
Keributan tak terhindarkan di rumah besar Amora saat Razz datang, Devne dan Morgan sontak berdiri penuh emosi menyambut calon menantu mereka yang mungkin akan batal karena Razz telah menikah dengan wanita lain, Liora nampak gugup menunduk, sofa empuk itu nampaknya tak memberikan kenyamanan pada bo.kongnya.
Amora menatap tajam sang putra tunggal siap untuk menghajarnya, sedangkan Nard, suami Amora masih terlihat santai di sofa. Nard adalah ayah sambung Razz sejak 2 tahun yang lalu. Setelah Amora menjanda hampir 10 tahun lamanya dan memutuskan menikah dengan Nard. Meski Amora sudah menikah lagi, ia tetap memakai marga suaminya, Cannavaro Razolla.
"Apa yang kau lakukan, Razz? Kau menikah tanpa memberitahuku? Dan kau meninggalkan Liora demi wanita itu? Apa kau sudah gila, hah? Apa kau tahu apa yang kau lakukan itu? Siapa gadis itu sampai kau bisa menikahinya, bahkan tanpa memberitahuku, apa kau sudah menganggapku tiada di dunia ini? Apa kau mau mempermalukanku, hah?" Amora meluap-luap, ia keluarkan semua kekesalan dan amarahnya yang membuat dadanya mendidih, tangannya mengepal ingin sekali meninju wajah Razz putranya yang sangat tampan itu.
"Mah, aku baru datang, setidaknya persilahkan terlebih dulu aku untuk duduk dan sekedar minum?" Razz berjalan melewati Amora dan menghempaskan tubuh pada sofa langsung di samping Liora.
Amora terlonjak kaget, Devne dan Morgan pun tak bisa berkata-kata. Tenggorokan mereka tercekat kala Razz menggenggam tangan Liora seakan ingin meremukkannya. Wajah Liora pucat, ia takut dengan tatapan Razz yang seperti serigala ingin memangsa.
"Kenapa kau melakukan ini, Liora?" tukas Razz tegas, nada suaranya penuh penekanan.
Tubuh Liora bergetar, matanya terus bergerak menunduk takut bertemu langsung dengan manik biru yang selalu terlihat cantik dalam pandangan Steva itu.
"Katakan, apa tujuanmu, Liora?" bentak Razz begitu lantang membuat Devne terlonjak memegangi dadanya yang berdegup kencang.
"Apa yang kau lakukan, Razz? Kau mau melemparkan kesalahanmu pada putriku? Apa kau ingin melakukan playing victim, hah?" teriak Morgan menarik lengan Razz hingga Razz berdiri tegap menjulang berhadapan dengan sang calon ayah mertua yang menantang.
"Kau mau jelaskan, atau aku yang jelaskan, Liora?" desak Razz pada Liora namun tubuh dan tatapannya menghadap sepenuhnya pada Morgan ayah Liora.
Liora masih tak bergeming, ia mulai terisak, ia tahu jika ia tak mungkin bisa berbohong di depan mereka. Tapi Liora tak pernah berani menentang orang tuanya.
"T-ta tapi kau sudah menikah, Razz? Apapun alasannya, sekarang kau sudah menikah, kau telah memiliki seorang istri," ujar Liora gugup.
"LIORA?" bentak Razz membalikkan tubuh cepat menghadap Liora yang duduk di belakangnya.
__ADS_1
"Razz?" teriak Amora pada sang putra yang sudah ia anggap kelewatan.
Suasana saat itu benar-benar kacau, Razz merasa tertipu oleh Liora, Liora tak berani berkutik tentu karena kedua orang tuanya. Amora merasa kesal dan marah dengan Razz, dan kedua orang tua Liora tentu merasa telah dicurangi.
"Kurasa kita harus membicarakannya dengan hati yang tenang, bagaimana kita bisa mendapatkan penyelesaiannya kalau kalian terus beradu otot?" seloroh Nard santai yang akhirnya ikut angkat bicara setelah menikmati pertunjukan sejak tadi tanpa komentar.
"Duduklah!" sambung Nard. Dan orang pertama yang menuruti perintahnya adalah Amora, lalu disusul Devne dan Morgan dan Razz yang duduk di sebelah Liora.
"Jadi, siapa yang akan memberi penjelasan?" Nard bersikap sangat tenang, menjadi penengah kegaduhan kedua belah pihak keluarga.
Razz terus menatap tajam pada Liora, tatapan kekecewaan, tatapan amarah karena dipermainkan, namun ia tertahan karena nyatanya gadis cantik di depannya ini adalah cintanya, bidadarinya, hatinya, segalanya.
"Oh,,, tetap tidak ada yang mau buka suara. Kalau begitu langsung saja. Apa kalian ingin melanjutkan perjodohan ini, atau membatalkannya?" seloroh Nard yang mendapat tanggapan bengis dari Amora dan kedua orang tua Liora.
"Pernikahan ini akan tetap dilangsungkan," tukas Razz dengan nada tak ingin adanya penolakan. Sorot mata tajam itu sama sekali tak berpindah dari paras cantik Liora.
"Tapi hubungan keluarga kita begitu baik selama ini, ini adalah ikatan yang sudah direncanakan sejak awal, jadi kami akan memberi kesempatan kedua padamu, Razz. Dengan syarat kau harus meninggalkan perempuan itu. Kau harus menceraikannya terlebih dahulu!" Ujar Devne berteriak.
'DEG.'
'menceraikan Steva? Kenapa hatiku bergetar, dia kunikahi hanya untuk mendapatkan Liora. Harusnya tidak apa-apa jika aku menceraikannya. Tapi?'
"Kenapa kau diam, Razz? Jawab cepat! Mommy juga tidak akan pernah merestui kamu berhubungan dengan wanita manapun selain Liora, Mommy tidak akan pernah menganggap dia sebagai menantu Mommy meski kau telah menikahinya, ingat itu, Razz? Atau kau bisa melupakan aku sebagai mommymu, lupakan saja semua perjuanganku untuk membesarkanmu dulu!" Amora mulai terisak setelah mengatakan sederet kalimat yang mengusik hati Razz.
Razz ingat betul bagaimana dulu Mommynya yang berjuang seorang diri meneruskan usaha yang dirintis oleh sang ayah yang pada akhirnya meninggal karena kanker pembuluh otak, dan mengurus dirinya tanpa dampingan keluarga, dan hanya keluarga Liora lah yang mengulurkan tangan pada mereka, bahkan Razz kecil seringkali dititipkan oleh Mommynya pada Mami Liora.
__ADS_1
Razz dan Liora kecil seringkali bermain bersama, mandi bersama, makan bersama, menjalani hari bersama, dan tidur bersama, hingga kedekatan itu sempurna menumbuhkan cinta di hati Razz.
Namun Liora hanya menganggap Razz layaknya saudara, apalagi usia Razz yang 2 tahun lebih muda darinya. Liora memiliki kriterianya sendiri dalam memilih pasangan, ia menginginkan seorang pria dewasa yang mandiri, yang berdiri di atas tumpuan kakinya sendiri, pria yang tak dibelit oleh keluarga maupun orang tua. Dan itu tak bisa Liora dapatkan jika ia menikah dengan Razz. Ia ingin hidup bebas, mengatur semua dengan keinginannya, tanpa ada yang menyetir ataupun menungganginya.
"Razz?" teriak Amora karena Razz masih saja diam tak memberi jawaban atas pertanyaan mereka.
"Atur semuanya dengan cepat, dalam waktu 2 Minggu, pernikahanku dengan Liora harus dilaksanakan. Dan kalian tidak perlu khawatir dengan pernikahanku sebelumya, karena itu pun kulakukan demi bisa mendapatkan hati Liora." jawab Razz mantap.
Amora, Devne dan Morgan saling pandang. Ada kebingungan yang terpancar, apa yang dimaksud Razz dengan pernyataannya yang mengatakan jika dia menikah demi mendapatkan hati Liora? Tapi mereka tak bertanya lebih jauh, Razz tipe orang tak bisa dibantah.
"Aku setuju!" seloroh Nard santai.
"Iya, aku juga setuju," sahut Amora.
Devne dan Morgan saling menatap sebelum akhirnya mereka pun mengangguk dan menyatakan persetujuan.
"Kita bicara!" Razz menarik tangan Liora menjauh dari mereka masuk ke dalam kamarnya yang ada di lantai bawah dekat ruang tengah. Dan tanpa bisa menolak Liora hanya diam menurut mengikuti langkah Razz. Begitulah gadis itu, ia cantik, pintar, berwawasan luas, namun layu jika sudah dihadapan orang tuanya. Liora yang menyerukan kebebasan bagi kaum wanita namun ia sendiri tak mampu mendapatkan kebebasannya.
'Brak!' Razz membanting pintu keras.
Razz mendorong tubuh Liora hingga punggung ramping gadis cantik itu membentur pada dinding bercat putih bersih hanya dengan sekali gerakan kuat dan kasar dari Razz.
Tangan kanan Razz mencengkeram pinggul Liora dengan remasan. Dan tangan kirinya mengunci pada dinding, sorot manik biru yang digilai Steva itu terus menatap tajam pada Liora yang sudah terisak. Gadis itu memang rapuh, gayanya saja yang berani dan selalu optimis, nyatanya dalam hidupnya, ia selalu terkurung ambisi orang tuanya tanpa dapat mengekspresikan diri sendiri.
"Apa maksudmu, Liora? Kau memintaku menikah, namun kau berencana untuk menggagalkan pernikahan kita? Apa kau ingin bermain-main denganku?" Suara Razz terdengar bergetar, giginya beradu gemeretak, rahang tegas yang mengeras itu jelas menunjukkan betapa Razz berada pada tingkat puncak emosinya, namun ia sekuat tenaga menahan karena yang dihadapinya ini adalah separuh hidupnya, dan Razz tentu tak akan menyakitinya, bahkan meskipun sangat ingin, Razz tak pernah sekalipun menjamahnya, ia ingin menunjukkan secara nyata pada Liora jika dirinya benar-benar menjaganya, sampai nantinya Razz berhak atas seluruh tubuh dan cinta Liora setelah mereka mengikrarkan janji pernikahan yang akan mengikat mereka secara sah.
__ADS_1
...****************...