
"Mah,,, tolong maafkan Liora, Mah? Liora tahu Liora salah, tapi tolong ampuni Liora, Mah?" Liora terus memeluk kaki Devne sambil menangis terisak.
Razz yang melihatnya tentu tidak tega. Ia ingin mengangkat tubuh Devne, mengulurkan tangan pada sahabat yang pernah ia cinta itu, namun itu tak akan berarti karena itu pun tak kan mampu mengangkat derajat, harkat dan martabatnya Liora.
"Kau mau aku memaafkanmu?" Devne mencengkeram pipi Liora hingga mendongak menghadapnya.
"Gugurkan ja.nin itu sebelum ada orang yang tahu!" seloroh Devne tegas.
"DEG!"
Liora mundur, sontak ia melepas tangannya yang memeluk kaki Devne sang ibu.
Razz yang mendengarnya pun tak kalah kagetnya, Devne memang wanita yang nekat dan bisa bertindak apa saja demi nama baik dan kehormatan.
"T-ti ti tidak, mah. Devne tidak mau, Devne tidak mau menjadi pembunuh dengan membunuh anak Devne sendiri." jawab Devne yakin.
"Plaakk!"
"Aah?"
"Kalau begitu pergi kau dari hadapanku, mulai sekarang hubungan kita putus, kau bukan lagi putriku!" bentak Devne diakhiri sebuah lolongan tangisan.
"Mah?" lirih Liora. Hidupnya telah hancur, orang yang sangat ia cintai telah pergi selamanya dari dunia, meninggalkan calon buah hati yang justru akan menjadi aib bagi keluarganya, dan dia kehilangan kepercayaan dan cinta ibunya dalam sekejap.
"Apa kau tidak mendengarku? Pergi! Tidak akan ada lelaki yang mau menerimamu, yang bersedia menikahimu Jika kau memiliki anak di luar nikah, bodoh!" Devne menoyor kepala Liora kasar hingga Liora terjatuh ke belakang dan Razz refleks menolongnya. Menahan tubuh yang bergetar hebat itu agar tidak jatuh terjerembab.
"Kau pikir, jika Papahmu sampai tahu mengenai hal ini, dia akan memaafkanmu, hah? Dia akan membunuhmu!" bentak Devne menggetarkan hati Liora, begitupun Razz.
Suasana terasa begitu kalut, Liora tidak berhenti menangis, dan Devne mulai merasa sakit pada dadanya, wanita paruh baya itu memegangi kuat dadanya namun masih dapat ia tahan.
"Aaaaahh?" Liora bangkit dan berlari.
"Liora?" Razz yang melihatnya pun lekas berlari mengikuti Liora yang menaiki sebuah tangga, Liora terus naik melewati satu lantai ke lantai yang lainnya, dan Razz terus mengikutinya.
"Liora?" Razz berhasil meraih tangan Liora menariknya hingga tubuh Liora terdesak pada dinding ketika mereka berada di undakan tangga menuju roof top Rumah Sakit.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Lep-paskan aku, Razz? Lepaskan aku!" Liora berontak, ia mencoba melepas cengkraman kasar tangan Razz pada pergelangan tangannya.
"Tidak, Liora, kau sedang dalam selimut emosi, aku tidak bisa meninggalkanmu saat ini, kau tidak bisa berpikir jernih." Razz tahu tanpa Liora mengatakannya, wanita itu pasti berlari menuju rooftop untuk melompat ke bawah mengakhiri hidupnya.
"Lepaskan aku, Razz! Aku tidak mau hidup lagi, hidupku telah berakhir, Razz? I'm done!" teriak Liora kencang.
"Dengar, dengarkan aku! Kau tidak bisa seperti ini, kau tidak bisa menyerah begitu saja. Kau mencintai Leon, bukan? Kau sangat mencintainya, bukan? Lantas kenapa kau akan mengakhiri hidupmu dengan membunuh anak kalian? Apa kau pikir Leon akan memaafkanmu di sana nanti, hah?" teriak Razz tak kalah kencangnya.
"Hiks hiks hiks, Razz...." tubuh Liora lemas dan dia merosot ke lantai, duduk bersimpuh, Razz berjongkok di hadapannya, lantas Razz memeluk tubuh Liora yang menangis dan bergetar.
__ADS_1
"Aku tidak mau hidup lagi, Razz, Leon telah pergi meninggalkanku, mamah dan papah tidak akan memaafkanku, dan aku hanya akan menanggung malu seumur hidupku, bahkan anak ini, anak dalam kandunganku ini, dia akan menjadi bahan olokan semua orang saat dirinya lahir nanti, Razz, dia akan hidup menderita, hiks hiks hiks!" Liora menjatuhkan kepalanya pada dada bidang Razz dan Razz semakin erat memeluknya.
"Ha~ha, ha~ha. Ada anak tak punya ayah, ha~ha, ha~ha."
Sekelebat bayangan masa kecilnya terlintas dalam benak Razz, di mana ayahnya yang meninggal saat ia kecil, dan Amora ibunya sibuk mengurus perusahaan dan tidak menikah lagi, membuat Razz sering dibully teman-temannya dulu, dan Liora kecil pasti menggenggam erat tangannya memberikannya kekuatan meski gadis kecil itu sendiri tidak berani.
"Razz,,, aku tidak mau hidup lagi! Hiks hiks hiks." lirih Liora semakin lemah, matanya tak lagi dapat melihat dengan fokus. Pandangannya mengabur.
"Kau harus tetap hidup, Liora. Demi anakmu, jadilah wanita yang kuat, aku? A-a aku? Aku akan menikahimu!"
"Brugh!" tubuh Liora ambruk ke lantai, ia pingsan.
Steva begitu heboh sedari pagi hingga sore menjelang, ia berlarian mondar-mandir ke sana kemari, masuk dapur, naik ke lantai atas memeriksa kamar Razz, turun lagi ke meja makan. Steva membuat seisi rumah dibuat kewalahan karena kehebohannya.
"Lilinnya di sini, Asha! Harus berada di titik tengah, tepat! Nah, seperti itu!" seloroh Steva pada Asha yang menata lilin bertumpuk indah di atas meja makan.
"Hufftt,,, Kak Stev! Kalau kamu terus seperti ini, kamu akan kecapean sendiri nanti, dan malam pertamanya sama Tuan besar akan **gagal**!" celoteh Asha yang mendapat geplakan dari Steva di lengannya.
"Sssuutt,,, diam, jangan keras-keras! Nanti didengar yang lain, kau ini membuatku malu saja! lagi pula, bicara itu yang baik-baik, biar berkah jadi doa, jangan asal mangap aja!" bisik Steva kesal.
Tadi pagi Steva mendapat telepon dari Razz setelah selama 2 hari suaminya itu sama sekali tidak menghubunginya, dan Razz mengatakan jika dia akan pulang hari ini, kemungkinan sampai rumah saat pukul 7 malam.
Dan inilah sekarang yang terjadi di rumah mewah bak istana milik Tuan besar Fabio Cannavaro Razolla itu, kehebohan terjadi di mana-mana karena istrinya tengah menyiapakan penyambutan luar biasa dan merencanakan malam pertama mereka.
Steva menata seluruh rumah seperti akan terjadi sebuah pesta meriah, ia akan menyambut kedatangan suaminya sebaik mungkin.
Hidangan makan malam yang lezat, dan yang paling penting adalah kamar utama, telah disulap menjadi kamar pengantin.
__ADS_1
Steva mengganti semua tirai, sprei, sarung bantal dan guling bahkan dengan kelambu yang mengitari ranjang yang ditata begitu indah dan semua berbahan sutera berwarna putih, lilin-lilin yang bercahaya temaram menjadi pilihan tepat untuk menerangi kamar Razz, dan bunga-bunga beraroma sedap yang kemungkinan disukai Razz menjadi hiasan sebagai pengharum ruangan yang alami.
Steva akan memberikan seluruh hidup, diri, cinta dan tubuhnya untuk Razz malam ini.
"Hei, Kak Steva bilang kalau mau spa, kan? Ini sudah mau sore. Urusan semua ini biar aku, Ny. Gulnora dan yang lainnya yang kerjakan dan selesaikan, sekarang Kak Steva cepat sana persiapkan diri sebaik mungkin," gerutu Asha mendorong Steva agar menjauh dari meja makan.
"Benar, baiklah, Asha! Aku percayakan padamu semua. Aku pergi dulu!" teriak Steva berlari memasuki kamarnya.
"Yang bersih dan wangi, Kak Stev? Biar Tuan besar ketagihan!" jawab Asha sengaja berteriak agar didengar semua orang, dan benar saja. Saat langkah Steva yang tengah berlari kecil terhenti, semua orang menoleh padanya dan ia malu karena semua orang tertawa.
"Cukup, kau ini mengganggu terus!" ketus Ny. Gulnora pada Asha saat ia menaruh buah apel merah yang berwadahkan mangkuk kristal yang indah di atas meja makan.
"Hehehehe!" Asha hanya cengengesan membalas Ny. Gulnora.
'*Brak*!' Steva menutup pintu kamarnya yang berada di lantai bawah, ia memegangi dadanya yang berdegup begitu kencang.
"Gila, kenapa aku bisa merasa segugup ini? Bahkan aku tak pernah segugup ini dulu dengan Malvin. Aaahh,,, jantung, kau tidak aman!" celoteh Steva memegangi dadanya yang berdegup tak beraturan.
"Aaah,,,, jangan membuang waktu, aku harus bersiap, *huss huss, huss huss*!" Steva mengendus aroma tubuhnya sendiri.
"Benar kata Asha, aku harus sebersih dan seharum mungkin."
Steva lantas berlari memasuki kamar mandi, ia akan mulai dari ritual membersihkan diri sebelum nanti bersambung dengan berdandan dengan cantik, elegan, rapi, bersih dan wangi. Demi menyambut sang suami untuk membawanya naik ke atas ranjang menikmati malam pertama.
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...