva terlonjak kaget, ia langsung berdiri membalikkan badan, jari jemarinya sempat menekan beberapa not piano acak saat dia berbalik, setelah suara seorang pria berbisik di ceruk lehernya, bahkan bibirnya menyentuh daun telinganya.
Razz berjongkok di belakang Steva, ia sengaja bergerak perlahan mendekatkan wajahnya dan membisikkan kalimat itu yang sontak membuat Steva terkejut dan terlonjak.
"Tuan?" teriak Steva girang, mata Steva berbinar karena kebahagiaan.
__ADS_1
"Apa kau menyanyikan lagu itu untukku, Stev?"
...****************...