
"Jadi? Dia seorang janda? Gadis semuda itu?" Tuan Ramon begitu kaget mendengar pernyataan paman Yohan.
"Iya, suaminya menceraikannya, dan dia sedang hamil 3 bulan, tapi dia bilang jika suaminya tidak tahu dirinya hamil, dia tak mau dipoligami." Tuan Yohan meneruskan ceritanya sambil mengangkat potongan kayu ke atas pundaknya dibantu Mr.Dori. Lantas Paman Yohan membawanya masuk untuk disimpan ke dalam lumbung sebelum esok hari akan diangkut oleh orang-orang dari Tuan Ramon.
"Yah, begitulah takdir, kita tidak pernah tahu bagaimana nasib hidup kita selanjutnya," Tuan Ramon membantu menyeret ranting untuk disingkirkan.
"Kau sendiri? Baru kali ini kau membawa keponakanmu yang tampan itu, aku pun tidak tahu kalau kau mempunyai keponakan," kini giliran Paman Yohan yang menanyakan tentang Malvin pada Tuan Ramon, rekan bisnisnya yang juga sudah menjadi sahabatnya.
"Haaahh,,, mau dimulai dari mana? Ceritanya sangat panjang," Paman Ramon menghembuskan napas kasar sambil berkacak pinggang.
"Aku masih punya waktu," jawab paman Yohan.
Tuan Ramon duduk pada potongan kayu, ia lantas mengeluarkan rokok dari saku jaket kulitnya, mengambil sebatang dan menyulutnya, menikmati sambil menerawang lurus ke depan, seakan kejadian yang akan diceritakan itu berada di hadapannya.
"Dia baru kembali ke tengah keluarga, dulu dia memisahkan diri," Tuan Ramon terlihat sangat serius, dan paman Yohan tertarik untuk mendengarkan, ia menuang air minum, menenggaknya, lalu ikut duduk pada potongan kayu yang lain. Mr.Dori duduk di sampingnya, lalu menawari rokok.
"Aku sudah tidak merokok, Elly melarangku," tolak Paman Yohan pada Mr.Dori.
"Orang tuanya bercerai saat dia masih kecil, keduanya sudah memiliki pasangan lain, dan Malvin memilih tinggal seorang diri waktu kecil, dia membenci keluarganya, semuanya, ayahnya, ibunya, huffttt,,,, bahkan juga aku. Dia membenci pernikahan dan benci dilahirkan, karena setelah orang tua bercerai, anaklah yang menjadi korban, dia benar-benar memisahkan diri dari keluarga."
Tuan Ramon memijit pelipisnya sebentar, ia terbawa suasana.
"Beberapa bulan yang lalu, ia mengalami penyerangan, sungguh mengenaskan, luka yang ia dapat luar biasa, dia hilang ingatan, jantungnya bahkan rusak, dan dia menjalani transplantasi jantung. Kami semua sangat sedih, tapi ada hikmahnya juga, dia bisa kembali ke tengah-tengah keluarga yang sedari dulu dibencinya, bahkan dia sangat dekat denganku sekarang," Tuan Ramon tersenyum getir di akhir kalimat.
"Yah, begitulah takdir. Kita bermain atau sedang dipermainkan," balas Paman Yohan.
"Haah,,, ini sudah sangat sore. Lebih baik kita pulang sekarang," Tuan Ramon berdiri, dan diikuti Mr.Dori asistennya dan juga Paman Yohan.
Mereka masih saling tukar cerita saat perjalanan pulang ke rumah kayu paman Yohan.
"Eva kami juga tidak kalah menderitanya, dia disiksa ayahnya sendiri sejak kecil, dan harus berjuang begitu kerasa saat awal bulan berada di sini, saat datang kondisinya sangat memprihatinkan, kakinya terbalut perban karena luka, wajah dan penampilannya kacau, ia tak membawa apa-apa selain baju yang menempel di tubuhnya, dan memakai sebuah jas, dia hidup seperti mayat hidup selama satu bulan awal di sini, bibinya Elly sangat berperan untuk mengembalikan semangat hidupnya, apalagi dengan adanya calon si kecil di perutnya, Eva ku yang malang."
"*Byuurrr*,,,,"
Karena kaget dengan kedatangan Malvin yang tiba-tiba jongkok di sampingnya, Steva mencengkeram jaket Malvin dan mereka tercebur ke dalam danau berdua karena Steva terpeleset.
"Haahh,,, haahh!" Steva terengah, ia mendongakkan kepalanya ke atas mencari udara, tangannya tak melepas cengkramannya dari jaket Malvin.
Sedangkan Malvin. Ia mengusap wajahnya kasar menyisir rambutnya ke belakang dengan jari.
"Dasar gadis bodoh, apa yang kau lakukan?" bentak Malvin marah.
__ADS_1
"Singkirkan tanganmu!" teriak Malvin sambil menepis kasar tangan Steva yang masih mencengkeram jaketnya.
"Jangan? Aku takut, aku tidak bisa berenang," teriak Steva panik, ia kembali mencengkeram jaket Malvin.
"Kau ini benar-benar gadis bodoh. Kau tidak akan tenggelam, kita hanya sedang di pinggir danau, bukan di tengah lautan." sentak Malvin kembali menepis tangan Steva, dan dia berjalan keluar dari danau, seluruh tubuhnya basah kuyup.
Steva pun mengikuti langkah Malvin, ia berjalan keluar dari danau dalam keadaan basah kuyup.
'*Oh, sh.i.t.t*!'
Kaos Steva yang basah mencetak lekukan tubuhnya sempurna, dadanya yang besar membusung, dan bahkan perut rampingnya, kaosnya berbahan tipis, sehingga pusar Steva samar-samar terlihat.
'*God Dam.n! Apa-apaan ini*?'
Steva menutup bagian depannya dengan menyilangkan tangan, ia juga merasa kedinginan.
Malvin mengerjap dan menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan cepat, menyadarkan diri sendiri.
'*Aah,,, tidak tidak tidak tidak*.'
Malvin melepas jaket kulit yang ia pakai, lantas memberikannya pada Steva tanpa meliriknya, Malvin menatap ke arah lain, hanya tangannya yang terulur memberikan jaket. Dan Steva menerimanya lalu lekas memakainya.
"M-ma maaf, aku tidak sengaja,"lirih Eva setelah selesai memakai jaket Malvin.
"Kau terlalu banyak minta maaf, dan kau sangat menyusahkan!" sentak Malvin. '*Menyusahkan jantungku yang terus berdebar*.' lanjut Malvin dalam hati.
__ADS_1
"Dasar gadis bodoh." umpat Malvin sambil melangkah pergi.
Steva membulatkan mata, Malvin terus saja mengumpatnya sebagai gadis bodoh, dan Steva tidak terima.
"Siapa yang kau bilang bodoh? Bukan aku yang salah! Tapi kau, kau, kau, kau, kau?" Steva mengejar Malvin, setelah berada di hadapannya, ia menunjuk dada Malvin mendorongnya dengan jari telunjuk.
"**DEG**."
Malvin menangkap pergelangan tangan Steve yang terus menunjuknya, sorot matanya tajam dan menghunus. Mata elang itu seakan menelisik, mengamati setiap aksen dari seluruh wajah Steva, mulai kening, alis, mata, hidung, pipi, dan bibir, Malvin menatap lekat bibir itu, ia begitu ingin merasakannya, lebih dari itu, Malvin seperti merasa rindu, Rindu? Rindu pada bibir yang baru pertama kali ia temui?
'*Gkek*,' Steva menelan saliva susah payah, Malvin menarik tangannya mempererat genggamannya, hingga tubuh keduanya menempel sempurna.
Jantung keduanya berdegup kencang tak beraturan saling sahut menyahut, dan Steva gugup.
"A-a apa yang kau lakukan? L-le lepaskan aku!" Steva mencoba membuka tangan Malvin yang mencengkeram pergelangan tangannya, namun nihil, Malvin mencengkeramnya sangat kuat.
"Siapa kau sebenarnya?" lirih Malvin dengan mata berkaca-kaca. Steva berhenti bergerak dan mendongak, melihat Malvin yang menatapnya lekat-lekat.
"Jika kau memang mengenalku, tolong katakan dengan jujur, aku tak mengingat apapun tentang diriku, tapi saat aku melihatmu,"
"Eva?"
Suara paman Yohan yang berteriak memanggil Steva sontak membuyarkan adegan Malvin dan Steva. Malvin lekas melepas tangannya, dan Steva mencoba tenang.
"Kalian kenapa basah?" celoteh Mr. Dori diiringi senyum seringai.
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...