GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
ENTAHLAH


__ADS_3

"Aku tidak akan memaksamu, tapi jangan memintaku untuk menyerah, karena aku akan terus berusaha tuk bisa mendapatkan hatimu dan bersama denganmu,"


Steva menunduk saat Malvin mengatakan kalimat yang sungguh membuat hatinya bergetar, ia membiarkan tangisnya membanjir, setelah merasa lebih tenang, Steva mengusap wajah yang basah, lalu mendongak.


"Aku tidak bisa, Malvin, cerita di antara kita adalah masa lalu, dan semuanya sudah cukup, tolong mengertilah." Steva mendorong tubuh Malvin pelan, Malvin tak mengungkung dirinya, jadi Steva bisa berjalan meninggalkan Malvin, namun Malvin tak menyerah, ia kembali mengikuti langkah Steva.


"Beri aku alasan yang masuk akal, kenapa kau tetap menolakku, sudah kukatakan aku mencintaimu, kau sekarang hidup seorang diri, dan kau sedang hamil, biarkan aku ada diantara kalian sebagai pelengkap hidup kalian. Aku akan menerima anakmu sebagai anakku sendiri, aku akan menyayanginya seperti anakku sendiri, Eva?"


Malvin menghadang jalan Steva, karena sejak tadi, Steva hanya diam tak menanggapi dan terkesan mengabaikan bahkan tak mendengarkan setiap yang Malvin ucapkan. Dan Steva terpaksa kembali berhenti.


"Kau mau tahu kenapa?"


"Yah, katakan padaku, setidaknya aku bisa melepasmu dengan tenang jika alasanmu bisa kuterima dan itu memang yang terbaik untukmu, kau tahu? Kau sangat menyulitkan jantungku," Malvin dan Steva saling menatap tajam. Cukup lama mereka saling diam, dan hanya suara-suara gesekan daun dan ranting pohon yang terkenal terpaan angin yang terdengar, juga suara burung serta domba yang mengembek.


"Karena aku masih MENCINTAI mantan suamiku, kau tahu? Meski kau berada di sampingku dan dia berada jauh dariku, aku selalu merasakan kehadirannya, dan meski aku sudah mencoba mengingat perbuatan buruk dan juga kesalahannya, tapi tetap saja aku merindukannya dan aku menginginkannya," Steva berapi-api saat mengatakan itu pada Malvin, ia memejamkan mata membiarkan buliran bening kembali membasahi pipinya.


"Jadi berhentilah berharap pada orang yang tak selesai dengan masa lalunya, karena kita hanya akan saking menyakiti," bukan tanpa alasan Steva mengatakan itu, karena dia sendiri adalah korban dari Razz yang ia anggap tak selesai dengan Liora sebagai masa lalu suaminya, Steva kembali melangkah, dan Malvin tak menyerah.


"Kau bodoh, Eva. Kau masih mencintai dan berharap pada pria yang jelas-jelas mengkhianatimu, pada pria yang menceraikanmu demi menikahi wanita lain, pada pria yang menyakitimu, apa kau sebodoh itu, Eva? Hingga kau masih menginginkan untuk kembali bersamanya?" teriak Malvin emosi. Ia merasa tersaingi dengan alasan tak masuk akal.


"Iya, aku memang bodoh, aku sangat bodoh, karena memang begitulah orang yang jatuh cinta, rasanya tak berubah meski telah disia-sia dan tersiksa." balas Eva mantap. Membuat Malvin bungkam.


Malvin meraih tangan Steva, mengangkatnya lalu ia daratkan tangan Steva pada dada kirinya yang berdetak sangat cepat, Steva bingung tapi ia tak melawan, karena saat Malvin menyentuhkan tangannya ke dada kirinya, Steva pun merasa sangat senang. Entahlah, Steva tidak tahu tapi dia memang selalu merasa ingin menyentuh dada itu.


'Glek.'


Malvin menelan ludah susah payah sebelum ia buka suara.


"Apa kau mau menerimaku dengan jantung ini, Eva?"


"A-a apa maksudmu?"


"Kau bisa merasakan detaknya?"


Steva mengangguk gugup, ia menyentuh dada kiri Malvin dan memandanginya begitu dalam, degup itu sungguh menyenangkan hatinya.


"Kalau begitu, terimalah diriku, dan kau masih bisa dekat dengan orang yang kau cintai, Eva, aku akan meredam sakit hatiku karena kau menerimaku demi jantung ini, tidak masalah, aku akan terima itu."


Steva mendongak, ia mulai takut mendengar kalimat yang akan Malvin ucapkan selanjutnya, netranya nanar, tangannya gemetar, dahinya mengernyit meminta penjelasan.


"Jantung yang tertanam di dalam tubuhku ini adalah jantung Tuan Fabio Cannavaro Razolla, mantan suamimu."

__ADS_1


"DEG.!


Sontak Steva menarik tangannya yang menyentuh dada Malvin dengan cepat, ia mundur dan menggeleng.


"J-ja jangan membuat lelucon, Malvin." suara Steva bergetar, ia tak ingin memikirkan kemungkinan-kemungkinan, tapi bayangan jika Razz sudah tiada membuat Steva ingin menggila.


"Aku tidak berbohong, Eva. Aku membawa semua buktinya,"


"KENAPA KAU LAKUKAN ITU, MALVIN?" Steva kehilangan kendali, ia begitu marah dan emosi, Steva maju mencengkeram kaos Malvin dengan kasar dan menatap begitu tajam mata Malvin dengan netra yang menghunus bagai sebuah pedang.


"Apa salahku? Aku tidak tahu apapun, dalam berkas itu dinyatakan jika Tuan Fabio telah mendonorkan jantungnya dengan suka rela untukku, tanpa adanya pemaksaan,"


"Plak!" Steva tak bisa menahan diri, dengan kesadaran penuh ia menampar pipi Malvin kasar. Malvin tak bergeming, wajahnya sampai menoleh saking kerasnya tamparan Steva, dan Malvin menyentuh pipinya yang terasa panas.


"Apa yang kau lakukan, Malvin? Kau membunuhnya? Apa kau membunuh ayah dari anakku? Huh? Hiks hiks hiks, katakan, bangsat!" Steva kembali mencengkeram kaos Malvin, dan Malvin membiarkannya, sikapnya menunjukkan jika dirinya bukanlah Malvin yang dulu, yang angkuh dan ingin menang sendiri mempertahankan keegoisannya, tapi sikapnya ini lebih seperti Razz yang akan membiarkan Steva marah dan meluapkan emosi sampai dia redam, Malvin bahkan begitu ingin mendekap Steva dan menyalurkan hasratnya, tapi ia masih dapat mengendalikan diri.


"Aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang, Paman Ramon tak bisa mencari jejaknya. Aku tidak tahu apa dia masih hidup, atau sudah mati,"


Steva bergeming, dadanya berdebar tak beraturan.


"Apa kau ingin aku mencari tahu keberadaannya, Eva? Tapi bukankah dia sudah memilki istri lagi, wanita lain, dan kau telah diceraikannya? Apa kau ingin datang dan mengemis cinta padanya?"


Steva menatap nanar Malvin yang mengatakan kalimat yang begitu sangat menampar dirinya.


Kepala Eva serasa berputar, tubuhnya gemetar dan pandanganya mulai kabur tidak jelas, hingga semua menggelap dan Steva ambruk, ini adalah pertama kalinya Steva pingsan.


"Brugh!"


"Eva?"



Steva mulai bangun setelah Paman Yohan merawatnya, ia meminum air yang paman Yohan berikan.



"Kau istirahatlah dulu, sudah paman katakan kau jangan terlalu lelah, kau ini sedang mengandung, untung tadi ada Tuan Malvin yang melihatmu, jadi dia bisa menolongmu dan membawamu pulang, sekarang istirahatlah, dan jangan bekerja selama beberapa hari, paman masih kuat dan mampu melakukan semuanya,"



Malvin dan Tuan Ramon yang berdiri tak jauh dari ranjang Steva hanya diam melihat interaksi paman dan keponakan itu, Steva menoleh sekilas pada Malvin dan dia kembali memalingkan pandangan lalu berbaring, paman Yohan membenarkan selimutnya.

__ADS_1



"Tidurlah, paman tinggal dulu biar kamu bisa istirahat dengan baik,"



Steva mengangguk.



"Ayo," paman Yohan membawa Malvin dan Tuan Ramon untuk keluar dari kamar Steva, membiarkan wanita itu untuk mengistirahatkan diri.



"Apa kau ingin aku mencari tahu keberadaannya, Eva? Tapi bukankah dia sudah memilki istri lagi, wanita lain, dan kau telah diceraikannya? Apa kau ingin datang dan mengemis cinta padanya?"


Kalimat yang Malvin teriakkan pada Steva terus terngiang sebelum akhirnya Steva tumbang jatuh pingsan. Steva tidak tahu kenapa, apa memang karena dia begitu bodoh sehingga masih memikirkan Razz dengan segala fakta yang Razz lakukan telah menyakiti dirinya?


"Razz? Kenapa aku tidak bisa melupakanmu?"




Di kota. Tan dan orang-orangnya tengah bersiap, ia akan pergi ke desa di mana Steva saat ini berada, yah, keberadaan Steva telah diketahui. Bukan dari orang-orang yang Tan minta untuk melacak dan mencari, namun pertemuan tidak sengajanya dengan Pak Samith di rumah sakit saat Nyonya Amora meraung di koridor Rumah Sakit meminta Tan segera menemukan Steva, keadaan Razz semakin kritis, bahkan Dokter tak mengira jika Razz bisa bertahan sampai saat ini, dan Pak Samith tidak sengaja mendengar obrolan mereka semua, yang akhirnya membuat Pak Samith mengatakan keberadaan Steva, pria tua itu tidak tega setelah melihat kondisi dan keadaan Razz.



"*Jadi, ini semua adalah perbuatan Tuan Bachtiar*?" Pak Samith tidak menyangka ayah dari Tuannya itu bisa berbuat senekat itu, yah, meskipun itu semua demi Malvin putra satu-satunya, tapi Pak Samith tetap merasa jika itu sudah sangat keterlaluan.



"*Malvin juga pergi ke sana kemarin, dia juga berniat memperjuangkan Nona Steva, tempatnya cukup jauh, butuh 10 jam untuk mencapai titik tempat dengan perjalanan melalui darat*," ujar Pak Samith siang itu.



"*Terimakasih, Pak Samith, kami akan selalu mengenang kebaikan anda, saya akan menempuh perjalanan melalui udara, dengan helikopter*.



Setidaknya 3 heli telah terbang menuju tempat yang Pak Samith katakan, salah satu penumpangnya adalah Nyonya Amora, dia harus turun tangan sendiri dan memastikan jika Steva bersedia datang, dia juga harus menjelaskan semuanya, jika Razz tidaklah bersalah, agar Steva tak menyisakan kebencian dalam hatinya untuk Razz.

__ADS_1



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...


__ADS_2