
POV STEVA.
"Hei, bocah! Kau harus mengubah raut wajahmu yang terlihat menyeramkan itu agar nampak lebih manis, kau menakuti gadis kecil Tuan Yohan!" ucap tamu paman Yohan yang mereka panggil Mr.Dory.
"Begini saja sudah tampan!" Malvin berdiri meninggalkan meja makan menuju jendela yang terbuka menghadap halaman belakang, ia menyulut sebatang rokok dan menikmatinya.
'Oh, Tuhan? Kau dengar itu? Bahkan meski kau menghilangkan ingatannya, tapi itu tak merubah jati dirinya, dia masih tetap dengan keangkuhan dan over pedenya, ufffthh.'
"Jadi, gadis cantik milikmu ini baru tinggal di tempat ini?" Tuan Ramon bertanya mengenai diriku pada Paman Yohan.
"Iya, baru dua bulan,"
"Sebelumnya?" tanya Tuan Ramon begitu antusias ingin mengorek tentang diriku, membuatku yang memasukkan sepotong daging terasa serat di tenggorokan karena tidak nyaman.
"Dia tinggal di kota," paman Yohan menjawab santai dan apa adanya, tak ada yang ditutupi, berbeda halnya denganku yang merasa gelisah dan takut tiba-tiba.
'Pamannya Malvin tidak mungkin mengenalku, bukan? Aku bahkan tidak tahu jika Malvin punya paman, dulu kami hanya tinggal berdua di rumahnya dan para pekerja, tidak ada keluarganya sama sekali.'
"Di kota bagian mana?" Kenapa Tuan Ramon masih saja bertanya?
"Dia?" Paman Yohan hendak menjawab pertanyaan dari Tuan Ramon, namun aku menyela cepat.
"Aku menyebut daerah pinggiran tempat ibu dimakamkan."
"Oh, itu cukup jauh dari pusat kota." tanggapan Tuan Ramon, ia telah menyelesaikan makannya, dan mengakhiri dengan menenggak air putih di gelas.
"Hei, kau tidak menyediakan minuman untukku?" tanya Tuan Ramon yang kupahami pasti yang dimaksud adalah minuman beralkohol. Dan paman Yohan tersenyum sambil menepuk pundaknya.
"Tidak ada stok, aku belum punya waktu pergi ke kota, minum saja dulu kopimu." Paman Yohan berdiri dan diikuti oleh Tuan Ramon dan Mr.Dory.
"Anak muda, kami semua akan pergi ke lumbungku yang berada di dalam hutan, apa kau ingin ikut? Atau menunggu saja di sini?" Paman Yohan mengenakan mantelnya yang bibi Elly berikan padanya.
Aku yang membereskan meja makan sesekali melirik pada Malvin yang masih setia berdiri di dekat jendela kayu yang hanya sebatas bawah dadanya itu.
"Aku menyusul nanti saja," jawab Malvin santai, ia kembali menyesap gas nikotin dari batang rokok yang terselip di antara jari tengah dan telunjuknya, tanpa menoleh sedikitpun. Benar-benar angkuh.
"Baiklah, kami pergi dulu," paman Yohan berpamitan pada bibi Elly dan juga padaku, kedua tamunya Tuan Ramon dan Mr.Dory mengikuti langkah Paman Yohan sambil memakai jaket kulit mereka, tak lupa kaca mata hitam mereka bertengger di hidung mancungnya.
"Va, bibi pergi ke rumah paman Oril dulu, ya! Mau nitip solar, solarnya di dalam lumbung tinggal sedikit, takutnya besok habis dan kita tidak punya listrik."
"Oh, iya, Bi."
bibi Elly pun pergi ke rumah salah satu tetangga yang meski rumahnya hanya terpaut 4 rumah tetangga lainnya namun jaraknya sangat jauh karena halaman demi halaman rumah-rumah kayu di sini sangat luas.
Aku mencuci piring-piring kotor dan peralatan makan lain yang tadi kami gunakan. Setelah selesai, aku mengambil sampah di dalam plastik hitam bekas bibi Elly memasak, aku akan membuangnya sekarang ke tempat pembuangan sampah sekalian pergi ke kandang untuk memberi minum para kambing dan domba yang menjadi teman-temanku 2 bulan terakhir ini.
__ADS_1
Aku bersyukur, anakku di dalam perut sangat kuat, penurut dan tak merepotkan sama sekali, hanya setiap pagi merasa mual, tapi tak mengurangi nafsu makan, malah bertambah porsi.
"Ah?" Aku kaget saat berbalik mendapati Malvin yang berdiri di dekat meja makan sambil bersedekap tangan di bawah dada menatapku tajam. Aku berdehem pelan untuk mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba melanda.
"Kau mau kemana?" tanya Malvin sambil melirik ke tas kresek berisi sampah yang berada di tangan kiriku.
"A-a aku mau buang sampah, sekalian mau ke kandang," aku melangkah melewatinya berharap dia akan tetap di situ dan tak mengikutiku, karena aku tak bisa bersikap tenang saat di dekatnya meski sudah kucoba.
"Kandang?" ia mengikuti langkah kakiku.
"Iya, kandang kambing dan domba,"
Kenapa jantungku terus berdebar? Dia hanya mantan, okay, aku merasa bersalah atas apa yang terjadi padanya lalu, tapi sekarang lihat, dia baik-baik saja. Sangat baik malah.
"Kau mau meninggalkan aku sendiri di sini?"
Langkahku terhenti saat Malvin kembali bicara.
"M-me memangnya kenapa?"
Malvin melangkah dan dia berhenti ketika tubuhnya sejajar denganku, menghadap datar ke depan.
"Aku tidak mau di sini sendiri, warga bisa menganggapku orang jahat, dan bisa saja menghajarku, kita tidak pernah tahu bagaimana nasib kita selanjutnya,"
"DEG."
Malvin melangkah terlebih dahulu keluar dari pintu utama, menuruni undakan tangga kayu yang tak begitu tinggi.
"Jadi? Kau mau ikut?" teriakku sambil menutup pintu rumah tanpa menguncinya, kebiasaan di sini.
"Tidak ada pilihan lain, jadi aku terpaksa," beo Malvin sambil menoleh kebelakang menatapku sesaat sebelum akhirnya ia kembali melangkah menuju jalan depan rumah.
"Tapi arahnya bukan kesana? Kau salah jalan!" nadaku terdengar ketus. Aku melipir ke kiri masuk ke dalam lumbung sebelah rumah untuk mengambil sepatu bootku terlebih dulu, dan aku memakainya sebelum pergi.
"Khem, bagaimana aku tahu kemana arah jalannya? Ini tempat asing untukku," tetap dengan raut keangkuhannya.
'Dasar, tidak berubah sama sekali, kalau tidak tahu ya jangan sok tahu.'
Aku menghentakkan kakiku karena kesal saat melangkahkan kaki untuk pijakan yang pertama. Dan Malvin mengekor dengan santai di belakangku.
Kami melewati jalan setapak masuk ke dalam hutan, pohon-pohon rindang menjadi pemandangan kami sepanjang kanan dan kiri jalan, angin sepoi, dan hawa yang sejuk namun hangat, karena mentari di atas sana bertengger dengan gagah, mungkin sekitar pukul 2 siang.
"Tempat ini masih sangat asri, semuanya alami, jarang sekali kutemukan di kota," celoteh Malvin yang membuatku merasa semakin kesal.
'Bocah TK juga tahu itu, dasar pria bodoh.' umpatku dalam hati.
__ADS_1
"Aku tidak bisa membayangkan, hidup di tengah hutan tanpa aliran listrik dan juga tanpa internet,"
Malvin masih mengoceh dan aku memilih diam.
"Tapi, kurasa aku akan betah, jika ditemani gadis-gadis desa yang_" Malvin terus bicara padaku, atau lebih tepatnya bicara seorang diri karena aku yang tak menanggapi.
'Oh Tuhan? Aku sudah salah menilainya, kupikir dia telah berubah menjadi dingin dan pendiam, tapi nyatanya? Ufffhh,,,, sama saja. Hanya wanita, wanita, dan wanita yang ada di pikirannya.'
"Nona Eva? Nona Eva? Nona Eva?"
"Aaahh?" Malvin berteriak di sampingku dan menghentikan langkah kami, karena sedari tadi aku tenggelam dalam pikiranku sendiri dan tak menanggapinya yang sedang mengoceh.
"Kau mendengarku?"
"A-a apa?"
"Iiisshh,,, kau ini, cantik, tapi bodoh sekali," gerutunya sambil kembali melangkah di depan dan meninggalkanku.
'Apa dia bilang? Bahkan dia masih mengataiku, bodoh. Dasar maniak s.e.k.s'
"Jadi, kau mengakui kalau aku cantik?"
"Kapan aku mengatakannya?"
"Tadi, barusan, kau mengatakan kalau aku cantik,"
"Iih, maksa. Pengen banget dibilang cantik, aku tidak merasa mengatakannya!" Malvin mengendikkan bahu, merapikan posisi kaca matanya, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulit yang ia pakai, dan melangkah terlebih dulu mendahuluiku.
"Hei, kau sok-sok an berjalan di depan, memangnya kau tahu jalannya kemana?" sungguh aku geram dengan sikap angkuhnya ini sejak dulu.
"Setidaknya ini hanya ada jalan setapak, jadi aku tidak mungkin salah jalan, ibarat hanya punya satu pasangan, tidak akan membuat kesalahan, tapi kalau nanti menemui jalan bercabang, kubiarkan kau yang lewat dulu, mungkin kau adalah ahli mencanangkan hati,"
'Apa yang dibicarakan? Setelah kecelakaan ternyata dia malah semakin cerewet.'
Aku tidak mau merasa kalah, setidaknya ini adalah tempatku, dan dia hanyalah tamu, aku berjalan mendahului dan tak kuhiraukan meski tadi aku sempat menabrak bahunya, atau memang aku sengaja, ah, sudahlah, dia memang pantas menerima itu.
Kami terus berjalan dan Malvin masih mengoceh memberi komentar pada apa saja di sekeliling yang ia lihat atau temukan. Sudah sepeti yutuber alam saja.
Kami sudah keluar dari jalan setapak yang kanan kiri pohon-pohon hutan yang lebat, dan menjumpai hamparan rumput, di depan sana ada danau alami yang cantik, dan di dekat sana adalah kandang ternak milik paman Yohan. Tempat tujuanku.
"Aku masih merasa kalau kau sebenarnya mengenalku, apa aku benar?"
"DEG."
Langkah kakiku terhenti seketika.
__ADS_1
...****************...