GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
Aaiisshh,,,,


__ADS_3

Kebingungan mendera Razz, hatinya bercabang, nyatanya ia tak bisa setia pada Liora, Razz menduakan perasaannya pada Steva.


"Tan?"


"Iya, Tuan?"


"Apa kau sudah menyiapkan barang yang aku minta?"


"Sudah, Tuan!"


"Di mana?"


"Di dalam tas anda."


Razz meraih tas yang tergeletak di jok sebelahnya, tas miliknya yang setiap harinya Tan yang justru menentengnya.


Sebuah ponsel, Razz mengangguk kala memegang kotak berisi benda pipih yang masih baru itu. Razz akan memberikannya pada Steva, istrinya itu cukup aneh, meski Razz memberikannya beberapa kartu, Steva hampir tak pernah menggunakannya, termasuk untuk belanja onlin maupun membeli ponsel yang sangat dibutuhkan seluruh umat di dunia.


Steva hanya menggunakan kartu itu saat ia meminjamkannya kemarin pada Asha yang digunakan untuk membantu biaya pengobatan anak Afnan yang dirawat di Rumah Sakit, dan hanya lima juta rupiah saja, nilai yang sangat kecil menurut Razz.


Mobil memasuki pelataran rumah besar Razz yang dominan dengan warna gelap, black and grey. Namun tetap nampak elegan dan mewah.


Steva memiliki kebiasaan baru menghabiskan waktu di rumah, ia begitu senang memainkan alat musik yang sudah berusia tua itu, sebuah benda yang juga menjadi kesayangan Razz.


Razz memasuki rumah bersama Tan, dan dia mendapati istrinya tengah memainkan piano dengan nada yang indah dan bernyanyi dengan suara yang merdu. Hanya saja lagu yang dinyanyikan Steva liriknya salah menurut Razz.


"Dia berbakat, tapi nasibnya tidak begitu baik." celoteh Razz yang mendapatkan anggukan sekali dari Tan yang kaku.


[Teruslah sembunyikan aku, sampai kau lupa punya aku, teruslah sembunyikan kita, sampai kau kehilangan aku.]


Sebait lagu yang Steva nyanyikan membuat jantung Razz berdegup kencang, ada rasa sakit dalam lirik lagu yang Steva bawakan.


"Apa dia sedang menyindirku?" Razz melangkah cepat menuju Steva yang duduk di depan piano.


[Lama-lama kuragu pada dirimu~]


"Tring,,,," Razz menekan beberapa not dengan jemarinya membuat Steva tersentak.


"Aaahh? Tuan?" Steva kaget dengan kehadiran Razz yang tiba-tiba, lebih cepat dari seharusnya, apalagi melihat raut wajahnya yang terlihat marah.


"T-tu tuan?" Steva sontak berdiri dan gugup.


"Kenapa menyanyikan lagu seperti itu? Apa kau menyanyikan itu untuk mengungkapkan isi hatimu? Hem?"

__ADS_1


Steva terdiam, lebih gugup, kakinya bahkan reflek mundur kecil dan Razz maju.


"Kenapa diam? Jawab! Apa kau menyindirku?" Razz terlihat marah, meski matanya terus menatap lurus ke depan tanpa melihat Steva, tapi Steva tetap merasa takut, memang benar apa yang dikatakan Razz, Steva menyanyikan lagu itu untuk mengungkapkan isi hatinya karena Razz tak kunjung memperkenalkannya pada Mamah dan Papahnya. Tapi sungguh tak ada niatan untuk menyindir, jika Steva tahu Razz ada di sana, dia pasti akan memilih diam dan tak bernyanyi yang dapat menyinggung perasaannya.


"M-ma maaf, Tuan! Bukan seperti itu," jawab Steva terbata, ia takut Razz sampai marah pada dirinya, meski mereka sudah bermain pemanasan di atas ranjang, nyatanya Razz terlampau jauh untuk bisa Steva jangkau.


"Huuufftt,,,," Razz menghembuskan napas kasar.


"Sudahlah, ini untukmu, di dalam sudah tersimpan nomorku, kau bisa menghubungiku jika kau mau, karena aku mungkin akan lama di sana!" Razz memberikan ponsel yang sudah Tan siapkan pada Steva. Dan Steva menerimanya ragu.


"Aku berangkat sore nanti, sekarang?" Razz berhenti bicara. Ia pulang karena ingin bersama Steva, tapi setelah mendengar lagu yang Steva bawakan, moodnya rusak, dan dia ingin memberi pelajaran pada Steva.


"Sekarang aku mau tidur, dan jangan menggangguku!" seloroh Razz ketus, lalu ia berjalan menjauh dari sana, Tan menyambut tangannya menggandeng sang Tuan besar menuju lantai atas untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Apa dia menangis, Tan?" tanya Razz berbisik, meminta Tan untuk melihat keadaan Steva.


"Saya tidak bisa memastikan, Tuan, Steva?"


"Nyonya!"


Cuitan Tan terhenti kala Razz mengoreksi cara memanggil Tan pada Steva dengan benar.


"Iya, Tuan. Maaf, Nyonya Steva hanya menunduk, saya tidak bisa melihat wajahnya. Dia kembali duduk dan menghadap piano," jawab Tan.


"Haaahh,,, salah sendiri, nyanyi lagu buat nyindir orang." Razz masuk ke dalam kamarnya, dan setelah pintu itu tertutup, Tan menggelangkan kepalanya, membuang napas kasar.



Steva memainkan ponsel barunya di dalam kamar, ia teringat dulu Malvin yang mendatangkan langsung pemilik perusahaan untuk menawarkan produk terbaiknya yang diinginkan Steva. Dan Steva tersenyum hambar.



Terkadang ia merasa ada kemiripan di antara keduanya, tapi tidak juga. Paling tidak, Razz hanya belum mengakui dirinya pada keluarganya, tapi Razz tidak pernah bermain wanita seperti yang Malvin lakukan, suatu kesalahan yang sangat sulit untuk bisa Steva maafkan, perselingkuhan. Dan Steva yang lembut dan penurut seketika akan berubah menjadi Steva yang kuat, tegar dan membangkang saat itu terjadi seperti kemarin terhadap Malvin.



Sedangkan kemarahan Razz tadi padanya, Steva anggap wajar, dan tak begitu memikirkannya, jika nanti ada kesempatan, dia akan meminta maaf, dia memang bersalah.



Razz uring-uringan sendiri di dalam kamar, ia beberapa kali ingin meremukkan benda pipih yang ada dalam genggamannya, Steva benar-benar tidak menemuinya sama sekali ke dalam kamar, padahal Razz begitu ingin berduaan dengan dirinya, itu juga yang membawa Razz pulang lebih cepat sebelum dia berangkat ke luar negeri.


Saat melihat kontak Steva yang online dan wanitanya itu tidak menghubunginya, atau mengirimkannya pesan meski sekedar kata maaf, Razz jadi merasa lebih emosi lagi.

__ADS_1


"Aaahh,,, dasar gadis bodoh, kenapa dia penurut sekali? Aku mengatakan jangan mengganggu dan dia benar-benar tidak datang menemuiku, dan ini? Dia online, tapi tidak menghubungiku, online sama siapa? Dasar gadis bodoh." celoteh Razz menggerutu pada ponsel di genggamannya, ia mondar mandir sedari tadi. Razz juga memikirkan tentang apa yang dikatakannya tadi akan menyakiti hati Steva, membuatnya menangis, tapi Razz tentu merasa malu jika dia yang harus meminta maaf terlebih dulu, apalagi tadi nada bicaranya dengan enteng membentak Steva.


"Aaahh,,, kenapa jadi aku yang merasa bersalah?" Razz masih dalam kebingungannya.


Sementara itu, Steva tengah berbalas pesan singkat pada Asha setelah mereka tadi sempat tukar nomor, Asha sudah sampai rumah, jam menunjukkan pukul 16:30 sore hari.


"Dia sebenarnya onlin sama siapa, sih? Dari tadi online terus?" kesal Razz.


"Tok tok tok,,, Tuan? Ini saya! Kita harus segera berangkat," suara Tan dari luar kamar Razz setelah ia dengan sopan mengetuk pintu.


'Klek.' Razz membuka pintu, berdiri berhadapan dengan Tan.


"Pergi sekarang? Memangnya ini jam berapa?" seloroh Razz tidak suka. Tan bisa menangkap wajah Tuannya yang masih menyimpan amarah ini, dan apa lagi kalau bukan karena Steva tadi penyebabnya.


"16:33, Tuan!" jawab Tan singkat.


"Hah?" Razz menatap layar ponselnya sendiri, memastikan waktu yang Tan katakan benar, dan ya memang benar.


"Panggilkan Steva, suruh dia menemuiku." perintah Razz pada Tan, hancur sudah pertahanannya.


"Bukankah Anda tidak mau diganggu Nyonya, Tuan?" goda Tan sengaja.


"Diam kau? Mau ku tangguhkan gajimu, hah?" teriak Razz dan Tan langsung menggeleng.


"Tidak, Tuan. Saya permisi, akan memanggil Nyonya Steva untuk menghadap anda." Tan undur diri, menuruni anak tangga mencari keberadaan Steva.


"Aaahh? Dasar gadis bodoh, suaminya mau pergi dan dia tak berniat menemui, awas kau Steva!"


"Brak!"


Luar biasa, di atas sana Razz setengah mati gelisah dan uring-uringan, dan di bawah sini, Steva duduk santai di atas kursi depan teras menikmati secangkir coklat hangat di temani camilan di atas meja di hadapannya, dan Steva tertawa lepas sambil berbalas pesan dengan Asha, kedua kaki Steva angkat di atas kursi sejajar dada, menampakkan lutut dan betisnya yang mulus.


"Khem!" Tan menghampiri dan berdehem. Sontak Steva berdiri, memang seperti itulah Steva, tidak peduli statusnya apa, ia begitu menghormati orang lain dan lawan bicaranya.


"Pak Tan? Ada apa? Apa anda butuh minum? Biar saya ambilkan!" ucap Steva polos karena Tan datang bukannya menyapa malah berdehem.


"Tidak, saya tidak butuh minum. Tuan besar memanggil anda," ucap Tan tegas. Dan Steva langsung mengangguk lalu melangkah cepat berhambur memasuki rumah sambil berlari kecil. Tan segera mengikuti.


"Tok tok tok! Tuan?" panggil Steva.


'Klek!' pintu langsung dibuka dan?


"Aaahh?" tanpa basa-basi, Razz langsung menarik tangan Steva cepat membawa sang istri masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Brak!" dengan kasar Razz membanting pintu itu.


...****************...


__ADS_2