GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
BERDEGUP KENCANG


__ADS_3

Pagi ini Steva tidak terlambat, ia bahkan datang sangat pagi, baru pukul 05:45. Razz masih terlelap saat Steva secara perlahan membuka pintu kamar dan memasuki kamar Tuan bayi besarnya.


"Masih tidur," gumam Steva pelan.


Meski sedang tidur, Razz tidak pernah melepas topeng wajahnya, ia begitu sportif dalam memainkan perannya sebagai seorang pria tampan yang menyamar menjadi pria buruk rupa. Tentu membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Tapi Razz harus bersabar untuk menjalaninya.


"Ah, sebaiknya aku siapkan saja langsung air mandinya, dan semua keperluannya, toh sebentar lagi juga dia bangun!" Steva melangkah memasuki kamar mandi, memulai rutinitas tugasnya.


"Hoaamm!" Razz menguap, mengangkat kedua tangan meregangkan otot-ototnya. Alarm bawah sadarnya selalu membangunkan dirinya yang tidur dan bangun tepat jam 6 pagi.


Razz melangkah gontai masuk ke dalam kamar mandi, matanya yang masih belum terbuka sempurna dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya membuat Razz tidak menyadari jika kini di dalam kamar mandinya yang luas itu telah berdiri Steva yang tengah menyiapkan keperluan ritual mandi untuknya.


Dengan santai Razz memelorotkan bokser, membuka sedikit celana segi tiganya lalu mengeluarkan sang panglima perang yang berdiri dalam mode on mengarah ke urinoar untuk buang air kecil.


"Aaahh?" jerit Steva melengking melihat panglima perang Tuan besar yang memang besar dan kini justru dalam mode siap tempur.


"Ough, S.h.i.t.t." Razz memalingkan badan menyamping karena panglima tempurnya belum selesai menyemburkan cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal itu, Razz buru-buru memasukkan panglima tempurnya ke dalam sangkar setelah hajatnya selesai, padahal kepala panglima tempur belum sempat ia bersihkan.


"Tuan....?" Teriak Steva memekik, kakinya menghentak lantai dan tangannya menutup seluruh wajahnya. Pipi Steva bersemu merah, malu, sungguh malu rasanya.


"Kau, sejak kapan kau di sana?" teriak Razz menghadap Steva.


'Bodoh, aku kan buta?' buru-buru Razz memalingkan badan mumpung Steva masih belum membuka wajahnya.


"Apa anda sudah selesai?" tanya Steva.


"Sudah!" jawab Razz singkat.


"Baiklah, saya keluar dulu, anda silahkan mandi, airnya sudah siap." Steva melangkah pelan melewati Razz yang masih berdiri mematung, Steva terus menutup wajahnya, hingga ia tiba di dekat pintu Steva lekas berhambur keluar dan menutup pintu kamar mandi itu dari luar.

__ADS_1


'Brak.' dibanting.


"Dasar gadis bodoh." umpat Razz merasa kesal.


"Huuuuhhhh,,,, huuuhhh,,,,," Steva menghirup oksigen sebanyak-banyaknya menghembuskan napasnya perlahan menetralkan dada yang berdegup kencang dan jantung yang ingin berlompatan setelah ia berhasil kabur dari kamar mandi itu.


"Ini memang tidak benar, kenapa aku bekerja sebagai baby sitter bayi besar sih? Aaahh, merepotkan." celoteh Steva memukul pelan kepalanya sendiri.


Tapi tugasnya masih belum selesai, seperti biasa, dia juga harus menyiapkan semua kebutuhan Tuan bayi besarnya, mulai dari baju ganti, sepatu, 'Eh tunggu, ini hari Minggu, apa dia juga akan pergi ke kantor? Kenapa aku lupa menanyakan ini pada Ny. Gulnora, apa aktifitas Tuan Razz di hari minggu, apa aku tunggu saja dia selesai mandi? Baru setelah itu aku tanyakan padanya?'


Steva bingung, jika dia keluar dari kamar menemui Ny. Gulnora untuk bertanya, dan nanti Razz keluar dari kamar mandi tak mendapati dirinya, Steva takut akan kena marah.


"Ah, sudahlah, tunggu saja sampai dia keluar dari kamar mandi." Steva mengambil keputusan terbaik menurutnya. Menunggu.


Steva memainkan benda pipih miliknya, ada satu pesan dari nomor baru.


"Aku minta maaf, aku salah, aku menyesal, kau di mana? Tolong jangan seperti ini."


Sakit. Sangat sakit. Steva kembali terbayang malam di restoran waktu itu, saat dia memberanikan diri melepas semua yang dipakainya dari pemberian Malvin. Hingga membuatnya hampir te.lan.jang dan menjadi tontonan semua orang, untunglah para pengunjung restoran itu orang-orang berkelas, jadi mereka tidak heboh mengambil gambar seseorang tanpa ijin dan menyebarkannya di sosial media seperti hal biasa terjadi di dunia sosmed demi viewers dan viral.


"Hah, maaf, menyesal? Apa tidak ada kata lain yang lebih meyakinkan? Ufhh, aku tidak butuh kata-kata. Yang aku inginkan hanyalah bukti yang nyata." celoteh Steva menatap layar ponselnya, merutuki Malvin yang ternyata masih mencarinya.


"Apa kau sedang ceramah?"


"Aah?"


Steva kaget, Razz sudah berdiri di depan pintu kamar mandi, lagi-lagi dia hanya menggunakan handuk sepinggang, menampakkan otot-otot tubuhnya yang menggoda, dada bidang itu, perut kotak-kotak itu, lengan bahu dan urat di leher serta tangannya, dialiri oleh buliran bening sisa ritual mandi pagi, rambut basahnya yang menambah keseksiannya, dan aroma harum dari tubuh kekar itu.


'Ouh, F.u.ck.' seketika jiwa kewanitaan Steva terusik dengan pemandangan menggoda iman di hadapannya ini.

__ADS_1


"Oh, tidak Tuan? Saya tidak ceramah, hanya sedang khotbah. Oopss, bukan, maksud saya? Ehmm, tidak ada, iya, tidak ada!" Steva menggelengkan kepala beberapa kali, kosa katanya selalu berantakan saat sudah dihadapkan dengan pria menyeramkan yang dalam pandangan Steva tetap selalu tampan ini.


"Kau sudah menyiapkan keperluanku?" tanya Razz saat ia mendapati ranjangnya yang rapi tak ada setelan baju ganti, Razz melangkah menuju meja rias dan dia duduk di kursi menghadap cermin.


"Belum, Tuan! Saya bingung, ini hari Minggu, setelan seperti apa yang ingin anda kenakan? Apa anda juga akan pergi ke kantor di hari minggu?" jawab Steva yang diakhiri kalimat tanya, Steva menyalakan hair dryer, mengeringkan rambut Razz lalu menyisirnya.


"Dasar gadis bodoh, aku ini sudah kaya raya, tidak bekerja sehari saja di hari Minggu tidak akan membuatku jatuh miskin," seloroh Razz yang menyiratkan jika dirinya tidak pergi ke kantor di hari Minggu.


"Saya rasa, anda tidak bekerja setahun juga akan tetap kaya," cicit Steva yang sebenarnya ngedumel, namun itu justru membuat Razz terkekeh senang, dia memang pria yang syarat akan pujian.


'Iiishh!'


Setelah selesai dengan rambut sang Tuan bayi besar, Steva berlalu menuju walk in closet, Dia akan mengambil baju ganti untuk Razz, setelan santai untu di rumah, sebuah kaos dan celana bokser, itu yang paling mudah untuk dipakai Tuan Razz menurut Steva.


Steva menghadap dinding dan menutup mata dengan kedua tangan saat Razz memakai celana segitiga dan juga boksernya, setelah ia selesai, maka Steva yang melanjutkan tugasnya memakaikannya kaos.


"Tuan?" lirih Steva saat memakaikan kaos Razz.


"Hemm?"


"Anda kan sebenarnya juga bisa memakai kaos anda sendiri, kenapa anda menyulitkan saya dengan menyuruh saya yang memakaikannya?" Steva mengungkapkan isi hati yang bergejolak. Rasanya sangat tidak nyaman setiap hari melakukan aktifitas yang menurut Steva terlalu intim seperti ini.


"Kenapa? Kau tidak mau?" Razz justru melayangkan pertanyaan umpan balik pada Steva.


"Bukan begitu, Tuan. Tapi, ini terasa tidak nyaman. Dada saya berdegup kencang setiap kali berdekatan seperti ini dengan anda, biar bagaimanapun saya ini wanita normal, saya hanya takut jika saya sampai terkena serangan jantung dan akhirnya mati di usia muda!" seloroh Steva yang Razz anggap mengada-ngada.


"Berdegup kencang?" lirih Razz yang mendapat anggukan pembenaran dari Steva.


"Seperti ini?!" Razz merengkuh pinggang ramping Steva hingga tubuh Steva bergerak cepat menubruk tubuh kekar Razz seketika.

__ADS_1


'DEG!'


...****************...


__ADS_2