GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
POV STEVA


__ADS_3

POV STEVA.


Aku berlari menaiki anak tangga menuju lantai atas lalu melesat masuk ke dalam kamar utama yang juga menjadi kamarku selama beberapa hari ini, kututup pintu keras hingga kurasakan getarnya yang tak mampu mengalahkan getar tubuhku, aku menangis di depan pintu dan bersimpuh di lantai, tanganku mencengkram dadaku yang terasa nyeri teramat sangat. Tangisku begitu deras membanjir tiada henti. Ini adalah pengkhianatan paling kejam yang pernah kurasakan, rasa sakit ini jauh lebih sakit dari pengkhianatan yang pernah Malvin lakukan padaku.


Aku menangis meraung dalam kesendirian, tiba-tiba saja ibu mertuaku datang ke rumah dengan membawa seorang wanita yang diakui sebagai istri dari suamiku. Aku ingin berteriak namun suaraku justru tak terdengar, sungguh sakit batin ini setelah mengetahui semua kebohongannya.


Siapa dia sebenarnya? Tiba-tiba saja aku sama sekali tak mengenali suamiku sendiri, ia seperti orang asing dalam pandanganku, hanya namanya saja, Fabio Cannavaro Razolla yang kutahu, selebihnya, semua hanyalah kebohongan semata. Dan mungkin saja masih ada begitu banyak kebohongan-kebohongan lain yang tak kuketahui darinya.


Wajahnya baik-baik saja, sangat tampan dan rupawan, manik birunya yang cantik yang kukira buta, ternyata ia bisa melihat dengan jelas selama ini.


'Tuhan?'


Dan yang lebih buruk lagi, aku mengetahui jika suamiku memiliki istri lain, wanita lain selain diriku yang diterima dengan tangan terbuka oleh Nyonya besar, ibu mertuaku.


'Jadi, karena itukah dia tak juga memperkenalkanku pada ibunya? sial, hatiku semakin nyeri memikirkannya.'


Pintu diketuk dari luar, aku tersadar dari lamunan, lalu aku yang masih bersimpuh di lantai depan pintu kamar itu berdiri meski terasa sempoyongan karena tenaga yang tiba-tiba lenyap hilang entah kemana.


'Klek!'


"Steva?" Razz langsung memeluk tubuhku erat saat pintu itu terbuka. Aku hanya diam tak menolak juga tak membalas pelukannya. Aku terlalu bingung harus bersikap seperti apa. Marah-marah dan berontak itu bukanlah karakterku, aku lebih memilih pergi dengan anggun saat dulu Malvin menghinaku dan mengkhianatiku, dan kini, saat hal yang serupa kembali terjadi, aku cukup bingung harus berbuat apa.


"Sayang? Tolong maafkan aku, aku tahu aku salah, aku tahu aku telah menyakitimu, tapi kumohon maafkan aku," celoteh Razz yang masih memelukku dan aku hanya diam mendengarkan.


Razz melepas pelukannya karena aku yang tak bereaksi membalas, ia lantas mendekatkan wajahnya hendak menautkan bibir kami dan aku sontak berpaling tak menerima ciumannya. Ia terdiam atas penolakanku.


Kulepas tangannya yang memeluk tubuhku dan aku berjalan menjauh duduk di tepian ranjang, Razz menutup pintu cepat lantas mengikuti langkahku, ia duduk berjongkok di hadapanku sambil memegang kedua tanganku, aku sama sekali tak membalas tatapan matanya yang begitu dalam padaku. Aku seakan tak mengenalinya, dan tak ingin mengenalnya.


"Sayang? Steva?" lirih Razz mencoba mengajakku berbicara.

__ADS_1


Perlahan aku lepaskan tanganku dari genggaman tangannya, lalu aku menatapnya hingga manik coklat mataku dengan manik biru matanya yang cantik bertemu.


"Siapa kau? Aku tidak mengenalmu, kau bukan suamiku, kau pria yang terlalu buruk untuk hidup bersamaku, kau adalah pembohong, penipu, dan kau juga pengkhianat," aku mencurahkan rasa sakit hatiku dengan kalimat tegas penuh penekanan. Razz menunduk dan aku tahu dia menangis.


"Aku hanya menginginkan suamiku, dia adalah Tuan besar, Tuan bayi besarku, wajahnya tampan meski sebagian kulitnya rusak, matanya penuh keindahan meski ia tak dapat melihat. Dia yang paling sempurna, pria yang kukenal dengan ketulusan dan kejujurannya, dan aku tidak mengenalmu," ketusku membuat dadaku semakin sesak.


"Maafkan aku!" lirih Razz terisak.


"Jadi, kau sebenarnya memiliki wanita lain? Hufftt,,,, Bodohnya aku! Hahahahahaha!" aku tertawa sumbang dalam tangis. Gila? Tidak, aku hanya tidak suka terlihat lemah di depan orang-orang yang menyakitiku.


"Apa salahku padamu sampai kau melakukan ini, Tuan Razz?" kusebut dia dengan panggilan lama yang membuat Razz kontan mendongak menatapku dan menggelengkan kepalanya tidak setuju.


"Steva? Ini?"


Aku mendengarkan, tapi dia justru berhenti bicara.


"Apa? Ayo katakan, aku menunggu jawabanmu," tantangku. Tak peduli air mata yang terus mengalir, ataupun tubuh yang bergetar hebat, hati yang sakit dan dada yang sesak. Aku tetap berusaha tegar saat tentang hati yang dipermainkan.


Dan Razz hanya terdiam, ia tak mengatakan apa-apa seolah memberi jawaban pembenaran, jika dia memang telah menikah dan memiliki wanita lain selain diriku yang justru diterima oleh ibunya, sedangkan aku?


"Jadi, siapa yang sebenarnya istri keduamu, aku hanya tahu jika aku adalah istri rahasiamu,"


"Cukup, Stev, cukup. Jangan menyakiti hatimu sendiri dengan kata-katamu itu!"


"Aku? Bukan aku yang menyakiti hatiku, tapi kau!" teriakku tidak tahan.


"Aku tidak bisa tetap seperti ini, aku tidak mau menjalani hidup seperti ini, mendekam dalam penjara atau mati sekalipun itu jauh lebih baik bagiku dari pada harus berbagi suami," bentakku.


Razz hanya diam dan kembali menggenggam tanganku erat, ia sama sekali tak bersuara, namun malah menjatuhkan kepalanya di atas pangkuanku. Dan aku membiarkannya karena akupun masih ingin bicara sebelum aku berdiri dan melangkah pergi.

__ADS_1


"Aku memang suka bercanda, Tuan Razz, tapi tidak dengan perasaan. Aku memang suka berbagi, tapi tidak dengan berbagi pasangan. Aku pernah terluka oleh pengkhianatan, tapi itu bukan berarti rasa sakitnya akan berkurang saat lagi dan lagi aku mengalami, ini sangat menyakitkan, dan terlalu menyakitkan, Tuan Razz!"


Razz tak bergeming, ia hanya diam tanpa kata, namun Isak tangisnya membuatku ingin sekali mencemooh dirinya, bagaimana bisa? Dia yang bersalah, dan dia juga yang menangis, dia yang menyakiti, tapi dia juga yang merasa tersakiti. Lucu.


Aku berdiri dan Razz mendongak, ia lantas ikut berdiri dan menatapku yang enggan menatap wajahnya, dia memang sangat tampan, tapi aku tak mengenal wajah itu, suamiku adalah si tampan yang wajahnya rusak, aku mende.sah bersamanya. Bukan dengan pria di hadapanku yang wajahnya begitu mulus ini.


"Aku menyerah, aku pergi!" ucapku sambil melangkah. Namun dengan cepat ia menahanku, menarik tanganku lalu menjatuhkanku di atas ranjangnya.


"Aaahh?" aku menjerit saat Razz mulai mencum.buku, ia mencium leherku, menyesap dan menggigitnya dengan kasar.


"Lep-paskan aku, aku tidak mau!" teriakku menolak. Namun percuma, kedua tanganku yang memukuli dadanya ia cengkeram dengan kedua tangannya lalu ia bentangkan ke kedua sisi kiri dan kanan tubuhku, lalu ia kembali membenamkan kepalnya pada leherku dan mencum.bu dengan paksa.


Kepalaku menggeleng ke kiri dan ke kanan mencegah perbuatannya yang kunilai mele.cehkanku, merendahkan harga diriku.


"Lep-paskan aku, kau menyakitiku!" teriakku dengan suara bergetar, ada rasa takut bersamaan dengan naluri alamiah tubuhku yang menerima rang.sangan darinya.


"Maafkan aku, Steva. Aku tidak mau menyakitimu, tapi kau yang memaksaku melakukan ini padamu, aku tidak mau kehilangan dirimu, kau tidak akan kubiarkan pergi meninggalkanku seperti kau meninggalkan Malvin dan membiarkanku hidup dalam penderitaan dan penyesalan, aku tidak siap jika itu terjadi. Akan aku buat kau hamil anakku sehingga kau tak bisa melepaskan diri dari genggamanku."


"DEG!"


Ini yang tidak kusukai, sebuah pemaksaan, penindasan. Membuatku merasa menjadi wanita yang lemah, dan aku tidak suka itu.


Aku terus berontak, namun apalah daya tenaga yang kupunya sama sekali tak sebanding dengan kekuatannya.


Ia mengangkat tubuhku lalu menjatuhkanku dengan kasar tepat berada di tengah ranjang. Ia menduduki ku tepat di bagian tengah tubuhku, mengapit kedua kakiku hingga aku tak mampu bergerak, namun tanganku terus berusaha memukulnya tak henti.


Razz melepas cepat ikat pinggangnya, dan inilah kekalahanku, kedua tanganku ia cengkram lalu Razz menggunakan sabuknya mengikat kedua tanganku dan dia mengikat sabuk itu ke dipan ranjang di atas kepalaku.


"Razz,,,, kumohon hentikan! Hiks hiks hiks."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2