
"Aaahh? Aaahh?? Hentikan? Hentikan? Sakit? Sakit? Hentikan?"
Seisi rumah terbangun setelah mendengar teriakan Malvin dari dalam kamar yang ia tempati. Mereka semua keluar dari kamar dan melangkah menuju kamar Malvin.
"Ada apa?" tanya Bibi Elly cemas, Steva dan paman Yohan pun tak kalah khawatirnya.
Tanpa menjawab pertanyaan bibi Elly, Tuan Ramon membuka pintu kamar Malvin, dan semua orang masuk.
"Malvin, bangun? Malvin bangun, itu hanya mimpi." Tuan Ramon berusaha membangunkan Malvin, ia menggoyang tubuh Malvin berkali-kali.
"Ada apa? Dia kenapa?" tanya Steva panik.
"Kita keluar dulu, biar Tuan Ramon yang mengurusnya" Mr.Dori membawa Steva, bibi Elly, dan paman Yohan keluar dari kamar Malvin.
'Malvin? Kau kenapa?' dengan berat hati Steva keluar dari sana bersama yang lainnya, ia masih terus menoleh ke belakang saat kakinya melangkah keluar.
"Aaahh?" Malvin bangun, napasnya terengah, tubuhnya gemetar dan dadanya berdegup kencang, matanya berair dan buliran bening menetes dari sudut mata itu.
"Malvin? Kau mimpi lagi?" Tuan Ramon sangat panik, sudah beberapa hari Malvin tidak mimpi buruk dan sekarang mimpi lagi.
"Iya, iya, mimpi itu lagi." Malvin mengangguk beberapa kali. Dan dia bangun mendudukkan diri, mengusap gusar wajahnya, wajahnya yang basah karena keringat.
"Sudahlah, tidak apa-apa, itu hanyalah mimpi, paman ambilkan air putih dulu." Tuan Ramon keluar dari kamar Malvin untuk mengambilkan Malvin minum.
"Tuan? Ada apa dengan Malvin? Dia kenapa?" Steva yang sudah sangat panik lekas berhambur mendekat Tuan Ramon saat pria paruh baya itu keluar dari kamar yang Malvin tempati.
"Dia memiliki trauma yang mendalam, seperti yang pernah kuceritakan, dia dihajar oleh sekelompok orang, dan itu membekas dalam memorinya meski ia hilang ingatan," jawab Tuan Ramon.
"Astaga!" Bibi Elly menyentuh dada, paman Yohan mengelus lengan sang istri.
Steva sangat terkejut, ia menutup mulutnya yang terbuka karena terperangah, ia tahu semuanya, kejadian naas itu terjadi tepat di depan matanya, dan itu karena dirinya, seketika rasa bersalah kembali menghantui, bukan hanya penderitaan menanggung sakit fisik, namun Malvin juga menanggung beban mental, ia trauma.
"Boleh saya minta segelas air putih, Nyonya Elly?" pinta Tuan Ramon meminta ijin.
"Iya, tentu Tuan Ramon!" bibi Elly melangkah cepat mengambil air dan diberikan pada Tuan Ramon.
Semua kembali ke kamar masing-masing setelah keadaan sudah tenang. Masih ada dua jam sebelum pukul 5 pagi.

Steva bersandar pada dinding kayu lumbung sebelah rumah, setelah sarapan pagi bersama, ia memberi makan burung-burung dara seperti biasanya, sebelum ia akan ke kandang domba dan mengambil rumput makan domba, Steva melemparkan makanan burung ke tanah dan burung-burung jinak itu memakan dengan cepat.
Semakin lama Steva semakin hanyut dalam lamunan, ia kembali teringat kejadian semalam, tentang mimpi buruk Malvin yang menghantui hampir di setiap tidur malamnya, sungguh Steva merasa bersalah, dan ia begitu pengecut karena tak berani mengatakan yang sebenarnya, mengakui dan menyerahkan diri pada pihak keluarga Malvin, padahal itu jelas nyata suatu tindak kriminal.
Selain itu, Steva juga merutuki diri atas kebodohannya sendiri yang masih menangisi Razz semalam, bukankah itu sangat bodoh? Merindukan dan menginginkan laki-laki yang telah menduakanmu, membohongimu, melukaimu, dan membuangmu? Sungguh sangat bodoh, membiarkan diri galau meratapi kenangan orang yang sudah menyia-nyiakanmu. Orang yang menorehkan luka begitu dalam di hatimu.
'*Tidak, aku tidak boleh terus mengingatnya, aku tidak boleh merindukan dan menginginkannya, apa aku semurah itu? Setelah semua yang dia lakukan? Tidak, ingat kejahatannya, ingat luka yang ditorehkannya, apa karena dia tampan sehingga dia bisa berbuat seperti itu? Tidak, meski dia datang berlutut pun, aku tidak akan pernah memaafkannya, aku tidak akan pernah jatuh kembali ke dalam pelukannya, ini semua pasti karena aku sedang hamil, yah, sehingga aku kembali teringat pada Razz*.'
__ADS_1

Sementara itu, Malvin yang berdiri tak jauh dari sana terus memperhatikan Steva yang melamun sambil menikmati sebatang rokok, menghisap lalu mengepulkan asapnya, begitu berulang kali, dengan netra yang tak beralih dari sosok Steva.
Setelah rokok yang ia hisap tinggal menyisakan cerutu, Malvin melemparnya ke tanah berumput dan dia menginjaknya, ia pun melangkah ke arah Steva yang masih diam melamun bersandar dinding kayu.
"Emmpphh!"
Malvin membekap mulut Steva, bukan tanpa alasan ia melakukan gerakan frontal seperti itu, Steva adalah gadis yang mudah terkejut dan berteriak, jadi Malvin terpaksa melakukan itu, jangan sampai saat dia menghampiri Steva, gadis itu berteriak dan orang-orang mendengarnya.
"Jangan teriak, aku melakukan ini hanya sebatas antisipasi agar kau tak terkejut," Malvin melepas tangannya yang membekap mulut Steva, Steva terengah setelah mendapatkan kembali kebebasannya menghirup udara segar pagi ini.
"Apa yang kau lakukan?" gerutu Steva, ia memelankan suaranya namun sangat tegas.
Malvin tak menjawab, ia malah menelisik memperhatikan Steva dari ujung kaki sampai kepala, membuat Steva merasa? Risih? Tidak, tapi seluruh tubuhnya merasakan sebuah gelanyar aneh.
"Berhenti menatapku seperti itu, dasar Cassanova. Kapan mau tobat," Steva berbicara bergumam, hampir tak terdengar jelas namun ia terlihat kesal saat mengatakannya.
Steva hendak pergi namun dengan cepat Malvin meraih tangannya, mendorong tubuh Steva kembali bersandar pada dinding kayu, dan dia menguncinya.
"Aah?" pekik Steva pelan saat ia kembali pada posisi semula.
"Aku akan pulang," lirih Malvin tertahan, kontrolling tubuhnya benar-benar payah saat bersama dengan Steva.
"Pulang saja, apa hubungannya denganku?" ketus Steva memalingkan muka tak peduli.
"Tapi aku akan kembali lagi, dengan membawa bukti-bukti,"
"Bukti apa? Apa maksudmu?" Steva semakin gelisah, dadanya yang terus berdegup kencang, dengan posisi yang tak menguntungkan, tangan kanannya sejajar dengan telinga dicengkeram tangan kekar Malvin pada dinding kayu, dan tangan kirinya yang sejajar dengan pinggul pun dicengkeram tangan kanan Malvin. Ditambah tubuh mereka yang bersentuhan saling berhadapan, wajah Malvin yang menunduk hingga begitu dekat dengan wajahnya, hembusan napas Malvin yang halus menyapu kulit wajah Steva, sungguh tubuh Steva merespon cepat karena naluri alamiah sebagai wanita dewasa yang sudah berpuasa cukup lama.
"Bukti bahwa ada hubungan di antara kita di masa lalu, aku sangat yakin jika kau berhubungan denganku, atau kau yang berhubungan dengan pemilik jantung di tubuhku, aku tidak tahu, tapi dirimu, kau, yang baru sekali kutemui telah membuatku tersiksa, gelisah. Jantung ini terus berdetak cepat membuat tubuhku gemetar, membuatku tak bisa mengendalikan diri, membuatku ingin mengungkungmu meski aku tak mengenalmu, dan membuat kelelakianku bangun seketika, seperti saat ini,"
__ADS_1
'*Glek*,'
Steva menelan saliva susah payah, Malvin terlalu blak-blakan.
"Tunggu saja, aku pasti akan kembali, tidak sulit untuk mencari tahu identitas seseorang di kota. Dan kau pernah tinggal di sana. Aku pasti akan mendapat semua bukti yang kumau, dan kau? Jika kau terbukti berhubungan denganku, atau dengan pemilik jantung ini, maka kau harus bertanggung jawab."
"Apa maksudmu dengan bertanggung jawab?" Steva panik. Ia mulai dihinggapi rasa takut, benar kata Malvin, tidak sulit untuk mencari identitas seseorang saat di kota. Dan Steva yakin Malvin pasti akan menemukan semua bukti yang ia inginkan. Ini semua karena jantung Malvin yang hanya berdetak cepat saat melihat dan bersama Steva. Sial.
"Kau harus jadi milikku, hanya dengan begitu aku bisa menenangkan jantung ini," tukas Malvin penuh penekanan.
"Apa maksudmu, aku?" "*Emmpphh*!"
Belum sempat Steva menyelesaikan ucapannya, dengan berani Malvin telah menyatukan bibirnya dengan bibir Steva, ia bahkan memasukan lidahnya dan membelit lidah Steva, Malvin menyesap kuat dan menggigit kecil bibir bawah Steva.
Sekelebat bayangan muncul, Malvin melihat seorang pria yang mencium seorang gadis di sebuah bar malam. Dan Malvin yakin itu adalah dirinya dan Steva.
"Aaahh, haahh,,, haahh,,," nafas Steva terengah saat Malvin melepas ciuman itu dengan kasar.
"Kau?" Steva menunjuk marah, namun dengan santai Malvin justru mengecup jari telunjuk Steva sambil tersenyum menyeringai.
"Kau adalah gadis yang kucium di bar malam itu, selain mimpi buruk, mimpi indah itu juga selalu muncul saat aku tidur,"
"**DEG**." Steva terpaku. Ia tak bisa menyangkal.
"Aku memang belum bisa mengingat semuanya dengan jelas, tapi aku yakin, kau sering muncul dalam mimpiku, apa kau tahu, selain bermimpi menciummu, aku juga memimpikan apa?"
Steva masih terdiam. Ia terlalu gugup untuk bisa mengatakan sepatah kata.
"Nanti aku beritahu, saat aku kembali datang kemari." Ia lantas mengusap bibirnya yang basah dan pergi meninggalkan Steva yang masih terperangah tak percaya dengan apa yang barusan ia lakukan.

__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...