
"Dari mana kau?" bentak Razz membuyarkan Steva dari pikirannya yang harus segera dilaundry.
Tangan Steva yang membawa nampan berisi piring, mangkuk dan gelas menu makan dan minum Razz bergetar hebat karena kaget, takut lebih tepatnya. Hampir saja itu terjatuh saking terkejutnya Steva mendapati Razz yang berteriak membentak tiba-tiba.
"M-ma maaf, Tuan. Saya barusan dari bawah, mengambilkan makan malam Tuan!" jawab Steva menjelaskan, suaranya terdengar bergetar.
"Bodoh. Apa aku memintamu untuk mengambilkan makanan untukku?" Razz tak menerima alasan apapun, ia tak menyukai orangnya melakukan tindakan apapun sebelum meminta izin darinya.
"T-te tapi?"
"DIAM!"
Steva tersentak kaget, ia menelan salivanya susah payah, jantungnya berdebar.
'Dia memang terlihat sangat menyeramkan, benar kata Asha. Tapi aku harus kuat, aku membutuhkan pekerjaan ini.'
"Kenapa kau diam saja?"
"Hah?" Steva bingung harus apa, bukankah tadi dia sendiri yang membentaknya meminta agar diam.
"M-maaf, Tuan? Apa yang harus saya lakukan?" tanya Steva meminta kepastian dari tugasnya, ia tak mau jika sampai salah mengambil tindakan. Bisa-bisa dia akan mendapat bentakan lagi.
"Dengar baik-baik, aku tidak akan mengulangi apa yang sudah pernah aku katakan,"
Steva mengangguk antusias mendengar dengan seksama apa yang akan Razz katakan.
"Kau tidak boleh keluar dari kamar ini sebelum meminta izin dariku dan aku mengizinkanmu, kau harus menungguku selesai mandi, baru setelah aku memintamu mengambilkan sesuatu seperti makananku, kau baru boleh pergi, mengerti?"
"Ah, i-i iya, Tuan! M-me mengerti!" jawab Steva gugup.
"Bagus, sekarang pakaikan pakaianku," ucap Razz santai.
"Apa?" teriak Steva kaget, tak ada poin dalam tugasnya yang harus memakaikan pakaian Tuan besar, ia hanya diminta untuk menyiapkan saja, bukan? Kenapa sekarang malah diperintahkan untuk memakaikannya pakaian?.
"T-te tapi, bagaimana saya bisa melakukannya, Tuan? Anda seorang pria dewasa, dan saya juga seorang wanita!" ujar Steva berusaha menolak.
"Kau tidak mau melakukannya? Kalau begitu kau bisa pergi dari sini sekarang juga. Dan jangan pernah kembali," ketus Razz dengan mata tajamnya yang membola.
Steva tentu tidak terima mendengar perkataan Razz yang secara tidak langsung memintanya berhenti bekerja, bahasa kasarnya memecatnya.
__ADS_1
"Mana bisa begitu? Tidak ada perjanjian seperti itu sebelumnya!" seru Steva mendekat.
"Perjanjian? Perjanjian dengan siapa? Hah?"
Steva bingung harus menjawab apa, lagi pula pasti Tuan besarnya juga sudah tahu jika perjanjian pra kerja itu dilakukan oleh para pelayan dengan Ny. Gulnora selaku kepala pelayan, memang dasar Tuan besarnya saja yang mempersulit semuanya.
"Kau bekerja untukku, jadi kau hanya mendengarkan perintahku, kau bisa ambil keputusanmu sekarang juga, tetap bekerja atau pergi selamanya,"
Steva masih terdiam, ia menunduk dihadapan Razz, bau harum dari sang pemilik tubuh kekar yang terpahat sempurna itu menyeruak ke dalam penciuman Steva hingga membuatnya tergoda. Tapi Steva lekas menepisnya. Ia tengah dilanda permasalahan pelik untuk memilih tetap bekerja atau menyerah.
"Praaang!"
"Aaahh?"
Mendapati Steva yang hanya terdiam tanpa kata dan pergerakan, Razz tak lagi dapat bersabar, ia meraih nampan yang Steva bawa dan membantingnya ke lantai hingga semuanya pecah dan berserakan di lantai marmer mahal kamar Razz.
"T-tu tuan?" Steva sangat kaget dan takut, Razz mulai maju mendekat dan Steva mundur perlahan.
"Keluar?" teriak Razz menunjuk ke arah pintu.
"Hah?"
"M-ma maaf, Tuan. Saya lancang, saya tidak berani. B-ba baik, saya akan segera pakaikan baju tuan," Steva melangkah meraih sebuah kaos hitam dan celana panjang warna senada yang sudah ia siapkan tadi di walk in closet.
Steva berhenti di hadapan Razz, meminta izin memasukkan kaos hitam itu pada kepala Razz hingga turun dan terpasang sempurna menutupi tubuh kekar Razz, Razz hanya diam tanpa komentar.
Tubuh keduanya begitu berdekatan bahkan wajah mereka nyaris saja bersentuhan. Mereka saling dapat merasakan aroma tubuh lawan yang tercium masuk kedalam hidung.
Jantung Steva berdegup sangat kencang, ia gugup dan takut.
"T-tu tuan? Celananya?" Steva ragu, dia mengulurkan tangan yang membawa celana Razz, berharap Razz akan menerimanya dan memakai celananya itu sendiri.
"Pakaikan!" jawab Razz tegas.
'Deg!'
'Oh, sh.i.t.t, apa-apaan ini?'
Steva sungguh ingin menolak, namun itu tidak mungkin, Tuan besarnya ini tak menerima penolakan. Dan apa yang diperintahkannya harus segera dilaksanakan.
__ADS_1
'Dia memang buta, tapi setidaknya, dia bisa kan memakai sendiri celananya?'
Steva berjongkok di depan Razz, ia menggulung celana panjang hitam itu agar lebih mudah untuk ia pakaikan.
"Apa kau begitu bodoh?" Razz kembali mengeluarkan kalimat yang membuat Steva terpancing emosi.
"Apa lagi salahku sekarang, Tuan?" Steva mendongak melihat Razz yang berdiri angkuh dengan postur tubuh tinggi menjulang. Tersungging senyum remeh pada sudut bibir atas kanan Razz yang seolah mengejek Steva.
"Bagaimana kau bisa memakaikan celanaku jika kau tak melepas dulu handukku?"
'Deg.' Steva terdiam, ia menarik nafas dalam menenangkan hati yang berlompatan.
'Hei, kenapa justru berlompatan? Apa kau merasa senang? Dasar otak mesum.'
'Glek.'
"Kau ini seperti bayi besar, Tuan?" gumam Steva yang dapat didengar dengan baik oleh Razz, memicu tawa kecil dari pemilik bibir sensual menggoda itu.
"Hufftt,,,," 'Malah terkekeh, memangnya ada yang lucu? Dasar Tuan bayi besar yang aneh.'
"M-ma maaf, Tuan." Steva berdiri dengan tumpuan lututnya dihadapan Razz, kedua tangannya bergerak menyentuh handuk yang melilit di pinggang seksi Razz, Steva menutup mata kuat-kuat, jangan sampai dia khilaf mengintip dan mendapati rudal perang ranjang milik sang Tuan bayi besar, tubuhnya saja kekar seksi menggoda dengan urat-urat menonjol sempurna, apalagi itunya?
Terbuka, Steva membuka mata menyipit sedikit, ia juga merasa penasaran, benar-benar otaknya perlu dicuci bersih.
"Haahh!" ketegangan itu sontak ambyar, Steva menghela napas lega kala ia melihat Tuan Razz ternyata sudah memakai bokser di dalam handuknya.
"Kenapa? Kau kecewa? Ha ha ha!" Razz terkekeh mendengar helaan napas Steva yang ia artikan justru sebagai rasa kecewa karena tak dapat melihat benda pusakanya.
"Iisshh."
Steva telah selesai membantu Razz memakai kaos dan celananya, Razz melangkah menuju meja rias sebelum akhirnya Steva meraih tangannya tanpa permisi karena di depan sana terdapat pecahan beling piring, mangkuk dan gelas yang tadi dibanting Razz.
"Tuan? Awas!" teriak Steva menarik kuat dan cepat tangan Razz hingga pemilik tubuh kekar itu terhenti, Razz mengernyitkan dahi menunggu penjelasan.
"Beling," lirih Steva yang langsung dimengerti oleh Razz.
"Tuan mau apa sih ke meja rias? Mau dandan? Lagian tuan juga tidak bisa melihat, lantas? Ooooppsss,,,,," Steva membungkam mulutnya sendiri yang tanpa sengaja telah salah bicara dan mungkin saja menyinggung Razz.
...****************...
__ADS_1