GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
TERTANGKAP


__ADS_3

"Tuan?" teriak Steva mendorong keras dada bidang Razz yang dengan sengaja merengkuh tubuh rampingnya, Steva kesal tentu saja, tapi Razz justru terkekeh dengan entengnya.


"Dasar Tuan bayi besar yang me.sum!" umpat Steva sembari melotot dengan nada ngedumel, namun Razz masih juga tertawa.


"Aah, sshh?" Steva tiba-tiba memegangi perutnya yang terasa nyeri.


"Stev?" Razz merasa khawatir.


"Kau kenapa?" tanya Razz yang menatap kosong ke arah depan, dahinya mengernyit. Steva tiba-tiba kesakitan, apa pelukannya tadi terlalu erat? Hingga membuat Steva salah urat? Ah, yang benar saja.


Steva membulatkan mata, merasakan cairan hangat yang membasahi celana segi tiganya.


"Em? Tuan? Saya permisi ijin memakai kamar mandi anda sebentar!" teriak Steva berhambur masuk ke dalam kamar mandi Razz meski belum mendapat persetujuan dari sang empu.


Razz semakin bingung, cemas lebih tepatnya.


"Ada apa dengannya?"


Steva membuka celana segi tiganya, dan benar saja, setitik noda merah mengotori kain tipis itu.


"Aaahh,,, aku datang bulan!"


Steva keluar dari kamar mandi dengan wajah super bingung, bagaimana cara meminta ijin keluar dari sang Tuan bayi besarnya ini.


"Stev? Ada apa?" Razz kembali bertanya setelah pertanyaan pertamanya tadi tidak mendapat jawaban.


"Tuan? S-sa saya,,,, saya ijin keluar sebentar, ya?"


"Mau kemana?" Razz duduk santai di tepian ranjang, meski mata itu selalu menatap datar lurus ke depan tanpa melihat langsung Steva, Razz masih bisa melihat dengan gamblang bagaimana gerak-gerik dan raut muka Steva.


"S-sa saya,,, saya mau ke mini market, mau beli roti," jawab Steva yang bermaksud membeli pembalut.


"Roti? Kamu belum sarapan? Ya udah sarapan di rumah saja, ngapain beli roti ke mini market? Nggak sehat!" seloroh Razz tak memberikannya ijin.


"Bukan, Tuan? Bukan itu,"


"Lantas apa?" teriak Razz mulai tak sabar.


"Roti yang saya maksud itu?" Kalimat Steva terjeda, tabuh nggak sih kalo ngomongin hal pribadi seperti itu pada laki-laki lain?


"Stev?" Razz mulai terlihat kesal.


"Pembalut!" cicit Steva lemah, dan Razz seketika terpingkal.

__ADS_1


"Iiiih,,, tuh kan diketawain, lagian apanya yang lucu?"


"Dasar gadis bodoh, mau bilang beli pembalut saja malu-malu meong,"


Steva tersenyum cengir kuda, menampakkan deretan giginya yang bersih dan rapi.


"Em? Tuan?"


"Hemm?"


"Bolehkah saya meminta sedikit saja gaji saya, paling tidak untuk dua hari ini, saya tidak punya uang sama sekali," lirih Steva menunduk menahan rasa malu, tapi mau bagaimana lagi, saat ini dia benar-benar membutuhkan uang. Dan Steva lebih memilih menepis rasa malu itu.


"Apa?" jelas Razz merasa sangat kaget, mendengar seseorang yang bisa hidup tanpa memegang uang sama sekali.


Steva semakin menunduk, Razz tahu dia menangis tapi tak mengeluarkan suaranya, dia tahunya Razz buta, dan Steva lekas mengusap air matanya menarik nafas dalam menghembuskannya pelan. Pasti dadanya terasa sangat sesak.


'Sebenarnya siapa gadis ini? Dia memiliki ponsel mahal, tapi uang tidak punya. Tan juga tidak memberikanku informasi yang jelas, akan kuhajar dia nanti.'


"Baiklah, aku juga ingin keluar rumah, kau pergi sekalian bersamaku, aku mau sarapan di luar saja."


Steva mendongak. Razz sudah berdiri dan melangkah, ia pun lekas menyusul.


'Klek.' pintu terbuka. Tan sudah berdiri di depan pintu.


"Antar aku ke mini market," seru Razz.


"Baik, Tuan?" Pak Tan menggandeng tangan Tuan bayi besar membawanya jalan beriringan.


'Kasihan Pak Tan, Bosnya adalah pria buta, pasti dia tidak pernah mempunyai hari libur karena selalu mengurusnya.'


Mereka masuk ke dalam mobil Razz berwarna hitam yang akan dikendarai oleh Pak Tan, Razz dan Steva duduk bersebelahan di jok penumpang di belakang Pak Tan.


'Brrrremm....' mobil melaju.


"Apa itu akan tembus?" tanya Razz mengagetkan Steva yang terdiam dalam lamunan.


"Aah? Tidak, tidak, Tuan. Ini baru keluar sedikit!" jawab Steva lantang. Harusnya dia merasa malu membahas hal ini, namun Steva berpikir jika Tuan bayi besarnya itu menanyakan hal itu karena takut Steva akan mengotori jok mobilnya, sebab itu Steva dengan lantang menjawab jika itu tidak akan tembus, padahal Razz menanyakannya karena dia berpikir Steva akan merasa malu nanti ketika masuk ke dalam mini market jika punyanya sampai tembus.


Tan memarkir mobil, lalu membukakan pintu untuk Tuan Razz, Steva tentu saja keluar dari mobil dengan mandiri.


"Gandeng lenganku!" seloroh Razz yang membuat Steva membulatkan mata seketika.


"Tuan?"

__ADS_1


"Hei, apa yang kau pikirkan? Aku ini buta, kau mau aku menabrak apa saja, lalu jatuh dan jadi tontonan, hah?" Bentak Razz yang membuat nyali Steva seketika menciut.


"I-i iya, Tuan!" jawab Steva lekas menggandeng lengan sang Tuan bayi besar.


Mereka lantas masuk ke dalam mini market bersama, beberapa pasang mata melihat pemandangan yang begitu romantis, banyak diantara mereka yang mengira bahwa Razz dan Steva adalah pasangan suami istri, ada yang merasa jika mereka pasangan romantis seperti dongeng si cantik dan si buruk rupa, tapi tak jarang pula yang mengira jika Steva bersedia menjadi istrinya pasti karena sang pria adalah orang yang kaya raya, apalagi kalau bukan karena harta, sedangkan wajah si pria saja hancur dan menyeramkan.


Steva dan Razz terus berjalan bergandengan, melewati rak demi rak yang berjejer rapi berisi produk-produk sembarang semua ada.


Steva telah usai mengambil beberapa pembalut dengan merek kesukaannya, lebih tipis namun memiliki daya serap tinggi, dan lebih panjang hingga tidak takut tembus.


"Kau boleh ambil apa saja yang kau inginkan." Tukas Razz yang membuat Steva tentu merasa senang.


"Terimakasih, Tuan!" jawab Steva diiringi tawa kecil yang ceria. Dan dia mulai memasukkan barang-barang kebutuhan seperti sabun mandi, sampo, sabun cuci, deodorant, krim pelembab wajah, hand body, dan dia juga mengambil beberapa setel pakaian dalam untuknya. Steva juga mengambil beberapa barang lain untuk ia berikan pada Asha.


Hampir satu jam mereka belanja, lebih tepatnya Steva yang belanja, Razz hanya meminta Steva untuk mengambilkannya minuman dingin saja.


Saat di kasir, Razz mengeluarkan kartu dan dia menggerakkan jarinya pada keyboard angka mesin mini gesek itu.


Steva terus saja memperhatikannya.


'Luar biasa, dia buta, tapi bisa melakukannya.'


"Terimakasih, Tuan, Nona! Selamat datang kembali!" ucap mbak kasir ramah setelah mereka selesai membayar.


Tan bergerak cepat menyambut kedatangan sang Tuan. Saat di pelataran depan mini market itu, sepasang mata telah melihat Steva begitu tajam, hingga Steva memasuki mobil Razz dan Tan melajukannya.


"Steva?" lirih Malvin.


Malvin yang hendak masuk ke mini market itu pun mengurungkan niatnya, ia lekas masuk kembali ke dalam mobil mengejar mobil yang membawa Steva.


"Kau tidak bisa pergi lagi, Stev. Kau adalah milikku, hanya milikku, Malvin Narandra."


'Brrremm!' Malvin menginjak gas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengikuti laju mobil hitam milik Razz yang Tan kendarai. Hingga mobil hitam yang diamati oleh Malvin itu berhenti di tepian badan jalan depan sebuah cafe yang menyajikan ruang out door, di sanalah Razz dan Steva akan bersarapan.


Razz duduk di kursi yang Tan tarik sedikit mundur ke belakang, lalu Steva duduk di sampingnya, Tan berdiri sedikit mundur dari mereka.


'Brak!' Malvin membanting pintu mobil dan berjalan cepat menuju Steva.


"Steva?" teriak Malvin mencengkeram kuat tangan Stev.


"Malvin?" teriak Steva kaget dan sontak berdiri.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2